ROck and rOLL

rock&roll

Rock atau Rock and roll sebuah istilah yang dikenal kelahirannya lewat media musik dibelahan dunia barat . Namun apa sih sebenarnya hakekat rock itu sendiri ? Menjadi topik yang menarik untuk dibahas dan bisa jadi bahan obrolan ketika idiom-idiom tersebut dipakai ditengah kondisi masyarakat yang justru bertolak belakang dengan pesan substantif kandungannya .

Pada hakekatnya Rock and Roll adalah sebuah gerakan perlawanan yang disebut sebagai gerakan anti kemapanan pada nilai-nilai atau kredo-kredo musik yang lebih sering membatasi kebebasan kreativitas dan dianggap lebih banyak merugikan naluri untuk mengeksplorasi seni para pelakunya dibanding menghasilkan terobosan atau gagasan baru yang bisa saja menjadi sesuatu yang bermanfaat serta positif dikemudian harinya .

Karena seni itu sendiri setali mata uang dengan value dalam kehidupan maka paham rock and roll bukan lagi sebatas berbicara pada dimensi musik dan lagu semata . Meskipun perangkat instrumen yang mengusung bisa saja masih lewat media musik namun kontentnya sudah jauh menembus keluar wilayah musik dan lagu sebagai media hiburan sesuai dengan awal perkembangan dan paradigmanya disaat itu .

Musik lewat paham Rock and Roll adalah sebuah cara berkreativitas untuk membongkar semua tatanan yang ‘feodalistik’ ‘aristokratik’ ‘dogmatik’ yang membuat manusia hidup dalam batasan “mazhab” kotak-kotak istilah / gelar ataupun jabatan .

Bagi saya seseorang dengan jiwa rock and roll tidak harus identik dengan pemain band ataupun pemusik , meskipun sosoknya akan lebih tampak jelas bila yang bersangkutan kebetulan memang seorang pemusik. Seorang pengusaha atau bahkan seorang politikus tehnokrat atau profesi apa saja akan memiliki nilai lebih bila yang bersangkutan adalah penganut paham rock and roll yang saya maksud diatas . Tentu saja dia tidak harus tampak urakan , jarang mandi atau pengguna narkoba sekalipun . Orang-orang dengan katagori tersebut adalah jenis rockers yang sedang berproses namun disorientasi atau kehilangan kemampuan untuk me-manange langkah-langkah kaki.

Mengapa saya katakan positif bila mereka berjiwa rock and roll , sebab dia akan memliki daya inovasi yang tinggi untuk melakukan perubahan-perubahan yang sudah dianggap perlu harus dilakukan . Dia bukan typikal manusia yang senang berkubang , menyerah dan jadi diam pasrah diruang-ruang kegelisahan yang tak pernah bermuara .

Dalam konteks diwilayah musik saat Rock hanya dipahami sebagai ‘obyek’ laksana ruang untuk berpariwisata , maka yang tampak kasat dimata adalah orang-orang ‘culun’ manja yang sedang berteriak-teriak menentang segala bentuk kesewenang-wenangan …… , sementara pijakan kakinya berdiri diatas tumpukan kepala orang yang justru sedang tertindas . Atau juga bersuara lantang ingin mengatakan pada lingkungannya bahwa ‘ini adalah gue banget’ sambil mulutnya tetap setia menetek diputing susu “ibunya.” Jadi bisa diartikan mereka adalah rockers yang hidup dalam situasi yang dianggapnya sudah selesai dan mapan.. , ajaib sedangkan kita semua tau bahwa rockers itu ada karena anti pada “kemapanan” itu sendiri . Oleh sebab itupula tak mengherankan jika mereka tampak absurd dan tidak melahirkan getaran apapun yang bisa memberikan kontribusi “daya hidup” bagi lingkungannya.

Dalam kehidupan yang lain mungkin bisa kita analogikan yang terjadi pada masyarakat didesa atau dikampung-kampung yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan . Pada mereka yang tak terpengaruh dengan mewahnya pakaian yang kita kenakan , atau mereka yang dengan santainya selalu bertelanjang dada bila bertemu dengan siapa saja , tanpa pernah merasa menghina ataupun dihina , mereka yang menjalani hidup dengan perjuangan yang keras dan lain sebagainya . Mengapa bisa demikian ?
Sebab mereka menilai value manusia bukan dari pembungkusnya , yang mungkin juga tanpa mereka sadari bahwa memang pembungkusnya itulah yang kerapkali menyesatkan mata kita . Kelompok-kelompok tersebut jauh lebih reaktif untuk saling bergotong-royong ataupun membela kepentingan bagi hidup diantara sesamanya . Mereka-mereka itulah yang tak berpikir panjang lebar lagi untuk berani melakukan terobosan-terobosan adat istiadatnya jika dianggapnya adat-istiadat tersebut sudah tidak relevan lagi dengan kebutuhan jamannya .

Nah….bagi saya itulah esenssi Rock and Roll yang saya pahami . Justru orang kampung itu jauh lebih rockers dibanding dengan anak-anak band yang teriak-teriak lantang dipanggung-panggung hiburan musik Indonesia. Sekali lagi saya ingin katakan bahwa Rock adalah substansi perlawanan pada kondisi kemapanan yang membelenggu , bukan tehnis ataupun lifestyle yang digunakan sebagai cara untuk menyampaikan pesan saja , apalagi pesan hiburan dengan muatan cinta antar aku dan si dia semata . Dan bila ada yang bertanya pada saya tentang musik rock di Indonesia , jawaban saya selalu demikian. Perkembangan musik rock di Indonesia sudah tereduksi maknanya .

Dalam konteks yang lain lagi , birokrat atau politikus misalnya …hehe…rasanya tak perlu saya jelaskan lagi , anda boleh meneruskannya sendiri ..
Karena itu pula …memang cocok kalau mereka lebih senang berjoget dangdut sambil melirik-lirik bermain mata …. ‘assooyyy’….., katanya .

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

16 Responses to “ ROck and rOLL ”

  1. wah, terasa beda kalau rockers sejati yg bicara.

  2. saya nge-Rock aja pak Dokter, Gak Pake Roll… ntar malah kebablasan nge-Roll nya malah masuk Got hehehehehhe

    “Salam Tiga Jari” [jaman ane muda Dolo huahuahuauahuhaua]

  3. hehehe… salam tiga jari , ati-ati loh .. anda bilang “roll” takut kebablasan,,? lha koq malah nunjuk tiga jari? mending satu jari aja mas gandhi …., jari tengah hehe

  4. Salam kenal sebelume’ pak jsop..wah podo2 semarangan’ki cilik’ane..

    Seneng bs nemuin blok mas jockie dialam maya ini.

    mas sejak kapan mas jockie memahami esensi rock tsb,apa dari tahun 70’an sudah tau? tapi sampeyan pop juga kan? yg sama almarhum Chrisye itu. ‘Selamat jalan kekasih’ wah lagu itu kenangan saya merayu mantan pacar saya lho mas.Buat lagi dong mas yg seperti itu.

    salam hormat saya, ujang

  5. djo ngono ‘toooooo…(he gitu ye’kira2 logatnya…)
    memahami maksud/istilah rock? ya tahun 80’an lah mas, sebelumnya mah same’aje’, taunya cuman ngritik ama ngedrumel aje..hehehe.

    (koq semakin tau semakin ngederumel..ye’) hehehe.. emang dilahirkan buat ngedrumel kali ya mas?

    “SJK” punya kenangan? alhamdulilee..ada manfaatnya tuh lagu , terimakasih mas.

  6. Wah..mas saya mbacanya koq jadi ruwet ya…? Rasa2nya Rock & roll ya semacam genre musik biasa aja deh.., sama-lah dg yg lain mis.Rap, Punk, Reggae, Grunge, dll. Lumrah sih.. tiap generasi ingin tampil beda dg yg sudah2 …ogah yg gitu2 aja. lagipula masalah yg dihadapi juga beda.

  7. hehe ya sampeyan sendiri mungkin nyang bikin ruwet mas hehehe. Artikel ini juga saya posting di MP , kebetulan maksud koment anda sama , dan sudah ada yang menjawabnya , maka supaya efisien saya copy & past bulet-bulet aja disini , semoga mencerahkan mas. Dan saya kurang sependapat asal tampil beda mas . Semuanya punya korelasi dengan sejarah sebelumnya.

    [komen #1] : menurut daku sih Bos, biarlah rock n roll jadi istilah musik aja. soale, kalo dikaitin ama moral value, kak rhoma yang dangduters itu bakal tereak dia juga anti kemapanan kok.

    rasanya kita sepakat bahwa musik tuh produk kebudayaan. dia kadang merupakan reaksi positif atau negatif terhadap kultur pada sebuah generasi atau masa. daku gak tau persis sejarah lahirnya rock n roll (mungkin waktu itu daku masih di dalam rok ibuku ya, hehehe). tapi bahwa rock itu identik dengan keras, coreng-moreng, lifestyle-nya nyeleneh, ya kayaknya itulah pandangan umum orang generasi daku.

    so, rock n roll yang sejati itu seperti suku apakah? (haduh, jadi inget band suku apakah niy). kalo menurut Bos, anak-anak band skrg yang ngaku rockers itu keleru, yg benernya tuh kek gimana ciy? mungkin aja Bos punya kriteria tersendiri thd apa itu rock n roll. tapi bisa aja itu juga cuma sebuah utopia.

    daku gak alergi total ama barat. tapi gak ada produk kebudayaan yg bebas nilai. dan rock n roll itu, secara historis, produk luar. jadi, kalo mo dikaitin ama moral value, itu kira-kira sama ironisnya dengan klaim amrik sebagai negara demokrasi, tetapi di sisi lain arogansinya juga kabina-bina teuing. begitu juga rock n roll menurut daku. semua jenis musik begitu. selalu punya celah kontradiktif. jadi daku minta klaim anti kemapanan itu dikoreksi (haduh, kurang ajar banget ni anak!) Huahahahahaha…

    [komen #2]

    pemahaman aye nyang “hina ini” (tuuuhh khan? charles mercys lagi deeh) kurang lebihnya gene neeeh:
    mungkin kita kudu berawal dari pengartian rock sebagai “goyang” dan bukannya “batu” atawa “cadas”. hnaah, dengan demikian musik rock (n roll) yang diartikan “goyang (dan guling)” kiranya akan punya signifikansi nyang lebih luas drpd stereotip rock music sbgmn yg diberikan kepada musik2 “keras”nya zeppellin dkk (atawa godbless dkk, ‘ngkali?).

    dari pengartian semantis yang saya pahami tsb, rock (n roll) memang tepat dikatakan sebagai musik anti-establishment dengan independensi yg cukup kuat sejak mulai diintrodusir oleh bill haley dkk di inggris atau elvis dkk di as medio th 50-an. jelas “rock” tidak timbul sebagai suatu konsep yg matang dan terencana, namun lebih sebagai suatu gerakan berdasarkan spontanitas yang menyiratkan kebosanan kaum muda pada kemapanan tadi. rock berkembang terus di eropa dan amerika dengan suburnya, dan di dekade 60an juga mengalami perlawanan balik kaum mapan (ingat gerakan pembakaran PH-PH elvis dan beatles?). di indonesia pun, koes bersaudara tak pelak lagi adalah pelopor “rock” di awal 60-an.

    rock tidak surut, dan bahkan melahirkan “clone” lagi di akhir dekade 60an dengan psychedelic/flower generation movement yang juga mulai mengalami metamorfose musikal ke arah musik2 yang lebih “keras” (yardbirds dkk) dan bahkan classical undertones (procol harum dkk). bahkan -hemat saya- di dalam perkembangan selanjutnya, punk di eropa di tengah 70an pun termasuk “cloning” dari rock tadi, dengan “misi” yang sama: “menggoyang” kemapanan dan pihak2 yang memeliharanya.

    sedikit lebih awal dari rock, tentunya kita mengacu kepada jazz, yang kelak kemudian melahirkan clone baru “rhythm and blues” atau barangkali fusion di dekade 70-80an. namun, saya melihat jazz punya karakter yg berbeda, jazz lebih “meratapi” ketidakadilan sosial atas bangsa kulit hitam di as serta “membujuk” mereka yg tertindas, tanpa mau berkonfrontasi (karena populasi mrk yg minoritas tidak memungkinkan utk itu).

    jadi, kembali ke “rock music”, brgkl betul “perlawanan” bukan eksklusif milik “rock music”, tapi kalo telusurin sejarahnya, jelas dia pelopornyah.

    catatan saya re musik rock di indonesia: industri -secara sadar atau tidak- telah mengakibatkan pengkategorian yang salah kaprah kepada musik dengan istilah-istilahnya sendiri : pop, pop rock, dangdut, rock dangdut, jazz, jazzrock, jazzy(!) dll, yang pada gilirannya mengurangi makna “rock” itu sendiri sebagai suatu fenomena anti-establishment.

    contoh ekstrim: oma irama dengan sonetanya. pada saat mrk mulai merambah ke tema2 sosial, perjuangan dan agama lengkap dengan penyesuaian musikal dalam sajiannya, pada saat itu jugalah ia masuk “rock” (yang mengekspresikan “anti-establishment” nya kepeimpinan nasional di tahun 80-an itu) , dan dangdutnya sendiri tidak lagi jadi terlalu relevan. tapi, mayoritas pengapresiasi musik di tanah air pasti akan tidak setuju dgn pandangan saya, dan tetap melihat oma irama sebagai figur musik dangdut sepanjang masa, khan? sebagaimana juga koes plus sudah dihilangkan kepeloporan rocknya dan masuk kategori pop. ya gpp juga seeh….. spt kata si akang yockieh: rock udah tereduksi makan…eh salah…maknanyah … hueheheh! :-D

  8. Pencerahan yang sangat berharga.Bahkan saya sendiripun nggak pernah terlintas untuk berpikir rock itu apa sih bedanya selain hanya sebatas trend di musik remaja saja.

    Terimakasih mas,lanjut pencerahan musiknya.

  9. :mrgreen: ah..kalao saya mah sudah tau sam…, cuman lupa aja…Waks..! *ngeles*

  10. nah … kalau aliran yang “ngegerundel di balik tembok aja” namanya apa mas? :mrgreen:

  11. wah itu “saya” ituuu…makanya saya edit (hapus mas..)
    cappeeekkkkk ngengerundel terus..

  12. tapi mas … aliran (nggerundel di balik tembok) itu paling populer kayaknya. bahkan bisa dijadikan industri. mungkin bisa dijual dan diekspor? :mrgreen:

  13. tapi nggak laku kan? makanya suruh masuk lewat pintu aja atau loncat jendela juga bisa mas . Yang penting “argu” dalam rumah duduk satu meja lalu kereng-kerenagn juga nggak apa-apa . Tapi saat keluar rumah kita tau musuh kita siapa . hiks!

  14. bill nighy filmography

    I Googled for something completely different, but found your page…and have to say thanks. nice read.

  15. bagi gue mach musik terbaik ya rock n` roll ama reggae…soalnya kalo pas nonton tuh acara musik gue senang goyangannya….asyik banget bro..apalagi ada AO…kalo dangdutan gue mah gak suka resenya. bayangin diri gue kayaknya persis ama lagunya power slave “metal kecil”, en gue dibilang aneh karena lagu gue laen ndiri baik di rumah ato kampus…secara gitu lho…anak2 seumur gue khan harusnya ngedengerin lagunya demasiv ato samson lah…tapi gue malah anti ama lagu-lagu gituan…

  16. t.o.p deehh…kapan2 ajak2 gw dong rock&rool’an..
    hm…gw siapin jamu cap ortu dulu deh…biar gak pingsan
    Sip mas..lets rock! yeaaaaa…wwhhuuuuu…..*sambil gedhek2 kepala neh*

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara