RaTing

rating

Rating adalah suatu metode untuk menghitung tingkat keterampilan (skill) , baik itu dalam bidang olahraga / sains / ataupun untuk bisa merumuskan jejak pendapat bagi sah nya atau ditetapkannya sebuah pilihan dari berbagai alternatif yang ada .

Namun ketika rating mengalami evolusi makna sesuai dengan proses bergeraknya kualitas budaya dan peradaban manusia yang tak ada hentinya , maka disanalah rating juga menemukan ‘tantangan’ bagi definisi serta inti maksud tujuan yang terkandung didalamnya.

Dewasa ini istilah rating sedemikan jauhnya telah ‘mereduksi’ makna bagi kepentingan dan maksud yang hendak dicapai sebenarnya . Ketika hegemoni kapitalis atau industrialis tidak dibarengi dengan terjaganya rambu-rambu sosial yang harusnya mengawal , maka rating seolah berubah wujud dan bentuk menjadi kekuasaan diktaktor yang absolute.

Mesin budaya bagi kepentingan orang banyak yang melahirkan aturan dan kesepakatan (norma-norma akhlak) , tidak lagi bekerja sepenuhnya bersandar pada nilai-nilai kebajikan yang diyakini sebelumnya .

Bisa kita analogikan dengan apa yang terjadi dan menimpa dunia industri media dan informasi kita dewasa ini . Hampir semua kaidah-kaidah ‘mendasar’ menjadi jungkir-balik dalam berbagai tampilan dan bentuknya

Hari-hari ini saya semakin mengkhawatiran bahwa gejala tersebut semakin jauh menulari paradigma berpikir masyarakat kita diberbagai bidang kehidupan . Semuanya diukur dan dihitung berdasarkan jumlah suara , bahkan untuk memutuskan sebuah pilihan yang penting yang memikul konsekwensi kemanusiaan dan akibat yang  berjangka panjang , semuanya juga dibenarkan hanya atas dasar pengumpulan jumlah suara yang ada, tak peduli siapa dan kualitas pesertanya .

Apa yang terjadi bila sistem tersebut diselenggarakan ditengah masyarakat yang belum awarness / berkesadaran politik dan hukum yang cukup atau belum terbekali ilmunya untuk memahami persoalan yang dihadapinya sendiri? Mereka akan dengan sigap langsung menentukan pilihannya .. , namun ketika pilihan tersebut dikemudian hari jauh dari harapan / ekspektasinya , maka protespun bermunculan agar segera diadakan pemungutan suara ulang . Begitulah seterusnya …. protes lagi …., memungut suara lagi…. lalu protes lagi ….. tak henti-hentinya.

Apakah artinya semua itu.., dalam bahasa kiasan kita sudah tau “hanya keledai yang bisa tersandung berkali-kali , keledaikah kita .. tentu bukan namun pemakan kedelai yang disebut tahu dan tempe ..tentu

Anda sedang berjualan sebuah produk? .. oh.. bukan itu yang saya maksudkan disini , hal tersebut tentu berada pada domain wilayah yang berbeda lagi . (saya bisa sekedar promosi diri atau anda dengan produk dagangan anda sendiri) Namun ini adalah hal lain yang maksud dan kepentingannya berbeda lagi..

Tentu ada sejuta pembenaran yang bisa diletakkan disana , nggak perlu dikasih tau … saya juga tau dengan sendirinya apapun alasan dan apapun pembenarannya . Saya hanya ingin kita bertanya pada diri sendiri , bukan pada orang lain yang disebelah kita . Bukankah ada pepatah yang intinya mengatakan bahwa hati nurani tak bisa kita sendiri yang mengibuli? . Seperti apakah isi hati nurani anda … jangan sampai anda sendiri tak mengenali karena anda selalu lupa menyapanya disetiap bangun pagi.

Gerombolan massa tidak seluruhnya bisa diartikan kerumunan tak berguna , demikian juga gerombolan massa tidak serta merta bisa dijadikan panduan untuk melegitimasi makna pembenaran yang diinginkan .

Ya.. sebuah pilihan memang… pilihan yang akan menentukan kita bodoh selamanya atau beranjak untuk bisa menjadi tidakbodoh dan dungu lagi . Itu saja , karena itu pandai-pandailah memilih dan tinggalkan jurus “mengalir saja seperti air” , selain sudah tidak tepat guna / kuno tapi juga mencerminkan kenaifan yang dengan sadar kita pelihara .

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

8 Responses to “ RaTing ”

  1. btw ini blog ratingnya peringkat berapa Pak? :mrgreen: :twisted: :twisted:

  2. Blog ini? … lho mbah belom tau tho… ya nomer 1 mbah / kelas wahid! , tapi mbacanya pake’ reverse

  3. huauauahuhauhuahua

    hati-hati aja kedetect ama inpotainment ini blog. bisa jadi seleb benaran sampeyan pak… loh sampeyan yo udah seleb ya pak, lupa saya wakkakakakkakak

  4. seleb mbah? wei..wei.wei.. saya bukan seleb mbah. Kalau toh pun dimasa saya remaja tergolong remaja gaul dan doyan tempat hiburan serta pesta , namun bukan katagori atau termasuk dalam definisi “pesta seleb” yang dipahami di indon sekarang .

    Kalau ada wartawan atau siapa saja berani-beraninya mengkatagorikan saya dan menuliskannya sebagai ‘seleb’ , ‘tak kepruk ndase mbah…huehehehe .

  5. wakakakkakaka….

    kalo saya sih dari dulu emang seleb.. maksunya tukang seleb. Seleb daging, seleb bumbu, seleb kacang.. itu loh pak yg dipasar maksudnya seleb yg di pasar

  6. di dunia industri kata-kata Rating itu menjadi hal ampuh untuk jualan iklan..
    bagi yg medianya #1 [radio, TV, koran]..lgsg aja diburu biro iklan untuk pasang iklan.. gak tahu apakah kualitas produknya bagus atau tidak yg penting Rating #1 lgsg dpt iklan berjibun..
    yg produknya bagus tapi ratingnya #15 jgn harap dapat jatah iklan..

    tapi apakah lembaga survey/tuykang survey itu juga bisa mempertanggungjawabkan kalo yg rating #1 itu mesti berkualitas? jangan hanya berdasar popularitas..atau pesanan sponsor…hehehhe

    apa pendapat bung Yockie..

  7. Lho..kan ada YLKI [Lembaga Konsumen] yang bertugas meng-advokasi kepentingan masyarakatnya bukan? Jika yang terjadi sampai hari ini ternyata masyarakat masih selalu dirugikan akibat ‘tipuan’atau trick iklan dan sebagainya , pertanyaan kita tentu adalah mengapa dia tak berfungsi selayaknya . Ada beberapa alasan al;

    a. Tidak/selalu telat men-update informasi sesuai perkembangan jamannya.
    b. Tidak dikelola oleh orang-orang dengan integritas yang memadai. (misal: agen ilmu dibawah meja atau semeja-mejanya diangkat)
    c. Pemerintah sendiri selaku regulator tidak peka atau memang masa bodoh menutup mata , sebab bangkitnya industri/ekonomi adalah segala-galanya , berapapun harga resiko atas masyarakatnya yang harus dikorbankan. Sampai nanti bila suatu saat ada yang sampai kehilangan nyawa… barulah perlu dibicarakan secara besar-besaran . Artinya selama urusannya ‘keciillll’ (bagi mereka) ya….merem ajah.

    Selalu begitu kan..? atau saya yang salah dan ngawur..?

  8. Padahal kalau menurut konsep “long tail”, masing-masing orang punya “massa” sendiri. Jadi yang namanya rating-rating dengan mekanisme konvensional bakalan ambruk. Kita lihat saja … (time will tell).

    Ini sudah mulai kelihatan di dunia musik, dimana tidak lagi ada satu artis yang mendominasi. Ada banyak artis yang masing-masing memiliki kliknya. Demikian pula media massa. Dugaan saya akan mengalami hal yang sama.

    Jadi, mas Yockie, teknologi (mudah-mudahan) akan memberikan jalan untuk menghapuskan kegundahan mas Yockie. Semoga.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara