Oh..Married

married

Ketika saling mengikat janji dihadapan Tuhan dan Lembaga perkawinan untuk berikrar hidup bersama sebagai sepasang suami istri , maka secara legal formal hubungan lahir dan batin antara keduanya dianggap sah dan dilindungi oleh agama dan aturan yang ditetapkan oleh masing-masing lingkungan masyarakatnya .

Sudahkah kita bisa mengklaim bahwa betapa sukses dan bahagianya kehidupan kita sebagai suami dan istri tersebut , karena ekspresi cinta kita tak lagi dibatasi oleh berbagai larangan-larangan yang bisa disebut “berzinah” atau “kumpul kebo” dan lainnya .

Legalitas sebutan bagi suami dan istri hanyalah sebuah panggilan etika dan norma , bahwa manusia selayaknya berperilaku lebih beradab dari makhluk bumi lainnya . Namun kadar kualitas yang nantinya bisa dijadikan ‘ukuran’ bagi sebutan sebuah keluarga yang ‘sakinah’ atau juga sebuah keluarga yang berbahagia , tidaklah sesederhana apa yang pernah dibayangkan saat buku catatan sipil perkawinan sudah didalam genggaman tangan kita . Karena itu pula saya memberi istilah dalam kasus diatas , sebagai pasangan yang sedang memupuk usaha bersama merajut mimpi dan cara menuju cita-citanya . Atau dengan terminologi lain bisa saya sebut sebagai “pasangan yang belum jadi seutuhnya” .

Mungkin bisa juga dibenarkan , bahwa tak akan pernah ada kesempurnaan seperti yang diharapkan bisa terwujud , agar pasangan tersebut layak untuk disebut “sudah jadi”. Sebab manusia adalah mahkluk yang sama sekali tak memiliki kesamaan watak & karakter antar satu dan lainnya. Untuk mengatasi hal tersebut , maka terciptalah sebuah bahasa yang disepakati secara bersama untuk digunakan mengatasinya , yakni ‘saling toleransi dan memberi’ . Artinya tak akan bisa sempurna namun selalu berusaha untuk menuju sempurna . Begitulah hidup ini kita pahami bersama .

Contoh diatas adalah gambaran tentang fungsi dan tugas manusia untuk membina hubungan dalam menjalani hidup bersama . Selanjutnya antar masing-masing kelompok keluarga tersebut akan bertemu dengan kelompok keluarga lainnya lalu berinteraksi dengan cara dan perilaku melalui mekanisme sebuah sistem yang disebut adat atau kultur

Merekapun akhirnya menemukan satu pedoman bagaimana seharusnya hidup berdampingan secara harmonis yang disepakati secara bersama antar keluarga yang satu dengan keluarga yang lainnya .

Keterangan diatas akhirnya bisa kita sebut sebagai budaya lokal atau local culture dalam bahasa asingnya . Tentu saja dia sudah bisa dikatakan “JADI” walaupun tidak akan pernah bisa sempurna , namun “JADI” disini dalam perspektif telah teruji dalam catatan sejarah bahwa ‘ada’ sebuah bangsa yang telah berhasil disebut sebagai masyarakat yang beradab dan telah pula membuktikan dirinya mampu berdampingan serta menjalani hidup bersama , selama ratusan tahun lamanya .

Indonesia sebuah sebutan untuk sebuah kesepakatan yang sedang ditempuh oleh berbagai lokal-lokal kultur diatas yang saya sebutkan tadi . Kesepakatan untuk bisa menemukan formula yang tepat agar pergaulan antar kultur diatas bisa ditempuh dengan cara-cara dan nilai-nilai yang juga harmonis ibarat sebuah kidung rakyat yang mengalun dengan sangat indahnya .

Konstitusi dan deklarasi kemerdekaan yang telah digemakan semenjak 17 Agustus tahun 1945 , hanyalah ibarat perjanjian kesepakatan yang diucapkan oleh sepasang pengantin baru / suami dan istri didepan Tuhan / penghulu dan Aturan catatan sipilnya untuk memulai hidup secara bersama .

Kini.. hari ini dan tahun ini serta detik ini kita menyaksikan dan menjalaninya sendiri apa yang telah dicapai selama perjalanan waktu yang telah ditempuh semenjak Deklarasi tersebut . Berbagai persoalan yang mendasar antara suami istri yang ingin menempuh hidup bersama ternyata masih banyak yang terbengkalai .

Mereka belum lagi tuntas membicarakan hak dan kewajiban , target dan perencanaan tetapi sudah harus menerima kenyataan hadirnya jabang bayi keturunan yang akhirnya membebani biaya hidup mereka sendiri. Sehingga persoalan demi persoalan yang tak kunjung terselesaikan akhirnya menjadi tumpukan lava yang alhamdulliah sampai detik ini masih bisa tertahan agar tak meletup . Lava atau lahar panas yang sekonyong konyong siap untuk memuntahkan hawa nafsu amarah yang menakutkan .

Kita semua menyayangi , mencintai serta selalu menghormati negeri ini dan menjaga agar kelak dia benar-benar mampu diwujudkan sebagaimana harapan serta mimpi yang di cita-citakan bersama . Oleh karena itu pula , agar mimpi-mimpi diatas tidak berhenti di tataran mimpi dan sekedar menjadi mimpi yang “mimpi” , kita harus jujur dan berani menengok realitas yang sedang kita hadapi sekarang ini .

Bahwa secara filosofis Indonesia tercinta ini bisa saja disebut “Belum Jadi” dan siapa bilang jauh dari ancaman deklarasi yang kemudian gagal ditindak lanjuti . Karena itu pula jangan juga menjadi besar kepala membabi buta untuk membangga-banggakan diri . Tetapi marilah bekerja bersama-sama sambil membuka lebar mata kita masing-masing .

salam.

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

7 Responses to “ Oh..Married ”

  1. saat saya mengucapkan janji pernikahan dikasih ucapan ” selamat menempuh hidup penuh pengorbanan” sama Romo,maknanya mungkin setelah berikrar ” I do “..itu ya memang harus rela berkorban ya Mas…..I do, I do, I do…. berkorban forever demi hidup bahagia ? Besar kecilnya sebuah pengorbanan bukan kita yang tentukan, sekecil apapun pengorbanan kita asal membuat pasangan kita bahagia tentu sangat berarti……….setuju nggak Mas ? :lol:

  2. hehe..ya kudu setuju .., kalo di ajaran agama yg saya anut kalo nggak setuju “boleh cerai” , karena sy sudah pernah cerai maka saya kali ini harus setuju supaya nggak cerai lagi hehehe

    Pertanyaan artikel diatas : apa kita juga boleh cerai berai kalau “berkorban” seperti yang sampeyan maksud nggak bisa terwujud dan tercapai.
    huehehee…. bubraahhh kabeehh

  3. bukankah pernikahan = pengorbanan?

    komitmen awal aja udah jelas bahwa setelah menikah kita akan kehilangan separuh bahkan lebih kebebasan kita kan. Bukankah itu juga pengorbanan hehehehhe

  4. Buat orang yang waras perkawinan memang adalah pengorbanan .
    Tapi buat orang jaman sekarang yang notabene sedikit “kagak waras” , perkawinan = bunuh diri .. hihihihi ..

    sedeeehh amaat yaak ..

  5. dulu orang takut dengan status perawan tua atau bujang lapuk

    skrg orang malah senang menjadi perawan tua [ngakunya sih perawan, isi nya mana saya tau] atau bujang lapuk.

    Ada lagi yg bilang merid just 4 sex, ngapain merid kalo beli aja bisa hehehehehehehe

  6. Ya itulah yang mungkin dipahami oleh peradaban sekarang . Perkawinan sama dengan pesta yang harus dimeriahkan (kalo bisa gaya holiwut ato buliwut) lalu diselesaikan dengan ‘tumpak-tumpakan’ .

    Atau tumpak-tumpakan dolo baru pesta yang dimeriahkan ..sapa pedule’… emang elu aje nyang kaga mo mikirin ? gw juga laahh….

    Hayaaah.. mau tumpak2an aja koq ribettt..

  7. Hayaaah.. mau tumpak2an aja koq ribettt..

    sudah ribet..ngeluarin ongkos buaanyakk..
    yg gak balik modal dari amplopan tamu hehehe…

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara