Kritik Terbuka

absurd

Setelah melewati masa yang sudah saya anggap cukup kondusif maka sekaranglah saatnya saya menyampaikan kritik secara terbuka kepada presiden saya Soesilo Bambang Yudhoyono pemimpin dan nakhoda kapal besar Republik Indonesia . Kritik ini adalah kritik berdasarkan fakta obyektif sesuai bidang profesi yang saya tekuni , yakni sebagai seniman musik .

Seni bermusik adalah hak azasi semua makhluk hidup yang menghuni planet bumi ini , tak terkecuali burung dan barisan kodok pun memiliki hak yang sama untuk boleh bernyanyi sesuka hatinya . Namun manusia bukanlah sama dengan seekor burung cicakrawa apalagi dengan seekor kodok bangkong yang ruang imajinasi dan daya jelajah nadanya tidak secanggih manusia .

Sungguh memekakkan dan mengganggu telinga bila kicauan dan ngorek nya suara kodok ada di ruang belajar kita , ada di kamar tidur kita , ada di tempat kerja kita , ada disetiap saat ketika hati pedih hanya bisa meneteskan airmata ketika dibenturkan dengan berbagai persoalan hidup yang ada .

Sebagai seorang seniman pemusik yang hidup di Indonesia saya sangat terganggu dengan perilaku kebebasan yang bebas pasport dan visa oleh perilaku industri kapitalis dan musik di Indonesia . Atas nama pasar terbuka dan ‘demokrasi’ mereka boleh dan merasa sah-sah saja untuk memantapkan posisi “suply and demand” dengan menerjang berbagai ruang-ruang kepatutan ditengah-tengah krisis yang menimpa sebahagian besar masyarakatnya .

Dimulai dari barisan infotainment yang melebihi ‘vulgarnya’ tontonan acara “reality” di negeri asalnya amerika , hingga deretan produsen berbagai produk yang tersebar di tanah air kita . Semuanya berlomba secara bergantian memanfaatkan ruang ekspresi ‘tanpa batas’ tanpa ‘etika’ tanpa ‘kesantunan’ dan yang terparah adalah tanpa ada contoh perilaku yang konkrit dari para pemimpinnya untuk mengajak rakyatnya berbaris menuju pintu “kecerdasan intelektual” lewat loket-loket aturan yang “seharusnya ada” dan pantas serta patut untuk di ikuti serta di contoh .

Seni adalah keindahan yang maha sempurna yang di anugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa . Namun seni yang ‘bebas nilai’ bukanlah seni keindahan yang termaksud . Seni yang bebas nilai hanya akan memprovokasi otak kotor manusia (misal: membayangkan wanita dihadapan kita bugil dan siap untuk kita ajak bersenggama) Seni yang bebas nilai hanyalah “fantasi liar” yang mengendap dan berwacana disepenjuru sudut otak kiri dan kanan kita. Jelas bahwa hal tersebut harus dibatasi agar tidak meloncat keluar menjadi ekspresi terbuka yang bisa ditonton/dinikmati oleh semua orang . Dia hanya boleh berkeliaran didalam otak kita sendiri . Dan bila hal tersebut mampu kita wujudkan maka disanalah adanya sebutan kita sebagai mahkluk (manusia) yang mengenal etika , tata-krama dan beradab . Seyogyanya pemerintahan di Indonesia memahami hal tersebut , sudah seharusnya .

Untuk bisa meng implementasikan hal tersebut diatas , maka menurut saya ada dua pendekatan yang harus dilakukan secara masive / bersama ,

1. Melibatkan mereka (pelaku industri) untuk mematuhi regulasi/aturan (hukum bagi tegaknya sistim ber ekonomi yang ber-keadilan)

2. Berjalannya sistim pendidikan dengan menciptakan berbagai ruang pencerahan di tengah masyarakatnya.

Seperti apa konkritnya , tentu tugas orang-orang pintar dan pandai yang duduk di kursi-kursi terhormatlah yang harus memikirkan dan menjabarkannya secara tehnis makro hingga menjadi detail pelaksanaan di lapangan , bukan saya .

Demikianlah makna seni bagi kehidupan yang saya pahami sebagai seorang seniman / pemusik .

Mencermati perilaku seorang pemimpin yang menyenandungkan ‘irama romansa’ kehidupan pribadi tentu merupakan hak azasi setiap insan untuk boleh-boleh saja melakukannya. Namun ketika senandung para pemimpin itu menyeruak masuk kesegenap ruang-ruang terbuka di tengah kondisi masyarakatnya yang sedang terhimpit oleh berbagai krisis yang menerpa kehidupan mereka … disanalah eksistensi perilaku “seni” dipertanyakan kepatutannya .

Seperti yang sudah saya utarakan diatas tentang suara kicauan burung cicakrawa dan barisan kodok bangkong yang sedang mengorek , maka belumlah sempurna kebisingan udara tersebut bila “dengung lebah” belum hadir untuk melengkapinya .

Maka dengan tidak mengabaikan rasa hormat saya sebagai sesama manusia dan sebagai satu dari rakyat Indonesia , dengan hati masygul saya harus berkata “Lengkaplah sudah kebisingan udara di negeri ini”

Republik Absurd yang dikelola dengan cara absurd oleh perilaku orang-orang yang juga seolah absurd .

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

8 Responses to “ Kritik Terbuka ”

  1. sabar bos… love is on the way.. :razz:

    makanya skrg rock tdk bergema..lha wong tidak ada yg diperjuangkan..
    sudah merasa mapan semua…

  2. Melanggar azas kepatutan ya bos?


  3. beni: sabar bos… love is on the way..


    on the way .. on the way home .. home nya yang dimana hehehe


  4. Melanggar azas kepatutan ya bos?


    Melanggar lalu lintas , lampu merah dilarang ditrabas walaupun sampeyan itu polisi .

  5. iya, infotainment itu kok ga ada enaknya to, apalagi gaya narasinya :cry:


  6. hedi: iya, infotainment itu kok ga ada enaknya to, apalagi gaya narasinya


    Kalimat tersebut saya pahami sebagai berikut :

    Kadar intelektualitas pemirsanya sudah jauh meninggalkan kualitas kemampuan otak produser beserta awak presenter nya . Sehingga bahasa sederhana yang dapat dipakai sebagai istilah atau per-umpamaan-nya adalah “norak”

    Sama seperti orang ‘norak’ kalau ketemu bule atau orang asing .. sering mengajukan pertanyaan yang nggak “bermutu” , sehingga mereka mengibaratkannya sebagai “stupid questions”

  7. Mas saya masih belum mengerti, mengapa yang dikritik SBY? Apakah karena dia adalah pimpinan dari negara ini? Masih belum mudhenng saya. (Harus baca ulang.)

    Bukan berarti saya mbelain SBY lho (soalnya saya masih kesel dengan pemberangusan kebebasan), tetapi belum jelas aja.


  8. budi rahardjo: Mas saya masih belum mengerti, mengapa yang dikritik SBY? Apakah karena dia adalah pimpinan dari negara ini? Masih belum mudhenng saya. (Harus baca ulang.)

    Betul mas.. karena posisi dan jabatan .Sebagai Kepala Negara seharusnya tetap menjaga nilai2 kepatutan , untuk tidak berperilaku layaknya bukan seorang pejabat negara itu sendiri.

    Presiden dari sebuah negara yang Industri lagu2nya sedang saya kritisi koq malah ikut2an jualan lagu lewat industri tersebut.

    Lhaa.. sebagai rakyat dan warga negara dan seniman musik saya minta tolong sama siapa lagi untuk minta perlindungan hak-hak ekonomi , kalau presidennya sendiri ikut2an nyanyi disana ….heran..campur absurd.

    Apalagi menyanyikan lagu2 yang membuai mimpi2 indah .. sementara rakyatnya untuk mimpi saja sudah susah .

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara