Kekaguman

kagum

Jarang lelaki atau tepatnya seorang suami mau mengulang perilaku perhatiannya kepada perempuan nya , ketika wanita tersebut telah menjadi istrinya . Sering lupa .. , termasuk saya sendiri . Entah mengapa naluri laki-laki selalu berasumsi bahwa hal tersebut sudah tak perlu dibicarakan lagi , sebab ada persoalan yang lebih penting menanti dihadapan . Romantisme hanya indah untuk dilakukan saat pedekate-an .

Pasti memang terasa lebih indah .. sebab “lembah bukit berbunga” masih terasa excited menggoda mata kita. Basi deee’ .. ketika obrolan serupa saya lemparkan dalam pembicaraan kepada sesama teman bila saya sedang ngobrol santai . Atau malah justru berbalik arah menjadi guyonan yang cenderung mentertawakan perilaku kita sendiri .. seperti yang “sok roman” ketika sedang fall in love .

Disaat usia dititik ashar ini saya bersyukur sekaligus juga sedikit menyesal mengapa tidak semenjak dulu pikiran-pikiran seperti ini mampu saya lakukan . Lalu saya mencari pembenarannya sendiri dengan menjawabnya dalam hati sendiri “karena memang kultur kita tidak mengajarkan dan sebagainya”. Kultur dan budaya kita justru mendorong perilaku laki-laki untuk menjadi sandaran bagi hidup dan matinya seorang wanita , sekaligus dia memberikan ruang yang cukup untuk laki-laki yang berkeinginan menempatkan dirinya sebagai seorang raja .

Itulah sisi buruk , diantara sisi yang baik yang ada di kultur budaya masyarakat kita. Seyogyanya kita harus menjadi lebih pintar kan .. dalam membaca kebudayaan bangsa kita sendiri .

Saya bersyukur bahwa istri saya benar-benar mengerti dan berusaha menjalani prosesnya sesuai dengan kondisi realita yang ada . Bahwa perempuan itu harus sederajat (dalam pemikiran modern) bahwa perempuan itu punya hak yang sama dan sebagainya .

Namun ketika hal tersebut ingin di implementasikan secara “real” di tengah-tengah kondisi masyarakat yang ada sekarang , maka justru boomerang lah yang datang menerpa dia sendiri . Resistensi tersebut bukan diciptakan oleh suaminya , yang dalam hal ini adalah saya sendiri namun justru dari dalam dirinya sendiri , yang menempatkan dia sebagai seorang “wanita timur” dengan segala “ketimurannya” yang seolah kemudian kebingungan memandangi eksistensinya sendiri sebagai seorang istri bagi seorang suami .

Karena itu yang tampak kasat mata adalah istri saya tak pernah sekalipun membantah saya ‘dalam segala hal’ . Dia selalu menuruti apa saja yang saya katakan walaupun ternyata hasilnya adalah ‘mendulang kekecewaan’ . Hingga… hampir semua teman-teman saya mengira… sayalah yang otoriter serta mau menang sendiri. (Hehehe…, biarkan saja saya nggak pernah menggubris omongan usil orang)

Taukah anda apa akibat dan dampak psikologis dari akibat perilaku seorang wanita seperti istri saya tersebut ?

Saya malu dengan sendirinya bila bibir melahirkan kalimat dusta dan kebohongan saja , serta tatapan mata yang mampu menyingkirkan selubung ‘kabut siasat’ bila kita berdua berbicara . Hal yang terpenting adalah , seringnya saya minta pendapatnya ketika hendak memutuskan sesuatu hal sepele bahkan sesuatu yang serius sekalipun (aplikasi dibidang pekerjaan saya yang sama sekali tak berhubungan dengan istri saya). Bahkan bila masih gagal dan salah juga …, maka mulut ini tidak menjadi terasa berat untuk seringkali mengucapkan sorry atau maaf . Padahal pilihan keputusan diatas itu atas saran istri kita sendiri .. namun tetap saja kita sendiri yang merasa telah melakukan kesalahan .

Sebuah proses menuju pendewasaan diri untuk bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya yang juga berlangsung secara alamiah, tidak terobses mimpi /kalimat ‘modern’

Ya… saya memang sejatinya sangat tergantung dengan istri saya . Yang orang lain melihatnya mungkin justru sebaliknya hehe . Kali ini saya buka rahasia dapur saya , semoga ada manfaatnya bagi anda . Kalaupun tidak .. ya nggak apa-apa juga , orang bebas memilih cara yang berbeda .

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

5 Responses to “ Kekaguman ”

  1. … Kultur dan budaya kita justru mendorong perilaku laki-laki untuk menjadi sandaran bagi hidup dan matinya seorang wanita , sekaligus dia memberikan ruang yang cukup untuk laki-laki yang berkeinginan menempatkan dirinya sebagai seorang raja .

    Istilahnya jadi.. “keterkurungan-kultur” ya, Mas?
    atau “kultur-keterkurungan”??

  2. Jarang lelaki atau tepatnya seorang suami mau mengulang perilaku perhatiannya kepada perempuan nya , ketika wanita tersebut telah menjadi istrinya . Sering lupa .. , termasuk saya sendiri . Entah mengapa naluri laki-laki selalu berasumsi bahwa hal tersebut sudah tak perlu dibicarakan lagi , sebab ada persoalan yang lebih penting menanti dihadapan . Romantisme hanya indah untuk dilakukan saat pedekate-an .

    hahahahahaha… lama tak mampir, ketemu posting ini jadi ikut meraba diri sendiri sudahkah saya kembali memperhatikan istri.. pas banget pak momennya.. artikel terbaru saya juga menyoal hal ini..,. tentunya agak basi bahasanya.. hahahahahahah


  3. aghofur: sudahkah saya kembali memperhatikan istri..


    nah..lo.., awas jangan meleng mas… huehehehe .. banyak copet diluar.

  4. itulah sebabnya orang bilang bahwa kesuksesan suami itu sebetulnya karena istrinya. saya juga gitu mas, tergantung pada istri. kadang saya berpikir bahwa bagaimana saya bisa hidup tanpa dia. (jadi inget lagu “how do i live without you”.)

    yang ini bukan dikarang-karang karena ingin menyenangkan hati istri (wong istri saya gak baca blog ini), tapi karena memang kenyataannya demikian; bahwa peranan istri sangat besar.

    eh, jangan-jangan … ini sindrom orang tua? ha ha ha.


  5. Budi Rahardjo: eh, jangan-jangan … ini sindrom orang tua? ha ha ha.


    mungkin tepatnya “kesadaran” yang biasanya baru disadari setelah proses perjalanan panjang membuahkan berbagai pengalaman mas.

    Karena disini faktor diatas tersebut tidak bisa dipahami sekedar berdasarkan buku-buku bacaan sebagai referensi/panduan .

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara