Chrisye & saya

almchrisye.jpg

Setahun sudah setelah almarhum dipanggil pulang ke pangkuan sang pencipta . Saya juga ingin mengenang saat-saat kami dipertemukan sebagai rekan sekerja sama bermusik ditahun 1970’an.

Setelah saya dan teman-teman di Prambors memilih dia untuk menyanyikan Lilin-Lilin kecil (LCLR) maka chemistry antara saya dengan almarhum seolah mengalir dengan begitu saja . Saya menemukan berbagai kesamaan pola berpikir dalam merangkai lagu atau bagaimana almarhum menyanyikan lagu ciptaan saya / kami berdua .

Dari mulai lagu2 dengan pendekatan easy listening hingga melebar menyentuh komposisi yang lebih progressive atau bahkan sedikit ‘rock’ Chrisye mampu menyanyikannya dengan baik. Maklum ditahun-tahun sebelumnya almarhum sendiri adalah seorang pemain bass pada sebuah group di Jakarta dengan aliran yang sangat Progressive (Gipsy Band) Maka lagu seperti Lilin2 kecil (cipt.James F Sundah) sampai dengan Jurang Pemisah hingga lainnya mampu diolah dengan relatif baik . Apalagi saat almarhum mengekspresikan Badai Pasti Berlalu . Bagi saya itulah salah satu dedikasi terbaiknya .

Saya relatif menemukan pasangan untuk berkarya , dimana tugas saya lebih untuk mencipta lagu dan tugas dia untuk menyampaikannya dalam bentuk suara. Sejenak saya teringat dengan sebuah analogi yang hampir sama terjadi diantara kami . Yakni peranan Iwan Abdurachman saat masih bergabung dengan Bimbo . Salah satu master piece nya bagi saya adalah “Melati dari Jayagiri” . Lagu itu yang selalu terngiang-ngiang dikuping saya pada pada tahun 1970’an . Lagu yang bisa membuat saya menangis hingga mampu membakar saya untuk menjadi marah .

Kembali kepada proses kerjasama musik antara saya bersama almarhum . Mungkin saat itu memang kami bermusik semata-mata karena panggilan jiwa ingin berekspresi , apalagi kami relatif masih muda dan belum punya tanggung jawab berkeluarga . Proses kreatif kami adalah proses kreatif dimana pedagang atau industri tak mempunyai peran apa-apa untuk menentukan bentuk lagu yang akan kami ciptakan . Maka kamipun relatif dengan leluasa bisa bermusik sesuka-suka hati dan relatif juga menjalani pergaulan anak muda di masa-masa itu dengan segala kerendahan hati tanpa ada yang merasa “lebih” diantaranya.

Begitulah kenyataannya setelah industri mulai merangkul kami berdua , dan bertepatan dengan menanjaknya usia dimana kami sudah mulai berpikir serius untuk menempuh masa depan masing-masing . Tidak adanya sebuah “konsep” yang bisa dijadikan sandaran/rujukan kerjasama kedepan , telah membuat kami mulai terpisah pisah dan tanpa disadari mulai mementingkan kepentingan masa depan sendiri-sendiri . Begitulah akibat yang ditimbulkan oleh watak Industri , bila kita tidak sigap dan cermat untuk segera mengantisipasinya sebelum semuanya menjadi terlambat.

Sayangnya sebagai anak muda saat itu kami semua memang cenderung lebih lambat menyadarinya…atau memang begitukah dan seperti itukah hukum alam yang pasti akan berlangsung .. Semoga saja tidak dan semoga saja pengalaman pengalaman seperti diatas bisa bermanfaat sebagai masukan bagi generasi muda sekarang .

Saya memang kehilangan almarhum .. bukan baru setahun ini saja . Tapi semenjak tahun 1983 dimana kerja kreativitas berdua praktis terputus sama sekali … Dan salah satu faktor penyebabnya adalah “mengangkangnya” industri diatas kepala almarhum dan saya. Karena itu pula saya terpaksa masih sering menyanyikan sendiri lagu yang saya ciptakan .. bukan karena saya tidak tau diri bahwa suara saya “nggak enak dikuping” , atau saya pengen populer jadi penyanyi . Tetapi itu semua saya lakukan lebih karena saya belum menemukan dan masih mencari karakter suara dan cita rasa seperti yang dimiliki Chrisye , tidak harus ‘plek’ sama namun minimal pendekatan ‘citarasa’ nya sama .

Istirahatlah dengan tenang disana .

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

19 Responses to “ Chrisye & saya ”

  1. cuma satu kesan saya waktu denger kolaborasi panjenengan dengan almarhum, dashyat!. btw, Eros Djarot katanya mau terjun ke musik lagi, panjenengan ikut ga?


  2. hedi: Eros Djarot katanya mau terjun ke musik lagi, panjenengan ikut ga?


    eros itu sekarang politikus .. hehe segala galanya ya sesuai kepentingan target politiknya , kalo terjun ke musik lagi? lah ntar dulu mas…. dulu nyemplung saja juga cuman sampai setengah badan koq . Jangan terjun nanti mentok dasar hehehe..

    Pengen bikin lagu lagi, mungkin itu maksud sampeyan? itu sudah mas .. dan selesainya kapan? ya tergantung kapan kepentingan politiknya memerlukannya . Bagi saya ya antara senang dan sebal hehe (resiko & konsekwensi berteman politikus)

  3. kan sudash lazim nih…seniman jadi anggota legislatif, ataupun duduk di eksekutif..
    apakah melalui pendekatan seni dan budaya, bisa menjawab permasalahan di negeri ini, bisa mengurai carut marutnya bangsa ini?


  4. beni: kan sudash lazim nih…seniman jadi anggota legislatif, ataupun duduk di eksekutif..
    apakah melalui pendekatan seni dan budaya, bisa menjawab permasalahan di negeri ini, bisa mengurai carut marutnya bangsa ini?


    Orang yang ‘nyeniman’ yang duduk di legislatif bukan seniman .
    Seni budaya salah satu pilarnya ben , bisa menjawab namun bukan untuk menyelesaikan .

  5. seniman itu bukannya jujur ya, Mas?

    Kalo yang duduk di legislatif.. jujurnya masih ada apa?


  6. kuke: seniman itu bukannya jujur ya, Mas?


    semua profesi harus jujur kan….*ceileee..* dokter juga harus jujur , tapi ketika dia di bisiki sama industri farmasi (jadi agen obat2an tertentu) yang bonusnya bisa bikin cepet kaya . Maka si dokter gemblung itu mengabaikan jenis obat lainnya yang lebih baik kualitasnya . Dia juga jujur kan..? jujur supaya cepat sejahtera dan keluarganya bisa lebih bahagia .

    Seniman kalau sudah duduk di struktur politis .. beda tipis sama dokter belegug tadi . huehuehehuhe…

    Sok teu yaaa….biarriiiinnnnnn…. :)

  7. Rasanya selama puluhan tahun terakhir ini, lagu2 Ind yg paling sering saya setel ternyata lagu2nya sampeyan naliko bareng Chrisye.
    Entah kenapa….sepertinya lagu2 sampeyan itu digarap dengan sangat serius dan menyita waktu …….!

  8. “… itu semua saya lakukan lebih karena saya belum menemukan dan masih mencari karakter suara dan cita rasa seperti yang dimiliki Chrisye , tidak harus ‘plek’ sama namun minimal pendekatan ‘citarasa’ nya sama…”

    Saya turut berdoa, semoga Mas Jockie menemukan penyanyi (atau calon penyanyi) yang bisa berkolaborasi sebagaimana dulu njenengan lakukan bersama almarhum Chrisye. Saya pribadi, dan saya yakin banyak orang di negeri ini, masih menunggu dan menunggu buah kreasi Mas Jockie.


  9. indrayana: Rasanya selama puluhan tahun terakhir ini, lagu2 Ind yg paling sering saya setel ternyata lagu2nya sampeyan naliko bareng Chrisye.
    Entah kenapa….sepertinya lagu2 sampeyan itu digarap dengan sangat serius dan menyita waktu …….!

    aah.. itu kan karena sampeyan sama2 jadulnya dengan saya .. kalee” huehehehe


  10. vansya raban: Saya turut berdoa, semoga Mas Jockie menemukan penyanyi (atau calon penyanyi) yang bisa berkolaborasi sebagaimana dulu njenengan lakukan bersama almarhum Chrisye. Saya pribadi, dan saya yakin banyak orang di negeri ini, masih menunggu dan menunggu buah kreasi Mas Jockie.

    Waduh.. anda bahasanya koq santun sekali sih mas.. atau mbak nehh… huehehe.. Saya jadi salting neh’…

    Jangan di tungguin.. malah nggak dateng2 nanti karyanya ..hehe

  11. Whoah, ganti saya yang salting, dibilang santun, bahkan dikira perempuan pula. :lol: Mas Jockie, saya lanang, asli dari sononya, punya satu istri dan satu anak hehehe (saya punya kenalan ada yang dari sononya lanang terus jadi perempuan, dan ada yang dari sononya perempuan terus jadi lanang; yach, hidup memang soal pilihan).
    Soal menunggu buah dari proses kreatif mas Jockie, jangan khawatir, kami memiliki cukup kesabaran, kok. Jadi, tolong tetap dicatat, Mas Jockie, kami (ngeyel) menunggu…

  12. yee’.. gitu dong jadi jelas kite’ ngomongnye’ hahaha…
    Secara usia yg dah um’um tapi kaga bole’liat yg mude2 gitu.. mata bawaan’nye’ nyolot mulu’… hahahaha

    Maklum kite masih normal.. masih belom ganti onderdil kayak kenalan2 sampeyan itu huehehehe

    oke de.. silahkan ‘ngeyel’ sambil nungguin ya.. saya mah tergantung suasana lahir dan bathin dulu.. hahaha

    salam ah..

  13. bung jockie stelah saya dengar kolaborasi anda dengan chrisyec dijurang pemisah.. cuma satu komentar saya… dahsyat (kebetulan setahun lalu direpro dan ada di duta suara)seakan2 musiknya merupakan cikal bakal dari aransemen anda di BPB.. benang merah terdengar jelas, bahkan menurut saya musiknya lebih eksploratif dibanding BPB, jurang pemisah,jeritan sebrang, putri, mesin2 kota dan dia toppp abis.. ibarat beatles sebelum album sgt.pepper ada the revolver.. menurut saya the revolver lebih dahsyat
    kolaborasi anda dengan alm. chrisye memang pass banget


  14. bayupras: menurut saya the revolver lebih dahsyat banget

    Sama mas .. hehe bagi saya Revolver lebih revolusioner dan kontemplatif . bai de we, terimakasih atas apresiasi JurPem.

  15. mas kalo di guruh gipsy sendiri anda juga ngikut di dalamnya…?

  16. Saya memang kehilangan almarhum .. bukan baru setahun ini saja . Tapi semenjak tahun 1983 dimana kerja kreativitas berdua praktis terputus sama sekali…

    berarti setelah itu hububgab anda denganalmarhum secara social emosional juga berpengaruh juga ya bos???

    –> hubungan kreatif yang terputus mas , sementara hubungan sosial emosional sepertinya oke2 saja , yah naik turun lah..sesuai bisikan “provokator” diantara kami berdua .

  17. mas fendy, Saya tidak terlibat dalam rekaman Guruh Gipsy .

  18. mas kalo cari album jurang pemisah (kalo bisa kaset, kalo nggak bisa mp3 ya mau) dimana ya ??? Punya saya bablas di colong maling sak box besar ……
    Oh…..indahnya, seakan takkan terjangkauboleh kata prosa manapun…

  19. Oh…..indahnya, seakan takkan terjangkau oleh kata prosa manapun…

    hehe.. itu MSAS mas bukan Jurang Pemisah.., wah kalau anda mau nyari kasetnya…rasanya sih udah pada ‘lengket’ semua tuh mas..:)

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara