BENTO

bento

BEGO DAN TOLOL

Negeri ini dikelola dengan paham berpikir cara saudagar / pedagang kelontong bukan dengan strategi bisnis entrepreneur . Semua mau dijual dengan pendekatan kapitalistik pragmatik .

Lihat saja.. ketika kas kosong/menipis maka semua sektor ABN (RAPBN) dikenakan 15% pemotongan anggaran , tak pandang bulu bahkan sektor pendidikan pun bernasib sama , artinya apa?

Artinya tidak ada gran strategi bagaimana mengelola republik yang sedang dilanda multi krisis ini . Yang penting bagaimana menjaga agar kas negara bisa terisi kembali , bahkan bila perlu Pertamina / Garuda Indonesia / Pulau dan pelabuhan-pelabuhan dijual atau digadaikan saja .

Persis seperti kelakuan pedagang kaki lima yang sedang kepanikan mencari modal kerja .

Kalau umur/usia bertambah , pengalaman kerja di berbagai birokrasi bertambah , titel dan gelar bertambah …. tapi kelakuan dan cara berpikir seperti itu ….., layakkah mereka di dudukkan di kursi barisan orang-orang terpilih negeri ini?

Betapa malunya kita sebagai orang Indonesia .. yang ternyata bodoh semua … karena sudah memilih orang yang juga bodoh untuk mengelola administrasinya.

Salah satu Solusi Memperbaiki Negeri ini, mungkin dapat dimulai dari diri kita masing2 dgn mengintrospeksi apakah diri kita mmg sdh melakukan sesuatu yg benar secara Vertikal & Horizontal

Saya selalu sepakat dengan kalimat seperti itu.
Masalahnya itu adalah kalimat implementatif ‘tehnis’ yang harus dikerjakan bukan..?

Nah… yang menjadi pertanyaan besar adalah rencana tujuan (master plan) nya seperti apa sebelum sampai tahap harus dikerjakan . Supaya setiap orang yang akan melakukan hal serupa diatas … tau akan tujuannya . Sebab kalau tidak yaa…. balik-balik lagi kita terjebak lagi dalam permainan retorika kosong , bukan?

~

Rasanya kita semua cenderung sepakat … , bahwa masalah “perut” yang berarti pertahanan ekonomi setiap orang harus diatasi terlebih dahulu (skala prioritas) . Yang berarti juga bisa diterjemahkan sebagai ketahanan ekonomi nasional …, baru kemudian melebar menyentuh wilayah yang lainnya .. bukan?

Bagaimanakah menjabarkan sistem Ketahanan Ekonomi Nasional tersebut …., disinilah masalahnya . Karena menciptakan ketahanan ekonomi nasional membutuhkan sistem Ekonomi yang terkawal .

Yang mengawal sistem ekonomi adalah “regulasi” . Regulasi yang dibutuhkan adalah produk politik yang memihak kepada kepentingan rakyat atau masyarakatnya .

Sudahkah produk politik kita berpihak pada rakyatnya sendiri ? Bila memang belum/tidak berpihak …. siapakah gerangan mereka para regulator yang menciptakan regulasi tersebut..? siapakah yang memilih mereka semua..?

Lalu … seperti apakah sebenarnya kaum regulator yang dibutuhkan bagi bangsa ini untuk bisa membawa negeri ini keluar dari kubangan lumpur kesulitan ?

Kita tidak hidup didunia ini sendirian bukan..? banyak contoh kasus yang terjadi di negara-negara Amerika Latin / Iran dan lainnya yang bisa dijadikan contoh bagi upaya mencari jalan keluarnya . (meskipun tentu tidak 100% kasusnya sama) .

Tetapi kemauan dan sebuah “KEHENDAK” untuk merdeka dengan sesungguhnya harus ada disetiap isi kepala para pemimpin di negeri ini .

Sudah.. Sudah…, Sudah memihak “program 5 tahunan”

Nah… berarti disitulah letak salah satu “kemampatan” nya. Bahwa sistem berpolitik parpol-parpol kita tersebut orientasinya hanya per lima tahunan (cuman mikirin isi perutnya sendiri)

Disatu etape perjalanan nanti , sistem tersebut pasti terbukti hanya sebagai “jebakan” yang “mematikan” . Sebab semua orang harus tunduk pada azas konstitusional yang sebenarnya justru aturan resmi tersebut ibarat meletakkan jerat tali dileher kita masing-masing dan menggantungkannya sendiri-sendiri .

Disitulah nanti kita benar-benar mati dengan segala ketololan dan kebodohannya , sebagai sebuah bangsa yang konon katanya “besar dan berbudaya”

Bukan hal baru, saat diluar system, mengumbar janji sampai berbusa.
begitu dalam lingkaran, kalap.

ketika terpilih, mestinya cita-2 pemilih yang harus disuarakan …
bukan melanggengkan kekuasaan dengan segala cara.
berlomba mengisi pundi-pundi, untuk bekal ‘program 5 tahunan’

Kita sepakat bahwa “Sistem Perusak” tersebut sudah sedemikian kuatnya bercokol mengangkangi setiap ruang-ruang lembaga pemerintahan kita. Hingga siapapun yang masuk kesana …. akan selalu keluar dengan ‘bau busuk’ yang relatif sama .

Berarti harus ada sebuah “kemauan besar” yang bisa mewakili kehendak / cita-cita 200 jutaan lebih rakyat Indonesia yang ingin merdeka dan sejahtera dengan sesungguhnya .
(untuk menyingkirkan sistem perusak tsb)

Lalu bagaimanakah upaya/langkah yang harus dijalankan agar Suara Rakyat tersebut mampu menjadi kekuatan yang juga mampu membongkar mesin-mesin kerusakan diatas.

Ada beberapa pilihan tentunya …. “Chaos atau Revolusi oleh civil society atau oleh kaum Madaninya / melanjutkan Reformasi ”

ini hanya bahasa / istilah yang sy gunakan saja , yang pasti sebagai seorang warga negara anda tidak dibenarkan untuk berpangku tangan dan mendiamkannya saja . Seolah tak ada sesuatu apa-apa yang terjadi disekitar hidup anda sendiri .

 

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

4 Responses to “ BENTO ”

  1. walah, mas j ini pilihannya kok serem-serem begitu.Chaos atau revolusi. Tapi kalau memnag itu pilihannya bagaimana lagi? Setelah itu apa? membangun bangunan baru diatas reruntuhan bangunan lama? (pernah denger)

    Kalau untuk berubah sudah sulit memang baiknya revolusi, kita cabut sampai akar2nya. Tapi ingat mas revolusi perlu persiapan panjang juga. Iran saja hampir seabad mempersiapkannya.

    Jadi skarang?

  2. Paham “revolusi” bagi saya memang bukan seperti revolusi abad XVlll (perancis) mas. Contoh Iran dan negara-negara Amerika Latin adalah sebuah ilustrasi yang bisa saja mendekati .

    “Manifesto Revolusi” bagi orang Indonesia saat ini adalah perang habis-habisan melawan penjajahan pada otak pikirannya sendiri-sendiri. Ini sebuah peperangan yang lebih dahsyat dibandingkan dengan pertempuran dalam revolusi fisik itu sendiri.

    Adakah pilihan lebih baik mas? bagi kita masing-masing serta sendiri-sendiri bisa keluar dan bebas dari budaya korup.

  3. Pilihan lain … gila bersama! Bunuh itu hati nurani. Yang waras, harap angkat kaki dari Indonesia. Itu kayaknya lebih memungkinkan mas.

    Lantas, ngapain kita masih di sini ya? Melawan???


  4. budi rahardjo: Lantas, ngapain kita masih di sini ya? Melawan???


    adakah pilihan lain selain melawan .. mas , ya tentu ada yakni ikut berjamaah hehe

    wah..Pak Dosen kita sudah semakin terasah dan kritis sekarang..:)

    Mas .. karena itu saya percaya bahwa “perlawanan” akan menjadi sebuah rencana taktis berjangka panjang (lewat berbagai pendekatan keilmuan) kalau “sudah jelas” musuhnya siapa .. dan siapa yang harus dilawan .

    selamat bekerja dan berjuang bung dosen

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara