Kehormatan

melet

Setelah dalam kurun waktu lebih dari delapan tahunan tak ada satupun media hiburan yang menoleh pada saya sebagai salah satu pelaku generasi sebelumnya , maka surprise tiba-tiba hari ini datang sebuah undangan by: email dari sebuah majalah musik di ibukota untuk mengharapkan kesediaan saya . Sayang …. saya tak mampu menerima kehormatan yang diberikan pada saya . Namun tetap saya hargai upaya majalah tersebut untuk mencoba menghormati saya paling tidak masih ada , berikut ini

Hal: Undangan
Lampiran: Dua (2) halaman

Kepada Yth.:
Jockie Soerjoprajogo

Dengan Hormat,

Dalam rangka mendukung perayaan Hari Musik Nasional (9 Maret), Majalah ROLLING STONE Indonesia pada edisi Maret 2008 akan menerbitkan edisi tahunan yang khusus mengulas dinamika Industri Musik Indonesia.

Oleh karena itu kami bermaksud mengundang Bapak untuk hadir sebagai Nara Sumber dalam ROLLING STONE’s Roundtable Discussion

bertema:

“Tinjauan Industri Musik 2007 &
Masa Depan Industri Musik Indonesia”

Hari/Tgl : Rabu / 6 Februari 2008
Pukul : 11:00 – 16:00 WIB
Tempat : Kantor ROLLING STONE Indonesia
Jl. Ampera Raya No.16, Cilandak, Jakarta Selatan
(Depan Restoran Ampera)

Rencananya hasil curah gagasan dari diskusi tertutup ini nantinya akan menjadi materi artikel bagi laporan utama tersebut.

Besar harapan kami akan kehadiran Anda di acara ini. Untuk konfirmasi atau informasi lebih lanjut silakan menghubungi xxxxxxxx .

Atas perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan terimakasih.
Jakarta, 29 Januari 2008

Hormat Kami,

Term of Reference

ROLLING STONE’s ROUNDTABLE DISCUSSION
“Music Industry Edition – March 2008”
Monday, February 6 th 2008, 11 AM – 16 PM

Tema:

“Tinjauan Industri Musik 2007 &
Masa Depan Industri Musik Indonesia”

Sub Tema:

– Tinjauan Kondisi Industri Musik Indonesia 2007:
· Album-album artis big names tidak ada yang terjual 1 juta copies
.Tren penjualan RBT jutaan hits
· Penjualan fisik kembali turun drastis
· Major labels terancam bangkrut/tutup?
· Penjualan musik bajakan makin transparan dan meningkat
. Mandulnya aparat hukum & penegakan UU No19 Hak Cipta
· Invasi band-band lokal pop melayu
· Artis manajemen major label mengalami kontradiksi
· Penggratisan musik (fenomena album Koil)

Masa Depan Industri Musik Indonesia:

· Menyongsong PP tentang Tata Niaga Industri Musik Indonesia
· Merebaknya tren penggratisan musik
· Maraknya tren digitalisasi musik Indonesia
· Illegal downloading & music buying habit di Indonesia
· Punahnya kaset & CD legal di Indonesia
· Tren tutupnya retail rekaman musik di Indonesia
· Bisnis musik legal berkaca pada kesuksesan rekaman bajakan
· Masa depan pembajakan musik di Indonesia cerah?

Speakers*:

1. Danny “Pette” Widjanarko (Manager Gigi)
2. David (indie label/demajors)
3. Denny MR (Pengamat Musik)
4. Dharma Oratmangun (Ketua Umum PAPPRI)
5. Erwin Gutawa (Musisi)
6. Hanin Sidharta (indie label/Aksara Records)
7. Jan N. Djuhana (Senior A&R Director SonyBMG Indonesia)
8. James F. Sundah (Ketua Bidang Teknologi & Informasi PAPPRI)
9. Jockie Soerjoprayogo (Musisi)
10. Piyu (Musisi/E-motion Entertainment)
11. Seno M. Hardjo (Target Pop Records)
12. Anas J. Sadrach (Musica Studio’s)

* dalam konfirmasi
Host: Indra, Adib, Ricky, Hasief, Wendi (Rolling Stone Indonesia)

Run-Down Discussion

Pk. 11:00 – 12:00 : Sessi I : “Tinjauan Industri Musik 2007″
Pk. 12:00 – 13:00 : Makan Siang
Pk. 13:00 – 14:00 : Lanjutan Sesi I: Tinjauan Industri Musik 2007
Pk. 14:00 – 15:00 : Sesi II: “Masa Depan Industri Musik Indonesia”
Pk. 15:00 – 15:15 : Tea Break
Pk. 15:15 – 16:00 : Lanjutan Sesi II: “Masa Depan Industri Musik Indonesia”

— O —

jsop : mas rolling stones Yth ,

Mohon dipahami dengan hati yang jernih ya supaya tidak menimbulkan kesan yang salah atau berbeda dari maksud jawaban saya dibawah ini:

Sebagai musisi saya tidak mengabdi pada industri (suply&demand hanya dari sudut ekonomi) . Yang bisa juga diartikan bahwa saya bermusik selama puluhan tahun tersebut tidak dibesarkan oleh industri . Walaupun saya juga tidak menafikkan bahwa industri juga turut berperan dan punya andil untuk membesarkan saya.

Namun hal tersebut saya pahami sebatas industri yang menghampiri kami bukan sebaliknya. Tatkala konsisi saat ini sudah sangat “berbalik”situasinya, maka sayapun dengan sangat sadar memahami keberadaan serta relevansi saya dilingkaran tersebut .

Artinya lebih lanjut , bahwa saya tidak ‘pas’ untuk diajak bicara dalam bingkai kepentingan industri itu sendiri .(mohon jangan salah tafsir .. bukan karena arogansi atau lainnya , tapi lebih kepada keadaan yang mendorong saya agar ‘tau diri’)

Membaca undangan anda , yang saya pahami berdasarkan urutan nama-nama pesertanya saya berkesimpulan bahwa ini sangat berkaitan erat dengan kekhawatiran akan terjaganya sistim industri itu sendiri bukan?

Musik dan lagu sangat berkaitan dengan berbagai aspek sosial lainnya dalam masalah kehidupan ini bagi saya , dan saya juga sadar bahwa kepentingan industri dapat turut mempercepat bergulirnya aspek-aspek positif lainnya sebagaimana penjelasan saya diatas tersebut . Namun ketika kepentingan industri hanya bicara dari sisi komersialnya semata , maka sayapun dengan sangat jelas dan tau diri merasa “tidak terwakili” disana .

Dan karena musik adalah satu-satunya profesi saya sepanjang hidup saya sampai hari ini , maka hanya saya sendirilah yang harus menjaga serta menghormati profesi saya sendiri . Demikian jawaban saya , semoga sekali lagi tidak mengundang salah tafsir bagi teman-teman sesama musisi dan rekan-rekan sejawat anda.

Saya akan menyempatkan untuk hadir bila topik bahasannya merangkum semua permasalahan yang terkandung dalam dunia seni musik itu sendiri .

salam hormat.
Yockie Suryo Prayogo

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

26 Responses to “ Kehormatan ”

  1. beuh.. galak bapak kita satu ini huahuahuahua

    kok saya lihat di surat itu ada “nada” kekuatiran dari major label ya? trus Pak dokter mau ambil sikap bila kondisinya gimana? ato lagi berpikir menyebarkanmusik via internet :razz:

  2. aaaaarrrggggghhhh pikun..pikun…

    saya jawab sendiri aja pertanyaan saya huahauhuauauaua. Soal mutu dan kemampuan bermusik kan? maap kalo salah hhuahuahuhuahuahuahauha

    *lagi bego maap*

  3. mas YockIe,
    Liberalisasi ekonomi,diterapkan diatas kepala pengamen sampai pak tani.

    ya nggak mudeng.

  4. saya jawab sendiri aja pertanyaan saya huahauhuauauaua. Soal mutu dan kemampuan bermusik kan? maap kalo salah hhuahuahuhuahuahuahauha

    ~
    antara lain itu juga salah satu persyaratan tentunya , tetapi mengembalikan bandul keseimbangan supaya bergerak kiri kekanan secara equal itu yang jauh lebih mendasar , mbahsangkil.

    Mudah2an bisa sebagai isyarat untuk membuat media bisa lebih “sensitif” bagi kita semua untuk mendukung , memulai bisnis dan membangun sebuah kekuatan industri yang juga jauh lebih mengusung nilai-nilai martabat manusianya sendiri.

    Media informasi bagaikan silet tajam pada dua belah sisi , sebagai musisi saya juga wajib menepuk-nepuk pundaknya agar tak mudah terlena oleh rayuan pulau kelapa … e’salah… pemodal kaya raya maksudnya hehehe..

  5. okeeehh! dah dpt engpiraseh dikit2 neh!

    kek2nya si akang setengah2 “ditodong” neh suru ikutan ntu acara yak? huehehe! orang blom jawab kok nama udah lantas aje dipasang di situh. paling gaknya masupin dulu kek di bagian “tunggu konfirmasi”, ye khan? ntu artinyah ada unsur kurang teliti etiket dlm berkomunikasi, bukan? (bukaann!)

    selanjutannyah, terkesan pengundang kurang “mengenal” si akang dari segi prinsip n pandangan bliouw re industri musik, sehingga berasumsi bahwa bliouw dapat dijajarkan pada barisan “industrialis musik”. itulah akibatnya kalo kurang baca “kertas posisi” si akang sbgmn yg sudah banyak diterbitkan di “jesopsini” maupun “jesopsana”.

    padahalannya nih, dari sekian banyak tulisan itu di kedua jesop ituh (eh ada nyang laennyah lagi gak kang?), akan banyak dpt ditangkap berbagai isyarat yang tersirat maupun tersurat mengenai posisi bliouw, yang intinya bahwa topik2 sbgmn yg akan didiskusikan itu sangat2 tidak relevan (lagi) dengan aspirasi bliouw akan musik indonesia sekarang ini.

    sayah sangat2 bisa memahami betapa topik2 seperti major labels, penggratisan musik, tata niaga musik, penjualan fisik dll subtema yg gagah2 itu sudah sejak lama ditinggalkan – kalo tidak mau dikatakan tidak pernah dianut sama sekali – oleh bliouw. sayah juga paham bhw si akang bukannya juga anti sama industri, tapi lebih ke arah pemilihan untuk “berindustri secara baik dan benar” lah kurang lebihnyah!

    seyogyanya, siapapun yg pernah dan masih mengamati sepak terjang musik si akang ini sadar bahwa seorang yockeeehh itu akan jauuuuh lebih tertarik untuk bicara mengenai hal-hal musik yang lebih substansif seperti (misalnya neeh!): musik engdonesah sebagai cerminan naluri budaya bangsa, aspek2 musik tradisional nusantara dalam musik indonesia kontemporer, musik untuk perdamaian, pencerdasan selera musik masakarat, keleluasaan berkreasi musik di dalam industri, pendidikan musik dini bagi generasi muda engdonesah, pengangkatan tema2 sosial dalam musik… dan segudang lagi topik2 yg tidak kalah gagahnya dgn subtema acara diskusi mejabundar di atas, dan lebih mengena pada kebutuhan musik masakarat. sesuatu yg sudah mendapat perhatian yg cukup layak di banyak negara laen, tapi di kita blom begitu ada tuuh. dan ini bukanlah masalah mampu-tidak mampu tapi lebih ke mau-tidak mau.

    apa yg direncanakan oleh penggagas acara jelas-jelas hanya terbatas pada keprihatinan atas kecenderungan menurunnya rasio laba rupiah yg diperoleh indsutri bbrp waktu belakangan ini (apa iya gituh kang? ane liat banyak artis2 pade kaye raye tuuh? ape aye sale liat yak?) oleh karena itu jugalah, sayah bisa memahami betapa si akang akan merasa sangat risih utk bicara musik atas dasar pembatasan simplistik yang mengacu pada industri belaka, tanpa sedikitpun bicara mengenai kontribusi yg jauh lebih bermakna dan seyogyanya dapat diberikan oleh industri kepada masakarat – khususnya pencinta dan penikmat musik engdonesah, termasuk juga para senimannyah.

    akhirnya, apa nyang ditulis si akang dlm membalas undangan hendaknya dapat kita baca sebagai suatu ungkapan keprihatinan (kalo “ratapan” agak ramatisir kali yee kang?) seorang seniman nasional (gaek.. eh blom yak? huahahahah!) atas tipisnya “nilai tambah” apresiasi musik dari jaman taon 70an sampe skrg, di tengah meroketnya rasio laba komersial yg diraup para industrialis musik engdonesah selama 30 taonan. dan sekarang, pada saat mencium ada ancaman…eeeh .. paniiik! eeeh… dah taonan gak pernah nengok, ujug2 ngundang si akang utk ikut cariin solusi! hedeh hedeh hedeeehhhh! emangnye kite cowo apa’an ya kang yak? :razz: :lol:

    udah ah! :cool:

  6. inilah sikap tegas bung Yockie…siippp !!! :smile:

    industri selama ini cuman ngomong untung rugi, pembajakan, dll..
    gimana mengembangkan musik Indonesia dan musik di Indonesia serta nasib musisinya.. jarang dipikirkan secara matang..
    demikian juga dengan musisinya..masih berpikir pada industri dan penghasilan..

    tapi bung Yockie.. perjuangan bung Yockie ini harus terus berlanjut, gimana caranya? supaya orang-orang juga pada ngerti dan paham..[tidak cuman pembaca yg di blog aja..] tapi bukan publisitas pribadi lho hehhe.. ilmunya ini lhoh yg harus dimengerti

    thanks..

  7. kek2nya si akang setengah2 “ditodong” neh suru ikutan ntu acara yak? huehehe! orang blom jawab kok nama udah lantas aje dipasang di situh. paling gaknya masupin dulu kek di bagian “tunggu konfirmasi”, ye khan? ntu artinyah ada unsur kurang teliti etiket dlm berkomunikasi, bukan? (bukaann!)

    ~
    Ditodong? kalimat itu terlalu ‘kenceng’ rasanye’ bang. Sebab sebelumnye emang udah ada pertanyaan “apakah bersedia jadi nara sumber bicara soal industri musik indonesia” , tentu saya jawab bersedia hehe.. karena kan belum dijelasin nara sumber untuk apa / topiknya apa dan lainnya dan sebagainya .

    Ane’ sekelebat berkiblat sama obrolan dengan salah satu wartawan majalah ybs ditelpon (tahun lalu). Ketika akan diturunkan artikel ‘album musik indonesia terbaik dan sebagainya’. Ybs juga sekalian ngundang ane’ tuk dateng ke peste’ perayaannya. Waktu itu ane’ nanya bahwa kriteria pemilihannya berdasarkan apa dsb. sebab kalo berdasarkan angka penjualan yang meledak-ledak ane’ males untuk datang. Ybs bilang bahwa ini jauh dari unsur paradigma komersial saat ini , tapi lebih kepada apresiasi album-album musik yang terbukti telah memberikan kontribusi/pengaruh bagi perkembangan musik nasional.

    Makanya ane’ sedikit “gumbirah..” karena sudah ada media musik yang jeli dan cukup sensitip meneropong permasalahan musik Indonesia , lalu ane’ bilang ‘bersedia’ asal dikirim undangannya. Tunggu punya tunggu…. koq undangan kagak dateng-dateng… , malah ada sms dari wartawan lainnya disana yang minta ane’ agar ngejam-sesen sama pemusik-pemusik lainnya disono , nanti diliput juga sama tipi metro katenye’…huihuihui .. ane’ dianggep madatan tipi kali yak? . Laahhh…. ane’mising nunggu undangan koq malah diperentah suruh nge-jam…huehehe..diminta bawa keyboard sendere’ lageh’ … huehuhehe (ini baru “emang kite’cowok apa’an…”)

    Nggak berselang lama kemudian ane’ terima telpon dari wartawan lainnye dari majalah tadeh.. , sebelumnye nanya apa sudah dikirim edisi spesial nyang memuat “album musik terbaik dsb” , ane bilang “belom tuh” . Terus.. Wahhh..!!! katanya kaget, nanti segera saya kirim mas… ini pasti keteledoran bagian pengiriman dsb…dsb…dsb . Tapi yahh… kaga ade’ juga tuhh..majalah yang dikirim sampai hari ini … huehuehuhe …(dia cuman belagak shock ama belagak kaget aja kali..) , ane’ malah baca ulasan tersebut dari majalah yang dipinjemin ame’ ponakan ane’ huehhehe.

    Tapi kali ini , saat sang wartawan nelpon ane’ dia nanyain soal kasus um iye nyang nginep di polda . Karena ane’ kenal tuh wartawan dan ngobrolnya juga sebagai orang yang sudah kenal , maka ane’ tanggepin tuh omongan dia di tilpun soal um iye. Eeehh…. seminggu kemudian nongol tuh di edisi majalah tersebut omongan ane’ ditilpun beberapa hari yang lalu ….

    Mbok ya… ngomong kek’ kalo mau wawancara atau minta ijin kek’ kalo obrolan ini bakal dimuat atau ditulis.., koq bisa ya.. orang kite’ itu nge-gampangin semua persoalan seenak perutnye aje’. Ini pan masalah etika and tatakrama masak iye’ sih masih juga kudu dikasih tau .

    Nah yang terakhir ya.. undangan tersebut diatas . Ane’ bilang “bersedia” tentunya ditindak lanjuti sama obrolan penjelasan tentang maksud / kontennya dulu pan seharusnye.. sebelum nama ane’ditulis atau bahkan ane’ udah langsung dikirimi undangan.

    Tapi ya itu tuh… akhirnye’ ane’ merasa ini perlu ane’ posting di blog, agar jadi pelajaran buat generasi yang mungkin jauh lebih mude’ dari ane’, sekaligus juga kritikan positip (menurut ane’..) bagi majalah ybs. agar bisa bertindak lebih bijaksana lagi dikemudian harinye’.. gitu kali yak..?

  8. salam hormat mas.

  9. aduuh mas , pede banget ya itu majalah ,…yakin banget mas Yockie berkenan hadir, langsung dicantumkan sebagai nara sumber :smile:

  10. apa kabar mas

  11. Sae Mas, Mas Yockie ? Sehat dan sae kemawon to ? Aduuh baru sibuk ngurusi penerimaan siswa baru, jadi lama gak sowan…mohon dimaklumi Mas…..( sok sibuk..he..he)

  12. hehe mboten menopo-nopo mas, grafiknya kados pundhi mas? mengingat kondisi sakmeniko niki?

  13. Saya baca posting ini, sambil mendengarkan ‘Rajaz’. Hmm…mengingatkan saya pada interview dengan Andrew Latimer di penghujung DVD “Pressure Points”.
    Esensinya kira-kira mirip lah … makanya Tuan Latimer ini akhirnya bikin label sendiri.

  14. Kalau mengikuti jejak berdasarkan analogi mengantisipasi hegemoni seperti yang tuan latimin diatas lakukan , untuk bisa diaplikasikan di Indon … maka kendala kita adalah minimnya kalau tidak mau disebut tidak adanya pemodal atau bussinesman yang tertarik mempertaruhkan investasinya secara signifikan disana .

    Jelas… sebab kondisi makro ekonomi yang ada sangat riskan untuk berani dipertaruhkan. Jelas juga mereka jadi enggan . Mending bisnis fast food yang turn-overnya juga cepat saji hehehe..

    Nah.. sampai pada level kekhawatiran tertentu , siapakah sebenarnya petugas gawang yang harus menjadi kiper agar tidak terus-terusan kebobolan.

    ya.. gawangnya sih ada mas …. sayang kipernya ketiduran melulu .

  15. kalau saya justru tertarik dengan diskusi itu. sayangnya saya tidak tahu. kalau tahu, mungkin saya akan nongkrong di penonton untuk mendengarkan analisis dari mereka. analisisnya dangkal atau tajam.

    ya sudah. nanti saya akan coba lihat di majalah mereka.

    saya ingin mencocokkan teori (dari berbagai buku dan referensi) dengan kenyataan (baik dari pengalaman saya atau dari pengalaman orang lain). kadang memang kecewa juga mendengarkan opini dari beberapa orang yang hanya sekedar asal muncul (dan kemudian nongol di majalah). he he he.

    sebetulnya saya masih ingin diskusi dengan mas yockie soal masa depan industri musik. maksudnya sekedar menghayal, tahun 2020 nanti peta industri musik itu seperti apa. (mohon jangan alergi dulu dengan kata industrinya. saya ingin dengar dari berbagai pandangan stakeholders; pihak2 yang terkait.) tapi mas yockie sibuk banget sih. (sibuk ngapain sih mas?)

  16. Hehe saya sok sibuk mas … biar keliatan agak penting gituu..huhuhuhu ..

    Intinya saya bukan anti establisment lhoh mas atau anti industri .. lhaa peradaban tanpa industri ya sama saja boong khan? .. ya tinggal saja dihutan berkawan tarzan huehehe .

    Yang saya concern itu kepedulian / sense of urgency dan rasa keadilan ekonominya . Dua hal tersebut samasekali tak pernah dipikirkan apalagi disentuh dan dilakukan . Yang ada hanya upaya2 menutupinya dengan mengobral “slogan sensasional” seperti “concert peduli ini…,concert peduli itu…., Lingkungan rusak apa ada yang peduli seperti industri tahun 70 hingga 80’an dulu memfasilitasi orang2 seperti Ully Sigar dan sebagainya .. hingga dapat penghargaan secara International?

    Dinegeri sendiri mungkin sudah dianggep jadul sebab nggak layak jual katanya .., itu pasti mas.. saya yakin!

    Bahkan aparat negaranya ikut bermain-main slogan dengan ngajak Iwan Fals nanem pohon..Siapa yang bisa memonitor/mengontrol apakah betul berjuta pohon yang digembar gemborkan itu benar-benar sudah ditanam atau sedang ditanam? wong dimana-mana sedang sibuk ngurusin musibah kebanjiran begini , tapi ya ini cuman logika lempeng saya saja yang berpikir hingga sedemikian rupa.

    Sementara disisi lainnya lagi pembangunan tata kota dimana-mana justru menciptakan concrete jungle . Kalau ditanyakan ke instansi yang mengurusi Amdal “lho..tugas kami hanya mendesign dan menyarankan … keputusan/pelaksanaan ada di pemda” .

    Mabuk dehh… kepala sama kaki seolah nggak berhubungan . :(

    lhho koq jadi ngelantur ngomongin amdal .. hehe biarin deh, sudah terbiasa diajak berpikir nglantur ya gini akibatnya ..Tapi nggak ngelantur juga ding mas… sebab hal-hal atau thema-thema seperti ini jugalah yang saya maksudkan untuk disikapi sebagai bentuk ‘urgency’ bagi kebutuhan yang ada . Sudah nggak ada lagi kan lahir generasi2 seperti Ebiet G Ade dengan lagu kesadaran terhadap lingkungannya? paling hanya diputar sebanyak-banyaknya saat ada bencana baru … yang tiba-tiba datang lagi…. yang seolah-oleh industri kita sudah turut memikul sebagian kepedulian dan tanggung jawabnya dengan sekedar mengedarkan lagu-lagu lama cd kompilasinya saja . (itu mah dagangan lagi ajahh urusannya…) nggak ada tuh mas kesadaran untuk meng-advokasi bagi kebutuhan hidup bersama .

  17. iya mas. kalau saya ngajakin ketemuan dengan mas yockie, saya ingin dengar opini mas yockie dari kacamata seniman / budayawan bukan sebagai seorang yang menjadi bagian dari industri musik. kan perlu dengar pandangan dari berbagai sudut untuk melengkapi puzzle yang ada.

    beberapa waktu yang lalu saya berdiskusi dengan seorang kawan tentang topik graphic designer dan musik digital. dahulu ada yang namanya cover art. kalau di era musik digital ini, letaknya dimana ya? nah, diskusi semacam ini yang saya cari. kami mencoba melakukan eksplorasi dengan melihat kondisi yang ada (teknologi, kebiasaan, ketersediaan, dll.).

    sebagai contoh, meskipun produk Apple (iPod dan sodara2nya) mendukung penampilan cover art, berapa banyak orang yang memang memasukkan cover art ke dalam iPodnya? [ini masalah kebiasaan.] belum lagi ada banyak produk pemutar mp3 yang tidak memiliki fitur penampilan gambar. nah, ini merupakan sebuah tantangan. pasti ada jalan keluar atau ide baru tentang cover art (yang mungkin tidak bisa dipetakan secara linier atau 1-to-1 dari dunia konvensionak ke dunia digital ini).

    diskusi seperti ini harus melihat pandangan orang desain grafis. harus ngobrol dengan mereka. dan seterusnya. saya suka yang gini-gini mas. belajar untuk menambah wawasan.

    soal kepedulian (baik terhadap lingkungan, kesejahteraan masyarakat, dan seterusnya) … di kita ini memang belum dilakukan secara serius dan konsisten. tidak ada passion di dalamnya. ini yang mungkin kita sebut kurang atensi kepada detail. karena … memang susahnya di detail itu. begitu sudah masuk ke detail, mental deh.

    ah udah ah. kok jadi terlalu serius gini. hi hi hi.

  18. Salam hormat buat bapak rocker. :cool:

    Wah salam hormat kembali pak, sebagai orang indon yang berbudaya kalau dihormati sekali berarti kita wajib membalas hormat 2 kalinya pak . Selamat dateng mas/pak .. terimakasih & silahkan duduk apa mau jongkok’an apa mau tiduran juga boleh mas.., asal jangan buang angin sembarangan .. nanti kena charge huehuehehee…. becanda loh mas..,

  19. mas Budi … , hehe secara gamblang kita bisa saja membahasnya mas hal-hal mengenai cover art (story / history dsb) , namun kalau mau lebih ilmiah ya harus melibatkan orang-orang yang ahli dalam bidang sosiologis … bener nggak mas..?

  20. ya mas … satu persatu. kita ngobrol dengan orang desain grafis, terus ngobrol dengan orang bidang sosiologis, terus dengan orang bisnis, dengan psikolog, terus dengan futuris, ah … pokoknya banyak orang lah. ingin tahu sudut pandang masing-masing. gitu mas …

  21. hmm.. design grafis ya.., yang deket dan juga sebagai pelaku keseniannya ya dick_doank itu… , tapi dia punya website ngga ya? untuk bisa dihubungi , coba nanti saya pikir / cariin alternatif lainnya kalau ketemu namanya.

  22. itu kayaknya MP nya dik doang pak, coba aja pak tinggalin pesan

  23. pakde yang satu ini
    suatu kebanggaan punya musisi hebat
    kapan album refleksi kantata keluar
    jalin kebersamaan
    add saya di friendster
    djrico999@yahoo.com
    promo dikit mas
    saya ndak bisa masarin lagu saya
    CP saya : 08562502984

  24. wah..saya juga nggak tau je’…cara masarin itu harusnya gimana .., saya malah sering kesasar ke pasar kaget …hahahaha . Terimakasih mas eric…!

  25. Mas, kapan punya waktu utk ngobrol2 sekitar setengah jam-an ? Diakhir ngobrol2 itu nanti aku berencana sekaligus mengundang Mas utk dtng ke tempat kami dalam rangka jam-session sesaat.
    Terima kasih Mas..

    B.Rgds/Martindy.

  26. Silahkan mas , kapan tentukan saja waktunya yang cocok .
    salam

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara