KacaDiMata

keadilan

Presiden RI dalam peristiwa Puncak Harlah ke 82 NU menegaskan bahwa kondisi nasional semenjak 10 tahun terakhir sejujurnya adalah semakin menjadi lebih baik . Ukuran yang digunakan adalah :

a.stabilitas politik

b.penegakan hukum

c.pemberantasan korupsi dan

d.kerjasama dengan negara-negara lain sebagai ukuran dari kemajuan yang dimaksud diatas .

Saya adalah warga biasa yang tidak memiliki tempat lebih istimewa dari warga masyarakat yang lainnya , bukan politisi bukan birokrat . Saya adalah warga yang hanya bisa merasakan dampaknya secara langsung . Baik itu dampak menjadi makmur atau dampak justru jadi kojor (bhs jawa: nelangsahhh *huruf h nya banyak* gitu lho..)

Mari kita berpikir jernih serta obyektif , tanpa sedikitpun ada dorongan tendensius yang berkehendak untuk menyudutkan pihak-pihak tertentu . Bagi saya point a dan b diatas masih terlalu sumir kalau tidak bisa dikatakan absurd , sudah saya terangkan pendapat pribadi saya di berbagai artikel sebelumnya . (tentu saja itu hanya pendapat / opini saya pribadi ) Point c tentang pemberantasan korupsi? . Bagi saya istilah ini juga mengusung ambiguitas dengan kadar yang tinggi .

Manifesto anti korupsi sebatas menutup atau me-nyegel “kran-kran” kecilnya saja lalu menyeret tukang kran tersebut kemeja hijau dan sebagainya tidak bisa disebut sebagai pemberantasan korupsi itu sendiri . Pipa besarnya tetuep saja ngocor sambil diam-diam atau malah ada yang ‘di-konstitusional-kan’ .Selain melibatkan jaringan pipa-pipa yang sudah sedemikian kronisnya , juga mental korupsi itu sendiri sebagai awal dari biang keladinya tidak tersentuh untuk segera diperbaiki .

Point d kerjasama dengan negara-negara lainnya sebagai tolak ukur kemajuan . Apakah ini juga termasuk liberalisasi ekonomi sebagai ukurannya ? Sudahkah kita melihat effect domino dari liberalisasi ekonomi yang berakibat kepada sejahteranya kehidupan para petani serta orang-orang miskin lainnya? Sudahkah kita melihat liberalisasi ekonomi di sektor pendidikan telah menciptakan anak-anak didik yang semakin memahami dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan berdasarkan warisan luhur budaya bangsa kita sendiri .

Pendidikan bukan usaha komersial demikian bunyi headline sebuah berita yang mengutip ucapan Rektor Unisba Bandung sebagai Ketua Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Islam Swasta seluruh Indonesia . Saya tak usah lagi bertele-tele menguraikan tumpukan kegundahan yang menggumpal dihati , didalam sanubari kita semua , termasuk “gerundelan” jajaran / barisan ahli-ahli pendidikan yang tersebar diberbagai wilayah dunia pendidikan kita …. Capeee…deeh..!

Intinya artikel ini sebenarnya hanya ingin berbunyi :

Mbok yaa… rakyat semua diajak untuk menggunakan kacamata yang sama untuk melihat kearah depan , atau mungkin juga bisa berbunyi sebaliknya . Mbok ya.. pakailah kacamata rakyatnya kalau mau melihat kedepan .

Silahkan meneruskan sendiri-sendiri bila diantara anda ada yang mau ‘berkenan’ . Kalau tidak didalam hatipun juga ndak apa-apa . Kamsiah..ah..

salam.

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

17 Responses to “ KacaDiMata ”

  1. lihat gambarnya jadi ingat lagunya metallica “and justice for all”

    Lady Justice Has Been Raped
    Truth Assassin
    Rolls of Red Tape Seal Your Lips
    Now You’re Done in
    Their Money Tips Her Scales Again
    Make Your Deal
    Just What Is Truth? I Cannot Tell
    Cannot Feel

    Justice Is Lost
    Justice Is Raped
    Justice Is Gone
    Pulling Your Strings
    Justice Is Done
    Seeking No Truth
    Winning Is All
    Find it So Grim
    So True
    So Real

    miris ya mas.. sebagai kepala negara harusnya bisa berbicara lebih “masyarakat” toh masyarakat kita bukan orang bodoh lagi, masyarakat kita udah mengerti. Tiap hari dicekokin berita koruptor yg kabur keluar negeri, dicekokin berita jumlah rupiah yg nilainya fantastis yg dibawa kabur oleh kapitalis tak bermoral, dicekokin “deal-deal penggadaian harga diri bangsa” dll.

    Kalo yg dijadikan pembanding masa lalu ya sami mawon menurut saya, lha dari dulu yg dikerjakan selalu yg kecil-kecil, kalo gunung es cuma pucuknya aja yg disentuh, tapi dasarnya gak sama sekali. Mbok ya sekali-sekali tangani kasus yg sekelas ikan paus, jgn doyannya ikan teri mulu.

    Bicara ikan teri kalo dipeyek trus sebagai “soulmate” nya pecel enak ya Pak, apalagi bumbu pecelnya dari Blitar hmhmhmhm yummmiiiiiiiiiiiiii

  2. Saya perhatikan dari semenjak saya ngeblog di wordpress ini , dibanding ditempat lain seperti MP atau blogger atau myspace dan lainnya. Memang tampak masing-masing sepertinya dihuni oleh golongan/karakter-karakter tertentu dari users-nya.

    Di wordpress ini lebih didominasi oleh kaum pekerja kantor dibanding dengan pemuda aktif entah itu sebagai mahasiswa atau kelompok masyarakat ‘non official’ lainnya.

    Setiap saya menulis artikel tajam dan kritis (directly) semua cenderung jadi pasif dan tak responsif berbeda jika menyangkut guyonan kaum menengah keatas yang relatif jauh dari guyonan atau masalah kaum jelata.

    Padahal pendidikan politik seharusnya kan ditularkan dari atas bukan dimulai dari bawah. Ada hal-hal mendasar yang sepertinya masih belum dipahami oleh kelompok elite kita disini. (seperti yang dikatakan oleh bang roz tentang pemahaman mereka terhadap pengertian kalimat bagi sebutan “madani”)

    Kembali soal artikel ini , bila saya mengutip kalimat kepala negara yang notabene adalah presiden saya juga dimana kalimat beliau atau statementnya terasa bertolak belakang dengan kandungan pesan yang ingin disampaikannya , bukan berarti saya secara terbuka menentang lalu mau ber-oposisi secara politik praktis dan sebagainya .

    Namun semata-mata ingin menunjukkan bahwa saya sebagai salah satu warganya merasa bahwa negeri saya belum atau tidak seperti apa yang dikatakannya tersebut. Jadi merupakan hak saya sebagai warganegara untuk menampik kalimat-kalimat tersebut. Bukan berarti saya tidak hormat pada presiden saya atau bukan berarti saya kurang-ajar hingga bisa nyerempet-nyerempet bahaya dan sebagainya .

    Masyarakat madani kita memang belum ada , yang ada hanyalah masyarakat yang sok madani , seolah-olah madani .

    Apalagi masyarakat dilevel akar rumputnya…yang taunya menuntut hak dan bila haknya tidak dikabulkan lalu ngamuk membabi buta / nge-bom sana sini atas nama demokrasi hingga lebih jauh lagi atas nama agama bahkan Tuhannya . Emang Tuhan ngajarin orang buat nge-bom atau demo sambil ng’rampok dijalan?

    PLATO:

    Demokrasi adalah kebebasan untuk me-ngontrol semua bentuk penguasaan agar accountable .

    Jadi bukan asal cuap-cuap lalu bisa dibilang perilaku demokratis . Nah dalam konteks saya mempertanyakan kalimat presiden saya tersebut diatas , adalah upaya saya menempatkan pengertian demokratis yang sebenarnya . Ya untuk bertanya , syukur-syukur bisa mengontrol … kalau saya salah tentu saja saya harus menerima dan introspeksi diri lagi , tapi kalau saya benar ya.. walaupun dia seorang presiden sekalipun saya wajib mengingatkannya sebagai bagian dari kewajiban masyarakat banyak lainnya .

    Gitu aja koq repot…. kata Gus Dur.
    ps: eh” ngomong2 ikan teri peyek emang marem ..mbah, mbok saya dikirimi.. yang asli sidoardjo. huehehe

  3. walah kalo kirim peyek sampe ibukota saya gak bisa bayangin jadi apa. Yang lain aja pak, yg rodo kuat kalo dikirim pake titipan kilat huehuehuehue walah malah ngomongin oleh-oleh huehuehue.

    hmm… sebenarnya mungkin yg kritis banyak pak, cuma penyaluran aja gak ada. Apalagi golongan yg sudah merasa “mapan” dengan kehidupannya, mungkin agak susah ya. Bukankah harusnya kaum yg sudah “mapan” yg lebih punya banyak kesempatan untuk memikirkan bangsa? secara kehidupan sehari-hari udah gak usah mikir besok mau makan apa, ato gak usah pusing buat sekolahin anak. Kalo kaum-kaum yg “belum/kurang mapan” [kayak saya ini hehehehe] terkadang menjadi dilematis, disatu sisi musti berpikir besok makan apa, besok bayar uang sekolah gimana dll, jadinya antara kebutuhan hidup atau berbangsa menjadi sesuatu yg dipertaruhkan. Akhirnya ya itu pak, rasa kebangsaannya menjadi rasa kebangsatan. istilah kasarnya boro-boro mikir negara, mau makan aja susah.

    Untungnya negara ini masih punya sampeyan pak, yg masih mau mikirin bangsa di tengah himpitan masalah hidup.

    btw pak paman tyo bikin blog aggretator tuh, mungkin bisa jadi salah satu corong menyebarkan rasa kebangsaan, paling tidak disana nanti banyak pemikir-pemikir hebat yg mungkin mau sedikit menyumbangkan pemikirannya untuk bangsa ini.

  4. Saya ingin menggaris bawahi kalimat sampean sbb :

    …..juga mental korupsi itu sendiri sebagai awal dari biang keladinya tidak tersentuh untuk segera diperbaiki.

    Oh Mas…sampe2 ada plesetan yg sungguh singit : NKRI = Negara Kleptokrasi Republik Indonesia.
    U/ memperbaiki tanggung jawab siapa ya..? apa para Ustadz ? Bp&Ibu Guru ? Orang Tua ?
    Banyak orang tua yg dihormati didakwa macam2. Mungkin butuh “Kursus jadi orang tua yg bermoral”.
    Ah..jadi orang tua yg bener ternyata tdk mudah.

  5. mas Indrayana, negara kleptokrasi? wallaahh… hehehe , plesetan yang lumayan sinistik ya mas , apa boleh buat kita nggak punya pembenaran yang cukup untuk bisa menyanggahnya , hiks.

    Transformasi nilai mas Indrayana , yang sekarang ini sedang terjadi. Nilai-nilai lama digebyah-uyah semuanya yang berbau paternalistik seolah harus dihapus atas nama demokrasi liberal.

    Saat ini sedemikian mudahnya generasi sekarang ini menepukkan dadanya sambil berteriak lantang paham “liberalis” . Saya nggak mudeng mereka itu semua paham sejarah nggak seh..? atau jangan-jangan malahan saya yang dicap ahistoris .. walalahh..Jungkir balik salto akrobat kemana-mana itu istilah jadinya….. huehehe . Nah.. itulah yang disebut “madani”nya Indonesia saat ini huehehe…

  6. mbahsangkil, memang sih golongan mapan nggak punya waktu lagi untuk mikirin beginian huehe.. masalahnya ‘nggak punya atau nggak mau? (masa bodoh)

    Disaat kehidupan ini berusaha kita terjemahkan sebatas bentuk-bentuk simbol / status atau fisik yang kasat mata , maka ilmu serta tehnologi hanya akan berperan sebagai mesin pengurai atau ‘mikroskop’ nya saja.

    Seluruh aplikasi dalam kehidupan ini diteropong lewat mesin pengurai tersebut lalu di-identifikasi serta dirumuskan menjadi bahasa tekstual yang harus ilmiah .
    Mengapa begini..? sebab begitu .. , mengapa ada?….. sebab tadinya nggak ada…., mengapa makan?…. sebab lapar…. , mengapa kawin? … sebab nafsu seksual harus disalurkan ….yang akhirnya :

    mengapa dibunuh…? … sebab merugikan atau sebab saya benci…, selesai dan titik!

    Terus begitulah manusia Indonesia diabad ini diajak berpikir untuk menjalani hidupnya . Hidup seolah diajarkan untuk hanya sekedar menjadi praktis , ekonomis jangan dipersulit .. jangan dibikin susah…huehehehehe…

    Ya kalau pengen praktis… ya sabar saja.. nanti diliang kubur baru kita nggak usah njelimet mikir yang susah-susah .. huhehehehe .

  7. Pendidikan bukan usaha komersial demikian bunyi headline sebuah berita yang mengutip ucapan Rektor Unisba Bandung sebagai Ketua Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Islam Swasta seluruh Indonesia . Saya tak usah lagi bertele-tele menguraikan tumpukan kegundahan yang menggumpal dihati , didalam sanubari kita semua , termasuk “gerundelan” jajaran / barisan ahli-ahli pendidikan yang tersebar diberbagai wilayah dunia pendidikan kita …. Capeee…deeh..!

    Yup, benar sekali pak! pendidikan kita carut marut, termasuk saya yang berada di dalamnya menjadi miris melihat ke dalam diri saya sendiri. mudah2an saja arah ke depan semakin lebih baik lagi dengan sikap kritis yang tersisa dalam pikiran kita masing-masing..

  8. Manifesto anti korupsi sebatas menutup atau me-nyegel “kran-kran” kecilnya saja lalu menyeret tukang kran tersebut kemeja hijau dan sebagainya tidak bisa disebut sebagai pemberantasan korupsi itu sendiri . Pipa besarnya tetuep saja ngocor sambil diam-diam atau malah ada yang ‘di-konstitusional-kan’ .Selain melibatkan jaringan pipa-pipa yang sudah sedemikian kronisnya , juga mental korupsi itu sendiri sebagai awal dari biang keladinya tidak tersentuh untuk segera diperbaiki .

    Ya mana mungkin ndongkrak atasannya pak?! saya sendiri, meski memiliki posisi tertinggi, kalo yang dilawan gurunya sendiri yo pasti mikir seribu kali untuk melakukannya.. saya kasihan betul ama pak sby, disetir oleh banyak kemudi yang dia sendiri tak punya sikap mau di bawa ke mana arah biduknya.. wallahu a’lam..

  9. tepat mas aghufur,

    Jadi jaman sekarang ini kalau kita kritis terhadap pemerintah itu adalah sikap kritis kita kepada lembaganya . Artinya sikap kristis kepada pak presiden kita sendiri adalah sikap kritis kita kepada lembaga kepresidenan yang tak kunjung berfungsi sebagaimana dibutuhkan bagi kondisi seperti saat ini , semenjak sepuluh tahun lalu.

    Campur tangan DPR apapun alasannya , sekarang ini lebih banyak menghambatnya daripada manfaat tugas mengontrol legislatif kepada eksekutifnya.

    Kritik pada RI 1 adalah kritik pada lembaga bukan perorangan , kebetulan saja namanya SBY.

  10. Perlu saya tambahkan lagi , bahwa pengertian “korupsi” bukan hanya sebatas memanipulasi dalam bentuk uang saja kan?

    Jabatan / peran ganda , pikiran-pikiran yang menghasilkan berbagai kebijakan untuk menyiasati sesuatu , tetapi melanggar norma-norma dasar dalam ber-etika dan sebagainya . Ini yang terparah dan itu juga yang sebenarnya termasuk dalam katagori biang keladinya .

    Mana mungkin memberantas korupsi jika hanya dipandang/dicegat di muaranya saja , penyelewengan pikiran dari hulu nya tak juga tersentuh. Ada Direktur Utama tetapi merangkap sebagai kasir bahkan akuntannya , atau kalau mau diperjelas agar lebih vulgar , masak ada pemimpin diberbagai jajaran tinggi pemerintahan tetapi juga sebagai ketua partainya sendiri .

    Kerja sendiri ngawasi sendiri menentukan sendiri membenarkan sendiri , lhhaa ini republik isinya cuman dia sendiri atau apa?

  11. Jumlah sarjana nganggur Indonesia melonjak .. nahh loo ,

    Tahun 2006 – 183.629
    Tahun 2007 – 740.000 plus diploma l/ll/lll.

    Orang jadi bodoh karena nggak sekolah , kenapa nggak sekolah?
    “sebab kekurangan sekolah katanya”, maka dibuatlah dalam sekejap industri sekolah plus pabrik cap oemar bakri .

    Setelah sekolah banyak , oemar bakri banyak , lulusan yang jadi orang ‘pintar’ juga banyak .. terus mau diapaain….?

    Apa disuruh latihan baris berbaris saja.. ? agar perayaan HUT Kemerdekaan nanti bisa jadi bukti kita maju , sebab ada barisan khusus sarjana-sarjana penganggur Indonesia .

    *anak saya bagaimanakah nasibnya … nanti*)

  12. sekolahya masih kurang banyak sam.

  13. mas, saya merasa seperti deja vu.

    konteksnya begini. saya sekarang sedang kecewa berat dengan “mundurnya” ITB sebagai sebuah institusi pendidikan. maaf, saya sedang memakai “baju” alumni ITB dan juga “baju rakyat indonesia” bukan baju dosen ITB.

    yang saya katakan mundur adalah hilangnya prinsip dasar dan mimpi di dalam kampus. hmm… susah menceritakannya dalam tulisan yang singkat. mohon ijin ke mas yockie untuk menulis yang lebih panjang ya mas.

    maksud saya begini. dahulu, seorang bapak dan ibu akan dengan rela menjual sawahnya, kerbaunya, atau apa pun agar anaknya masuk ke ITB. demikian pula, dahulu sang anak berusaha mati-matian agar masuk ITB. mengapa? karena di dalamnya sana ada banyak mimpi (dreams to make better indonesia). sekarang … ini sudah hilang. saya tidak yakin ada bapak dan ibu yang rela menjual mobilnya agar anaknya masuk ke ITB. masuk ke universitas dekat rumah saja lah.

    nah, ketika saya protes seperti ini, jawaban yang muncul adalah … bukankah ITB sekarang lebih baik? gedungnya lebih baik, tempat parkir lebih baik, administrasi lebih baik, dan kita mampu untuk mengikuti sertifikasi xyz. persis seperti yang diceritakan oleh tulisan ini … bahwa endonesha lebih baik.

    bagi saya, memang ada kemajuan yang baik tetapi ini di sisi “administratif”. (bingung mau pilih kata yang pas.) ukuran a, b, c, d di atas adalah ukuran administratif bagi saya.

    namun substansi … hilang.

    orang lebih mementingkan ukuran administratif karena mudah diukur. bisa dikuantisasi dengan mudah. tetapi urusan substansi … (peningkatan kualitas hidup manusia indonesia – jangan diukur dengan uang lho; atau kalau dalam kasus saya core values dari ITB) … kita mundur.

    saya katakan … kita diarahkan untuk menjadi robot, bukan untuk menjadi manusia.

    ketika saya bicara begini, saya dianggap aneh. atau memang cara pikir saya yang aneh. atau … memang saya aneh aja. ha ha ha. nggak sadar. ah, nulis gini juga mungkin lebih banyak yang tidak mengerti. si BR ini ngomong apa sih? ya, ya, ya, saya masih harus belajar banyak dalam mengartikulasikan ide. mudah-mudahan ada yang nangkep apa yang saya maksudkan ini. (dan mudah-mudahan ini beririsan dengan apa yang ingin dikatakan oleh mas yockie.)

    maaf. ini bukan sekedar soal mengkritik pimpinan kan?

  14. Rasanya jalan pikiran anda sekarang udah nggak aneh koq mas..hehee . Kalau 5 tahun lalu mungkin iya…. , karena sekarang udah banyak yang berteriak soal pendidikan yang kurang lebih seperti mas Budi singgung diatas. Sedih ya… saya cuman bisa ngebayangin institusi sekaliber ITB dahulu dan sekarang . Demikian juga UI dulu dan sekarang … huh hampir semuanyalah mas … mengalami degradasi . Saya hanya bisa membandingkan cara berpikir mahasiswa dulu saat bicara dengan mereka tahun 70’an s/d 80’an dengan jebolan fisip aja sekarang ini ..huehehe… “kepekaannya” yang memang beda mas .. (tentu saja tidak semuanya lho mas… namun sebagian besarnya hehehe)

    Sepertinya anak yang saya temui tersebut dirangsang untuk menciptakan masa depannya sendiri berdasarkan pemahamannya sendiri dalam membaca dan menggauli keniscayaan jamannya sendiri sekarang ini . Mereka seperti dilepas ditengah lautan tanpa dibekali kompas dan scenery yang dibutuhkan . Ya…jelas mereka tampak gedandapan .. (paling nggak dimata sayaahh sendiri) tapi karena harus pede … yang muncul adalah perilaku yang seolah ke ge’er’an.. yang salah siapa? ya generasi tuanya … yang nggak mampu memberikan suri tauladan dan contoh-contoh yang baik untuk bisa diikuti . Generasi tuanya dijejerkan lalu di compare dengan generasi lain dari peradaban lain yang jauh lebih maju dan modern ….., ya kedodoran mas.. , karena itu mereka nggak respected apalagi bisa percaya huahahaaaha …

    Soal artikel diatas ,
    Kalau saya memahaminya sebagai ‘mengeritik pimpinan dalam konteks jabatan bagi tugas yang diemban mas .. bukan personal individunya. Sebab bisa saja tiba-tiba besok pagi ada kebijakan “radikal” untuk berani merubah secara lebih drastis apa apa saja yang harus diperlakukan dengan approach yg juga secara radikal . Nah…kalau itu yang terjadi… mari kita dukung dan support habis-habisan . Bentuk support saya..? ya bikin lagu yang menyemangati dan ngomong di berbagi tempat termasuk blog ini untuk menyebarkan informasi . Bukan masuk partai politik lho mas…. jelas itu bukan ladang saya .., bisa kaya kambing suruh hidup dalam air nanti sayahh…huehehe..

  15. hiks…. hiks… hiks….

    beberapa kampus negeri sudah menerapkan uang masuk puluhan juta rupiah, padahal dulu otak dan kristalisasi keringat adalah syarat yg utama. Kampus negeri udah jadi “industri” pendidikan…

    Kayaknya udah tidak ada lagi yg dinamakan kampus perjuangan..
    hiks… hiks… maap OOT

  16. Pertama-tama , istilah OOT sepertinya untuk sementara ini ‘kudu’ jangan digunakan dulu mbah..heuehe sebab belum saatnya kita mampu membahas satu persoalan (secara fokus) tanpa melibatkan aspek disekelilingnya yang “menyebabken persoalen” tersebut bisa muncul dan menjadi ada .

    Kalau suprastruktur yang seperti dijelaskan mas gempur (itu saja!) sudah tertata dengan baik , maka untuk selanjutnya baru bisa kita ngomong secara fokus dan detail pada topik yang sedang dicoba untuk bisa dipecahkan.

    Jadi bentuull kata sampeyan mbah , udah nggak modis julukan bagi Universitas perjuangan , kuno.., katrok.., ndesit.. terkesan urakan demo/protes melulu dan yang paling penting “jauh dari kesejahteraan” katanyaaaa seehhh..

  17. Para pemimpin mengatakan dan akhirnya mengakui bahwa memamg terjadi “mismatch” dalam dunia pendidikan kitah..

    Solusinya antara lain pak persiden meminta agar jajaran dep.pendidikan dari tingkat kementerian hingga melibatkan seluruh jajaran perguruan tinggi yang ada supaya membuat sebuah ‘acuan’ atau “blue_print” . Supaya bisa dilakukan deteksi secara jelas , mana jurusan yang sudah jenuh .. dan apa saja kualifikasi yang dibutuhkan bagi perkembangan pasar kerja.

    Sebelumnya : hehehehe dulu..ah..(*narik napassssss sambil nelen ludahhhhhh*)

    Ini lhoohh hebatnya Indonesiaaahhh … teoriiii…teruss , wacanaaaaa teruussss . Atau bahkan perilakunya bisa sebaliknya …, jalan dulu urusan belakangann.. “hantam kromo” . Pokoknya istilah akademiknya : reaksioner lah.. dan………Ekstrimis!

    Sudah konkrit dan jelas , tampak didepan mata , sudah bisa dirasakan dampaknya oleh tubuh kita sendiri yang semakin hari semakin susah untuk mencari makan dan mencari apa yang harus dimakan …. koq masih saja kita disibukkan agar terus ngurek-ngurek teori dan angka .

    Persoalan hari ini adalah … semakin sulitnya lapangan kerja itu sendiri … kalau tidak mau dibilang semakin hari semakin banyak yang bangkrut lalu mati . Mbok ya… sampai 100 juta ahli atau ilmuawan akademisi yang tepat guna dan tepat sasaran bisa diciptakan 10 tahun kedepannya misalnya nanti… , apa artinya kalau 1 hingga 2 tahun kedepan ini hampir semua bidang usahanya sudah keburu mati duluan ….?

    Mudeng nggak seh? … atau nyambung nggak , atau OOT ngga..?

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara