Fatal Attraction

bahaya

“Fatal attraction politikus Indonesia.”

Bukankah saat ini kita semua sedang berbangsa dan bernegara dalam kondisi yang sedang terancam bahaya . Saya sebut bahaya sebab ada kecenderungan ancaman tersebut tidak disikapi serius dan proporsional sebagai sebuah isyarat atau pertanda seriusnya bahaya itu sendiri.

1. Kemampuan mempertahankan kebutuhan standar hidup yang mendasar .

2. Sektor industrial yang kini semakin bergulir menuju paradoksal

3. Bergesernya tatanan nilai-nilai social spiritual menjadi strategi/individu konseptual

I

Orde Baru sudah meletakkan sebagian dasar-dasar fondasi bagi berdirinya struktur bangunan ekonomi menuju masyarakat yang lebih sejahtera . Selama hampir lima repelita bangsa Indonesia telah melewati ambang batas ’masyarakat dunia tertinggal’ layaknya masyarakat dengan berbagai kebodohan serta kemiskinan seperti yang dialami oleh negara-negara di benua Afrika .

Selama itu pula taraf hidup serta kebutuhan fasilitas yang diperlukan bagi masyarakat Indonesia semakin kompleks dan berkembang sesuai paradigma masyarakat dunia yang sedang membangun dengan pesatnya . Misalnya saja kebutuhan bagi listrik masuk desa lalu berkembang pesatnya sarana transportasi /telekomunikasi / informasi yang telah dibuktikan dengan diluncurkannya satelit Palapa dijaman itu .

Hal-hal diatas hanyalah salah satu contoh dari pembangunan (infrastruktur) yang telah dicapai oleh masyarakat Indonesia , sekaligus juga menampilkan standar baru bagi kebutuhan hidup masyarakatnya . Standar-standar kebutuhan masyarakat modern yang merepresentasikan tingkat kemajuan / kesejahteraan dan kemampuan ekonomi bangsanya . Yakni bangsa Indonesia yang diwakili kelompok menengahnya .

Apa yang terjadi ketika badai kemiskinan mendadak menerjang kembali dan berhembus menghantam kita secara tiba-tiba . Badai memporak-porandakan apa saja , sebagai akibat dari munculnya lorong-lorong pintu yang melahirkan budaya korupsi , yang tak pernah diantisipasi secara serius selama tahapan pembangunan infrastruktur diatas itu sendiri dibangun , diperparah lagi dengan semakin tinggi melonjaknya harga minyak ditataran dunia . Sebab sampai hari ini minyak masih menjadi penopang utama bagi berlangsungnya peradaban manusia didunia .

Serangan pertama adalah kepada sarana dan fasilitas yang telah tercipta bagi kebutuhan hidup masyarakat Indonesia itu sendiri tadi . Yakni sarana tenaga listrik / sarana transportasi / sarana komunikasi / hingga sarana bagi isi perut disetiap hari sebagai benteng terakhir orang harus hidup . Serangan tersebut menjadi serangan berkatagori ’Fatal’ , sebab kita sudah pernah melewati fase minimal standar kebutuhan hidup yang mendasar tadi . Seandainya saja Indonesia hari ini masih tergolong Negara-negara sekelas ’poor country’ yang berada dikawasan Afrika , tentu kita juga akan terbiasa menghadapi krisis yang seperti sekarang ini tanpa perlu berkeluh kesah berkepanjangan , itu inti maksud saya .

Implikasi kemiskinan bagi Negara seperti Indonesia , sebuah bangsa yang ibarat sudah pernah mendekati setengah perjalanan menuju pantai kesejahteraan …, lalu harus terseret kembali oleh gelombang menuju ketengah lautan . Tentu masyarakatnya melakukan perlawanan atau resistensi.., penolakan keras kita sebagai individu individu masyarakatnya adalah ibarat sudah pernah optimis untuk saling berloncatan turun dari kapal dan menjejakkan telapak kakinya ditepian .. , namun ternyata harus tersapu dan terseret kembali oleh hantaman ombak dari dari arah lautan layaknya tsunami .

Kondisi itu jelas akan melahirkan perlawanan frontal yang memicu berbagai implikasi social , antara lain meningkatnya lagi index kejahatan disegala aspek kehidupan masyarakatnya . Dari mulai kejahatan nyolong ayam seharga 10 ribu perakan sampai kejahatan membobol uang negara yang trilyunan jumlahnya .

Juga kejahatan perilaku seksual menyimpang sampai kejahatan perilaku pemerkosaan kepada siapa saja yang bisa dan mungkin untuk diperkosa , sebab kondisi suasana psikososial masyarakatnya juga telah mendukung kearah sana . (sarana sex : DVD/Free Sex/promosi ranjang dan layanan sampah seksual sudah tersedia diberbagai ruang public yang sangat terbuka)

Belum lagi index angka criminal pembunuhan atau bunuh diri dan sebagainya . Itulah ancaman yang saya maksud dari penjelasan atas ancaman diatas . Sudahkah kita masuk babak tersebut . atau masih belum ?

II

Sektor Industri sendiri menjadi salah kaprah..sebab harus menemui kenyataan bahwa konsumen atau demand-nya merosot secara drastis seiring semakin anjloknya kemampuan daya beli masyarakatnya . Akibatnya , over supplied harus dihindari lewat berbagai cara layaknya ’crash program’ , antara lain perampingan , cost dan operasional yang berpotensi penuh mendukung naiknya angka penganguran dan akhirnya mau tak mau karena banyak orang nganggur artinya mensupport potensi aktifitas kejahatan bersama-sama secara massive.

Industri Informasi lebih paradoks lagi , mana mungkin lagi mau surut melangkah mundur ke belakang mengingat industri informasi local sangat terkait dengan issue kebebasan dan tingkat pesatnya kemajuan industri informasi dunia secara global . Bagaimana bisa memenuhi keinginan tawaran dan harapan globalisasi sebagai keniscayaan jaman , sementara kemampuan dasar untuk melanjutkan kehidupan dan melengkapi kebutuhan yang menyentuh keberlangsungan isi perut saja kembali menjadi problema . Inilah yang saya maksud dengan Industri yang paradoksal .

III

Akumulasi dari persoalan-persoalan diatas jelas berpotensi mengganggu standar-standar nilai etika dan moral yang dulu diyakini serta ditaati secara bersama-sama oleh seluruh bangsa-bangsa di Indonesia . Tidak bisa dihindari lagi ..sebab setiap individu masyarakat harus mahir ber-improvisasi menyiasati dirinya masing-masing agar mampu bertahan , mempertahankan hidupnya sendiri-sendiri .

Benteng terakhir dari ancaman tersebut akhirnya memang kembali bersandar kepada ajaran Agama / Tuhan Yang Maha Esa . Ironisnya ketika para penyandang amanat mulia tersebut ikut-ikutan larut dalam permainan improvisasi kebutuhan pertahanan hidup (politik dan bisnis)

Maka pertanyaan yang harus dijawab adalah ,

Metode penyiasatan apalagi yang hendak digunakan agar ancaman yang saya katagorikan Fatal attraction diatas mampu dihindari bangsa ini . Paling tidak itulah peta besar yang tergambar didalam benak saya saat ini , mungkin saja saya keliru …, semoga keliru .

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

4 Responses to “ Fatal Attraction ”

  1. apa perlu potong satu generasi??
    tapi apa generasi selanjutnya juga yakin lebih baik, bisa memperbaiki ??

  2. nggaak perlu dipotong kalee’.. ntar juga kepotong sendiri ..

    Emang genarasi sekarang yang sedang kekurangan gizi lalu pendidikannya tak terwakili , besok-besok otaknya mau diharepin seperti apa sih ..? :(

  3. @benni
    Wah.. jangan pesimis dulu dunk dengan generasi selanjutnya..
    Tuhan kan ikutin sangkaan hamba-Nya.. nahh kalo kita ga yakin.. gimana Tuhan mo ngabulin??

    @JSOP
    Generasi sekarang itu sebenarnya bukan kekurangan gizi, Mas.
    Tapi teracuni..
    *lah itu.. senengnya mengkonsumsi yang ga bergizi?? tapi.. emang kadang2 yg ga bergizi itu enak je..*

    Tapi terlalu gampang teracuni hal2 yang katanya.. “cool”.. “keren” :mrgreen:

  4. “coollllkas” dengeeen taukk..

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara