Materialis

dugem

Entah masih perlu dibahas atau tidak apa yang menyebabkan kehidupan sekarang ini sedemikian dikuasai oleh hawa materialistik . Tak pelak lagi semua aspek yang berhubungan dengan modernisasi diterjemahkan secara linier dengan pendekatan materi .

Tehnologi yang seharusnya ditempatkan sebagai tools atau alat untuk mempermudah serta menemukan ‘temuan-temuan’ baru , justru malah dipahami sebagai fasilitas untuk menikmati ‘konsumsi’ hidup yang hanya bisa diraih lagi-lagi dengan pendekatan materi.

Tehnologi sebagai karunia yang diberikan dari hasil kerja otak manusia telah dikhianati oleh para industriawan yang bersekutu dengan tehnolognya sendiri . Mereka secara bersama telah melahirkan ‘muslihat’ dengan menciptakan ketergantungan ketergantungan kepada generasi-generasi baru khususnya didunia negara yang sedang berkembang .

Ketergantungan yang sama sekali tak menghasilkan manfaat apa-apa selain hanya menghadirkan perasaan bangga yang absurd dan semu , karena merasa sudah menjadi bagian dari masyarakat modern dan global . Tengoklah betapa generasi ini sudah semakin parah diracuni oleh rasa ‘ketagihan’ tersebut .

Dari mulai handphone sampai notebook , tentu semuanya tergantung kemampuan ekonomi orang tua mereka masing-masing . Dan tentu saja kasus ini agak berbeda bagi mereka yang memang membutuhkan perangkat notebook tersebut bagi sarana kegiatan belajar disekolahnya masing-masing juga. Namun jumlah pelajar yang membutuhkannya tersebut tidaklah seberapa dibandingkan dengan remaja yang hanya ingin tampil gaya menenteng power mac nya kemana mana , sementara isinya hanya bermacam games dan sarana untuk chating serta berbagai fasilitas nge-blog mengobral isu-isu murahan atau bahkan mengumbar fantasi liarnya saja, ya… atas nama kebebasan berekspresi katanya , bah!

Itu juga yang membuat saya sering merasa nggak nyaman bila membawa notebook ditempat-tempat umum terbuka , padahal sebagai seniman profesi saya sangat dibantu karena sering menemukan ide atau gagasan gagasan baru yang bisa melahirkan karya-karya baru dikemudian nantinya. Dan seringkali ide tersebut hadir dan muncul diberbagai tempat umum , baik tempat keramaian ataupun tempat terpencil yang jauh dari kerumunan .

Namun sekejap jadi ‘mati angin’ ketika disamping kursi tempat saya duduk tampak segerombolan remaja sedang chating atau main games dan sebagainya , sambil cekakak cekikik seolah menikmati bahagianya hidup di Indonesia yang baginya seolah sedang hidup di Amerika atau disebuah negara yang kaya raya .

Generasi muda di dunia ketiga atau negara yang sedang berkembang memang potensial market yang luar biasa . Barisan para pedagang dan kapitalis berpesta pora menikmati suasana kebebasan yang ada ini . Apalagi untuk ukuran di Indonesia dimana semua aturan dan kebijakan akan selalu bermuara diatas sebuah meja kesepakatan bisnis antar mereka dan para penguasanya .

Mereka bahkan menciptakan yargon yang luar biasa dahsyatnya [*bejatnya*] dalam bahasa saya . Yakni “Yang muda yang belum boleh bicara” . Sungguh betapa ironisnya masyarakat dari sebuah negara yang sedang terhuyung-huyung sempoyongan ingin berdiri tegak agar lebih maju dan lebih pintar justru malah mentertawakan dirinya sendiri.

Lagi-lagi pola penyesatan pikiran gaya ORBA lahir dalam bentuk barunya . Impian mengganti perencanaan / Penataran mengganti penyadaran . [Rendra]

Mutu atau kualitas manusia tidak lagi terukur dari hasil sebuah kerja produktif yang terbukti telah bermanfaat , namun disimplifikasikan menjadi barang tua dan barang muda . Atau dipahami bahwa yang muda pasti lebih berkualitas dibanding dengan yang tua . Tak perduli apakah yang muda tersebut bisanya hanya main games atau sekedar numpang hidup dengan menikmati fasilitas-fasilitas yang saya sebutkan diatas .

Demikian juga dengan yang tua , tak perduli apakah dia telah berbakti selama hidupnya mengabdi kepada profesi ataupun negaranya . Sekali dia tampak tua maka kuno lah dia , atau bisa diterjemahkan sudah menjadi sesuatu yang tak lagi berguna .

Itulah konspirasi atau persekutuan antar kaum tehnolog dengan industrialis yang telah menciptakan ‘pasar’ bebas untuk menjadikan masyarakat dunia ketiga seperti di Indonesia sebagai sasaran empuk bagi jualan produk komsumtif mereka .

Sungguh sedih melihat anak-anak muda yang hampir-hampir frustasi diberbagai perguruan tinggi , karena mereka tak diberikan ruang yang layak untuk memasuki pintu-pintu wilayah yang seharusnya , sebagai bagian dari keberadaan mereka yang mewakili agen-agen perubahan sebuah bangsa. Sebab para orang tua yang kolot serta cenderung ingin memelihara hawa feodalistik masih tetap ingin menguasai semua .

Sementara disisi lain sebagian besar anak muda kaum menengahnya yang berada dikota-kota besar , yang memegang kendali mesin rekayasa budaya remaja , kelakuannya semakin menjijikkan saja .

Saya muak!

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

4 Responses to “ Materialis ”

  1. sabar….sabar…. sareh Mas, emang demikian kahanane…mau bagaimana lagi. Mari kita ngopi dulu Mas…dah lama saya gak mampir, Mas Yockie sehat & baik selalu to ? Salam buat keluarga.

    yuk… ngopi sambil bikin plintengan ya mas .. buat mlinteng pemimpin2 yang pada korupsi berjamaah

  2. mas petrus ,

    Kalau mikir sampai sejauh urusan pemerintahan mungkin bisa saja saya sudah mau muntah dan nggak mau tau lagi (bar’bar no wae… sak karepe’ dewe..konoh..) mau bubar ya bubarlah ..ndang cepetan..!

    Masalahnya saya punya anak mas , saya sudah sampai pada tahap mikirin keturunan sendiri . Nggak tega kalau kita diem saja sebagai orang tua melihat nasib masa depan anak2 kita sendiri .

  3. bos.. materialis ini sama dengan matre gak ??
    kata temen saya…mana ada jaman sekarang orang mau miskin?? mendingan cari pasangan yg tokai donggg…
    muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga !

    gambat iklan jadi impian…
    orang yang msikin ataupun kaya, sama gilanya terhadap harta ..
    nocturno ya??


  4. beni: gambat iklan jadi impian…
    orang yang msikin ataupun kaya, sama gilanya terhadap harta ..
    nocturno ya??

    gambar iklan jadi impian
    akal sehat malah dikeluhkan
    orang miskin dan kaya sama ganasnya terhadap harta

    edan semua hehehehe

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara