Empati mati

cat

Keluarga kami adalah pencinta hewan peliharaan . Binatang apa saja yang pernah mampir dan tinggal dirumah kami selalu kami perlakukan layaknya mahluk bernyawa yang punya hak hidup yang sama seperti kita . Kami sendiri saat ini memelihara seekor kucing jantan persia berwarna abu-abu polos dan anak perempuan saya memberinya nama si MIO , entah mungkin maksudnya dari sebutan ‘meong’ mungkin .

Tetapi bukan itu yang ingin saya bicarakan pada topik kali ini , tapi segerombolan kucing liar atau biasa disebut kucing garong yang secara tiba-tiba doyan mendatangi rumah kami dan camping beramai-ramai di garasi rumah saya hingga berhari-hari . Tak hanya numpang tidur dan makan yang akhirnya kamipun nggak tega melihat mereka kelaparan . Tapi beranak pinak pun meraka lakukan juga di hotel garasi rumah saya tersebut.
Apa boleh buat … tanda-tanda rejeki demikian alasan yang sering saya karang-karang sendiri untuk nyeneng-nyenengin hati sendiri . hehehe

Satu hari salah satu dari mereka yang bernama si ZOri (jantan) yang terkenal paling ramah/kolokan dari lainnya tiba-tiba diketemukan oleh istri saya dalam posisi telungkup dirumput halaman depan rumah selama seharian bahkan semalaman. “Tumben tuh kucing tidur dirumput” demikian pikir istri saya . Namun ketika esok paginya dia masih dijumpai dalam posisi yang sama dan tak berubah sama sekali , maka kecurigaan kami segera muncul.

Oleh si Madi pekerja dirumah saya ZOri diangkat dan diletakkan kedalam garasi … dia diam tak bergerak atau berontak. Bahkan ketika dipaksa untuk berdiri ZOri jatuh terjungkal lagi .Langsung saya berpikir bahwa ZOri adalah korban tabrak lari . Mulai hari itu dia saya masukkan dalam kandang dengan tubuh saya selimuti , sebab sekujur badannya menggigil demam sebagai pertanda bahwa terjadi peradangan atau infeksi dalam tubuhnya.

Esoknya kami bawa ZOri ke dokter hewan untuk diperiksa , hari pertama tidak banyak yang bisa dilakukan oleh sang dokter selain memberi suntikan antibiotik dan obat puyer untuk diminumkan tiga kali sehari. Hari ketiga ZOri sudah mampu menoleh dan bersuara serak … “nggeeekk..ongg” , bukan meeeoong seperti lazimnya kucing sehat namun “nnggeeekk…(pause)…Oonng..” sambil bola matanya menatap mata saya .

Tidak tega saya melihatnya meratap seolah memohon seperti itu … saya minta esoknya untuk dibawa lagi ke dokter agar diperiksa ulang bila perlu lakukan operasi tulang bila ada tulang yang patah akibat tertabrak. Dokterpun ditelpon dengan segera dan memberi jawaban bahwa akan dikirim kendaraan (supirnya) untuk menjemput sang pasien ZOri tersebut . Saya sempat tercengang dengan perhatian dokter untuk menjemput pasiennya tersebut . hehehe..

Ternyata dugaan saya salah … bahwa yang terjadi sebenarnya adalah : Karena ZOri adalah kucing dengan ras kampung , maka biasanya si pemilik meninggalkannya begitu saja di klinik dan setelah diobati sampai menginap …. si pemilik tak pernah lagi nongol batang hidungnya… maklum kucing garong . Itulah alasan mengapa dokter yang bersangkutan mau menjemput pasiennya dirumah saya , agar identitas kami serta alamat bisa tercatat dan tidak kabur setelah mereka minta biaya perawatan nantinya..dasar dokter komersil:(

Ternyata setelah dilakukan rontgen tidak ada tulang tubuhnya yang patah atau rusak , ternyata yang diketemukan dan ter-diagnosa bahwa si ZOri terserang di syaraf otaknya … alllaammaak…. semakin nggak tega saya……. Dia hanya bisa disuntik lagi sambil dilakukan upaya minum obat setiap harinya , serta didampingi untuk dilakukan theraphy , melatih dia berjalan secara perlahan-lahan lagi .. udah kaya ngerawat bayi orang aja lagi…

Untuk perawatan ZOri yang kucing ras kampung tersebut kami sudah mengeluarkan biaya melebihi lima ratus ribu rupiah . Tapi bukan biaya inti dari permasalahan yang ingin saya ceritakan untuk berbagi disini . Namun empati atau kepekaan sosial kepada sesama mahluk hidup yang juga berhak hidup didunia ini .

Bila anda tinggal dinegara yang maju dan beradab , tak akan ditolirer oleh hukum setempat bila anda terbukti menyengsarakan atau bahkan menyiksa mahluk hidup apa saja . Di Indonesia yang katanya masyarakatnya sudah semakin maju modern ini , perlakuan terhadap sesama mahluk hidup masih layaknya seperti perilaku masyarakat primitif bar bar . Anjing atau kucing mati tertabrak lalu tergeletak ditengah jalan dan dibiarkan busuk dengan sendirinya lalu hilang entah disapu lebatnya hujan atau kering terpanggang teriknya matahari … tidak ada bedanya lagi dan hampir-hampir nggak ngaruh lagi .

Seorang kerabat bahkan bercerita tentang anaknya yang membeli kelinci seharga 25 ribu ketika kelinci sakit dibawa ke dokter lalu dikenakan biaya 100 ribu , beberapa hari kemudian kelinci tersebut akhirnya mati. Maka segaralah sumpah serapah yang keluar dari mulut sang kerabat tersebut “Sial belinya aja cuman 25 ribu ongkos dokter 100 ribu berarti udah rugi 75 ribu kan?….. mampus lagi..! kalo tau bakal mampus mendingan nggak usah dibawa ke dokter segala ..ujarnya.

Gila… dijaman ini nyawa dihitung dengan nilai uang . Anehnya lagi sang kerabat tersebut bukan orang yang sering lupa melakukan kewajiban menghadap Tuhannya lima kali dalam sehari . Sebuah contoh perilaku masyarakat asosial yang akut yang sudah menjadi terbiasa dan lumrah dalam kehidupan sehari-hari.

Bagaimana mau mengharapkan empati bisa tumbuh kembali kepada sesama mahluk yg.
menderita karena miskin atau lainnya bila terhadap hewan / binatang atau mahluk tumbuh-tumbuhan saja mereka sudah tak pernah peduli lagi . Sesungguhnya perilaku masyarakat modern Indonesia saat ini memang cerminan perilaku masyarakat yang sedang “SAKIT” .

Masyarakat sakit koq mengaku modern apalagi menyebut dirinya sendiri sebagai masyarakat global .. tengoklah halaman rumah kita masing-masing adakah pohon atau tanaman yang kekeringan lalu nanti bisa mati . Bagaimana kita bisa peduli pada seorang ibu hamil dan seorang anaknya yang berusia 9 tahun di Makasar diketemukan mati karena kelaparan , bila terhadap mahluk lain yang lebih sederhana saja kita tidak pernah membangun rasa peduli .

Segala sesuatunya harus diawali dan dimulai dari yang paling kecil bukan sebaliknya seperti yang terjadi sekarang ini . Heboh dan panik ketika bangunan rumah mendadak rubuh tetapi tak pernah mau belajar menyadari agar segera memperbaiki fundamen dan tiang-tiang besi beton penyangganya .

Kalau Pemerintah Republik ini boleh saya analogikan layaknya si ZOri yang sedang sakit syarafnya , naluri saya pasti akan berkata “biar aja mampus sekalian..” persis seperti sang kerabat mengucapkannya diatas tadi . Akankah kita berperilaku sama seperti dia ?

Bila demikian berarti tak ada bedanya saya dan mereka .

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

2 Responses to “ Empati mati ”

  1. Ada kejadian tragis di dekat rumah saya (tetangga). Ayahnya stroke. (Ini bukan pertama kalinya? dan pihak keluarganya pun tidak tahu.) Karena agak kritis, dibawa ke rumah sakit. Masuk ke sana diberitahu bahwa kondisinya kritis harus masuk ICU. Oleh keluarganya dibawa pulang saja. Akhirnya meninggal di rumah. Alasannya klasik, tidak punya uang. Tragis juga mendengarnya.

    Lepas dari fakta bahwa bahwa ayahnya itu sudah tua, tetapi kondisi dimana tidak bisa memilih itulah yang tragis. Dan ini terjadi tidak jauh dari rumah saya…

    Ini Endonesha bung!

  2. etika yang berlaku sekarang ini .. nilai nilai sandarannya sudah bukan lagi bersandar kepada “kebenaran” dari ajaran agama .

    Namun pembenaran berdasarkan sebuah entitas baru yang namanya ‘keterbukaan = demokrasi = globalisasi – hak asazi’ yang sama sekali tak berkaitan dengan urusan dan keterlibatan Tuhan .

    Itu yang sering saya sebut sebagai ‘entitas tak beridentitas dan seperti kotak hitam pandora’ Yang bisa saja ketika terbuka nantinya … isinya hanya kegelapan yang justru semakin menjerumuskan masyarakat Indonesia .

    Siapa bisa menjamin bahwa cara-cara berpikir seperti sekarang ini pasti akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik dari cara berpikir para leluhur kita dulu . “(khusus soal etika dan nilai)”

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara