HarMusNas?

hari musik nasional?

Budaya / Kebudayaan , Kata kalimat yang menerangkan berbagai aspek pendukung kehidupan yang disepakati oleh masyarakat secara bersama.

Biasanya kebudayaan selalu mengacu pada sandaran nilai-nilai spiritual sebagai ukuran untuk menemukan bandul pendulum keseimbangannya .
Selanjutnya keseimbangan tersebut digunakan sebagai aturan bagi landasan terciptanya sebuah kesepakatan diantara masyarakatnya sendiri .

Agama atau aliran kepercayaan pada Yang Maha Esa diwujudkan dalam berbagai metode dan cara . Selain melalui berbagai ritual yang dituliskan dalam berbagai kitab-kitab suci agamanya , kidung serta nyanyian puji-pujian pun lahir dan digunakan sebagai media/cara untuk mendukung aplikasi ritual tersebut .

Melalui mekanisme budaya/kebudayaan , terciptalah berbagai aplikasi yang kemudian bisa disebut sebagai :

a. cara melakukan transaksi dengan baik (adil dan tidak saling merugikan orang lain) yang bisa disebut sistem berekonomi .
b. cara untuk menciptakan aturan yang baik bagi pergaulan antar sesama masyarakatnya yang bisa disebut sistem berpolitik .
c. cara untuk bisa saling menghargai hak-hak individu setiap orang yang bisa disebut sistem sosial .

Maka dari pemahaman berpikir melalui mekanisme kebudayaan akan tampak :

a. orang kaya yang tak berbudaya sebab dia mengabaikan nilai-nilai keadilan pada pengelolaan sistem ekonominya (koruptor dsb)
b. politikus tak berbudaya sebab dia hanya pandai memainkan kata-kata (retorika) serta licik memanipulasi tingkah lakunya (politikus busuk)
c. orang yang sombong / angkuh sebab dia mengabaikan empati / kesetiakawanan pada golongan yang lemah .

Maka disaat ada sebuah kelompok ingin mendeklarasikan sesuatu lalu memperingati setiap tahunnya berdasarkan urutan kalender berdasarkan tanggalan :

1. Hari ekonomi nasional (misalnya) tanpa berpikir dalam kerangka budaya/kebudayaan .
2. Hari politik nasional (misalnya) tanpa berpikir juga dalam kerangka diatas
3. Hari sosial nasional (misalnya) yang juga dianggap tak berkaitan dengan kerangka diatas.

Atau bahkan lebih parah..”Hari musik nasional” misalnya .

Konon sebagian besar masyarakat elite kita memahami bahwa musik tidak ada urusannya dengan politik mengurusi negara . . Apakah artinya semua itu sebenarnya.?

Bangsa Indonesia memang bangsa yang paling suka membuat istilah-istilah sendiri dan cenderung mengada-ada. Lalu akhirnya bingung dan pusing sendiri ……. bah!

Artikel ini adalah kata sambutan saya bagi orang-orang yang sekarang sedang sibuk mempersiapkan seremoni “Hari Musik Nasional” Indoneeeesah.

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

7 Responses to “ HarMusNas? ”

  1. hmm… :idea:

    Bangsa Indonesia memang bangsa yang paling suka membuat istilah-istilah sendiri dan cenderung mengada-ada. Lalu akhirnya bingung dan pusing sendiri ……. bah!

    Pusingnya bukan karena istilahnya pak, tapi harapannya yg tidak tercapai. Semakin banyak peringatan atau deklarasi harapan bangsa ini adalah hari tersebut diberlakukan libur nasional… nah ini inti subtansinya. Makanya gak heran ada istilah “Harpitnas” Hari kejepit nasional. Kamis libur jum’at diperingati sebagai Harpitnas karena sabtu juga libur. Bangsa yg aneh!!

  2. huahahaa.. “Harpitnas” , mungkin bisa lebih seksi kalo “Harpitingnas”

    Hari kejepit / kepiting atau (miting orang)nasional ..huehehe

  3. usulin deh pak “Harblognas”

    bukan hari blogger nasional lo pak, tapi hari goblog nasional


    jsop: hari blogger juga nggak apa mbah.. kan udah nyerempet2 tuh.. blog sama gog

    membayangkan suatu hari muncul

    harbunas = hari jambu nasional
    harpangnas = hari empang nasional
    harlingnas = hari maling nasional
    dll

    wah gila nih kalo semua peringatannya merupakan libur nasional, setahun libur nasional nya 6 bulan huahuauhauhuahua

  4. Konon hari musik nasional dicanangkan bertepatan dengan hari kelahiran WR.Supratman …. (?) apalagi ini maksudnya..

    Mencoba menghargai jasa pahlawan-pahlawannya?

    Mengapa tidak langsung saja “Mengenang WR.Supratman” misalnya.
    Mengapa selalu terkesan mencari-cari kendaraan untuk ditawar-tawarkan bagi segelintir atau sekelompok golongan yang kemudian bisa dijadikan “barang dagangan”.

    Dengan legitimasi atas nama kepentingan nasional?

    Bukankah nanti kesan yang akan muncul justru ‘mencatut’ nama besar seorang WR.Supratman sendiri..?

    Kepentingan politis untuk menciptakan hari-hari besar demi tujuan yang mulia tentu baik baik saja. Namun saat produk politis tersebut bergerak secara seporadis semau-maunya , tentu harus diwaspadai juga gerak geriknya . Sebab , jangan-jangan itu hanya kendaraan yang disediakan bagi kelompok kapitalistis melancarkan jalannya “bakul dagangannya” saja. Sementara rakyatnya tidak merasakan dampak positif dan manfaatnya sama sekali , apalagi saya…. wong sebagai musisi saja saya nggak pernah diberi tahu atau diajak untuk tahu apa itu hari musik . Yang saya tahu ya do re mi fa so la si do itu.

    hidiiih…hidihhh..hiidiih..!

  5. omong2 mengenai budaya, Soeharto adalah orang yang pandai dalam menanamkan ideologi/budaya organisasi atau bangsa.
    kita sering tidak menyadari bahwa berbagai peringatan hari, kayak hari musik nasional atau hari kesaktian pancasila adalah cara untuk menanamkan budaya itu ke masyarakat. karena itu sampai sekarang kita bisa merasakan budaya peninggalan Soeharto

    sedikit ngutip dari tulisan lama saya: Budaya organisasi atau korporat sendiri biasanya didefinisikan sebagai suatu fenomena mendalam yang dimanifestasikan dalam berbagai perilaku dan mempunyai ciri-ciri: (a) suatu pola asumsi dasar yang (b) ditemukan atau dikembangkan oleh suatu kelompok, (c) yang juga belajar dalam adaptasi eksternal dan juga integrasi internal, (d) yang telah terbukti bekerja dengan baik, yang karena itu (e) diajarkan kepada anggota baru sebagai (f) suatu cara yang benar dalam perspsi, berpikir dan rasa dalam hubungan dengan masalah itu (Schein, 1986).

    Budaya mempunyai dua fungsi penting dalam organisasi (Daft, 2004), yaitu untuk mengintegrasikan anggota organisasi dalam hubungan antar individu, dan membantu organisasi dalam melakukan adaptasi terhadap lingkungan eksternal.

    Untuk mengimplementasikan programnya, setiap organisasi memerlukan sumberdaya: manusia, sistem dan teknologi, strategi dan logistik yang tepat. Manusia adalah penentu sinergi antar sumberdaya tersebut: “assets make possibility, people make it happen”. Disinilah peran penting dari budaya organisasi dalam menselaraskan manusia dengan tujuan organisasi.

    Budaya organisasi dapat diamati pada tiga level (Schein, 1990), yaitu: observable artefacts, values, dan basic underlying assumptions. Observable artefacts termasuk layout fisik, dress code, berbagai publikasi organisasi, statement of philosophy (misalnya poster Pancasila), simbol, cerita-cerita, mitos, dsb. Sedangkan values termasuk norma, ideologi (misalnya Pancasila), dan filosofi organsasi. Melalui obervasi intensif, kita bisa menerjemahkan basic underlying assumptions suatu organisasi, misalnya nilai-nilai yang sebenarnya berlaku di organisasi, bukan nilai resmi yang dimuat dalam poster-poster.

    Nah, sayangnya pengganti Soeharto tidak pernah serius membangun budaya organisasi/nasional. jadi kalau ada suatu kebijakan, KB misanya, tidak pernah disosialisasikan dari atas sampai bawah dengan metode yang mudah dipahami.

    Hari Musik nasional adalah salah satu cara Orde Baru mengkooptasi musisi untuk mendukung pembangunanisme Orde Baru

  6. Kalau asumsi budaya ‘Soeharto’ yang masih berlanjut/dilanjutkan , ya memang make sense sebab memang orang2nya masih sama meski strukturnya bisa saja sudah berubah. Dari kacamata (Schein,1990) bisa saja dibenarkan.

    Secara sederhana saya menyebutnya dengan istilah ‘mesin budaya’ atau mesin rekayasa budaya. Mesin itulah yang harus direbut , agar rekayasa budaya bisa bekerja menghasilkan produk budaya yang sesuai dengan cita-cita jangka panjang masyarakatnya.

    Tak mungkin bisa menguasai mesin budaya apabila hanya mengkutak-katik dan membongkar strukturnya saja . Namun harus menyentuh mindset penggeraknya , kalau penggeraknya sudah ‘bebal’ , ya seyogyanya harus disingkirkan segera .

    Masalah kita , yang bebal itu hampir semua unsur yang menopang mesin rekayasa tersebut. Dibutuhkan SDM pengganti secara “paket” (menyeluruh) , disinilah generasi muda penggantinya tak cukup lengkap jumlahnya , sebab memang tidak pernah dipersiapkan oleh ORBA. Selama ini mereka dengan kesadaran yang tinggi selalu bekerja keras melahirkan cloning2nya sendiri lewat berbagi ke-ormas-an dibawah ketiaknya .

    Apa yang bisa dilakukan ? … Ya… upaya-upaya seminimal mungkin yang masih bisa dilakukan …karena itulah saya akan tetap ber-koar koar walaupun mungkin saja dianggap malah menyakitkan telinga . Ya… biar saja , toh hidup saya sudah separuh jalan mampu saya nikmati dan lewati dengan baik (paling tidak pas2an lahh..) hehehe

    Bisa saja orang lain menganggap kita tak ada apa-apanya bahkan mungkin juga , kita memang bukan siapa-siapa . Tapi paling tidak anak saya suatu hari bisa bangga punya ayah seperti kita .. , itupun semoga … huehehehe … tidakpun ya ndak apa2…. Itu baru “nasib” namanya. huehuehehe.;)

  7. Bangsa kita dijebak sistem untuk diajak bermain-main dengan ‘istilah’ yang semakin lama semakin salah kaprah .

    Saya juga membaca tulisan Eep S Fatah disebuah harian ibukota yang mengkritisi kegemaran bangsa kita yang sejak dahulu kala dalam mempersepsikan gelar kepahlawanan .

    Bagi saya hari-hari besar yang diberi tanggal merah (diliburkan) hanya sebatas dipahami masyarakatnya untuk bisa tidak beraktivitas kerja. Mengapa bisa demikian ? ya terang saja … sebab hakekat dan maknanya sama sekali tidak kontekstual dengan realita jaman (peradaban) yang didepan mata .

    Satu paket dengan “karung besar” berlabel MITOS . Maka tak pelak lagi hanya orang-orang yang men-dungukan dirinya sendirilah yang rajin melakukannya seumur hidup .

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara