PerspeKtif

perspektif

perspektif alternatif ini saya gunakan untuk meneropong berbagai permasalahan yang membelit disekitar kehidupan saya , dan bisa saja menjadi simplifikasi dari permasalahan yang jauh lebih luas yang melanda kehidupan masyarakat kita sebenarnya .

Masyarakat Indonesia adalah komunal bangsa-bangsa yang lahir dari ‘peradaban romantik’ sistim kerajaan dengan para raja sebagai penguasa-penguasa tunggalnya.
Generasi 45 sampai generasi lain-lainnya hingga menyentuh eksponen 66 sampai ORBA 98 dan sebagainya , masih berusaha mengadopsi sistim lama tersebut sebagai ‘pelumas’ masa transisi menuju era yang lebih demokratis . Cara-caranya adalah melalui mekanisme ‘unggah-ungguh’ atau ‘musyawarah mufakat’ sebagai salah satu contoh upaya pendekatan , agar hukum bisa ditegakkan namun sesuai dengan paradigma masyarakat sebelumnya dan kebutuhan bagi berhasil diterapkannya hukum bagi kehidupan yang lebih modern serta demokratis dimasa depan selanjutnya.

Dalam perspektif pandangan mata saya , jelas hal tersebut diatas merupakan sebuah upaya mencapai tujuan yang memilkul beban resiko / kerawanan serta tingkat sensitivitas yang sedemikian tingginya . Meskipun hal tersebut juga sudah sangat disadari oleh para pendiri fondasi bangsa atau bapak-bapak founding father kita. Mengapa saya katakan beresiko tinggi , sebab kita tidak hanya sendirian menghuni planet bumi ini .
Bangsa kita berhadapan dengan berbagai contoh kemajuan yang diperlihatkan oleh kemampuan bangsa-bangsa lain dalam mengatur dan menciptakan sistim berkehidupannya. Secara langsung maupun tidak kita diajak berpacu , bukan bepacu dalam melody namun berlomba agar supaya kita tidak tertinggal semakin jauh jaraknya . Sebab bila kita tertingal semakin jauh artinya kita semakin terkucil dari peradaban dunia . Pada akhirnya adakah sebutan lain kecuali kita hanya tinggal menunggu untuk segera dijajah kembali lagi … yang persis seperti sejarah sudah menuliskannya lewat tinta yang berdarah-darah.

Persoalan kehidupan kita diabad ini dimata saya adalah sebagai berikut:

  1. Transformasi ‘mindset’ masyarakat pengabdi kekuasaan pada raja untuk beralih pada sistim modern yang demokratis masih jauh dari impian dan harapan yang dicita-citakan. Ego sektoral (kultural) masih teramat dominan menguasai hawa pergaulan antar sesama . Terbukti masih diperlukannya tokoh bertangan besi untuk bisa meredam segala perbedaan diantaranya . Artinya belumlah cukup “suasana kondusif”‘ yang kita miliki saat ini untuk bisa digunakan sebagai instrumen duduk sama rendah , berdiri sama tinggi lalu berdiskusi / berdebat serta memutuskan secara aklamasi bersama dan menjalaninya secara konsekwen juga bersama-sama.
  2. Ilmu hukum/politik modern baik itu sistim anglo saxon maupun continental yang dikuasai oleh kalangan di masyarakat elite / madani kita , hanya berbunyi sebatas di tataran retorika , sebab secara filosofi tidak menjawab persoalan fundamental karakter bangsa-bangsanya yang masih dalam kondisi seperti yang saya gambarkan diatas. Hati / mata dan kuping ini terasa ‘miris’ saat melihat dan mendengar tokoh-tokoh politik pintar kita yang ibarat sudah melumat habis-habis buku pelajaran ilmu politiknya diberbagai perguruan atau sekolah-sekolah, namun semua apa yang dibicarakan / di teorikan sama sekali tak menyentuh akar permasalahan bangsa kita secara substance / substantif. Mereka jelas-jelas nampak seperti dewa-dewi yang sedang berpidato dari atas menara gading .
  3. Sejarah (di otak dan tubuh saya) di bulan Januari tahun 2009 ini mencatat ; Kematian seorang HM.Soeharto membangunkan kembali memory purba sebagian besar masyarakat kita akan “mangkatnya sang baginda raja” . Betapa mereka semua masih merindukan hadirnya “ratu adil” yang mereka yakini sebagai representasi dari pengabdian bagi makna/arti hidup didunia ini .
  4. Jelaslah sudah bahwa generasi lama atau bisa disebut ‘tua’ , kembali ingin mengurut ulang proses “pelumasan” diatas seperti yang dulu sudah dijalani dan terhenti ditangan HM.Soeharto agar dilanjutkan kembali agar juga bisa menyelamatkan keberadaan bangsa ini dari kerusakan-kerusakan yang lebih fatal lagi. Dalam terminologi politik pragmatis nantinya , hal tersebut bisa juga diartikan sebagai “Kegagalan Kaum Sipil” yang telah diberikan kesempatan guna mengelola negeri ini .
  5. Disisi yang lainnya generasi baru telah tumbuh , generasi yang tak bersentuhan secara langsung dengan berbagai peristiwa budaya dan politik dinegeri ini (sejarah orla hingga samapi orba) . Generasi yang jauh lebih mengadopsi politik secara global dengan terminologi modernisasinya serta keniscayaan yang telah dicapai oleh berbagai kemajuan tehnologi temuan manusia-manusianya. Generasi inilah yang saat ini “muak” dan cenderung “masa bodoh” nggak ingin tau dengan dilemasi yang dihadapi para orang-orang tua mereka sebelumnya. Mereka ingin merebut “hak” mereka sebagai generasi yang punya kebebasan menentukan sikapnya sendiri .

Pertanyaan saya secara pribadi dari hasil perspektif saya yang juga secara pribadi :

1 Kita mau pilih yang mana ? baru kemudian ketemu jalannya harus lewat mana .
2. Dunia perpolitikan kita yang “blunder” dan jadi njelimet , ya terang saja menjadi sedemikian rupa sebab tidak menyentuh filosofi kebutuhan/kenyataan bangsa-bangsanya (masyarakatnya)
3. Masalah yang tak lagi bisa ditunda adalah kenyataan bahwa generasi sekarang (anak-anak kita) mau diapakan? apa mau di scratch jadi the ‘lost generation’ saja?
4. Revolusi / pembangunan selalu menelan biaya dan korban , masihkah terasa belum cukup..? kalau memang belum cukup saya secara pribadipun pasti akan rela tulus & ikhlas bersama-sama orang-orang lainnya untuk menjalaninya demi anak dan cucu-cucu kita nanti.

Nah sampai disini dulu perspektif saya pribadi yang bisa saya tulis disini , masih teramat banyak namun kepala saya keburu “nyut’nyut’an” memikirkannya sendiri . Akan saya lanjutkan nanti bila energi dikepala saya ini bisa terisi penuh kembali .

Saya hanya berharap , paling tidak setelah membaca artikel ini anda tentu memiliki perspektif dari sudut pandang anda sendiri , mari kita berbagi paling tidak kita bisa ‘nyut’nyut’an bersama.

Salam.
web counter

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

7 Responses to “ PerspeKtif ”

  1. Abot pak dokter.. abot tenan artikel sampeyan

    Sepisan-sepisan artikel e sing ringan-ringan Pak, kanggo refreshing ben sirah panjenengan mboten nyut-nyutan maleh.

  2. *tangan megang keyboard seolah nyanyi karena gembira , padahal kepala terasa nungging njengking nempel ditanah , persis disebelah got / comberan *

  3. distorsi dari sejarah yg dipaksakan ya seperti ini pak. Sejarah yg di hasilkan bukan dari masa lalu tapi sejarah yg dihasilkan dari kepentingan golongan. Belum lagi dari mental bangsa ini yg selalu mengidolakan sosok sampai rela menutup mata hatinya dan mengakui bahwa sosok kebanggannya adalah seorang yg jahat.

    Saya juga mengidolakan Pak JSOP, lebih karena hobi dan kesenangan saya akan musik, dan saya tau jelas Bapak tidak pernah makan duit rakyat dan korupsi atas nama rakyat. Gak tau lagi kalo tiba-tiba Pak dokter masuk lingkaran “kursi empuk yg cuma bisa datang, duduk, dengar, diem, yg cuma bisa bilang setuju, minta tunjangan ini itu, dan UUD [ujung-ujungnya duit] hehehehehehehe

    Merdeka!!!

    *ini perspektif saya lho pak, jujur, dan tidak mengecewakan bangsa indonesyah*

  4. mas jsop,
    Dari semenjak artikel HM.Soeharto hingga setelahnya sy sudah meraba arah tulisan anda. Pencerahanan politik / budaya gaya jsop.net

    salut saya mas,selanjutnya kalau saya boleh tahu apa o ini mas jsop secara pribadi selanjutnya ?

    salam.

  5. @mbahsangkil: hayaah jadi pegawe’ negri tho maksute’?..sampun kasep mbah..

    @andara: maksudnya opini saya kedepannya mbak? wah..simbak ini kesusuh ajah.. , lha mbak sendiri apa pandangannya sendiri kedepan?

  6. apa iya bangsa kita masih punya harapan ke depan?
    apakah kita tidak menyadari bahwa kehormatan dan harga diri datang dari kemandirian sebuah generasi ?
    ketika kejayaan masa lalu menjadi obsesi masa depan..apakah dulu kita tergesa menentukan arah?

  7. Kalimat kedua sampeyan itu harusnya di highlite.

    “Kehormatan harga diri datang dari kemandirian sebuah generasi”

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara