BENTO!

stupid

Bangsa-bangsa nenek moyang kita mewariskan satu ajaran yang sangat fundamental bagi menjaga kelangsungan hidup bersama . Yakni Toleransi kepedulian kepada sesama yang berangkat dari paham nilai-nilai Kepatutan atas dasar perilaku dari berbagai ajaran agamanya , yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa yang egalitarian yang disebut : Budi Pekerti .

Bidin : Jangan begitu tapi begini saja
baEDah : bukankah nanti melanggar azas kepatutan / etika budi pekerti
Bidin : Bukankah ada pintu berjudul “toleransi” .. yang artinya adalah pintu kompromi ..kan?

Maka lahirlah budaya kompromi baru , sebuah kompromi tanpa batas dimarkasi yang jelas,sebab tanpa melibatkan etika kepatutan yang melandasi perilaku ajaran budi pekerti itu sendiri.
Toleransi yang lahir dari budaya kompromi tanpa batas tersebut , kini telah beranak pinak melahirkan generasi demi generasi yang sudah terbiasa akrab dalam meg-korupsi makna dan arti .

Korupsi telah menjelma menjadi bagian dari segala aturan-aturan resmi untuk melegalisasi semua persoalan praktis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara . Dari hal-hal yang kecil urusan pergaulan antar individu , “penyiasatan-penyiasatan” yang digunakan , akar korupsi sudah hadir lekat disana .

Bila kita tengok permasalahan yang tidak kecil dan tidak sederhana , yaitu cara menata sebuah negara.
Salah satunya adalah Presiden dipilih langsung oleh rakyatnya , hal tersebut kita pahami bersama sebagai “sistim presidensial” dalam sebuah sistem berpolitik yang sudah diterapkan oleh seluruh manusia penghuni planet ini di sepenjuru dunia . Yang artinya juga bahwa seorang Presiden berwenang penuh untuk menyelenggarakan administrasi ketata-negaraan negara nya , dan akan mempertangung jawab seluruh akibatnya nanti , disaat akhir jabatan memanggilnya yang telah ditentukan oleh konstitusinya . Yakni setiap periode lima tahunan .

DPR atau dewan perwakilan rakyat-rakyatnya , sebuah lembaga yang lazim disebut parlemen . Disanalah berkumpul orang-orang terpilih yang berkualitas paling terbaik diantara duaratusan juta lebih penduduknya , penduduk atau masyarakat yang tercatat resmi sebagai warga bangsa-negara nya . Parlemen / DPR bertanggung jawab penuh untuk mengontrol semua lalu lintas administrasi pemerintahannya . Agar rakyat-rakyat yang dilindungi atas namanya bisa aman / makmur / damai dan sejahtera hidupnya . Tak terkecuali seorang “presiden” terpilih sekalipun harus tunduk dengan persetujuan-persetujuan politik yang telah disepakati oleh lembaga parlemen tersebut.
Sistim inipun kita pahami sebagai “sistim parlementer” yang juga telah diakui serta digunakan oleh orang-orang yang hidup diseluruh penghuni jagad planet bumi ini .

Ada sebuah negeri yang berjudul Indonesia .. dengan menerapkan metode “toleransi” tanpa batas seperti pada awal saya jelaskan diatas . Telah melahirkan sebuah “sistim baru” yakni sebuah sistim yang mengawinkan keduanya secara sekaligus , paham presidensial dengan paham perlementer diatas . Pembenaran yang dipakai adalah: agar kedua lembaga tersebut punya kekuatan yang sama untuk bisa melahirkan berbagai aturan dan perundangan (saling kontrol) agar juga segera mewujudkan cita-cita & harapan rakyatnya untuk menjadi adil / makmur dan sejahtera .

Toleransi tanpa batas , sekali lagi adalah toleransi tanpa melibatkan azas kepatutan yang berpijak dari perilaku dasar ajaran agamanya yang kemudian dibahasakan dalam sebuah kalimat : Budi Pekerti .
“Toleransi” tanpa “Budi Pekerti” jelas adalah korupsi yang di selibungi dengan berbagai istilah yang dilegetimasi .

Maka ketika sebuah negeri yang saya sebutkan diatas , yaitu negeri dengan julukan Negara Republik Indonesia …. telah menerapkan kedua hal tersebut sekaligus (sistim presidensial dan sistim parlementer) maka negeri tersebut adalah sebuah negeri yang dengan sedih dan terpaksa harus kita katagorikan sebagai negeri korupsi . Ironisnya…. dia adalah negeri kita sendiri .

Dan siapa korban yang akan terus digilas / dilindas oleh perilaku korupsi tersebut , jelas bukan mereka .. para anggota parlemen terpilih ataupun para terhormat di eksekutif . Mereka akan terus adu otot / adu mulut / adu kekuatan / jabatan untuk kepentingan kursi kekuasaan yang mereka duduki , serta semua hal yang tak ada relevansinya apa-apa bagi rakyatnya . Sebab rakyatnya telah ditentukan sendiri nasibnya , yakni : KORBANNYA .

Itulah “NASIB”……! , sebuah istilah yang tak dikenal keabsahannya secara ilmiah untuk bisa diakui kecuali hanya bisa kita tempatkan sebagai “lorong gelap” untuk introspeksi agar manusia menjadi lebih waspada , itu saja dan tak lebih . Kini mereka saudara-saudara kita sendiri yang saat ini telah keblinger dan menjadi lupa diri terus menerus mengorbankan rakyatnya sendiri ….., apakah yang ada dibenak anda semua saat ini .

“Revolusi “hanya melahirkan kerusakan baru , membongkar pohon besar tatanan kehidupan juga akan merusak akar serabutnya . Memangkas habis seluruh batangnya agar tunas baru bisa bersemi dan bisa tumbuh menjadi rimbun kembali ?

Merdeka!

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

4 Responses to “ BENTO! ”

  1. Memangkas habis seluruh batangnya agar tunas baru bisa bersemi dan bisa tumbuh menjadi rimbun kembali , mungkin itulah hal terbaik yang harus dilakukan dengan segera.

    apakah ini potong satu atau beberapa generasi ? babad alas lagi? Evolusi terlalu lama ya bung?
    btw, bukankah di jaman kerajaan ada tradisi upeti bagi penguasa, apakah ini juga warisan jaman dulu yg sekarang menjadi korupsi dan main mata dgn penguasa?
    woo o ya o ya..Bongkar..

  2. Kita tidak lagi hidup di alam raja-raja dengan tradisi upeti sebagai bentuk pemerintahan dengan sistem monarki kuno seperti dijaman itu . Memberi sesuatu sebagai cermin ungkapan rasa berterima kasih dari satu orang kepada orang lainnya adalah perilaku balas budi yang dilandasi oleh kesadaran rasa untuk berterima kasih kepada sesamanya . Jelas hal tersebut adalah bagian dari kultur budaya luhur yang kita miliki .

    Namun ketika Hukum dari sebuah Negara dengan tatanan demokratis yang kita miliki tidak mewakili substansi keadilan , terlebih lagi Hukum juga mengabaikan etika kepatutan sehingga Hukum kehilangan fungsinya sebagai “Panglima Tertinggi” , maka segala perilaku kultur dan adat yang kita miliki diatas menjadi paradoks dan boomerang atau bisa juga disebut senjata makan tuan .

    Itikad baik untuk saling berbalas budi terpolarisasi ke sebuah kondisi dimana Hukum bisa ditawar dan diperjual belikan .

    Bangsa Indonesia melalui mekanisme sistim pemerintahannya justru menghukum dan melarang serta menyalahkan perilaku “toleransi atau balas budi” tersebut . Padahal yang salah adalah sistim “Hukum” nya sendiri yang tidak mandiri .

    heh… sok teu yaa…. biaarrrriiiinnnn..

  3. cerminan “superstar” kayaknya sekarang adalah yang setiap pagi muncul di infotainment, yang beritanya ungkapin perceraiannya sendiri dengan istri/suaminya….malahan ironisnya yang paling baru ada yang ngaku paling superstar dengan bangganya bilang kalo lagi deket sama mantan napi yang dulu pernah paling diburu di negeri ini….

  4. “korupsi sudah beranak pinak” seperti yang saya kutip di artikel ini , hingga rasa malu sedikitpun sudah hampir hilang sama sekali.

    Lihat bagaimana contoh kasus yang muncul lagi di hari belakangan ini , ketua dprd (di medan) sampai meninggal akibat dikeroyok “democrazy” . Sementara sebelumnya Presiden sudah mengeluarkan perintah Moratorium bagi pemekaran daerah baru , tetapi DPR nya cuwek dan jalan terus.Kini semua orang berteriak ramai2 :

    “usut hingga tuntas pelaku anarkies dan sebagainya”

    Padahal yang yg melakukan substansi anarkies itu adalah pemerintahannya sendiri. Nggak jelas ini pemerintahan presidensial atau parlementer .

    Lalu siapakah korban yang sebenarnya..? Ya…masyarakat..(menurut saya..) Ketua DPRD yang meninggal dunia tersebut adalah akibat dari pertarungan antar mereka sendiri.

    BENTO…!

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara