Liberal_arts

future
Tak cukup satu jenis pendekatan saja demi mengeluarkan Indonesia dari krisis. Sebuah tawaran solusi dari liberal arts. Seperti apakah itu?

Indonesia telah didera krisis multidimensi. Krisis moneter telah menghantam negeri kita selama 10 tahun, walaupun sudah ada tanda perbaikan, namun masih sangat banyak yang harus kita lakukan. Krisis tersebut sudah merambah ke berbagai bidang, seperti politik, moral, pendidikan, sains-tek, budaya, dan religi. [read more]

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

27 Responses to “ Liberal_arts ”

  1. Republika online : Andi Hakim Nasution
    “Pusing lihat pendidikan di Indonesia”

    Menurutnya, pendidikan di Indonesia akan terus ketinggalan bila NEM dan UMPTN terus jadi parameter. “Dengan patokan itu, para guru tidak lagi mempersoalkan apakah anak didik telah diajarkan tentang disiplin ilmu yang baik, tapi bagaimana mendapat NEM yang tinggi dan lolos UMPTN,” katanya. Secara ekstrem ia menilai fungsi sekolah telah tereduksi.

    “Kalau NEM yang dijadikan patokan, bubarkan saja sekolah, kemudian bentuk menjadi lembaga-lembaga bimbingan tes,” katanya masygul. Karena kesalahan itu, ia menilai hanya 25 persen pelajar di Indonesia yang pantas masuk perguruan tinggi. “Tingkat penguasaan mereka akan bahan pelajaran sangat kurang, karena soal-soal ujian bentuknya pilihan ganda,” katanya.

    Lantas, darimana pembenahan itu harus dilakukan? “Jangan dulu main bongkar kurikulum, perbaiki dulu kualitas guru. Sekarang ini banyak guru yang mengajarkan ‘ilmu berenang’, tapi mereka sendiri tidak tahu ‘berenang’,” katanya dengan mimik serius. Tugas menteri pendidikan dinilainya sangat berat dalam membenahi persoalan itu.

    Budi Rahardjo : Masihkah ada harapan bagi Indonesia

    Beberapa tahun yang lalu saya kedatangan induk semang saya – seorang ibu dari Kanada yang saya anggap sebagai ibu ketika saya berada di Kanada. Dia sempat tinggal di tempat kami untuk beberapa hari. Tentunya dia mengamati saya. Pada suatu ketika dia berkata.

    Mengapa kamu mengurusi orang yang tidak mau diurusi?

    Saya terkejut dengan pertanyaannya. Mungkin itu juga salah satu masalahnya. Diurusi saja tidak mau, apalagi mengurusi ya? Saya kemudian berhenti mengurusi komunitas.

    Masih menumpuk lagi daftar nama orang-orang di republik ini yang setiap hari dibenturkan pada tembok berkepala batu.

  2. Selamat pagi mas,

    Tahun 2008 dari sejak awal tanggal hingga hari ini dikantor saya suasana berbeda dng tahun2 sebelumnya. Semua orang lebih banyak mengeluh dan muram . Saya sendiri jg merasa hidup smakin susah,baru tanggal pertengahan udah kempas-kempis .

    Semua kebutuhan pokok nggak ada yg harganya diam ditempat apalagi turun. Fasilitas layanan umum makin drop mutunya (pln,tlp dll) makin sering byarpet.

    Denger berita , baca koran nggak ada kabar yg gembira. Surfing/browsing inte rnet hampir semua site kunjungan saya berkeluh kesah serupa.

    Sepertinya 2008 bener2 tahun sulit bagi kia semua. Yang saya heran tv indosiar msh gemar ber-supermama dengan pria2 gemulainya. Bersuasana pesta seolah tidak ada apa2 dengan kehidupan disekitar mereka.

    Ya Allah lindungilah kami semua,amin.

    Yang saya heran tv indosiar msh gemar ber-supermama dengan pria2 gemulainya. Bersuasana pesta seolah tidak ada apa2 dengan kehidupan disekitar mereka.

    emang yang gemulai-gemulai itu masih manusia ya mbak? koq masih diliatin.. hehe

  3. oya..adayg terlupa,
    saya pastikan bersama bapaknya anak saya untuk mengijinkan si anak ngga usah pulang dulu apalagi ada kesempatan bekerja disana. Apalagi setelah membaca postingan anda mas. InsyaAllah keputusan kami adalah yg terbaik.

    salam.

    wah..andil artikel di blog ini jangan lebih dari 0.001 % saja ya mbak ?

  4. Harus ada yg berinisiatip menghantam tembok tersebut. Selama bangsa ini masih seperti ini terus kelakuannya, baik dari pemerintah mau pun rakyatnya maka bukan tidak mungkin apa yg dinamakan kondisi “chaos” akan terus terjadi, baik dalam skala kecil maupun dalam skala besar.

    Jgn salahkan anak bangsa yg sekolah di luar negeri trus tidak mau kembali ke indonesia, karena mereka yg diluar negeri memandang indonesia dari sisi yg tidak bisa dilihat oleh orang2 yg tinggal di indonesia, Sehingga mereka lebih tau indonesia itu seperti apa bentuknya. Kita selama ini seperti katak dalam tempurung, karena pada rezim orde baru kita memang dikondisikan seperti itu, di “skenario” supaya kita mengikuti “story Board” dari sang “Sutradara”.

    Jika Keadaan terus seperti ini, maka saya bisa meramalkan tugas calon presiden mendatang. Tugas Presiden Republik Indonesia Terpilih Tahun 2009 adalah mencari lahan untuk menguburkan rakyatnya.

  5. HUAHAHAHA…baru sekali ini saya menangis dalam tertawa yang terbahak “mencari lahan buat ngubur rakyatnya…”

    Ini kalimat ‘genuine’yang belum pernah diterbitkan siapapun hehe. Masalahnya kuburan aja sekarang udah mahalnya bukang maing .. masa suruh dicemplungin di got aja .

  6. aSikk bgt mas,baNyak oRg pinTar samPai doSen diSini. Lama2 bisa Jadi UT jsop neh..diSini.
    kekeke…Gratis lAge!

    SaloUte to jsoop :)

  7. hehe..sama. memori langsung ke-pelajaran jaman renaisans , sebetulnya terus terang aja pertama kali saya baca artikel diatas ini saya langsung terobses nyari bukunya plato eh..ketemu “plato today” / crossman , tapi nggak lama langsung nyerah..inggris kampung saya nggak ngudak istilah-istilah dan terminologi hukum yang ada . (lha wong cuman seniman koq mau sok-sok an jadi tukang sains)

    Saya baca lagi artikel mas Arli diatas sampai 2 kali,lalu 3 kali , koq rasanya jadi tambah pinter ya.. sampe’sampe’ udah ngerasa jadi S2 .hehehe..

    Makanya sekarang saya lagi nungguin bpk.Budi Rahardjo dia sudah janji , sebab saya sudah siapin blanko kosongnya , tinggal diparaf . “S3″ langsung .

    sip dah!

  8. WAaAAkkKS..!!! ikutan mas

  9. hehe.. begini nih .. makanya negara kagak maju-maju . Orang mau dapet gelar aja banyak yang mau nebeng gratis hehe..

    Mungkin bupati-bupati sama gubernur-gubernur yang disuruh turun lagi waktu itu , dapet ijazahnya juga kayak maunya saya barusan. Pantes Indonesia Raya amburadul .

    udah ah [seriouse mode on]

  10. weleeh..suwe ora djamu..wes tekan ngendhi iki.

  11. Bangsa kita terutama kaum2 muda skrg ini seperti berdiri di atas lumpur hisap, semakin sering bergerak semakin dalam juga mereka tenggelam dan akhirnya mati. Sama seperti yg saya alami dulu, semakin kami bergerak untuk mencapai “daratan” yg namanya demokrasi, semakin dalam juga kami tenggelam dan bahkan sebagian dari kami ada yg “mati”. Akhirnya sebagian dari kami memilih diam karena “Mati” bukanlah tujuan kami

    Lumpur2 Hisap di negara kita ini yg harusnya ditutup, mungkin dengan memberikan “papan peringatan” ataupun yg lebih ekstremnya lagi di timbun bahkan mungkin di cor atau disemen. tapi siapakah yg berani melakukan itu? sedangkan kita semua dalam posisi ada di dalam lumpur hisap tersebut. Sudah Banyak contoh mereka2 yg mencoba bergerak ke segala arah dan akhirnya mati. Ada yg menggunakan arah partai politik yg akhirnya merekapun mati dan dikubur didalam makam yg namanya “Demi kepentingan partai, bukan kepentingan rakyat”, ada yang mati dan dikubur di dalam makam yg namanya “Birokrasi Kenegaraan”‘

    Ini terkadang yg selalu ada di benak saya, apakah saya harus “mati”, ataukah harus diam tak bergerak menunggu ada pertolongan yg datang? sampai kapan pertolongan itu datang? Mbuh wes… belum ada tanda2 juga pertolongan bakal datang.

    hm..pertolongannya ya yang anggarannya 20% dijanji’in melulu dari semenjak nulis konstitusi , nulisnya diatas air sih..

  12. @kumbang: wah.sikumbang pejantan baru habis menghisap sangkar madu ye’..hehe ane gintur boz dari sore , sampai mertoku ulang taon aye gak dateng (masih molor).

    @gandhi: analogi sampeyan memang pas(lumpur hisap) mungkin bisa ditambah ada ulet naga yang hidup didalamnya . Jadi ibarat kita diam aja selain bisa melorot juga jangan coba-coba bergoyang , karena itu sebuah signal bagi sang predator .
    *tapi lumpur hisap saja juga sudah mematikan , ditambahin naga malah hyperbols* hehe
    (maklum..saya juga genetik melayu secara orang Indonesiyah kalau kurang serem kurang pol)

    Dibuat tidak beres dan diterapkannya sistem pendidikan/politik masyarakat ini oleh orba selama 32 tahun telah membuat kita kehilangan momentum saat proses alih / perpindahan dari masyarakat terbelenggu ke masyarakat modern yang demokratis yang terjadi waktu itu[: reformasi]

    Sebab prasyarat utama dan instrumen kelengkapan yang harusnya ada kita nggak punya , yaitu masyarakat madani yang siap mengawal proses alih komando supaya bisa berjalan mulus .[: kelompok menengah]

    Hari-hari setelah itu baru masyarakat madani berusaha bangkit menampakkan dirinya. Sayang… ego sektoral dan issues primordial masih menjadi “kenyataan” dari bangsa yang lahir dari berbagai ragam keanekaan / heterogen ini. Belum lagi seperti yang anda analogikan “dihisap lumpur birokrasi kepentingan yang lebih pragmatik”

    Akhirnya kita semua menjadi sadar , terlebih hari-hari belakangan ini bahwa kunci dari segala instrumen supaya bisa keluar dari lumpur kemelut tersebut adalah “PENDIDIKAN” . Seperti intisari dari artikel yang ditulis berdasarkan teory Plato tersebut diatas.

    Harus bisa dibedakan think to live dan to rich karena dimulai dari how to think right dan think to find the truth . Jadi jangan semua-semuanya asal “to live” apalagi mau langsung menuju “to rich” tanpa melewati : “how to think right and think to find the truth” .

    Ini memang ilmu retorika serta dialektika dan itulah humaniora yang kita lalai diajarkan disekolah-sekolah negeri kita . Seperti yang dipahami oleh petinggi negeri ini bahwa “ngantre beras atau minyak tanah disamakan seperti harus ngantre diloket kereta atau bis kota” , bukankah …guuuoobllogg temenan..Bahkan rekan saya seorang profesor doktor pernah mengatakan bahwa di Indonesia ini humaniora baru mulai diajarkan dilevel S3 . Level-level sebelumnya lebih berkiblat pada sifat-sifat kekaryaan .

    Soal apakah memang benar begitu atau dugaan yang keliru? , meneketehe’ wong saya cuman seniman bukan doktor , mantri kampung aja bukan.., tapi instink naluri bisa merasakannya kan ?

    nb: Itulah hati nurani yang nggak bisa dibeli ditoko dan ditawar-tawar , lain kalau emang sudah nggak punya lagi!

  13. Untuk yang mau minta tanda tangan blanko S3, saya tawarkan S4 aja sekalian. Malah ini mereknya Siemens. he he he. Merek wong londo. Pasti lebih bagus dari S3. :mrgreen:

    Mode serius. Mas Yockie benar bahwa masalah humanioira memang tidak diajarkan di level bawah. Tapi saya merasa di luar negeri juga demikian, meskipun mahasiswa lebih bebas untuk menyerberang. (Misalnya ketika di sono saya diperkenankan mengambil kuliah filsafat, meski saya dari engineering.) Tetapi ada dosen di Indonesia yang memasukkan hal ini dalam kuliahnya sebagai selingan. Sekarang kan yang lebih ditekankan adalah hard skill dari jurusan yang bersangkutan. Kalau orang elektro, ya urusan dengan rangkaian, rumus, dan seterusnya. Padahal ketika kita melakukkan desain dia tidak berada di ruang ideal yang lepas dari berbagai batasan (ekonomi, sosial, budaya, …)

    Baru saja 3 tahun saya mengajar kuliah Konsep Teknologi yang komprehensif (karena tidak melulu engineering – ada kuliah HaKI dari dosen Hukum, entrepreneurship dari top 10 entrepreneur, ada kuliah dari saya … sebagai dosen edan. he he he) eh … diubah lagi. Katanya mau dihapuskan. Padahal saya sudah invest 3 tahun di situ (memikirkan kuliahnya). Lemes …

  14. hehehe.. S4 merk siemens jangan-jangan rice cooker tuh..

    Mas katanya memang di Kanada dan ada beberapa negara lain yang sistemnya agak berbeda dengan amrik atau eropa? (keras dan kaku?)

    Kalau dugaan saya humaniora mungkin memang tidak harus mutlak masuk kurikulum (kecuali yang mau nyebrang tadi) sebab rambu-rambu dan sistem diluar kampus pendidikan (hukum ditengah-tengah masyarakatnya) sudah establish dan berlaku serta berjalan dengan baik . Suasana dalam peri-kehidupan sangat mendorong terciptanya peluang untuk orang bisa menjadi kreatif dan semangat untuk mencari terobosan baru , dibidang apa saja.

    Jadi seperti ilmu sosial dan segala macam lainnya bisa dipelajari langsung saat kita berinteraksi dengan sesama , sementara value/nilai/hukum normatif sudah mengontrol , mengawasi kita dengan sendirinya.

    Saya juga hanya menduga sebab saat kita berkomunikasi dengan kehidupan mereka disana hal tersebut sangat terasa bukan?
    Mereka terkesan seolah cuek acuh atau bahkan individualistik , padahal sebenarnya justru tidak begitu . Menurut saya mereka justru patuh pada rambu-rambu tadi untuk tidak mencampuri atau mengganggu hak-hak privasi orang lain.

    Di Indonesia saat ini kondisinya justru terbalik 180 derajat , seolah kita peduli kepada sesama , tetapi disaat orang tersebut tidak seperti ekspektasi kita , kita menjadi tersinggung dan cenderung tidak suka padanya. Padahal urusan dia jelas tidak sama dengan urusan kita . Artinya disini subyektivitas sangat tinggi dan merejalela.

    Mengenai konsep kuliah anda yang sudah tiga tahun berjalan lalu mau diubah lagi..?

    Nah itulah perilaku mental orba mas , belum tentu atas nama ulah orang Indonesia , karena belum terbukti orang Indonesia sebodoh itu semua. Tapi yang pasti otak-otak warisan orba begitu semua.

    Mas Budi kan masuk jajaran barisan terakhir (kalau mengambil analogi pembanguan sumber daya manusia) ya santai aja dulu mas hehehe..

    Biarkan barisan pertama yang bekerja didepan untuk membuka jalan (berjuang untuk merubuhkan struktur birokrasi sakit yang lama) Nggak banyak yang bisa kita perbuat kecuali tugas dan kewajiban memanggil kita . Itu juga yang saya lakukan saat sekarang ini .

    Menunggu perubahan yang sebenarnya , tapi bukan berarti saya pasrah duduk diam sambil menerima keadaan dengan begitu saja . Saya berusaha melawan sesuai kapasitas perlawanan yang mampu saya lakukan mas. Ya seperti ini …

    Tapi kalau besok atau lusa kondisi mewajibkan saya untuk turun ke jalan sambil bawa “pring lancip” itu hehehe… ya apa boleh buat .. biar kata umur sudah tidak muda tapi tenaga masih oke punya lho mas.. haiyaah .

  15. mas, soal alokasi 20% memang serba sulit lho. Kalau itu dipenuhi banyak rutinitas premier lain yg bisa gak kebayar.

    Seperti buah simanungkalit:)))))

  16. Biarkan barisan pertama yang bekerja didepan untuk membuka jalan (berjuang untuk merubuhkan struktur birokrasi sakit yang lama) Nggak banyak yang bisa kita perbuat kecuali tugas dan kewajiban memanggil kita . Itu juga yang saya lakukan saat sekarang ini .

    kalo barisan pertama ternyata terlalu banyak bergerak dan akhirnya tersedot lumpur hisap dan dimakan naga gimana pak dokter? :sad:

    Sebenarnya udah ada yg berusaha bergerak untuk mengikis birokrasi yg kompleks di negara kita, sayangnya mereka tidak mempunyai jalur alternatip selain jalur yg sudah ada. walau mereka tau bahwa jalur itu akan menelan mereka juga.

    nostalgia Mode On

    dulu saya pikir orang yg di mutasi ke luar negeri adalah mereka2 yg mendapat kehormatan. Pernah berdikusi sama [alm] papa soal ini.

    saya : enak ya pa, papanya si A skrg jadi dubes

    Papa : enak gimana sih?

    saya :ya enak bisa keluar negeri kapan aja, si A kalo liburan keluar negeri. Papa kapan nih jadi dubes?

    papa : hush.. kepingin ya papamu “dibuang”?

    saya : ha? kok dibuang? bukannya itu kehormatan?

    papa : itu istilahnya “dikotak kan”, di penjara secara halus.

    saya : mikir maksudnya apa tetep aja gak ngerti

    setelah saya besaran dikit baru saya ngerti, maksud perkataan [alm] papa, dan saya juga akhirnya tau bahwa beliau juga pernah “dikotak kan”

    Back to Serious

    itulah sekelumit pelajaran dari Papa saya, dan itu yg terjadi dengan situasi politik di negara kita. Gak usah saya sebutkan, banyak tokoh2 dalam pemerintahan yg mulai bergerak untuk mengikis borok2 di negara kita dan akhirnya dikotak-kan, ini terjadi juga pada masyarakat kita. masyarakat kita dibikin berkotak-kotak, dengan sisi kotak tersebut terbuat dari “bahan2 yg sensitip” sehingga jika tersenggol sedikit aja maka bisa memicu konflik. Masyarakat kita yg dulu terkenal dengan “tepa selira” nya di mata luar negeri skrg sudah menjadi masyrakat yg seperti Pak Dokter uraikan di atas.

    Hari-hari setelah itu baru masyarakat madani berusaha bangkit menampakkan dirinya. Sayang… ego sektoral dan issues primordial masih menjadi “kenyataan” dari bangsa yang lahir dari berbagai ragam keanekaan / heterogen ini. Belum lagi seperti yang anda analogikan “dihisap lumpur birokrasi kepentingan yang lebih pragmatik”

    Kasus terbaru adalah Pilkada Makasar. Kalo saya boleh bilang
    “Lagu Lama Aransemen Baru “

  17. mas hariaja ,

    betul mas hariaja , itulah yang dimaksud dengan jaringan penyakit kanker yang sudah menyebar , tetapi mudah2an jenis kanker yang masih bisa dijinakkan . Itulah makna optimis yang harus kita jaga , karena kalau tidak ..ya ngapain masih mikirin Indonesia .Kanker yang saya maksudkan adalah struktur birokrasi yang telah menciptakan tatanan korup dalam sistim kepemerintahan dihampir segala urusan sampai kepada ke-pegawaian dihampir seluruh departemen dan instansinya .

    Semuanya itu hanya membebani proses kesejahteraan rakyat , serta diduduki oleh orang-orang yang tinggal meneruskan berlangsungnya hirarki sistim kepegawaian serta kepangkatan secara asal berjalan turun temurun , namun tak ada hubungannya dengan perubahan serta kebutuhan mendesak kesejahteraan rakyatnya sendiri dihari ini . Bahasa kasarnya bisa dikatakan cost yang nggak ada gunanya. Bayangkan…itu terjadi hampir diseluruh jaringan nadi-nadi instrumen kepemerintahan Indonesia .

    Karena itu saya pernah singgung sebelumnya betapa rumit serta beratnya resiko yang harus dihadapi apabila kita mengacu pada contoh-contoh negara lain dibelahan dunia , jika mereka ingin melakukan perubahan , pemilu atau pemilihan presiden misalnya. Yaitu “Bedol Desa” artinya menyingkirkan pos-pos yang nggak perlu serta menciptakan yang baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan pemerintahan barunya . Begitulah yang terjadi dinegara-negara maju kalau ada pemerintahan baru yang berkuasa. Nggak ada itu wajah-wajah lama tetap bercokol di pos-pos penting dan sebagainya. Semua nyingkir tau diri diganti oleh wajah baru , dan semua juga sadar untuk nggak perlu sakit hati . Sebab tugas bagi keberlangsungan negara memang harus dipikul secara bersama-sama dan bergantian bukan warisan yang diturunkan oleh mbah kita sampai ke cucu dan cicit kita.

    Kalau sekarang aplikasi tersebut mau dijalankan disini atau harus diterapkan secara tiba-tiba dan mendadak serentak? sudah bisa dipastikan malah bubrah uyah …sim salabim jin dan jun nongol lagi. Saya mending sarungan digunung aja lagi kayak mbah saya sendiri dulu..

  18. Ngobrolin bahasan seperti ini memang perlu dibiasakan ditengah-tengah kehidupan masyarakat umum . Hal-hal seperti ini sudah distigmaisasi seolah obrolan politik yang hanya urusannya orang pemerintahan . Sementara kalau rakyat yang ngomong serta merta langsung sering dicibir sinis , sok tau katanya .

    Sulit dibedakan mana yang sok tau atau mana yang tolol karena bener-bener nggak tau bahkan nggak mau tau . Padahal ini semua urusan hidup kita masing-masing apapun profesi serta bidang pekerjaan yang disandang . Semuanya pasti urusannya mentok disini.

    Karena itu yuk..kita beda’in , supaya kita tidak termasuk kelompok orang yang nggak tau tadi .

  19. mas gandhi,

    kalo barisan pertama ternyata terlalu banyak bergerak dan akhirnya tersedot lumpur hisap dan dimakan naga gimana pak dokter?

    Kita hanya bisa berharap dan ikut mendorong secara bersungguh-sungguh segala upaya bagi tujuan bersama yang mereka lakukan , tentu lewat cara dan profesi kita masing-masing. Seperti yang saya singgung diatas , inilah makna optimisme kita bagi keberlangsungannya negara . Kalau mereka kemaren masih gagal .. bukankah lahir generasi babak berikutnya , masih gagal juga? kita dorong lagi generasi selanjutnya . Terus mas…… sak matek’e..hehe

    Kasus terbaru adalah Pilkada Makasar. Kalo saya boleh bilang
    “Lagu Lama Aransemen Baru “

    lagunya dangdut nggak mas .. pake’ goyang seerrr nggak? kalau pake’ goyang mak serrrr… kita telanjangin rame-rame aja…terus taruh ditengah lapangan biar dirubung laler.., heran ya kondisi udah semakin mendekati titik nadir begini masih bisa meracuni pikiran orang dengan pamer paha dan dada , serta sekedar terus menjajakan urusan birahi . *loh..koq jadi ngomongin lagu* dasar bento juga saya

  20. wah..hari minggu serasa hari senin nih mas -:)

    Balik soal pendidikan mas,saya ingin tau pe rspektif mas Jockie dalam menyikapinya.Okelah katakan 20% tersebut tidak juga bisa terpenuhi sampai beberapa pemilu lagi.

    So…?

  21. mas, soal alokasi 20% memang serba sulit lho. Kalau itu dipenuhi banyak rutinitas premier lain yg bisa gak kebayar.

    sebenarnya gak sulit pak, jujur aja 20% anggaran pendidikan itu bisa dicomot dari pos2 lain yg notabene mungkin pemakaian biayanya gak sebesar yg dianggarkan. masalahnya adalah “kontrol sosial” dan “kontrol pemerintahan” yg gak ada. siapa yg dikontrol dan siapa yg mengontrol gak ada yg jelas. Akibat dari itu semua adalah banyaknya kebocoran2 disana sini. Kebocoran2 inilah yg mustinya diperhatikan, msalahnya “Tukang tambal” dan “tukang pipanya” yg gak ada. Hampir di semua departemen di negara ada kebocoran. Perangkat2 yg harusnya mengawasi dan menindak aja terkesan semua cuci tangan.

    Serius mode Off

    lagunya dangdut nggak mas .. pake’ goyang seerrr nggak? kalau pake’ goyang mak serrrr… kita telanjangin rame-rame aja…terus taruh ditengah lapangan biar dirubung laler.., heran ya kondisi udah semakin mendekati titik nadir begini masih bisa meracuni pikiran orang dengan pamer paha dan dada , serta sekedar terus menjajakan urusan birahi .

    wakakakkaka… dandgdut koplo kayaknya, biasa jalan pintas menuju popularitas. masalahnya laler aja udah bosen kali Pak ngerubungi begituan, udah bosen katanya, udah 32 thn gitu terus. dan yg ditelajangi juga udah jadi exibisionis pak, mereka lebih bangga dan puas ditelanjangi didepan orang banyak hehehehe

    mas gandhi , tetapi kontrol keuangan negara sudah mulai ada dong…walaupun mungkin belum mampu menekan kebocoran secara signifikan (MTI / ICW dan banyak lagi) maklum malingnya juga semakin canggih (pake’ lawyer lagi)

  22. (sorry ya mbak karena sya sambil ngadepin keyboard terus sambil juga type comment jadi sering ngalor ngidul , pikiran kemana-mana udah kayak superman aja nih mbak hehe)

    Balik soal pendidikan mas,saya ingin tau pe rspektif mas Jockie dalam menyikapinya.Okelah katakan 20% tersebut tidak juga bisa terpenuhi sampai beberapa pemilu lagi.

    Wah ini lho yang kerapkali disukai sama orang Indonesia mbak. Misalnya mau bikin montor mabur tapi nggak pernah mikir bikin bannya dulu , ujug ujug mau mak..blesss nyang duwur .

    Kalau saya ditawarin pindah rumah ke Menteng ya pasti mau kan mbak , tapi begitu mounthly op.cost nya 10 kali lipat dari rumah saya sekarang , ya mending saya jual aja kalau boleh . Nah orang Indonesia itu suka yak’yak’o gitu lho mbak , bangga tinggal di menteng padahal banyak utangnya.

    Jadi ya jangan pernah mikir kita semua akan jadi pinter lalu bisa maju kalau 20% itu di akal-akalin terus (nyicil sampek bongkek)

    Lagian itu (20%) bukan rencana yang tiba-tiba lho mbak , itu sudah perintah mbah-mbah kita sejak awal merdeka (konstitusi) , jadi pemimpin-pemimpin yang ada selama ini ya bisa dikatakan nge-gombal doang . Mereka ngomong pasti 20% akan dilaksanakan …cuman waktu nyari dukungan suara doang . Artinya apa kalau bukan … menipu . Mau pakai sejuta alasan sekalipun ya tetep nipu namanya , titik . Artinya lagi kalau memang sudah tau bahwa itu sesuatu yang nggak mungkin dilaksanakan … ya jangan janji . Ya jangan jadi presiden , ya jangan mencalonkan merasa mampu jadi pemimpin . Dan jangan…jangan…jangan banyak lagi mbak.

    Termasuk “jangan asem” , itu bandnya temennya pak gandhi yang di sby . [surabaya lho…maksudnya]
    *buru-buru nyari topi helm..siapa tau ada peluru karet nyasar*

  23. mas Yockie benar tentang “pendidikan” di luar sana.

    Ada kawan yang membuat analogi yang bagus seperti ini. Di Indonesia, pendidikan diserahkan kepada dua komponen; sekolah dan rumah. Okelah di sekolah kita kesampingkan. Anggap saja sudah benar.

    Nah, soal di rumah. Di sebagian besar rumah di Indonesia, anak-anak dimarahi dan dikuliahi di rumah. Contoh. Mamah nggak suka kalau kamu nakal. Kamu haru ini, itu. Dan seterusnya.

    Ketika keluar, berada di masyarakat, maka ini adalah tempatnya pamer! Anak saya hebat ini dan itu lho.

    Ini sebetulnya masih mending. Sekarang fungsi pendidikan di rumah juga sudah berkurang, sehingga hanya satu (1) pilar saja yang diharapkan mendidik yaitu sekolah. Jika ternyata sekolah tidak berfungsi *MENDIDIK* (bukan mengajari), maka bubar jalanlah semuanya.

    Mari kita bandingkan dengan di laur negeri. Di luar negeri, pendidikan diserahkan kepada (1) sekolah; (2) masyarakat. Ya ada juga yang diserahkan kepada keluarga (rumah), tetapi mereka lebih menonjolkan masyarakatnya.

    Ok. Kita lupakan juga yang soal sekolahan ya. Kita langsung ke pendidikan yang ada di masyarakat. Contoh yang saya maksudkan adalah begini. Coba perhatikan instruksi atau rambu-rambu di bis kota misalnya. Di sana ada tulisan, berilah tempat duduk kepada orang tua dan yang membawa anak-anak. Apakah mereka tidak tahu ini? Tentu saja sudah tahu. Tetapi tetap saja itu dituliskan sebagai bagian dari pendidikan.

    Masih banyak contoh yang seperti ini. Pendidikan yang berada di masyarakat!

    Di kita, ini tidak ada. Di masyarakat tidak ada pendidikan. Diharapkan semua orang sudah tahu (darimana tahunya?)

    Nah, jadi biarpun di luar negeri keluarganya broken home, berantakan tetapi tetap saja ada kemungkinan menghasilkan anak atau orang-orang yang baik karena masyarakatnya mendidik. Apalagi ditambah dengan sekolahan yang mendidik juga. Jadi mereka punya dua pilar, sementara kita kosong. 2-0 untuk kemenangan mereka.

    Problem saya adalah kosong (nol – 0) itu. Dia mau dikali berapa saja tetap nol. Tidak bergerak. Kalau ada 1 atau 0.5 lah. Masih ada kemajuan. Lambat memang, tapi … maju jalan! Saya masih bisa sabar menanti Indonesia maju 100 tahun nanti. Tidak mengapa. Tidak harus dalam kehidupan saya, tetapi harus ada progress. Itu saja. Kalau nol, diam, jalan di tempat. Ya mbok sampai 1000 tahun akan tetap seperti ini.

    Mudah-mudahan analogi yang saya “curi” dari kawan saya tadi bisa dapat dipahami.

    Itulah sebabnya saya sangat mengharapkan kita menjadi masyarakat yang mendidik. Sekedar membuat tulisan “dilarang membuang sampah di sini” merupakan kontribusi postif. Mungkin 0,001 … tapi tetap dia lebih besar dari NOL.

    hehe saya baru sadar juga , kenapa selama ini anda terkesan merendah didepan siswa-siswa anda sendiri .

  24. loh kita kan udah jadi bangsa instant, maunya serba cepet, gak perduli lagi proses, dampak, ato seberapa besar keuntunganya buat bangsa. ada uang semua lancar, gak heran cucu dari cucu nya saya juga menanggung beban utang ini, padahal lahir aja belum.

    “Apes jarene cucu dari cucu ku sesuk kalo pas lahir”

  25. Ngaco Mode On

    Pak, celavi kok gak ada yah? downloadnya dimana nih?

    anda PM ke site saya dulu , setelah link connected baru keliatan .

  26. mas Budi, berarti waktu kita maunya bersih-bersih badan , tapi karena tidak mengenal tubuh maka bersih-bersihnya kelewatan ya? bisa dikatakan seperti itu kan?

    Kita mau meninggalkan tradisi yang lekat dengan feodalistik / paternalistik (di hampir semua tradisi budaya bangsa-bangsa yang ada di nusantara) tapi kita tidak menyisakan ajaran nilai-nilai adi luhungnya (tata krama beserta sopan santun serta budi pekertinya?)

    Ibarat chemoteraphy penderita cancer , semua antibodi kita digasak habis . Jadi seperti penderita HIV dong kita semua . :(

  27. Ngaco Mode On

    Pak, celavi kok gak ada yah? downloadnya dimana nih?

    anda PM ke site saya dulu , setelah link connected baru keliatan .

    wah maap saya kurang dengan multiply hehehehehe. saya coba deh makasih ya Pak :mrgreen:

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara