Perilaku

mentalitas

Perilaku sesorang tentu saja sangat identik dengan mentalitas yang menopang jiwanya .
Orang dengan mentalitas yang telah teruji dengan baik akan tercermin dari segala tingkah laku serta berbagai ucapan atau kalimat yang keluar dari mulutnya dan akhirnya berkemampuan mewujudkan kepekaan serta rasa solidaritas yang tinggi .

Dia tak akan sembrono sembarangan dalam menyikapi berbagai persoalan yang ada dalam kehidupan ini . Baik itu urusan selama masih menyangkut masalah masalah keduniawian maupun segala urusan menyangkut masalah kematian . [:akherat]

Membicarakan masalah mentalitas sebuah bangsa yang terdiri dari beraneka ragam budaya tak mungkin bisa dicapai tanpa melalui pendekatan mentalitas sub_budaya hingga menukik jauh menyentuh mentalitas individu manusianya itu sendiri secara perorangan .

Tetapi dalam salah satu budaya kita , atau sebut saja budaya orang jawa hal tersebut tidaklah semudah yang saya bisa duga . Sebab mentalitas tersebut teramat lekat dengan kultur feodal dan patern yang nyata-nyata memang itulah awal serta asal muasal terciptanya “solidaritas “yang turut membentuk masyarakat jawa itu sendiri .

Solidaritas yang lahir dari pemahaman “kelas” jelas sangat berbeda dengan solidaritas yang tercipta berdasarkan kesetaraan derajat hidup bagi sesama manusia .

Sebagai orang jawa tentu saja hal tersebut acapkali membingungkan posisi saya dalam menetukan pilihan , kalau tidak bisa dikatakan ‘menjengkelkan’ . Jiwa dalam tubuh saya berontak ingin merdeka dengan sesungguhnya , namun tubuh yang membalut ini sering mengajak berperilaku sebaliknya , inilah yang saya maksud dengan kejengkelan diatas tadi .

Saya ingin sedikit menceritrakan pada anda serta “berbagi keperihatinan” tentang betapa perilaku tersebut sebenarnya sangat menggelisahkan hati kita semua .

Saat ini ibu saya dalam keadaan menderita sakit dan sudah berjalan selama setahun lebih lamanya . Secara medis penyebab utama sakit ibu saya adalah serangan pada batang otak yang mengakibatkan fungsi saraf tak bisa bereaksi selayaknya orang normal lainnya .

Tentu bisa anda bayangkan sendiri akibat selanjutnya apabila otak sebagai pusat kontrol dalam tubuh kita tak lagi mampu memberikan perintah-perintah yang diperlukan bagi berfungsinya organ tubuh lainnya .

Cukup sampai disitu saja saya menggambarkan kondisi ibu saya , selanjutnya saya akan kembali pada topik ‘perilaku’ yang membangun lahirnya mentalitas kita sebagai manusia .

Saya sadar sepenuhnya bahwa sungguh betapa banyak orang-orang diluar sana yang merasakan apa yang saya alami saat-saat ini , walaupun tentu saja dengan kasus serta masalah yang berbeda-beda. Namun rasanya ruang perbedaan tersebut seyogyanya bisa kita persempit hingga mampu menciptakan suasana “mentalitas” kepedulian pada sesama dengan jarak yang lebih dekat wilayah cakupnya .

Mengapa saya katakan ‘lebih dekat’ , yang berarti pula secara eksplisit saya menjelaskan saat ini ruangnya ‘teramat lebar’ dan jaraknya masih terasa ‘teramat jauh’ . Benar..itulah faktanya bahwa sekat-sekat primordialism serta “kelas-kelas” warisan sub_budaya masih kental menyelimuti seluruh aspek kehidupan kita sebagai orang (sub_tertentu) yang ingin menjadi manusia Indonesia yang ingin lebih bebas dan merdeka dari belenggu adat itiadat tersebut .

Adat istiadat , tentu saja tidak semua aspek sosiologis yang terkandung didalamnya buruk seluruhnya hal tersebut dengan mudah bisa dipilah-pilah bila memang kita semua beritikad untuk mau melakukannya

Sebab hidup dialam merdeka dimana ingin menapaki tangga-tangga menuju alam yang lebih demokratis tidak akan bisa juga dicapai tanpa kesadaran merubah pola struktur berpikir yang lahir dari perilaku serta mentalitas kita sebagai masyarakat yang terbiasa hidup untuk mengabdi pada sang baginda raja .

Hari ini kita dituntut hidup untuk mengabdi pada negara , dalam konteks yang bisa digaris-bawahi bahwa dituntut secara mutlak kepedulian yang mampu membangun terciptanya suasana mentalitas yang lebih cocok dengan tuntutan kebutuhan jaman untuk setiap individu manusianya hingga meng-update perilaku sub_budayanya dan akhirnya mampu me-reformasi mentalitas semua bangsa-bangsanya .

Memperlakukan ibu saya sebagai sesama manusia dan warga negara sungguh berbeda dengan memperlakukan turunan seorang raja atau bisa jadi orang yang pengen dianggap seperti raja .

Ini sama sekali bukan masalah kesenjangan ekonomi yang memang didunia ini selalu ada dan tak bisa kita hindari . Namun ini lebih meneropong rasa EMPATI kita sebagai sesama manusia . Dan saya tidak termotivasi menulis artikel ini hanya karena sebab seorang ibu saya sendiri yang kebetulan memang sedang menderita sakit , namun saya ingin kita semua meneropong jauh apa yang terjadi diluar sana , ketika betapa semakin sulitnya orang-orang yang sedang bertahan hidup dalam berbagai tekanan yang ada .

Janganlah kita menjadi keblinger dan lupa diri , bahwa masa lalu maupun masa depan nasib Indonesia seolah hanya bergantung kepada deretan photo-photo yang terpajang didinding kantor hingga tembok rumah-rumah kita semua .

Ini Republik Indonesia bukan Kerajaan Indonesia , itu saja inti yang ingin saya utarakan.

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

7 Responses to “ Perilaku ”

  1. Sikap N-jawa-ni ini yg terjadi skrg, negara republik udah seperti negara kerajaan. Walau saya orang jawa, tapi saya menentang sikap n-jawa-ni demi sebuah kekuasaan.

    Sikap -jawa-ni yg seperti apa? ya salah satunya yg marak di kalangan politisi dan pemerintahan adalah sikap ewuh pekewuh. pekewuh terhadap atasan, kepala departemen bahkan kepala pemerintahan. Sikap ini sebenarnya hanya cocok untuk negara yg berbasis kerajaan, yg mana semua hukum dan peraturan adalah apa yg diucapkan oleh rajanya.. absolut dan tidak bisa dibantah.

    Tapi di negara ini yg jelas2 berbasis republik, yg mana hukum dan peraturan bukan berasal dari mulut sang pemimpin negara, sikap seperti itu seharusnya tidak sampai berkembang pesat apalagi udah menyentuh sampai pada tingkat pengambilan keputusan sensitip. Masih ingat mungkin istilah “atas petunjuk bapak presiden”. Betapa presiden sudah seperti raja. Seumur-umur saya tinggal di negara ini belum pernah terdengar ucapan “atas permintaan bangsa indonesia”.

    Saya berbicara dalam konteks peraturan dan hukum dinegara ini, bukan berarti kita harus kurang ajar, apalagi terhadap orang yg lebih tua atau kepada sesama. Kalo kita harus mengantri karcis bioskop, ya kita harus antri apapun jabatan dan pangkat kita ya kita tetap harus antri. ATau kita harus ditilang karena tidak memakai helm, ya kita harus ditilang walau kita adalah kepala atau orang tua dari si penilang.

    Jgn heran untuk mengusut kejahatan yg dilakukan orang2 yg berkuasa di negeri ini sangat sulit. Seperti menggarami lautan lah istilahnya. kita lihat bagaimana sulitnya sang kopral menginterogasi sang jendral yg mantan atasannya. “Ewuh pekewuh mas, soalnya dia bekas atasan saya” jawabnya hehehehehehe. Padahal yg diharapkan oleh saya adalah sang kopral akan mengebrak-gebrak meja seperti saat dia menginterogasi seorang maling jemuran. bagi saya pencuri 1 rupiah dan pencuri 1 milyar ya tetep aja namanya pencuri :D

    Saya setuju ama Bang JSOP… ini negara republik bung.. bukan negara Kerajaan.

  2. hehe sepertinya Konstitusi yang dibuat dijaman mbah Soekarno dulu luput untuk mengantisipasi implikasi yang ditimbulkan dari hal-hal seperti diatas tersebut .

    Dan inilah tugas generasi muda sekarang ini “Bongkar” yang buruk “Sempurnakan” yang baik . Tugas saya mah.. ngipas-ngipasin ajah!

  3. mas Jockie,
    Koq jadi tukang kipas mas? apa nggak hrs berbuat mas?

  4. hehe mas ujang,

    polisi tugasnya mengawal jalannya hukum
    pengacara tugasnya menyelamatkan klien
    jaksa tugasnya menyelediki kasus ,(salah atau benar)
    hakim tugasnya ketok palu memutuskan perkara / usulan jaksa

    seniman tugasnya ya jadi terompet untuk menjaga agar silet atau mata pisau sensitivitas masyarakat-nya selalu terasah dengan baik .

    Masa seniman harus nangkep maling? heehe..atau jadi politikus ,

    tapi kalau ada politikus / pedagang / jaksa / polisi / atau siapa saja yang mampu mengolah rasa keseniannya dengan baik , maka itulah idealnya . Sebab semakin orang memahami seni/sense of art berarti semakin orang tersebut bisa disebut “perilakunya berbudaya” , dalam artian kelakuan orang-orang yang bisa disebut “berbudaya” sehari-harinya , jauh dari “asal main tabrak lalu lari.”

    gitu kali ya alasan/pembenaran saya jadi “tukang kipas”
    inget.. si roim ‘kang sate madura juga butuh tukang kipas yang baik lho..supaya kagak angus satenya.. :)

  5. saya bagian tukang nyolokin kipas ngin ke listrik yah… hahahahhahaha.

    *ah dengerin anak angin kok enak betul hueuehuheuheue, ngebayangin bang iwan yg nyanyi*

  6. 1.wah angus kalo bakar sate pake listrik , kurang afdol
    2.kalau IF yang nyanyi ada dua masalah yang ditimbulkan .

    a. sesuai dengan proses awal dia semenjak oemar bakri hingga bento/bongkar , maka ekspresi lirik yang sifatnya ‘mem-provok’ dan reaktif’ sudah tidak lagi “pas” untuk diulangi lagi. (sdh dituntut kedewasaan/kematangan bersikap) Artinya yang pas untuk mengatakannya adalah anak muda seusia yang pantas tersebut .

    b. Mendorong suasana jadi tambah keruh dan cenderung mengajak orang tergiring kelorong-lorong “chaos”

    Masalahnya didunia musik atau kesenian bunyi-bunyian kita sekarang ini , mampet! tidak lahir IF .. IF baru yang mewakili jamannya . Semuanya berdendang cari aman sendiri-sendiri .

  7. speechless….. :sad:

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara