Pa’PaYah

Sekarang tepat pukul 1.06 am , saya baru saja selesai merekam sebuah lagu baru , saya beri judul pa’payah’ . Begini kurang lebih draft liriknya :
Pa’payah (bukan pepaya) , mangga pisang jamubuuu..








Sekarang tepat pukul 1.06 am , saya baru saja selesai merekam sebuah lagu baru , saya beri judul pa’payah’ . Begini kurang lebih draft liriknya :
Pa’payah (bukan pepaya) , mangga pisang jamubuuu..
weks.. ilustrasinya lumayan lah… sesekali mengeraskan yg di bawah bukan melulu mengeraskan yg di atas huehuheheuh
Lagunya mana Pak? Kios belum buka yah?
lhoh…mengeraskan apa mbah..? yang dibawah ? .. jempol kaki maksudnya.? Koq jempol saya malah terjadi yang sebaliknya ya .. mungkin kedinginan karena hujan yang bertubi-tubi ini huehehe..
Ini juga masih berhubungan dengan mitos hehe.. dalam pemikiran yang berbeda lagi .
Payudara besar dan semakin membesar dipersepsikan ’seksi dan merangsang’ , padahal jelas bila dipandang secara estetik kecantikan dia ‘ndlewer’ nggak keruan-keruanan .
Juga fungsi payudara sebagai tetek yang bermanfaat menghasilkan air susu untuk bayinya menjadi di nomer duakan . Orang cenderung untuk menempatkan payudara hanya sebagai instrumen seksual yang hanya berguna bagi mata dan tangan.
Contoh gambar diatas adalah analog betapa bodohnya perempuan tersebut diatas , merasa memiliki sesuatu yang indah yang padahal justru sebaliknya . Saya mah.. lebih kagum dan terpesona melihat yang baru tumbuh ‘mruncel-mruncel’ dibanding gambar diatas , jika payudara dilihat dari perspektif keindahan atau kecantikan .
Yang begitu… koq malah dipamer-pamerin.. pa’payaaahhh..
Apalagi nyang dibawah ini … halaahh… udah gila kali ya nih perempuan …

namanya Wongso Subali..[Wongnya Ora Sepiro, Su...nya Segede Bola Voli]..heheh
Bola volly juga maseh kalah gede taukk.., itu bola bowling nomer extra large