RevoLusi

petruk
“Kalau semua tiang dan sendi-sendi pendukung yg diharapkan sudah nggak bisa lagi berfungsi apalagi yg mau di cita-citakan ….”
“Ya bubar aja..sebelum ada revolusi yg smakin kacau…!!!!”

“Kalimat diatas adalah sebuah posting dalam menanggapi salah satu artikel di site ini .”

Bubar? nyatanya kita masih utuh dan tidak bubar kan…? (maksudnya :belum)

Revolusi? memangnya pemahaman tentang sebuah revolusi harus sama seperti yang terjadi pada revolusi di Perancis atau diabad XVlll ?

Bagi saya , revolusi bangsa Indonesia ini masih terus berlanjut dan belum pernah selesai , walau sudah ada deklarasi kemerdekaan(17 agustus 1945)62 tahun yang lampau .

Memakai kacamata untuk memandang sebuah revolusi tidak bisa lagi dengan ‘kacamata lama’ yang meminta gambaran ilustrasi pertumpahan darah yang selalu terjadi disetiap saat dan dimana-mana .

Revolusi abad ini ya yang seperti sekarang ini , kalau kekacauan yang berdarah-darah itu ‘chaos’ namanya .

Pertanyaan bagi kita hari ini : akankah kita sebagai sebuah bangsa saat ini adalah korban dari revolusi itu sendiri.. , atau kita akan mampu mengendalikan dan menguasainya hingga revolusi di Indonesia ini benar-benar menuai hasil yang bisa melindungi masyarakatnya serta mewujudkan kesejahteraan bangsa-bangsanya?

Lalu yang manakah yang bisa disebut masyarakat Indonesia?

Apakah mereka kaum elite menengah yang memandang Indonesia ini dari mata dan isi kepalanya sendiri saja , yang meletakkannya dalam perspektif dunia (industri dan tehnologi “Global”) . Tentu tidak kan..? walaupun mereka juga bagian dari bangsa Indonesia itu sendiri .

Apakah para petani dan rakyat miskin yang tersebar diseluruh pelosok nusantara ini saja? Tentu juga tidak bukan.. sebab Indonesia bukan hanya berurusan dengan kemiskinan dan kebodohan saja , walaupun nyatanya mereka adalah sebagian besar rakyat Indonesia juga.

Apakah kaum politisi dan pejabat negara yang sekarang sedang sibuk eker-eker’an ? Tentu juga bukan … sebab Indonesia bukan hanya segelintir orang yang duduk dikursi pemerintahan tersebut . Walau mereka juga adalah warga negara Indonesia.

Nah… blunder mengenai siapakah dan kepentingan kelompok masyarakat yang manakah sebenarnya yang layak untuk diprioritaskan agar permasalahan Indonesia yang mewakili semua kepentingan golongan masyarakat diatas tersebut bisa terwakili semuanya.

Disinilah Strategi kebudayaan bisa menjawab dan meluruskan semua kebutuhan persoalan yang kini saling tumpang tindih …nggak keruanan. Bangsa-bangsa di Nusantara adalah bangsa-bangsa yang berbudaya . Namun saat berkumpul dan bila hanya berkadar gerombolan yang hanya beridentitas lambang , jelaslah mereka bukan masyarakat yang bisa disebut berbudaya .

Saya sudah pasti akan ditertawakan bila ngomong sosial / kemiskinan ditengah-tengah kelompok modernis yang “avan garde” atau masyarakat paham futuristik .
Saya juga pasti akan membuat orang cekikikan kalau ngomong tehnologi masa depan ditengah masyarakat yang sedang kelaparan . Saya juga bisa di “cuiih…” (ludahi) bila ngomong kebudayaan ditengah kelompok politisi praktis pragmatik yang sedang memperebutkan kekuasaan lewat debat ilmu politik modern dari tumpukan buku-buku theory berpolitik secara modern dan sebagainya .

Semua orang Indonesia yang berprofesi diwilayahnya tersebut diatas , masing-masing punya definisi dan pembenarannya sendiri-sendiri . Inilah….biang keladi / dilemasi PERSOALAN BESAR bangsa Indonesia hari ini.

Inilah juga sebuah jawaban bahwa “Kebudayaan Indonesia” sejatinya belum pernah ada , dan keinginan tersebut masih berupa “wacana” .

 

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

9 Responses to “ RevoLusi ”

  1. mas jsop.

    Kayaknya kita butuh lebih keras lagi jalanin revolusi sekrg ini. Blog sampeyan termasuk lumayan ‘atos’ tapi sepertinya masih hrs lebih keras lagi. Ayo mas lebih lugas lagi , sy menikmati koq dan sy percaya banyak juga selain saya. Memang msh banyak yg. sungkan atau mmg malas ngomong mas , ‘but we learned’.

  2. wah.. keras apa nggak nya ..nggak bisa dibuat mas , saya mah tergantung sikonnya saja hehehe.

    Sejujurnya saya nulis / bikin blog untuk bisa menjaga instink naluri diri sendiri agar nggak tumpul . Jadi soal banyaknya orang yang ikut ngomong atau sedikitnya orang yang merasa perlu ngomong menjadi sangat subyektif , semua tergantung kualitas makna yang dibawa oleh kata-kata tersebut .

    Didunia maya ini kita bagaikan hidup ditengah belantara angan-angan dan komunikasi pergaulan yang sungguh artifisial. Hal ini yang sering membuat saya berpikir skeptik .

    Bila sebagian orang memahami blog hanya sebagai wahana gaul / curhat untuk mencari teman maka sungguh bukanlah itu kebutuhan saya hari ini .

    Maaf mungkin memang sayalah yang menjadi makhluk aneh atau orang ‘sakit’nya.

  3. setuju sam, tp kalimat sampeyan tdk cari teman mungkin bs sampeyan jelasin lbh detail? bukankah relolusi jg nggak bs dilakuin sendirian sam?

  4. hehe.. ini lhoo contoh nggak berkembangnya kebudayaan kita , hingga ‘bahasa resmi Indonesia’pun juga cenderung sempit maknanya .

    Mencari teman atau berkawan dengan berbagai kalangan masyarakat justru perlu dan penting . Namun ketika ada satu prioritas tujuan yang hendak dicapai maka masyarakat yang lebih memiliki “awareness” lebih dibutuhkan daripada masyarakat dengan suasana “gaul nyari temen” atau sekedar curhat “hip hip hura”.

    Saya meletakkan kalimat “nyari temen” dalam perspektif “selektif menggunakan mulut untuk berbicara” . Sebab saya masih hidup di suasana psikologi masyarakat Indonesia yang seperti sekarang ini , yang bukan amrik ataupun eropa .

    Masyarakat pemimpi..! suka atau tidak suka saya harus mengakui kualitas keberadaan kita sebagai sebuah bangsa. Bukan berarti menghina / pesimis / atau fatalistis .

    Justru realistis ,

    Mari kita ngobrol / berteman dengan kondisi yang realistik tersebut … jangan ngelindur jauh-jauh mau menyebrangi gelombang samudra sains & tehnologi atau demokrasi buku-buku yang ibarat masih diseberang lautan. Sebab kendaraan yang akan kita tumpangi menuju kesana masih berupa perahu kayu yang kuno yang bocor disana-sininya .

  5. mas jsop,2 minggu ini akses internet saya kacau. wah sudah ketinggalan jauh nih ya..

    btw saya mulai lebih paham akan filosofi hidup yang mas jalani. Tapi apakah memang sudah tak ada lagi kemungkinan perspektif berbeda sebagai pilihan sementara mas?

  6. perspektif alternatif? …, ya ada sih mbak misalnya ada yang konsentrasi saja pada bidang profesinya sendiri . Seperti pebisnis maka dia akan konsentrasi pada bidang bisnisnya saja, saintis dia juga akan konsentrasi dibidang sains , atau penghibur (entertainer) dia akan berkonsentrasi juga untuk bagaimana caranya bisa menghibur orang saja .

    Sayangnya profesi bidang saya hanya satu arah mbak . Banyak orang seperti saya yang akhirnya memilih berperan sebagai “begawan digunung” saja . (pasrah dan melepaskan diri dari persoalan dunia nyata) atau dengan kesadaran penuh kembali ke fitrahnya sebagai manusia untuk hanya berusaha dekat hanya kepada Yang Maha Esa.

    Apapun alasannya saya menghormati pilihan-pilihan mereka , namun saya pribadi lebih cenderung berlaku seperti sekarang ini , entah sampai kapan (saya kuatnya) atau memang saya harus seperti ini selamanya menjalani pilihan hidup saya … saya juga nggak tau .

    Siapa yang bisa tau apa yang akan terjadi di esok hari.

  7. Revolusi Babu ,

    wah.. kalah agresif saya sama p.r.t. di Jogyakarta , mereka udah duluan melakukan revolusi fisik .

    Mulai tahun 2009 tambah lagi satu tanggalan berwarna merah alias hari besar , alias hari libur .

    Yakni hari babu-babu se Indonesia … , hebat!

  8. hehe..ngikutin PRT di Jogja juga ya…
    btw, waktu bertemu dgn Walikota Yk, sewaktu unjuk aksi hari PRT di Balaikota Yk. Walikota berkata kita harus bangga dgn profesi PRT, seperti yg dikatakan juga thd Pasukan Kuning..: kalo Walikota tidak ngantor seminggu, mungkin tidak terasa apa-apa bagi masyarakat umum, tapi coba kalo Pasukan Kuning tidak menyapu jalanan dan buang smapah selama seminggu..wah mesti masyarakat ngamuk-ngamuk !

    gimana kalo PRT gak masuk seminggu..siapa yg nyuci, masak, setrika, momong anak, bikin minum utk tamu, dlll… tnyata biarpun Eksekutif, masih juga bergantung sama PRT lhoh..

    Mau revolusi mental dan perilaku ? mari dari diri kita sendiri dulu..betul bung Yockie??

    walikota nggak ngantor seminggu sama prt nggak masuk seminggu..? hubungannya dimana Ben..? huahahaa..
    itu walikota juga aneh-aneh aja ngomongnya … hahaha.. emang mentang-mentang sama-sama pelayannya .. langsung berarti sama tugas dan kewajibannya gitu ya…. welleehh..weleeh..

    ~

    Kalau PRT ngga masuk seminggu.. eksekutif kelabakan..? ya biar kapok huahaha..
    eksekutif kolokan & manja itu namanya … kalau bahasa londonya eksekutip aleman hehehe..

  9. ntar… dulu.. pe’er’te… pe’er’te…
    lha kita semua ini ini masih pe’er’te nya washington koq… diem-diem aja ya…

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara