Gaya_lama

munir

Karena tuntutan “sukses” yang harus dicapai , modern dan pintar yang harus dikejar dan ingin disebut berhasil menaklukan jaman . Maka berbagai idiom serta istilah selalu membuat orang Indonesia terobses berlari seribu langkah diatas genangan endapan lumpur yang basah . Alhasil , selain tenaga yang akan habis terkuras , membuat nafas tersenggal keletihan , jarak tempuh yang akan dicapaipun dipastikan hanya akan sebatas pandangan mata .

Kesalahan-kesalahan mendasar perilaku orang Indonesia adalah ‘malas’ untuk memperbaiki diri . Malas untuk melihat tantangan yang dilihat dan yang belum-belum sudah dianggap meletihkan .

Paling suka dengan ‘keputusan jalan pintas’ untuk mempersingkat proses percapaian . Dan bila hasil yang mampu diraih masih sebuah “kegagalan” , maka hal tersebut cenderung dianggap sebagai sebuah ‘kegagalan’ yang penuh kewajaran ……, sudah pasti karena sudah terbiasa mengalami kegagalan .
Ndableg , keukeh , keras kepala , bebal … entah berapa banyak lagi julukan yang tepat untuk bisa pas diletakkan disana.

Ingin menjadi cepat kaya (pengertian tentang sebuah kesuksesan) dan amat gemar bermain-main dengan berbagai wacana hingga sampai pada perilaku yang hanya sekedar “sensasional” .

Ya… sensasional … itulah daya tarik utama yang membuat orang Indonesia sejak reformasi yang hingga hari ini .. atau memang sejak dahoeloe kala..? entah saya kurang paham …

Yang saya paham , semangat sensasional tersebut adalah modal utama bekerja , yang bagaikan ‘semangat 45′ tetapi yang membabi buta . Bila perlu kerja keras mati-matian mempertaruhkan segalanya serta menghabiskan waktu 50 jam seharinya , seandainya satu hari masih bisa ditambahkan lagi jumlah bilangan waktunya

Namun ya itu tadi …. , semangat kerja keras tersebut hanya dilandasi oleh rasa “sensasional” yang merangsang adrenalin otak pikiran manusianya . Bisa dipastikan … seribu langkah kedua belah kakinya akan tetap berada diposisi ruang dan tempat yang sama . Bahkan malah mendatangkan kembali “pengulangan ancaman” yang bisa menggelamkan dirinya sendiri kedalam kubangan lumpurnya .

Ilustrasi diatas ini adalah sebuah gambaran tentang kenyataan yang untuk kesekian kalinya harus saya temui lagi , sesaat setelah selesai melakukan tugas saya sebagai dewan juri bagi lomba cipta lagu untuk mengenang Munir .

Menyedihkan lagi , andai ternyata kekhawatiran saya benar-benar menjadi kisah berulangnya kembali berbagai kenyataan . Sebuah upaya mulia tentang kepedulian sosial yang sungguh tak ternilai harganya ternyata kembali larut dalam gemerlap sensasional dan hiruk pikuk keramaian yang sama sekali tak memberikan kontribusi bagi membangun kesadaran dan bangkitnya semangat orang Indonesia agar lebih realistis menyikapi problema kehidupannya , khususnya dalam hal ini menegakkan nilai hak-hak asasi manusia, lewat figur dan sosok seorang Munir melalui media musik Indonesia .

Tugas saya sebagai dewan juri untuk menilai 20 karya lagu-lagu yang masih kasar/mentah tersebut telah saya kerjakan . Selanjutnya akan diletakkan diwilayah mainstream hiburan yang mana…. atau gemerlapnya panggung hiburan sensasional yang mana … , bukan lagi urusan juri-jurinya .

Hati kecil berbisik .. seandainya saya tau dari sejak awal mula akan seperti ini lagi hasilnya (spt:lomba-lomba yang sudah ada) . Maka jelas tak akan mungkin saya akan duduk disana sebagai salah satu dewan jurinya .

“Masihkah akan kita gunakan Munir untuk mengisi kolom-kolom sensasional kehidupan kita.. walau nyawa adalah harga yang telah dipertaruhkannya “.

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

8 Responses to “ Gaya_lama ”

  1. ada apa lagikah sam?
    terperangkap industri berkadar hiburan lagikah? astaga..lho kan ada pak Usman Hamid Kontras sebagai salah satu jurinya kan? Apakah beliau juga diam saja?

    Indonesia..Indonesia..’

    Rock Opera’

  2. Sepertinya beliau ada diposisi seperti saya . Hanya bedanya berkonsentrasi diwilayah penegakan hukumnya , sementara gw hanya menyentuh wilayah sosial politisnya .

    Nah…pemuda2 penyelenggaranya yang saya khawatirkan terjebak di politik industri dagangnya . Hawanya sudah terasa …

    Gw sendiri bukan kecewa karena energi gw jadi terbuang percuma (itu mah udah biasa…langganan) , tapi kecewa kalau akhirnya kesempatan untuk melahirkan kembali musik2 alternatif menjadi sia sia , karena didorong lagi masuk keruangan yang sama (dagangan pragmatis). Dan gw ‘upset’ kalau teman2 di radio kbr68h nggak menyadari hal tersebut… padahal rasanya gw bicara juga udah cukup berbusa-busa hehehe.. beginilah hidup di republik Indonesia .

    Nggak ada yang pernah jelas.! penuh tikungan yang bikin semua orang pade “nelikung”

  3. iya.iya..sy masih inget cerita sampeyan dulu, katanya kan punya misi yg sama yaitu memperkaya lagi kondisi msk indonesya.

    maksud sampeyan apa sekrg jadi menyeh-menyeh lagi gitu sam?

  4. menyeh-menyeh atawa mehek-mehek.. ya nggak lah.. wong temanya aja udah HAM . Tapi produk-produk seperti ini menurut gw harus ditangani dengan fotrmat/design musik & promo atau sosialisasi yang harus spesifik atau khusus juga kan ..

    Sama aje’ ente’ mau jualan tahu pong semarang , tapi naruh outlet sama wajan penggorengannya di france cafe atow italian resto .. ya mana ketelen sama orang. Jadi heboh sih iya…, karena aneh aja..

    Itu dia maksud saya .. jadi sensasional aja.

  5. Mungkin ini gambaran kaum muda generasi sekarang, jalan pintas untuk mencapai kesuksesan adalah melakukan hal-hal yg sensasional. Media hiburan yg dasarnya udah keblinger dijadikan kereta untuk mencapai popularitas dan ketenaran. Lihat aja skrg pak televisi isinya inpotaiment yg selalu menyajikan tingkah-tingkah sensasional artis kita. Bangga dengan predikatnya sebagai selingkuhan , bangga bisa tidur dengan pasangan yg berganti-ganti, Atau pemusik-pemusik muda yg menjual harga dirinya demi penjualan album yg fantastis.

    Saya mengerti, bapak mau dan ikut serta dalam acara ini karena bapak berharap kasus Munir menjadi pembelajaran bagi anak bangsa ini sekaligus mengingatkan bahwa ada yg salah di negeri ini. Saya juga mengerti kalau akhirnya bapak kecewa karena acara ini ternyata seperti “decoy” untuk mencari popularitas yg bertujuan materi bukan nurani.

    Pertanyaan saya pak,

    1.bagaimana apabila apa yg bapak pikirkan benar-benar terjadi?
    2. Apa yg harus dilakukan agar tidak terjebak ke dalam industri dagangnya, maksud saya tujuan pembelajarannya tercapai, dan urusan perut juga tercapai?

    maap pak banyak nanya hehehehehehe

  6. 1. Kalau yang saya pikirkan benar2 terjadi , ya artinya sebuah peluang baik yang cuman hanya bisa lewati … tanpa mampu diantisipasi lagi oleh generasi mudanya sebagai sebuah kesempatan untuk membenahi diri . (dalam segala hal …, yang juga berangkat dari persoalan kecil sehari-hari dan hal-hal kecil yang terlihat/dianggap sepele)

    Bahwa ternyata ,generasi muda saat ini yang berprofesi di berbagai titik kendali salah satu mesin rekayasa budaya kita , memang benar-benar macet dan mampet otaknya . Mereka lantang berteriak sebagai generasi perubahan , namun pikiran yang dihasilkan dari cara kerja otaknya masih “gaya_lama” . Dan itulah yang sebut sensasi .

    2. Sudah saya jabarkan maksud saya tentang pengertian “pasar” di jsops.multiply.com bahwa pasar bukan sebuah demand yang sesuai dengan kehendaknya pembelinya , menjadi eksis dan ada secara begitu saja (alamiah)

    Pasar adalah hasil kerja sebuah mesin budaya , sebagai salah satu menifesto yang terkandung dalam pengertian dan pemahaman tentang “Strategi Kebudayaan”. Di Indonesia ini sudah jelas dan terbukti , bahwa sejak era kemerdekaan hingga 62 tahun bangsa ini menata dirinya …”Strategi Kebudayaan” tak pernah dipikirkan secara serius dan tuntas.

    Karena itu pula bisa kita tengok dan lihat dengan mata kepala sendiri , sudah berapa banyak tokoh-tokoh kebudayaan Indonesia yang semasa hidupnya diabaikan atau bahkan banyak yang disingkirkan karena kebijakan “politik acak adut” masa lalu

    Dan seolah-olah mereka hanya untuk dihormati atau dikenang atau ditulis namanya atau bahkan ditangisi kepergiannya sambil se-sunggukkan bangsa ini meratapi/menyesali..setelah mereka mati.

    Saya nggak perlu sebut namanya satu persatu bukan..? saya yakin masyarakat internet ini adalah orang-orang yang cukup intelek dan terpelajar . Pasti masih hafal diluar kepala nama-nama seperti Pramodya Ananta Toer dan sangat banyak lagi sebelumnya .

    Kita sebut saja salah satu dari mereka yang masih hidup “WS.Rendra” , dimanakah bangsa ini menempatkan sosoknya sebagai salah satu tokoh budaya yang diperlukan bagi ter-rumusnya peta arah perjalanan bangsa ini menuju cita-cita sejahtera?

    Tak pernah ada satu “kesadaran berpikir” yang dilakukan penyelenggara negaranya agar sanggup membangunkan kesadaran masyarakatnya agar ada sebuah rencana yang konkrit yang disebut “Strategi Kebudayaan”

    WS.Rendra seolah hanya dilihat dari tulisan puisinya saja , Gesang hanya seorang pembuat lagu Bengawan Solo-nya, demikian juga tokoh-tokoh yang dulu pernah ada .. WR.Supratman hanya dikenang sebagai pembuat lagu Indonesia Raya.. dan masih banyak lagi pikiran-pikiran primitif dan tolol yang masih dipelihara olah bangsa ini sampai sekarang .

    Begitu mbahsangkil .., argumentasi saya .

  7. sam, kalo semua tiang2 pendukung yg diharepin udah nggak bisa berfungsi apalagi yg mau di cita2in???

    ya bubar aja..sebelum ada revolusi yg smakin kacau!!!!

  8. Bubar? nyatanya kita masih utuh dan tidak bubar kan…? (maksudnya :belum)

    Revolusi? memangnya pemahaman tentang sebuah revolusi harus sama seperti yang terjadi pada revolusi di Perancis atau diabad XVlll ?

    Bagi saya , sepertinya revolusi bangsa Indonesia ini masih terus berlanjut dan belum pernah selesai , walau sudah ada deklarasi kemerdekaan(17 agustus 1945)62 tahun yang lampau .

    Memakai kacamata untuk memandang sebuah revolusi tidak bisa lagi dengan ‘kacamata lama’ yang meminta gambaran ilustrasi pertumpahan darah yang selalu terjadi disetiap saat dan dimana-mana .

    Revolusi abad ini ya yang seperti sekarang ini , kalau kekacauan yang berdarah-darah itu ‘chaos’ namanya .

    Pertanyaan bagi kita hari ini : akankah kita sebagai sebuah bangsa saat ini adalah korban dari revolusi itu sendiri.. , atau kita akan mampu mengendalikan dan menguasainya hingga revolusi di Indonesia ini benar-benar menuai hasil yang bisa melindungi masyarakatnya serta mewujudkan kesejahteraan bangsa-bangsanya?

    Lalu yang manakah yang bisa disebut masyarakat Indonesia?

    Apakah mereka kaum elite menengah yang memandang Indonesia ini dari mata dan isi kepalanya sendiri saja , yang meletakkannya dalam perspektif dunia (industri dan tehnologi “Global”) . Tentu tidak kan..? walaupun mereka juga bagian dari bangsa Indonesia itu sendiri .

    Apakah para petani dan rakyat miskin yang tersebar diseluruh pelosok nusantara ini saja? Tentu juga tidak bukan.. sebab Indonesia bukan hanya berurusan dengan kemiskinan dan kebodohan saja , walaupun nyatanya mereka adalah sebagian besar rakyat Indonesia juga.

    Apakah kaum politisi dan pejabat negara yang sekarang sedang sibuk eker-eker’an ? Tentu juga bukan … sebab Indonesia bukan hanya segelintir orang yang duduk dikursi pemerintahan tersebut . Walau mereka juga adalah warga negara Indonesia.

    Nah… blunder mengenai siapakah dan kepentingan kelompok masyarakat yang manakah sebenarnya yang layak untuk diprioritaskan agar permasalahan Indonesia yang mewakili semua kepentingan golongan masyarakat diatas tersebut bisa terwakili semuanya.

    Disinilah Strategi kebudayaan bisa menjawab dan meluruskan semua kebutuhan persoalan yang kini saling tumpang tindih …nggak keruanan.

    Saya sudah pasti akan ditertawakan bila ngomong sosial / kemiskinan ditengah-tengah kelompok modernis yang “avan garde”
    Saya juga pasti akan membuat orang cekikikan kalau ngomong tehnologi masa depan ditengah masyarakat yang sedang kelaparan . Saya juga bisa di “cuiih…” (ludahi) bila ngomong kebudayaan ditengah kelompok politisi praktis pragmatik yang sedang memperebutkan kekuasaan lewat debat ilmu politik modern dari tumpukan buku-buku theory berpolitik secara modern dan sebagainya .

    Semua orang Indonesia yang berprofesi diwilayahnya tersebut diatas , masing-masing punya definisi dan pembenarannya sendiri-sendiri . Inilah….biang keladi / dilemasi PERSOALAN BESAR bangsa Indonesia hari ini .

    Inilah juga jawaban bahwa “Kebudayaan Indonesia” itu belum ada , dan masih berupa “wacana”.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara