PoliTisi

politisi wanita indonesia

Entah karena pengaruh issue persamaan gender atau karena sadar menghadapi urusan mengatur negara yang super njelimet dan ribet . Maka sebagian besar politisi wanita kita sekonyong-konyong harus tampil ‘garang’ dan macho .

Mereka tak segan-segan menanggalkan indentitas feminimnya sebagai perempuan Indonesia yang lemah lembut dan cenderung lebih santun bila dibandingkan dengan yang pria. Apakah memang harus demikian figur yang harus ditampilkan bagi politisi wanita kita tersebut . hiyy.. tatut!

Namun bukan itu inti isi artikel yang hendak saya tulis . Inti maksud saya sebenarnya adalah dibawah ini . Nggak nyambung? ya biar saja kalau anda anggap nggak nyambung , mengapa juga saya harus menuruti kebiasaan bagaimana orang-orang lain nge-blog supaya nyambung kalau saya memang nggak suka .

“Obrolan generasi nanggung disana-sini”

Jangan tendensius dulu , yang saya maksud “nanggung” adalah ‘belum usia 35’an [koreksi:ketua’an] 30’an keatas namun juga sudah diatas 12’an tahun’

:kayaknya lebih enak jaman pemerintahan pak Harto [koreksi:beliau sudah wafat jangan diomongin melulu] ORBA aja deh , dulu bapak sama ibu (papih ama mamih) lebih sante’sante’ aje kek’nye , semuanya lebih murah , nggak banyak demo , relatif jauh lebih tertib / aman dsb..dsb:

Lalu berwacanalah mereka soal HAM / Hukum / AMPERA yang mereka paham dan hafal dari teori-teori berbagai buku pelajaran dari sekolah .

Seandainya saya ini punya lampu aladin yang setelah saya gosok-gosok lalu ‘jin mukegile’ membawa kita masuk time tunel dan sekejap….jeggreeeenggg..! terkabullah segala keinginan kita tersebut . Pertanyaan yang ada :

1. Harga sandang/pangan dan papan balik lagi jadi murah/mudah seperti dulu , sebab IMF dan World Bank , CGI dan lainnya juga kembali lagi saling berebutan secara kontinyu mensuply kran hutang republik ini . Dollar / Rupiah bertebaran dimana-mana ….istilahnya tinggal “kedip” lalu ketangkeplah dia . Padahal tanpa terlihat atau kita bisa tau , laporan akuntan soal neraca rugi dan laba “merah semua”.

2. Untuk mengembangkan bisnis kita (apapun jenisnya) kita harus “acc” atau “tst” dengan aparat mulai tingkat rt/rw/lurah sampai menteri , dan apabila bisnisnya sudah level milyar maka harus ngajak presiden atau sanak keluarganya sebab kalo nggak ngajak berarti bisnis kita diambil alih ke-pemilikan-nya .

3. Media / industri informasi akan dipuja-puji lagi oleh generasi tuanya kembali sebab televisi sampai media cetak balik “disesuaikan” lagi bahasa halusnya di screening atau di bredel .Nggak ada lagi tuh gosip dalam infotainment yang ‘ngeselin’ , nggak ada lagi tuh pria gemulai narsis disana , nggak ada lagi tuh koran tempo beserta ‘ras sejenisnya’ atau posisinya yang sebagai penyeimbang informasi .

4. DPR dan MPR & EKSEKUTIF tenang rukun dan damai kembali , tak ada lagi huru-hara soal gaji / pesangon / korupsi dan sebagainya . Sebab semuanya kembali jadi rahasia “top secret” yang hanya presiden yang boleh tau , menindak atau menyetujui . Lupakan semua ambisi keinginan persamaan hak / gender dan lainnya . Sebab wanita sebaiknya ada didapur atau menopang kehidupan suami dirumah sesuai kodrat masyarakat Indonesia sejak jaman dulu .

5. Bisnis-bisnis hiburan apa saja menjadi terkendali lagi , tidak liar dan meresahkan para orang-orang tua terutama yang anaknya menjelang remaja . Sebab semua industri hiburan diseleksi dahulu oleh lembaga sensor pemerintah (apapun namanya lembaga tersebut) sebelum dia diijinkan untuk ber operasi.

Segitu dulu saja hasil gosokkan lampu aladin yang dikabulkan oleh ‘jin mukegile’.’

Saya ingin tau seperti apakah kira-kira jawaban “generasi nanggung tadi”

web counter

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

17 Responses to “ PoliTisi ”

  1. wah saya termasuk generasi nanggung berarti… ya ya

    nambahin:

    Gak ada demo-demo yg menghujat, karena aparat lebih sigap, jgn kan demo, baru niat aja udah ketahuan dan kena undang2. HAM elakangan yg penting negara “aman terkendali” 86 komandan

  2. huehehe.. berarti anda termasuk generasi nanggung yang salah jalan..hehe… Sebab yang bener itu yang diam tenang jadi anak mami atau anak papi .

  3. wakkss..!! mAs SenDere jeNiS geNeraSi aPah DunK..weekz! :)

  4. saya? masih nggak keliatan ya? si um ini ya masuk golongan urang tua nyang tersesat alias kesasar and salah jalan atuh..

    Kalo nggak tersesat si um udah ikutan dari doloo jadi ‘vote getter’ ato malah dah dodok di korsi di’pi’er sonoh.. dapat gaji bulanan gak perlu suse’-suse’ nyari makan kemane’mane’..gituh duiilleee jubilee” hehe..

  5. guyon aja deh…

    Sebuah surat kabar terkemuda terbitan Jakarta menurunkan headline dengan judul besar di halaman depan, ‘50% PEJABAT TINGGI KITA KORUPTOR DAN PENJAHAT’.

    Tentu saja keesokan harinya sang pemimpin redaksi dipanggil menghadap ke Departemen Penerangan dan ke Mabes ABRI di Cilangkap. Si pemimpin redaksi dimaki-maki dan diminta segera meralat beritanya. Bila tidak SIUPP-nya bakal dicabut.

    Maka keesokan harinya dimuatlah ralat berita sehari sebelumnya. Berikut ralatnya secara lengkap:

    “Dengan ini kami meralat headline kemarin yang berjudul ‘50% PEJABAT TINGGI KITA KORUPTOR DAN PENJAHAT’ yang ternyata sama sekali tidak benar. Yang benar adalah ‘50% PEJABAT TINGGI KITA BUKAN KORUPTOR DAN BUKAN PENJAHAT’. Dengan demikian headline yang kami turunkan dianggap tidak pernah ada.”

  6. wah koran itu memang keji , fitnah , menyebar dusta .. dan patut kita doakan semoga pengelolanya dimasukin neraka . Tapi sebelum sampai di neraka kita setrum aja dulu ujung jari-jari tangan-nya , sambil kita tindih jempol kakinya pake jempol kaki kursi kita .

    Belum ngrasain kan..? ada yang mau nyoba?

  7. wah pak dokter cukup jadi musisi aja, jgn mengambil lahan orang lain. Pekerjaan itu kan sudah milik interogator-interogator yg keji itu, kalo direbut lahannya ntar nganggur dong mereka hehehehehehe

    :twisted: bapak-bapak cepak kolor ijo nyang dengerin dan ngintip kite’ diem-diem selagi kite’ ngomong disini :twisted:
    “Awas lu…! bentar lagi gw duduk disana lagi … udah gw gambar lu..!”

  8. tenang boz.saya udah siagakan ojek yamaha 125cc track buat kabur!! kalau sampeyan di kejar2 hahahaha…,..

  9. yee..pak sultan gene’ari mising mikir kabur segale’, mau kabor kemane’? hehehe… naik yamaha lageeehh’.. emang jaman dulu? nyang ngejar naik onta? Aye’ mah pasang badan aje’ dahhh nanggung.. , umur juga tinggal berapa langkah lage’.. masak sisenye’ mau di sia-sia’in nyerah trus diem aje’..

  10. maksudnya mau pilih yang mana gitu kan mas?

  11. hehe si mbak udah mau nangkep ujungnye aje ya mbak..?

  12. Saya pilih jaman orba deh, minimal kehidupan lebih ramah, urusan banyak yang ga suka rasanya kok karena perselisihan politik semata. Tapi urusan korupsinya kebangetan sih ya :D

  13. * kehidupan lebih ramah .. semua pasti setujuh..hehe .
    * perselisihan politik? bukannya malah nggak ada perselisihan politik? karena semuanya bisa diredam dengan pendekatan musyawarah mufakat?
    * korupsinya kebangetan? sekarang bukannya lebih? (caranya lebih canggih maksudnya..)hehe

  14. Ada tiga ciri menonjol dari orang Indonesia di bawah Orde Baru, yaitu: jujur, pintar dan pro pemerintah. Tapi sayangnya manusia Indonesia hanya boleh memiliki dua ciri.
    Artinya manusia Indonesia itu cuma ada tiga macam: Pertama, kalau dia jujur dan pro pemerintah biasanya tidak pintar; ke dua, kalau dia pintar dan pro pemerintah biasanya tidak jujur; ke tiga, kalau dia jujur dan pintar biasanya tidak pro pemerintah.

    Pak Dokter yg man nih? huahuhauhauhuahuahuahua

    *silahkan mengerutkan dahi Pak Dokter, Jgn malu dan sungkan*

  15. huehehe.. saya malu dan saya sungkan … gimana dong..

  16. saya termasuk generasi neon om Yockie…. :idea:
    suka yang terang-terang…suka yang bening-bening.. ehhe

  17. Laarrrrooonn dong..huehehe
    Umurnya bentaran doang tuh…cuman musim ujan’ doang heehe

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara