Etika_baru

humaniora

1. Setiap agama mengusung etika dan perilaku (kesepakatan moral) bagi masing-masing pemeluknya. Karena hakekat Yang Maha Esa adalah “Satu” , maka pergaulan / interaksi etika antar agama relatif tidak terlalu sult untuk menemukan titik temunya .

2. Setiap kultur lokal atau (tradisi) juga memiliki etika dan perilaku (kesepakatan moral) bagi masing-masing masyarakatnya , etika yang biasanya lahir dari hasil perkawinan antar agama yang dianut dengan tradisi peninggalan para leluhurnya masing-masing.

Sampai dengan era abad XVlX terakhir , masyarakat bangsa-bangsa di Nusantara relatif mampu meng-akselerasi berbagai perbedaan antar etika-perilaku lokal yang beraneka ragam tersebut menjadi sebuah etika dan perilaku baru , yakni etika dan perilaku Bangsa Indonesia.

Sebagai generasi yang terlibat disana , kita dapat merasakan secara konkrit bagaimana standar sopan santun dan saling menghormati diterapkan sebagai sebuah hukum sosial yang berlaku walaupun tanpa legalitas formal. (tertulis)

Akhlak dan budi pekerti setiap warga masyarakat Indonesia adalah nilai-nilai spritual yang chemistry dengan keyakinan agamanya masing-masing lalu secara harmonis ber-metamorfosis lewat berbagai tradisi lokal bangsa-bangsanya.

Disanalah saat itu Bangsa Indonesia dikenal dengan segala atribut keramah-tamahannya .

Mencermati paradigma perilaku globalisasi dimana masyarakat ‘anti tesis’ dibelahan dunia bagian barat memanfaatkan momentumnya untuk mencari jawaban atas berbagai “misteri’ yang menyelimuti alam semesta raya ini .

Yang kini “merasa mampu” mereka temukan berbagai jawabannya , dengan menggunakan penemuan-penemuan hasil tehnologinya .. seperti cloning mahluk bernyawa / penguasaan tehnologi yang mampu untuk menjelajahi ruang jagad tata surya dan lain-lainnya . Maka jelas sudah bahwa Agama-pun semakin terancam keberadaannya untuk jangka waktu yang bisa saja tidak terlalu lama lagi .

Saya tidak ingin melebar masuk kewilayah yang terlalu njelimet untuk membahasnya , namun membatasi sampai diwilayah ‘etika perilaku’ nya saja .

Masyarakat dijaman globalisasi , adalah lahirnya berbagai “Pengertian dari berbagai Sudut Pandang” yang berangkat dari asumsi dasar analysis tehnologi dan matematika bahwa:

a. 1 + 1 = 2 (satu ditambah satu sama dengan dua)

b. Untuk apa melakukan “Tindakan yang dulu disebut mulia” bila tak ada untungnya.

c. Semuanya harus diletakkan dalam koridor logika akademis / ilmiah dan matematis .

Tentu saja hal-hal diatas adalah salah satu pengertian dasar bagi bangkitnya ilmu retorika yang juga sangat diperlukan bagi berkembangnya kualitas peradaban manusia.

Namun tanpa dilibatkannya nilai-nilai dasar spiritual dalam menganalisa berbagai persoalan maka sudah dapat dipastikan bahwa kepedulian sosialpun jelas akan tersingkirkan .

(tanpa dilibatkannya aspek spiritual .. sebab pembenarannya adalah: bahwa Tuhan jangan dibawa-bawa untuk urusan mengembangkan ilmu dan tehnologi tersebut)

Tersingkirnya kepedulian sosial adalah ambruknya aspek “Humaniora” dalam peradaban itu sendiri . Bisakah bangsa ini kelak mengaku masih berperilaku sebagai manusia yang masih manusiawi , tanpa mengenal dan mempedulikan lagi apa itu Humaniora .

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara