MISKIN..!

poor-man.JPG

Comment dari sebuah posting pada artikel saya di jsop.multiply ini saya anggap terlalu berharga kalau hanya sekedar selesai dan berhenti dalam bahasannya saat itu saja . Bahasan tersebut harus saya teruskan sebagai salah satu obsesi saya dalam ber blog-blog ria di dunia maya ini .Pada intinya saya sedang terus mencoba untuk mengurai berbagai masalah yang membuat hidup kita semakin hari semakin terasa miskin dan menjadi lebih susah dari hari kemarin .

Ternyata bukan hanya dorongan atau dampak dari krisis dunia secara global atau bukan pula hanya problem politik serta cara berkebangsaan kita yang carut marut dalam menyusun wajah tampilannya . Namun lebih merujuk pada faktor mental “orang pengen kaya dan senang secara mendadak” Berikut ini kutipan posting yang saya petik dari sana

Sejak krismon 10 tahun yang lalu sampai sekarang dikatakan pertumbuhan ekonomi kita pelan2 udah mulai naik lagi , optimis? ntar dulu…………yang menyebabkan naik apaan? katanya para ahli sih tingkat konsumsi publik tuh… yeeee….kirain tingkat produksi …!!

okeh, kalo yg naek tingkat konsumsi, artinya apa tuh?
artinya, tabungan rendah….kalo tabungan rendah artinya tingkat kesiapan “sedia payung sebelum hujan” juga rendah kan?

Belum lagi budaya “kredit” semakin dipelihara sama kita semua …
Tanpa perencanaan belanja yg matang dari masyakarat maka peningkatan kredit mengredit hanya meninggikan potensi “kredit macet” dari level yg paling rendah sampe level konglomerat khan?

Belum lagi budaya nakal2an debitur vs kreditur … ! sementara itu, tingginya tingkat konsumsi tentu berdampak pula pada peningkatan “demand” dan akhirnya harga yg naik melulu khan?
Nah tuh.. dari konsumtifitas kita sendiri saja sudah tersimpul bahwa kitapun ikut andil di dalam “nyusahin diri sendiri”

Baiklah bila kita sepakat dengan analisa diatas , bahwa hal tersebut adalah salah satu persoalan ‘serius’ yang membuat hidup kita sendiri menjadi susah dan tambah miskin , maka tentu kita harus punya cara atau jawaban untuk mengatasinya .

Tentu saja semuanya harus dilihat / dikerjakan sesuai bidang masing-masing profesi anggauta masyarakatnya sendiri , yang artinya tidak bisa di generalisir dengan cara yang harus sama .

Namun intinya tujuannya satu yakni “Perlawanan pada budaya konsumerisme”

Didalam keluarga saya sudah harus saya galakkan lagi segala kebutuhan atau keperluan sehari-hari yang selama ini adalah hasil jebakan dari ‘iming-iming’ diatas . Misal saya stop atau batasi seminimal mungkin fasilitas cable teve , penggunaan celular HP yang tak perlu Dan hal-hal tersebut beserta lainnya akan mudah bisa kita urut dan temui secara kasat mata dirumah kita masing-masing tentunya .

Namun itu semua hanya sebagian kecil saja , belum menyentuh substansi yang dituju . Bagaimanakah dengan yang terjadi disekeliling profesi kita masing-masing .

Harus memberi contoh pada masyarakat ekonomi yang lebih lemah..jangan terobses modern hanya karena pengen bisa beli motor lalu pindah kerumah yang lebih besar apalagi mewah . Sebab akan dihadapkan pada kebutuhan beli bensin dan bayar kredit yang pasti akan mencekik leher sendiri juga , sementara perusaahan tempat gaji bersandar juga sudah terancam keberlangsungannya .
Bila kita ingin memberi contoh pada orang lain , sudahkah kita juga berperilaku layaknya orang yang patut dicontoh ? Sudahkah kita mengendalikan keinginan-keinginan ‘semu’ disekitar profesi kita sendiri ?

Disisi yang lainnya kita juga harus mendorong kesadaran perilaku aparat-aparat pemerintah sendiri , selain memberi contoh pada masyarakatnya , tetapi juga agar mengendalikan regulasi-regulasi yang justru malah menciptakan berbagai ketergantungan tersebut .

Misalnya kredit dan ijin membangun Real Estate di berbagi tempat yang hanya memicu orang berpenghasilan pas-pas-an untuk ngiler lalu teken kontrak kredit angsuran. Atau bangunan Mall-Mall layaknya jamur yang tumbuh dimana-mana , untuk siapa dan untuk apa sih berbagai Mall mentereng yang melebihi mewahnya Mall di Amerika asalnya sendiri bertebaran di pelosok negeri ini ?

Tengok kedalam .. adakah kita temui bahwa Mall adalah etalase produk lokal bangsa sendiri yang diperuntukkan bagi keperluan hidup masyarakatnya sendiri ? Atau bukankah Mall etalase mimpi-mimpi yang harus dimiliki oleh setiap orang dengan menawarkan berbagai produk-produk asing yang tidak penting-penting amat , selain hanya membangun image modern / canggih dan yang semu . Apalagi jelas untuk memiliki mimpi-mimpi tersebut kita juga harus punya uang .

Oke’ katakanlah kita sudah mampu membeli mimpi tersebut sebab kita memiliki uang , lalu seberapa besarkah manfaat kita memiliki mimpi tersebut bagi diri kita sendiri serta bagi orang golongan ekonomi lemah disekitar kita yang menyaksikannya ?

Masih teramat banyak tuntutan untuk kita bisa keluar dari lembah kemiskinan ini .

Kembali pertanyaan kepada kita sendiri dan harus kita jawab sendiri . Maukah kita semua secara bertahap berusaha menjawab dan melakukan dari hal yang paling kecil yang mendasar . Tentu bisa andai kita mau , ini bukan slogan yang sering dipakai politikus saat mau kampanye saja .

Tapi ini fakta yang nyata yang sudah menjadi kebutuhan kita mulai saat ini juga , sekarang juga dan harus melengkapi isi kepala kita masing-masing .

Semoga , wass

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

6 Responses to “ MISKIN..! ”

  1. berarti.. pake prinsip itu ya, Mas, seperti kalo ngajarin anak kecil.. dengan memberi contoh??


  2. kuke: berarti.. pake prinsip itu ya, Mas, seperti kalo ngajarin anak kecil.. dengan memberi contoh??


    Memberi contoh sebatas yang kita mampu untuk dijadikan contoh
    Jangan “lebih” seperti yang sering kita lihat dilayar TV maupun dalam kehidupan sehari-hari . Yang akhirnya hanya mempertebal “sok teu” dan melahirkan sinisme orang lain .

    Sayah sok teu juga neh….. biariiiiiinnnn… hueheehe

  3. wahhh yang sering diperlihatkan di TV mah jangan dijadikan contoh mutlak ditelan bulat2..

    Kebebasan pers.. kebablasan
    Sinetron ga mendidik.. adanya jualin mimpi & malah jadiin semua tambah amburadul..
    Belum lagi reality show yang.. ga-penting2 itu??
    hemh..
    Mendingan nonton Naruto :D

  4. Mendingan nonton saya mandi , seksehhh deeee…
    ada seehh kreput kreputnya … dikiiittt
    huehehehuee..

  5. deeee… kangen komen disini

    kenapa sih kebahagiaan selalu diukur dengan materi? kemakmuran di ukur dengan materi? bukan kah kemakmuran dan kebahagian harusnya di ukur dengan kepekaan hati? rumah mewah, mobil mewah, semua serba wah tapi tiap hari bangun tidur selalu kepikiran utang, tunggakan, kredit dan segala macam tanggungan yg disebabkan oleh nafsu untuk memuaskan diri sendiri yg berlebihan. Bukan kah lebih enak tinggal di rumah yg harmonis walau gak mewah tapi bahagia dan bangun pagi gak kepikiran utang tapi bangun pagi bisa menikmati dan mensyukuri apa yg udah kita terima.

    kontrol sosial negara ini kayaknya yg gak bagus pak. belum lagi iming-iming dari vendor-vendor yg bener-bener gila. Kredit sepeda motor uang muka 200 ribu, belum lagi pinjaman tanpa agunan bunga ringan, belum lagi rumah mewah seharga sekian puluh ribu sehari dll. Klop dah pak sama budaya konsumtip bangsa ini yg makin lama makin memprihatinkan. seperti mur ketemu baut dah. ujung-ujungnya ya tadi itu, bahagia gak utang menumpuk.

    Kemaren sempat nganter ponakan ke sekelohnya. trus ponakan ketemu ma temen-temennya, padahal masih kelas 1 SD pak, tapi begitu ketemu yg dibahas adalah sinetron remaja di TV dan HP baru. Duh… miris banget

  6. hehe kaget saya ente komen disini juga..
    bisa diukur ye’ seperti apa kepekaan masyarakat di WP ama di MP . Disini kayaknya orang kantoran nyang bejubel …. yang cenderung capee deee kalo diajak nengok ke jendela . Maunya ngadep depan terus …. padahal didepan ada lautan pasir …”emang gw pekeren”


    Kemaren sempat nganter ponakan ke sekelohnya. trus ponakan ketemu ma temen-temennya, padahal masih kelas 1 SD pak, tapi begitu ketemu yg dibahas adalah sinetron remaja di TV dan HP baru. Duh… miris banget


    ya gitu deh.. kalo masih punya marah … ya marahlah sepuasnyahh… kalo tinggal setetes dua airmata . ya menangislah selagi bisa ..

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara