sOLusi

perlawanan

Kalau pada posting sebelum ini ada sebuah artikel yang berjudul Liberal arts yang ditulis oleh rekan Arli sebagai salah satu solusi yang ditawarkan bagi konsep recovery , maka boleh juga dong saya atau bahkan kita masing-masing wajib melatih otak kita untuk juga memikirkan solusi lainnya . Sebab kalau hanya protes terus-terusan tanpa mampu untuk mulai berpikir melahirkan gagasan sama aja ngomong dengan udara , jangan-jangan malah dukun santet yang mendengar bahkan meresponnya .

Kalau menurut saya (sekali lagi..belum apa-apa jangan dibilang sok teu ye”..tapi emang pas-pas’an) Ada dua pendekatan sebagai arah yang harus dikerjakan bagi proses recovery tersebut.

Kalau melihat atau mencontoh kasus diberbagai negara dimana perubahan selalu terjadi dengan ikut dilibatkannya akar rumput atau kelompok masyarakat luas , koq rasanya saya agak pesimis hal tersebut bisa diterapkan bagi masyarakat yang beragam ini . Sebab ya karena masyarakat yang majemuk dan heterogen itu tadi yang menjadi persoalannya. Masyarakat tersebut sebahagian besar masih belum dilengkapi kesadaran yang cukup yang diperlukan secara minimal bagi terselenggaranya sebuah sistem ber-peri-kehidupan yang demokratis.

Contoh dari berbagai upaya-upaya tegaknya sistem hukum dan berbagai pendidikan-pendidikan yang kerapkali dihadapkan pada kendala kondisi yang spesifik adalah cermin yang bisa dijadikan bahan pelajaran. Artinya bila pendekatan recovery dimulai dari perspektif ini , maka sungguh teramat mahal serta lamanya waktu yang dibutuhkan untuk bisa mengakomodasi hak-hak politik 33 kamar propinsi yang tersebar diseluruh pelosok wilayah Indonesia . Belum lagi resiko-resiko hasutan atau provokasi dari pihak luar yang mungkin-mungkin saja bisa memperkeruh keadaan , yang intinya mereka amat diuntungkan seandainya kita terus-terusan mengambang seperti ini atau bahkan mungkin saja bisa benar-benar bubar dijalan .

Sebab apa? sebab saya bicara Indonesia dalam konteks masyarakat yang hampir 250 juta banyaknya .. itulah Indonesia yang ada dikepala saya , bukan segelintir ratusan atau bahkan ribuan para pekerja yang ditugaskan untuk menyelenggarakan berjalannya sistem pemerintahan . Terlalu kecil kalau melihat Indonesia dari photo-photo pejabat negaranya.

Solusi satu-satunya yang ada dikepala adalah perubahan yang digelontorkan dari atas . Artinya harus ada sebuah kemauan besar untuk memaksa keadaan dan mengganti semua struktur politik / ketatanegaraan yang ternyata memang banyak merugikannya dibanding menguntungkan bangsa . Apalagi struktur diatas tersebut terlihat semakin hari semakin tampak memperkuat benteng-benteng pertahanan-nya , dengan menciptakan berbagai perangkat-perangkat hukum yang dilegitimasi hingga bisa mereka sebut sebagai aturan yang konstitusional . Artinya bisa saja memang disebut sebagai status quo wajah baru .

Sebab aturan yang disebut konstitusional tadi akan dipertanyakan maknanya bila dia justru tidak menopang terciptanya tatanan yang baik bagi kesejahteraan masyarakatnya. Untuk apa ada hukum sampai dengan pengadilan kalau undang-undang yang tertulis sebenarnya tidak bermaksud kesana . Bukankah sama saja dengan sebuah pembenaran yang semena-mena atau sering saya istilahkan dengan ‘penyesatan pikiran’ yang dibenarkan atau dihalalkan.

Karena itulah saya berasumsi bahwa negeri ini akan mampu beranjak dari segala keterpurukannya kalau contoh-contoh konkrit tersebut bisa dimulai serta dilakukan oleh para / orang-orang yang sekarang diberikan mandat untuk memimpinnya .

Selama kondisi diatas masih dikerubungi oleh hawa nafsu jahat yang terselubung wajah-wajah rupawan dan selama kita masih sering terpesona dengan penampilan “berita iklan” maka sungguhlah masih sulit pula posisi bangsa Indonesia yang sebenar-benarnya tadi . (250 juta’an jiwa)

Tentu saja solusi yang saya usulkan ini adalah hak preogratif saya sebagai manusia dan warganegara , anda juga boleh atau bahkan harus punya gagasan juga untuk turut menyumbangkan pikiran anda , sebagai bukti & kontribusi anda sendiri pada negara anda sendiri .

Kalau untuk berpikir secara sederhana seperti ini saja anda sudah malas , maka saran saya gantilah segera KTP anda dan menyeberanglah segera keluar dari wilayah Indonesia .

Jangan-jangan anda memang tidak berjiwa Indonesia atau hanya secara kebetulan saja anda dilahirkan oleh orang tua anda yang orang Indonesia atau dirumah sakit Indonesia . Meskipun hal tersebut juga hak pribadi anda sendiri untuk mengaku-ngakunya dan bukan juga hak saya untuk mengadili anda . Silahkan saja , namun pertegaslah wajah anda jangan berubah-ubah muka karena itu adalah sebutan ‘hipokrit’ dan juga berdosa secara agama, apapun agama anda . Sama saja .

Tetapi perlu diketahui juga bahwa bukan dengan bentuk kekerasan perubahan tersebut kita harapkan bisa berjalan , ini yang harus kita camkan bersama juga.

salam orang jawa yang pengen jadi Indonesia!

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

11 Responses to “ sOLusi ”

  1. boz baca tulisan eep di kompas “politisasi seleb dan seleb berpolitik” , njenengan termasuk gak mas waaakkkaakaka..
    guyon lho sam.. [kompor mode on]

  2. bursa warung politik sdh mulai dibuka mas.Untuk menyongsong 2009 yg tinggal sejengkal lagi.

  3. Vote JSOP For President

    *Moga2 Panas Beneran tur nekat hehehehehe*

  4. @:mas gandhi kaya gambar ilustrasi diatas , gak nyadar nginjek “tu’an”nya sendiri sangking pedenya.

    hehe mas-mas emang ade’ nyang salah ama omongannya aak eep di-kompas? , ane’ rasa bener bener aja khan? . Sebenernya sih sah-sah aja seleb mau berpolitik atau politikus mau ber-seleb ria .

    Yang semuanya jadi terasa nggak bener bahwa mereka semua bukan mau berpolitik dalam konteks “politik” sesungguhnya sebagai instrument mengelola negara demi kepentingan penghuninya . Tapi sekedar menggelar tontonan politiking .

    Berpolitik sama ber-politiking dua hal yang berbeda khan? sebab kalau politiking itu adalah bermain “ciluk-bha” , sama sekali nggak ada batas etika moral yang perlu dijaga . Misalnya saya salah dalam berperilaku dan sudah jelas perilaku saya merugikan hajat hidup orang banyak lainnya , dalam konteks politiking saya mencari pembenarannya dengan segala macam cara . Sementara dalam kaidah politik yang berbudaya atau yang masih berpijak pada nilai moral & etika yang berlaku hal tersebut tidak bisa dibenarkan begitu saja.

    Ukurannya apa? ya .. rasa keadilan bagi orang banyak yang dirugikan tersebut. Sementara dinegeri ini seperti yang jelaskan diatas , bahwa rakyatnya masih dibodoh-bodohin terus agar nggak pernah ngerti apa itu politik . Yang mereka tau bahwa politik itu busuk dan sebagainya , titik . Makanya semakin semena-menalah orang-orang yang bermain-main diwilayah politiking tersebut.

    Saya berpolitik praktis? misalnya sampai ikut-ikutan masuk partai dan sebagainya? Artinya dengan sadar saya juga mau ikut-ikutan main njot-njotan joget politiking tersebut .

    Mbok sampai saya nyedot napas yang terakhir sekalipun , bila diberi kesempatanpun sama saja dengan saya mencium bau kentut saya sendiri itu yang namanya politiking . Kembali pada tulisan eep dikompas bahwa yang dia tekankan adalah substansinya bukan? apa itu substansi bagi politik di Indonesia?

    Menurut saya substansinya adalah : udah tau pemahaman pada sistem politik dalam ber-partainya masih buruk dan hanya melanjutkan sistem birokrasi yang juga buruk . Artinya siapapun yang akan masuk keruang tersebut praktis akan menjadi bagian dari sistem yang buruk , dan pasti akan terus merugikan kepentingan rakyatnya , koq masih juga diterusin sih….

    Berbeda khan dengan yang terjadi pada ronald reagan atau arnold schwarzenegger di amrik sono .

    Mereka sudah punya sistem yang baik serta terbukti bermanfaat bagi kepentingan masyarakatnya sendiri . Jadi sah-sah saja misalnya ada pelawak atau tukang kebon kacang-kacangan jika bisa jadi presiden dan sebagainya.

    Saya juga pengen kalau negara saya sudah bisa seperti itu . Enak juga jadi presiden kali ya…makan gratis semua-semuanya dibiayain negara .nyammmm…tidur lelap dan nyaman nggak mikirin besok ditagih sama simbok didapur “pak hari ini mau masak apa pak…tukang sayur udah didepan rumah” dan sebagainya..(*sambil kita melongok kedompet…masih ade berapa ya isinya ..jangan2 udah ludes*) hehehe

    Jadi fenomena seleb berpolitik atau sebaliknya di Indonesia ini menjadi salah kaprah ….., mentang-mentang di amrik sudah terjadi dan biasa …, maka seolah kita juga bisa melakukannya … persis seperti mau ber demokrasi , seolah-olah tau apa itu demokrasi .

    Padahal ternyata yang kita tau cuman menuntut hak saja , itu namanya demokrasi katanya … emang demokrasi mbah nya yang punya apa..hehe , preet dah!

  5. setuju ! mas

  6. aQ abSen niy seBab aQ buKan Ce apoLitis kekekekeek….!!

  7. Berdoa aja Pak, kan udah disahkan tuh undang-undang calon independent buat jadi presiden, mudah2an moment ini ada yg memanfaatkan dan berhasil merubah bangsa ini jadi lebih baik. Amiiinn

  8. mas, seperti apakah proses perubahan yg tersirat dalam pikiran mas? apakah pemimpin yg baru nanti pasti akan mau merubah kondisi ini?

    siapapun pemimpin baru nanti tugasnya kan ibarat sebagai komandan dimedan pertempuran kan mbak . Apa yang terjadi kalau pasukannya nyeleneh nggak punya aturan serta bagaikan perangkat tempur yang tak terlatih dengan disiplin ilmu perang .

  9. Ya dengan pikiran dan sikap.

    Mulai saat ini ajak otak kita untuk berpikir merdeka . Untuk tau apa itu merdeka harus memahami apa itu terjajah , maka kalau nggak jelas dengan definisi terjajah bacalah buku sejarah , yang paling sederhana saja .

    Berpikir merdeka juga melatih kembali kesadaran bahwa kita tidak bisa diperintah oleh orang lain secara semena-mena . demikian pula kita jangan lagi memerintah orang secara seenaknya , prt atau tukang parkirpun secara semau-maunya

    Hal kedua adalah sikap , mulailah dengan mengkritisi diri kita sendiri sudahkah kita tak berbeda dimata hukum . Contoh yang paling sederhana , pada saat kita berurusan dengan aparat apakah itu lurah / camat dan sebagainya untuk ngurus pembuatan KTP. Sudahkah kita bekesadaran untuk tidak melanjutkan tradisi korupsi dengan memberi sejumlah uang agar KTP bisa lebih cepat selesai dan kita ngak perlu repot-repot bolak balik kekantor kelurahan . Hal diatas adalah perilaku korupsi yang melibatkan birokrasi yang justru malah lebih “laten” dibanding pencopet yang berkeliaran dijalan .

    Secara keseluruhan hal diatas bisa dikatakan sebagai sebuah perlawanan sikap kita kepada sesuatu yang kita tau itu salah . Termasuk saat kita hendak mencoblos dikotak suara . Sudah benar-benar tau kah figur yang sedang kita dukung tersebut serta partai yang ada dibelakangnya . Sudah yakinkah kita bahwa dia bisa menyelamatkan kehidupan kita atau paling sedikit memperbaiki kualitas hidup kitalah..

    Kalau kita belum tau apalagi nggak percaya? Ya jangan ikut-ikutan mendukung atau jauh-jauh lah dari kotak suara tersebut . Sebab kotak-kotak suara tersebut maknanya tak lebih dari rumah-rumah jin bagi anda. Jangan sampai anda terjebak pada slogan pesta demokrasi atau kita sedang jadi orang modern demokratis yang menggunakan hak pilih kita sendiri . Bohong besar itu , jika anda nggak tau kemana mengalirnya dukungan suara anda tersebut apalagi tidak tau akan konsekwensi beserta akibat-akibat yang akan ditimbulkan suara anda.

    Kita tak lebih dari kualitas mesin-mesin robot yang hanya memperpanjang daftar penderitaan hidup orang banyak lainnya.

    Kesimpulannya ada dua hal kan? pikiran dan sikap

    Bila itu bisa disadari oleh sebagian besar (mayoritas) masyarakat kita , lalu bila masyarakat tersebut berhenti bereaksi untuk tak ikut-ikutan asal dukung-dukung suara ,maka bisa dipastikan segera rubuh dan hancurlah istana raksasa yang banyak jin dan setannya itu.

    Untuk bisa terwujudnya proses pembelajaran tersebut? darimana lagi harus diawali kalau bukan dari sistim pendidikan (termasuk politik yang benar) secara menyeluruh bagi masyarakat kita yang hampir 250 juta jiwa tersebut .
    Jangan-jangan anggaran yang harus dialokasikan bukan lagi berkisar dibilangan 20% , sampai 40% pun bila rakyat tau dan jelas maksud serta tujuannya , maka untuk sementara hidup harus jauh lebih menyederhanakan diri pasti akan disambut dengan perilaku yang juga jauh dari anarki .

  10. dari pertama saya udah bisa memilih saat pemilu, saya tidak pernah memilih satu kandidat pun. Bukan sekedar Trend golput, tidak nasionalis ataupun sekedar gaya2an. Lebih banyak beban moral yg saya tanggung apabila saya memilih salah satu kandidat dan ternyata kandidat tersebut hanya merupakan produk keluaran pabrik yg sama dan akhirnya juga membuat bangsa ini sengsara.

    Negara ini udah menjadi negara yg hanya bisa mengobati tanpa bisa melakukan pencegahan. Setiap permasalahan di negara ini hanya diusahakan untuk diobati dengan program2 pemerintah yg instant, padahal untuk menyelesaikan permsalahan ini tidak sekedar mengeluarkan obat yg namanya instruksi presiden, peraturan menteri ato kehendak2 instant lainnya. Dan celakanya banyak dari kebijakan2 instant itu yg ditangani oleh “sepasukan dracula” yg akhirnya malah merugikan rakyat dan bangsa ini. peraturan pemberian pajak bea masuk import 0% pada kedelai adalah satu contoh kehendak instant dari pemerintah. Harga Kedelai import akan lebih murah dari kedelai lokal, petani kedelai akan mati pelan2, dan pengusaha2 mbeling akan mengambil keuntungan tentunya. Kenapa sih tidak memikirkan untuk memaksimalkan petani2 yg udah ada, memberikan subsidi kepada rakyat sendiri, dan berusaha menjadikan kembali indonesia sebagai bangsa yg gemah ripah loh jinawi.

    saya mungkin ekstrim bila melihat negara ini, karena saya sendiri udah muak dengan apa yg terjadi di negara ini.

    Reformasi…. kata2 indah yg bisa membuat orang bermimpi indah, seperti sabu-sabu dan morfin yg membuat kita “fly”. Tapi kita gak pernah sadar bahwa begitu kita mengambil sikap untuk memakai reformasi kita menghadapi resiko negatip bila kita tidak waspada. dan resiko2 itu terlihat dengan apa yg terjadi di masyarakat skrg ini, kerusuhan, demonstrasi anarkis, kebebasan bicara yg out of control dll. Kebebasan yg kebablasan dan tidak bermoral kira2 seperti itu. Ya itulah sisi lain dari reformasi dan tentunya banyak juga hal2 yg baik yg kita dapatkan.

    Ini mungkin salah satu beban moral saya dan saya ikut bertanggung jawab dengan apa yg terjadi di atas karena saya adalah satu dari ratusan ribu bahkan jutaan orang yg ikut mereformasi negara ini.

    Mungkin kita perlu mereformasi reformasi yg pernah kita lakukan dulu, tentunya dengan perangkat2 yg benar, analisa yg akurat, dan pencegahan dari efek2 yg akan ditimbulkannya.

    Let’s get ready to the Rumble

  11. ramble on kata cak jemi & cak abet ame led zepplinnye

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara