Asap & Api

culture shock

Ada asap pasti karena ada api demikian bunyi sebuah pepatah yang kita kenal semenjak kita diajarkan menulis serta belajar membaca . Namun ditengah realitas yang terjadi , teramat sering kita terlewatkan / lalai dalam menanggapi berbagai persoalan yang berkaitan dengan falsafah bunyi pepatah tersebut diatas .

Kita semua menyadari betapa konflik yang melibatkan sentimen sempit antar satu Agama dengan Agama yang lainnya sudah terjadi semenjak lama . Mencermati contoh kasus di berbagai belahan dunia , perihal perseteruan yang menyulut suasana perang berkepanjangan di wilayah Palestina , dimana rasa solidaritas umat beragama Islam seluruh dunia ikut terasa tercabik dikoyak-koyak serta dihinakan secara begitu saja oleh negara-negara besar adi kuasa.

Apa yang terjadi di wilayah kita sendiri .. di negeri yang bernama Indonesia ini .
Dua ratus dua puluhan juta lebih rakyatnya (220’an) sebagai sebuah negeri luas dengan penduduknya yang mayoraitas adalah pemeluk agama Islam , selama ini bisa dikatakan negeri dengan masyarakatnya yang cukup proporsional dalam menanggapi dan menyikapi sentimen ataupun meletakkan semangat rasa solidaritas terhadap sesama umatnya , yakni umat Muslim yang ada disana .

Namun tahun-tahun belakangan ini ketika kohesi bangsa ini terasa rapuh akibat digilas masalah-masalah internal dalam tubuhnya sendiri , seperti:

1. Pelanggaran terhadap “nilai-nilai” lokal (baca:kepatutan) yang selama ratusan tahun menjadi perekat antar satu bangsa dengan bangsa yang lainnya , antar satu suku dengan suku yang lainnya , antar satu agama denagn agama lainnya , kini mengendur akibat diterjang masuknya nilai-nilai baru melalui mekanisme dan tawaran cara berperadaban baru yang sungguh amat dipaksakan .

2. Nilai baru yang dipaksakan / dibiarkan tersebut telah melahirkan cara berpikir dan sistem berpolitik yang semakin jauh meninggalkan kendali etika dan tata krama-nya .

Kedua hal tersebut memicu berbagai kondisi ketidak-seimbangan azas keadilan atas azas kerakyatan / mesin pemersatu diantara sesama warga bangsanya.

Krisis ekonomi pada hakekatnya adalah potensi kuat munculnya berbagai kesenjangan sosial , satu dampak dan konsekwensi yang tak bisa terelakkan . dan ketika ada sebuah wilayah seperti negeri kita yang sedang dihantam berbagai krisis secara berkepanjangan ,

a. Tak ada hukum yang pasti untuk mencari keadilan , sebab sistem berpolitik telah memanipulasi hukum itu sendiri .
b. Tak ditemukan lagi penegak hukum yang patut dicontoh sebagai tokoh suri taulan , sebab para penegak hukumnya juga terbelit dalam kondisi yang membingungkan (dampak a)
c. Masyarakat atau rakyatlah yang sudah pasti menjadi korban dari kedua item tersebut diatas .

Perilaku asosial , apolitis , amoral menyeruak masuk kesegenap penjuru ruang-ruang kehidupan kita semua . Potensi masyarakat ‘bebas nilai’ yang ‘liar’ sedang berproses dengan suburnya di negeri ini . Kemanakah harus kita sandarkan dan dimanakah tempat hati nurani bisa diletakkan agar tetap terjaga ?

Sebagai masyarakat spiritualis / beragama jelas hanya Tuhan Yang Maha Esa satu-satunya yang patut dijadikan sandaran bagi hati nurani kita semua . Lalu bagaimanakah kita me-representasikan perlawanan atau pembelaan kita untuk menjaga eksistensi hati nurani tersebut…

Disinilah salah satu masalah bangsa Indonesia yang harus kita anggap sebagai “sungguh krusial” , sebab keutuhan atau yang saya sebut kohesi-nya rapuh ..adanya .

Diawali dari terkikis dan terdegradasinya “nilai” yang menyertai hukum yang “tak bernilai keadilan” itu sendiri , kini telah berkembang semakin jauh memfasilitasi munculnya berbagai kelompok-kelompok sekuler yang eksklusif . Kelompok masyarakat yang menempatkan Agama sebagai “PALU” untuk menghadapi mesin-mesin rekayasa yang dianggap merusak sendi-sendi berbangsa .

Lagi … sebuah paradoksal .

Akankah kita menyalahkan begitu saja segolongan masyarakat yang bertindak “paradoks” tersebut ..
Akankah kita atas nama modernisasi dan globalisasi juga akan menghukum perilaku tersebut secara sosial ..

Jelas … saya tidak membenarkan perilaku mengusung PALU tersebut sebagai alat legetimasi pembenaran untuk boleh membakar dan merusak. Tetapi menyalahkan mereka atas nama kondisi “hukum yang sakit” secara begitu saja , juga adalah perilaku masyarakat yang sedang “sakit” itu sendiri.

Yang sakit dan tidak waras adalah cara mengelola berkumpulnya bangsa-bangsa di bumi Nusantara ini untuk menjadi satu , yang bernama Indonesia . Disanalah kita seyogyanya kita semua , semenjak dari kemarin-kemarin (seharusnya) atau paling tidak mulai hari ini harus segera beranjak untuk membenahinya ….. sebelum semuanya menjadi terlambat dan rusak hingga tak bisa diperbaiki lagi . “Selamat tinggal untuk sebuah negeri yang pernah ada …. INDONESIA”

salam *lemes*
jsop

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

10 Responses to “ Asap & Api ”

  1. Satu contoh “konkrit” dari kebijakan pemerintahan di Indonesia didalam menyikapi masalah kebebasan meng-akses informasi di jaman global lewat media dunia Internet .

    Sebuah reaksi yang terkesan hanya pantas untuk diterapkan didalam isi kepala bocah2 dunia taman kanak-kanak , telah diberlakukan sama rata kepada seluruh masyarakat pengguna fasilitas sosial dunia maya Internet kita.

    Bila dalam artikel diatas saya mencermati segala kekhawatiran kita tentang perilaku-perilaku masyarakat yang cenderung menyimpang / menjadi asosial dan sebagainya .

    Maka hari-hari ini Pemerintahan resmi di Indonesia sudah terlebih dahulu memberi contoh untuk berperilaku serupa . Memberangus hak-hak sosial masyarakatnya sendiri tanpa pandang bulu .

    Mengutip sebuah artikel yang serupa di blog Budi Rahardjo , memang sepertinya bangsa kita selama ini selalu diajarkan untuk hanya pandai menyiasati segala macam cara dengan melakukan tindakan-tindakan yang tricky / licik / dan sama sekali tidak diajarkan untuk berani menghadapi segala tantangan secara “jantan” seberat apapun juga bebannya .

    Hari ini sejarah mencatat lagi dilembaran kumuhnya . Para pemimpin kita belum beranjak untuk belajar agar bisa di cintai oleh rakyatnya . Terlanjur sudah .. walaupun esok pagi akan muncul peraturan yang sebaliknya sekalipun … catatan tersebut sudah tergores .. semakin melukai dan mencederai kepercayaan yang sedang dibangun dengan susah payah oleh masyarakat elite nya sendiri .

    Selamat tinggal pemimpin berkepala kerdil , kami sudah mencatat namamu di buku daftar nama-nama musuhku . Sebab kalian adalah masa lalu sedangkan kami selalu berharap bisa menyongsong masa depan dengan gemilang .

  2. Sudah tercatat juga dalam buku saya mas. Mari kita tetap songsong masa depan dengan gemilang!

  3. Selamat tinggal pemimpin berkepala kerdil , kami sudah mencatat namamu di buku daftar nama-nama musuhku . Sebab kalian adalah masa lalu sedangkan kami selalu berharap bisa menyongsong masa depan dengan gemilang .

    Pemilu mendatang, pasti nama kalian gak ada dalam daftar pilihan kami……..yakin tenan !!

  4. huehh.. tetap akan kita pilih dan saya akan tetap tunjuk mereka mas…

    Tapi kita tunjuk di posisi orang2 yang harus “membersihkan piring” sisa-sisa pesta dalam sejarah masa lalu Indonesia hahahaa..

  5. Knapa sih pemerintah kita seneng numpuk2in masalah yg slalu digantung & pernah diselesaiin dng baik , mas

    begitu aja tros dari jaman dulu sampai sekrg :(

  6. yahh.. mengkali emang kagak bisa nyelesaiin nya hihiihi..
    Mbak tanya aja sama mas Tejo .. secara pasangannya gitu.. haha

  7. Mas Yockie, saya sering membaca tulisan Mas Yockie di blog ini dengan nada yang sama : kegundahan terhadap segala persoalan yang menimpa bangsa ini.

    Dan rasanya saya sering pula melontarkan pertanyaan yang sama : apa mungkin watak kebangsaan kita bisa berubah.

    Tapi, kok saya merasa pesimis kelak kita akan berubah. Dan pada akhirnya kegundahan itu semua cuma menjadi umpatan. Maaf, mas kenyataan memang demikian : menanti adanya perubahan pada diri kita seperti hal menunggu godot

  8. wuih… pertanyaan serius neh…hehe ,


    dimas: Tapi, kok saya merasa pesimis kelak kita akan berubah. Dan pada akhirnya kegundahan itu semua cuma menjadi umpatan. Maaf, mas kenyataan memang demikian : menanti adanya perubahan pada diri kita seperti hal menunggu godot

    1. Kita harus berubah menjadi lebih baik , “harus” nggak boleh tidak . Sebab itu berkaitan erat dengan kualitas hidup , apakah kita hanya sekedar “numpang” hidup , karena diberi nafas dan diberi nyawa dan sebagainya.

    point 1 diatas (sebagai individu) akan bertemu/ber-interaksi dengan orang2 lain yang serupa (point 2 dst..dst) hingga akhirnya secara bersama menjadi kekuatan untuk membangun sebuah sistem peradaban.

    Kondisi peri-kehidupan kita hari ini tidaklah menggembirakan bukan? yang bisa saya terjemahkan belum terciptanya kekuatan bersama untuk membangun peradaban yang di cita-citakan .

    Apa yang bisa dilakukan?

    Menjaga kualitas hidup masing-masing .. itulah yang mendasar
    Untuk apa..? untuk diri kita dan untuk kualitas keluarga kita sendiri saja dulu. Kita punya kemampuan untuk membangun kualitas lingkungan kita sendiri kan?

    Berharap bisa merubah sistem ….sendirian? sama aja mimpi disiang hari bolong huehehehe .. Jadi nggak usah berharap terlalu jauh Republik Indonesia akan menjadi lebih sejahtera gara-gara kita telah berkelakuan baik dan sebagainya …

    Kita dan keluarga kita sendiri mampu untuk berkelakuan lebih “baik” dari hari kemaren, itu sudah “kemewahan” yang luar biasa .

    Lalu serahkan semuanya pada proses alam .. hehehe… selesailah tugas kita .. ya nggak? …, jadi sante’ sante’ aje’ hehehe

  9. ngomong-ngomong…siapa sih yg bikin sistem kayak gini??
    bikin susah aja :evil:

  10. Hantu

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara