KontRadiksi

kontradiksi

Akhir tahun 1993’an atau awal 1994’an disaat-saat itulah terakhir saya merilis album solo saya yang bertajuk ‘kontradiksi’ . Dikala itu kehidupan yang serba kontradiktif sudah nampak jelas terlihat bahkan sudah bisa saya rasakan . Sudah banyak tokoh-tokoh masyarakat / budayawan maupun pengamat lainnya yang acapkali ‘wanti-wanti’ akan datangnya ‘disarter’ yang pasti muncul walaupun tidak secara tiba-tiba. Begitulah kenyataan yang terjadi hari-hari ini atau beberapa tahun berselang setelah masa-masa tersebut . Dasar orang Indonesia .. ‘sedia payung sebelum hujan’ hanya slogan kosong tanpa makna sebab hanya jadi permainan kata sebatas sampai diujung bibirnya saja .

Mari kita evaluasi diri , saat ini kondisi kontradiksi tersebut semakin menjadi-jadi saja . Saya terperangah ter-heran mendengar masih ada orang yang bisa bekerja (swasta) dengan penghasilan puluhan juta rupiah setiap bulannya (mendekati 100 juta’an) atau bahkan lebih bila ditinjau dari level direktur utama . Saya tidak menyebut secara spesifik yang bisa menyentuh 500 juta , bisa jantungan nanti anda .

Hah..bisnis macam apakah yang bisa mendatangkan rupiah sedemikian fantastisnya ditengah gelombang carut marut ekonomi bangsa kita yang seperti sekarang ini ? Bukankah hal tersebut layak saya katagorikan masuk dalam bingkai ‘kontradiksi’ tersebut.

Dua ratus lima puluh jutaan orang Indonesia , katakanlah separuhnya saja atau sebut saja angka seratus juta orang yang bekerja untuk bisa menafkahi sebagian besar lainnya . (keluarga dan sanak saudara) Darimana mereka mampu mengisi pundi-pundinya sementara semua sektor produksi bangsa kita dalam grafik anjlok yang sama .

O..rupanya bukan dari mesin produksi internal bangsa kita sendiri nilai tersebut bisa dicapai namun dari mesin ekonomi bangsa asing dana tersebut masih bisa diraih oleh sebagian masyarakat yang saya bicarakan diatas tadi . Anda tinggal sebut saja nama perusahaan atau bahkan silahkan berkaca diri mungkin anda bisa juga terlupa (karena memang nggak dianggap penting-penting amat) disektor mana dan apa kaitan bisnis anda dengan hal tersebut.

Salahkah semua itu? jelas tidak .. saya hanya ingin mengajak kita semua kembali berpikir ‘back to basic’ bahwa selama ini kita belum mampu hidup dari topangan dan pijakan kaki kita sendiri. Menjadi sedemikian pentingkah hidup diatas kaki sendiri atau istilah ‘ORLA’ nya ‘berdikari’ tersebut . Ya.. saya tak perlu menjawab tentunya .. kelewatan kalau untuk pertanyaan seperti itu saja kita masih bertanya-tanya .

Yang pasti perlu juga saya beritahukan pada anda bahwa upaya-upaya yang selalu saya junjung tinggi tersebut justru malah menempatkan saya dibarisan orang-orang ‘sok idealis’ atau bahkan ‘ndableg’ karena “tidak realistis” dan mau kompromi serta toleransi sesuai kondisi dan sebagainya . Sudah semakin nggak jelas garis batas antara ngawur dan sembarangan , kata “benar” sudah lama terhapus dari kamus panduan hidup orang Indonesia .

Kembali kita tilik apa yang terjadi sekarang ini . Kita langsung saja secara ekstrim menukik kesana .

Mesin produksi bangsa sendiri ..sampai tataran kebutuhan perut yang nggak bisa ditunda (sebab setiap hari harus makan) jelas sudah diambang ‘may day-may day’ atau bahkan sudah..? Mesin produksi asing atau milik bangsa lain semakin hari juga semakin mendekati kritis…surut… lalu berpotensi mengajak mereka beramai-ramai hengkang angkat kaki sebab investasinya di negeri ini semakin nggak jelas dan merugi terus . Selama ini kita sudah disuguhi informasi secara gradual hengkang-nya mereka satu persatu bukan? Artinya tinggal menungu saat-saat hengkangnya mereka secara beramai-ramai juga bukan…?

Lalu seperti apakah kira-kira ya..kondisinya? bila kenyataan tersebut adalah fakta sejarah kita .

Jangan lagi ‘over confidence’ hal itu nggak mungkin bisa terjadi , sudah terlalu sering kita basah kuyup bahkan sudah kebanjiran koq malah masih ribut nyari payung … , payungnya bodol lagi [*agak di-dramatisir…biarin biar lebih serem..seperti biasa kesukaan orang Indonesia*]

Mentalitas – Perilaku – dan berpikir sebagai bangsa dewasa yang sebenar-benarnya sudah “DEWASA” wajib dilakukan saat ini juga . Tak ada waktu lagi untuk menunda atau menunggu-nunggu rejeki atau nasib baik akan diturunkan dari atas langit , hanya dengan komat-kamit membaca ayat-ayat agama dan sebagainya. Saya selalu ingat orang bijak berkata : Hidup didunia ini bagaikan putaran roda yang artinya bisa diterjemahkan juga sebagai berikut:

“Saat titik nadir sudah tersentuh maka tak ada jalan lain , kecuali menapaki tangga menuju keatas .”

Pertanyaan kita semua hari ini , masihkah kita belum merasa sudah menyentuh wilayah paling dasar tersebut , atau mungkin kita semua memang kumpulan dari orang-orang yang terbiasa dibuai mimpi hingga terguling jatuh dari tempat tidurnya .. , yang kemudian baru bisa tersadar dan menjadi melek matanya .

Saya yakin saya bukan dari bagian bangsa yang tolol tersebut . Namun mengapa kita masih suka berperilaku layaknya orang tolol. Tulisan ini jelas nggak akan ‘ngaruh’ apa-apa kalau kita tidak bisa menyimpulkan secara konkrit apa saja langkah-langkah yang harus disusun secara bersama .

Bisakah saya menyimpulkannya sendiri? hah..siapa saya….!

Mampukah anda menyimpulkannya sendiri? hah.. siapa anda….!

Menurut hemat saya kita semua menjadi seolah tak punya daya apa-apa untuk mencoba menyimpulkan hingga akhirnya mampu melakukan perubahan , sebab selama ini kita memang dikondisikan untuk tidak bisa berbuat apa-apa . Oleh orang Amerika-kah? atau Eropa-kah atau oleh negara-negara maju yang berperilaku layaknya imperialis-kah?

Jangan terlalu jauh ngelindur berpikir ngelantur kemana-mana , sebab ‘setan jahat’ tersebut ada dalam diri kita sendiri-sendiri yang kemudian ter-representasikan kepada orang-orang yang kita tunjuk sendiri untuk mengelola negara ini .

Kesimpulannya : singkirkan dulu perilaku setan dalam diri kita masing-masing. Barulah nanti kita mampu menunjuk orang-orang yang lebih baik untuk mengelola bangsa ini .

Lho..saya berani menyimpulkan..? iya benar.. saya memang sok tau akhirnya..sebab ini blog saya , sekali lagi mohon ijin dan sedikit maksa. Saya sedang ber sok ‘teu dirumah saya sendiri . Dan anda juga boleh ber-sok teu dirumah anda sendiri . Itu jauh lebih baik dibanding kita diam pasrah bagaikan keledai dungu yang lagi laper . (melulu)

mbbeek.. eh salah itu suara kambing!
“Ngguiikk..nah ini baru suara kedelai eh..salah lagi itu barang mewah import”
Maturnuwun ..[nah ini baru orang asli .. kebetulan lahirnya di jawa]

web counter

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

13 Responses to “ KontRadiksi ”

  1. saya pemakan jenis kedelai lho sam..dan anehnya setelah aku resign dari abdi masyarakat koq malah merasa bukan lagi keledai hahahaha…!!

  2. iya saya juga , wah..kebayang nggak mendung dan gerimis cuaca dingin lalu nggoreng tempe (agal tebel) berpasangan sama cabe rawit ijo kecil-kecil . Dan disebelahnya ada tahu pong semarang lengkap dengan petis nya lalu duduk atau jongkok diberanda sambil ngliatin air hujan yang jatuh dari talangnya . Sepanci juga bisa ludes saya lalap

    Haduhh..haduhhh tempeku..sayang tahuku malang .

  3. barusan di Jawa Pos ada berita penimbunan kedelai import di surabaya dan sidoarjo. heran ya Pak, masih ada aja orang yg menari-nari di atas penderitaan orang lain. Sudah sedemikian parahkah mental bangsa ini, sampai2 hati nurani pun di tendang jauh-jauh.

  4. iya berita tersebut sudah saya dengar kemaren malam , disebuah gudang agen pendistribusian . Kalau nggak salah jumlahnya mencapai ratusan ribu ton .

    hehe…Itu baru satu atau dua gudang yang diketemukan serta baru beberapa pintu/loket gelap yang bisa terbongkar . Ada berapa banyakkah loket-loket gelap dinegara ini? Ya itulah mereka sisa-sisa kroni yang masih giat bergerilya .

  5. repot juga kalo bicara “materi” di negeri ini. Kalo di bicarakan ntar katanya iri, tapi didiamkan juga lama-lama “ngelunjak”. Ditengah badai krisi di negara ini, dengan masyarakatnya yg untuk makan hari ini aja mungkin susah, ternyata masih ada juga yg dengan bangganya memamerkan kekayaanya.

    Jawa pos hari ini, sebuah Bank swasta memberikan sebuah mobil mewah untuk nasabahnya. Mobil mewah yg bisa menghidupi ratusan ribu bahkan jutaan rakyat. Miris sekali, benar2 kontradiktif dengan keadaan masyarakat lapis bawah. Saya cuma berpikir, apakah tidak bisa memberikan hadiah yg tidak mencolok ato paling tidak kesenjangan antara langit dan bumi tidak terlalu jauh. Kalo dipikir2 tidak diberi hadiah pun mereka tetap akan menabung kok selama pelayanan bank tersebut memuaskan. Belum lagi Hadiah-hadiah undian yg fantastis, kuis-kuis di televisi dengan hadiah uang tunai yg incredible.

    Ya begitulah pak kenyataan dimasyarakat, disatu sisi rakyat kekurangan makan, disatu sisi rakayat membuang makanan karena beralasan “saya sudah kenyang”.

    Bila saya dikatakan iri dengan semua ini, biarlah… toh saya berbicara di blog nya Pak dokter. Selama Pak dokter monggo2 saja ya saya akan terus menulis, tapi ketika Pak Dokter berkata “pergi jauh-jauh dari sini” maka saat itu pula saya akan berhenti berpendapat di blog ini, bukan begitu Pak Dokter?? :lol:

  6. lho.. siapa saya koq berani-beraninya mengusir , wong sama-sama warga negaranya :wink:

  7. kaum kapitalis yg menguasai sebagian besar industri informasi mas,merekalah mesin percepatan kerusakan sendi2 bangsa saat sekarang ini.

  8. mungkin kita perlu “diurusi” oleh bangsa lain? (kalau disebut penjajahan kok agak keras, diurusi saja ya? he he he)

    ada seorang kawan saya yang jago (dari sisi skill set), tetapi dia kebanyakan duduk termenung. setelah saya tanya, ternyata dia memang kurang motivasi. dia tidak punya self motivation. kalau disuruh-suruh oleh orang lain (yang skill-nya lebih rendah sekalipun) baru dia bisa maju. mungkin seperti itu. kita kontrak orang (manager?) untuk ngurusi kita saja mas?

    pasang iklan dimana gitu … dicari: orang yang mau ngurusi indonesia. kewarganegaraan tidak masalah.

  9. hehe..mas Budi,

    Masih jelas dalam benak saya ketika peristiwa Mei 98 meletus di jakarta. Saat itu saya mengungsi sekeluarga , dari lokasi kediaman saya kerumah seorang teman .

    Kemudian sempat kami berhari-hari berkumpul sesama kelompok disebuah apartmen untuk ber “cas-cis-cus” bersama.
    Saat itu saya ber argumentasi yang kemudian pendapat saya tersebut (lumayan agak serius) dibantah keras serta ditentang atas nama sikap yang tidak “nasionalis” sama sekali.

    Anda tau apa argumentasi saya ,

    Mengingat seluruh sendi serta struktur yang sudah dibangun oleh sang maestro arsitek selama 32 tahun , maka tidak semudah itu juga untuk bisa merubahnya tanpa melibatkan sang maestro itu sendiri . Saat itu mumpung sang arsitek masih punya daya cengkraman yang masih signifikan .

    Saya katakan bahwa mungkin kita perlu ‘keadaaan darurat’ sementara . Dan sementara itu juga kita nunjuk semacam konsultan untuk membenahi semua keinginan kita ..hehehe…
    Saya ambil contoh saat itu ‘Hongkong’ sebelum diserahkan kembali kepada RRC hehehe… *semua langsung pada berang mukanya….tersinggung..*

    Kalau saya mah nggak tersingung sama sekali…wong saya juga udah ngerasa kita nggak akan mampu begitu saja mengambil alih ruangan sang arsitek besar tersebut , terkecuali menata ulang dari ‘scratch’ tapi serba tanggung . (ya seperti sekarang ini)

    [edited:]

    bukan saya underestimate bahwa orang Indonesia bodoh semua.., tapi orang-orang Indonesia yan pintar dan capable tersebut semuanya ada “diluar lingkaran” yang tak tersentuh dan selama bertahun-tahun dimarginalkan. Justru tugas konsultan tersebut adalah untuk mengumpulkan orang-orang pintar tersebut untuk ditata sesuai kebutuhan bangsanya.

  10. Kalo ndak salah inget, waktu jaman Gus Dur jadi RI I. Beliau ‘ingin’ nyewa orang2 luar Ind u/ menegakkan hukum di negeri ini.

  11. Begitu mas Indra? koq saya nggak tau ya , wah.. saya kuper juga neh hehe

  12. bos..
    kenapa saat ini saat ini bangsa kita menjadi saling menyalahkan,”rumongso biso, nanging ora bisa rumongso”, selalu mencari kambing hitam, “golek menange dewe”

  13. ada dua jenis saling menyalahkan:
    1. bila terjadi dikalanangan cerdas cendekiawan , akibatnya adalah debatable berkepanjangan dan melelahkan .

    2. bila terjadi dikalangan pas’pas’an kalau tidak mau disebut masih bodoh tapi sok’tau , akibat yang akan terjadi pasti berkisar disekitar eker’eker’an hingga saling caci dan makian .

    Mari kita puter ulang “video clip masyarakat kita” , itulah jawabannya.

    Nah kalau “golek menange’ dhewe” , itu warisan buruk penjajahan yang masih nempel disekujur badan. Sabun pembersihnya ya cuman ‘pendidikan pakbudipekerti’ jurusan egalitarian . Yang konon harusnya dikasih komisi 20% itu. hehehe .

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara