Dari awal

family

Dasar jaman edan…, anak sekarang mudah berperilaku kurang ajar ; gumam orang tua .

Dasar orang tua…, enggak bisa diajak debat , maunya menang sendiri ; balasnya .

Kondisi dialog interaksi diatas adalah cermin psikologis sosial masyarakat ‘transisi’ di Indonesia , yang notabene juga terjadi pada diri kita sendiri . Saya ingin berbagi pengalaman bagaimana saya mengantisipasi keadaan tersebut dengan cara-cara yang saya berlakukan pada keluarga saya . Bukan pembenaran yang beranjak dari berbagai disiplin ilmu/psychosocial , namun lebih menggunakan common sense sebagai instrumen (mesin rekayasa) untuk mendekatinya .

Para Leluhur hingga generasi orang tua kita , adalah mereka yang berhasil menata hidupnya melalui berbagai ujian dan berbagai cobaan pada jamannya . Mereka akhirnya menemukan cara yang tepat , lalu metode tersebut disepakati secara bersama , menjadi cara yang terbaik untuk menempuh peri-kehidupan secara bersama-sama . Tentu saja sesuai kebutuhan peradaban / jaman dimana mereka dulu berada (paradigma). Lahirlah disana berbagai istilah dan kebiasaan yang akhirnya disebut “adat istiadat” .

Selama hitungan ratusan tahun kebiasaan-kebiasaan tersebut mampu melindungi dan relatif bisa menyelesaikan berbagai “ketegangan” , atau ketidak sepahaman diantara sesama mereka . Hal tersebut bisa dijadikan contoh sekaligus bukti yang konkrit bahwa betapa adat-istiadat tersebut memang ‘sakti’ luar biasa

Kita , generasi peradaban jaman ini… ternyata menghadapi tantangan peradabannya sendiri yang bisa saya sebut “tidak sama” (kalau tidak mau dibilang bertolak belakang) dengan kebiasaan-kebiasaan para orang tua kita tersebut. Tapi ingat.. bahwa kalimat “TIDAK SAMA” tersebut nyatanya hanya bermakna “CARA” yang digunakan sebagai alat/instrumen untuk menghadapi tantangan jamannya . Sedang hakekat serta makna arah tujuan hidupnya relatif masih sama , yakni bagaimana menguasai & mengelola jamannya dengan baik.

Satu hari saya (X) bersama keluarga didalam sebuah kendaraan menuju pulang kerumah , lalu saya bertanya pada sekeliling saya :

x : wadduhh… HP saya mana ya..? (sambil merogoh kantong celana kebingungan)

istri : apakah tadi kamu bawa .. sebab saya nggak liat kamu bawa HP..(kata istri saya)

x : saya bawa koq… tadi sehabis makan di warung amprung , HP tersebut saya letakkan di samping piring

istri : wah… berarti ketinggalan dong..

x : (puyeng…sambil tolah-toleh nengok ke anak saya) .. kamu tadi nggak liat ya… waktu mau berdiri dan ninggalin meja makan … bukankah kamu duduk disamping papa .. (saya nggerundel sambil menoleh pada anak saya)

anak : yaah.. saya nggak liatin pa.. (wajahnya tampak serba salah , seolah dia ikut merasa bersalah..)

istri : aduhh… biasanya saya juga selalu ingetin..lho pak’e..koq tadi bisa lupa … (idem dengan anak saya..)

Contoh sederhana percakapan diatas adalah analogi yang saya gunakan sebagai “cara” kami untuk mengolah komunikasi agar berjalan dengan baik , bagi saya sekeluarga .

Jelas yang salah adalah saya sendiri .. mengapa saya sampai lalai terhadap barang milik saya sendiri . Tetapi dalam kasus ini , anak saya memahami dulu “fungsinya” sebagai seorang anak , baru kemudian menempatkan fungsinya sebagai manusia yang (independen) yang harus bertanggung jawab pada kewajibannya sendiri terlebih dahulu . Dia tidak serta merta menyalahkan saya (orang tuanya) untuk mengatakan “salahmu sendiri” atau “dasar ortu” .. pikun kale’.. dan sebagainya . (tentu saja kalimat ini tak akan muncul berbentuk kata-kata..tapi cukup diwakili oleh perilaku atau sikap cueknya) hehe.. kalau terucap sih… pastinya bakiak melayang..hehe

Setelah HP tersebut berhasil saya temukan kembali .. berkatalah dia kepada saya ..

“lain kali hati-hati pa… inget..kalau mau pulang liat-liat dulu…ada yang ketinggalan apa enggak ..”

Dan saya cuman manggut-manggut sambil nggerundel..”sialan..dinasehatin anak kecil…hehehe”

Itulah salah satu substansi dari “adat istiadat” yang diturunkan serta diajarkan pada saya . Perilaku si anak yang seolah merasa ikut bersalah pada awalnya , bukan akibat perlakuan yang otoriter dari orang tuanya . Tetapi si anak harus sadar bahwa saat itu dia berada diwilayah/domain adat istiadat orang tuanya (paradigma) , yaitu menghormati orang tua dan sebagainya . Ini bukan wilayah hak azasi atau apalagi demokrasi dan krasi-krasi lainnya ..Ini wilayah etika / sopan santun dan tata krama .

Sedangkan saya sebagai orang tua juga akan merasa bersalah .. karena tidak ‘corrected’ pada diri sendiri , terlebih lagi , sampai membebani akibat kelalaian sendiri kepada anak yang sama sekali nggak ada hubungannya dengan “kealpaan” saya sebagai orang tua .

Sinergi toleransi antara posisi saya dan generasi anak saya .. alhamdullilah bisa saya jalani dengan baik..untuk menyelesaikan berbagai persoalan dan untuk mengatasi bermacam-macam kendala yang sering menjerumuskan kita beradu otot leher dan teriakan kerasnya suara.

Semoga bermanfaat , salam

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

20 Responses to “ Dari awal ”

  1. Kalo anak yang terlanjur cuek/acuh gimana om ?


  2. :surti: Kalo anak yang terlanjur cuek/acuh gimana om ?

    hehe..terlanjur sayang kale’..(kayak judul lagu aja’..)

    Yahh.. kalo terlanjur cuek sih , orang tuanya dulu yang musti berbenah . Melengkapi ‘perpustakaan’ dirinya sendiri dulu . (pasti ybs.banyak nggak punya jawaban yang cukup dan rasional , ketika banyak pertanyaan ditujukan pada mereka) Karena itu si anak cenderung untuk “under estimate” hingga berperilaku cuek dsb.

    Artinya jangan pernah menyalahkan anak , kalau kita sendiri juga nggak pernah menyadari , bahwa kita juga (orang tuanya) punya andil atas kesalahan tersebut .

  3. Terimakasih om wah info penting nih..akan sy blg ke ortu sy biar tau kekekekek

  4. Selamat siang mas JSOP ,

    Sudah lama saya nggak mampir sini , kalau menurut saya (membaca artikel ini) pendidikan Agama harus kuat mas,ini yang sekarang ini sangat lemah. Pendidikan Agama ditengah masyarakat Indonesia.

    salam.


  5. andara: Sudah lama saya nggak mampir sini , kalau menurut saya (membaca artikel ini) pendidikan Agama harus kuat mas,ini yang sekarang ini sangat lemah. Pendidikan Agama ditengah masyarakat Indonesia.

    hehe si ibu.., bukannya sudah rada kebanyakan tuh orang yang sdh meng-atas namakan agama , tapi kondisi cuaca koq malah semakin ’buruk’ saja. Kalau bagi saya mbak “hal tsb” tetap “wilayah personal” yang seyogyanya tidak masuh ke ranah publik untuk menghadapi berbagai perbedaan “urusan duniawi”.

    Agama kan tidak cuman satu … kalau Tuhan memang cuman ada satu. hehehe.. Lewat pendekatan “nalar” saja mbak … itu adanya di (sejarah kultur budaya)


  6. surti: Terimakasih om wah info penting nih..akan sy blg ke ortu sy biar tau kekekekek

    kalo ortu ngamuk.. jangan sebut2 nama saya ya.. :)

  7. Wah Mas Yockie rasanya makin tua makin arif dan bijak saja.

    Cuma persoalannya, ketika Mas Yockie berusaha bersikap demokratis terhadap anak sendiri–baik itu dunianya, ekspresinya, pendapatnya, cara pandangnya,dan hal lain–adakah itu karena ketulusan untuk memahami si anak, atau karena berusaha mengerti maunya si anak agar tidak muncul konflik?

    Saya sendiri terlalu muda,dan memang belum jadi orang tua. Kadang ada anggapan dalam diri saya sebagai anak, ayah atau ibu saya amat kolot dan tidak demokratis. Intinya mereka kok selalu minta dihargai, tapi berusaha menghargai kita rasanya sulit. Konflik antara saya dan orangtua, meski hanya sebatas perbedaan pendapat, seringkali terjadi karena menganggap pendapatnya yang paling benar.

    Pada akhirnya pengalaman saya dengan orangtua menjadi renungan : kalau nanti saya jadi orangtua dan memiliki anak saya akan bersikap demokratis; saya tidak akan menyalahkannya begitu saja kalau latar belakang masalahnya belum saya ketahui; saya tidak akan pernah memaksakan pendapat dan keinginan saya pada anak.

    Tapi kemudian saya juga berpikir,ah kalau saya menjadi orangtua nanti, barangkali saya juga akan bersikap seperti orangtua saya sekarang.

    Mengapa? “Karena lu belum merasakan menjadi orangtua. Kalau lu ntar punya anak, lu akan jadi seperti bapak dan ibu lo sekarang,” kata kawan saya sambil menambahkan “makanya cepat kawin supaya lo tahu rasanya jadi orangtua”


  8. dimas: Wah Mas Yockie rasanya makin tua makin arif dan bijak saja.

    hehehe.. hati2 dimas , jangan terkesima sama tampilan yang kamu ciptakan sendiri :-)


    Cuma persoalannya, ketika Mas Yockie berusaha bersikap demokratis terhadap anak sendiri–baik itu dunianya, ekspresinya, pendapatnya, cara pandangnya,dan hal lain–adakah itu karena ketulusan untuk memahami si anak, atau karena berusaha mengerti maunya si anak agar tidak muncul konflik?

    Saya tidak berpretensi apa-apa , saya hanya sadar untuk harus terus melanjutkan ‘kehidupan’ yang berjalan terus , dan persoalan kehidupan bukankah nggak akan pernah berhenti ditempat ? Kebenaran kan ‘ketidak benaran’ itu sendiri ( sesuai ukuran/kehendak masyarakat yg berubah terus, bukan ukuran / kehendak kita sendiri yg statis ) kan ?


    Saya sendiri terlalu muda,dan memang belum jadi orang tua. Kadang ada anggapan dalam diri saya sebagai anak, ayah atau ibu saya amat kolot dan tidak demokratis. Intinya mereka kok selalu minta dihargai, tapi berusaha menghargai kita rasanya sulit. Konflik antara saya dan orangtua, meski hanya sebatas perbedaan pendapat, seringkali terjadi karena menganggap pendapatnya yang paling benar.

    Kadang bila kita berhadapan dengan ortu yg sulit diajak berubah (sudut pandangnya).. maka kita wajib menempatkan diri kita di wilayah domain adat, yaitu “etika/sopan santun/hormat” (seperti yang saya jelaskan di artikel diatas) . Tidak ada pilihan lagi .. apapun juga pembenaran yg kita miliki , toh mereka hanya mempertahankan kedaulatan wilayah mereka sendiri . Itu harus dihormati kan..?


    Pada akhirnya pengalaman saya dengan orangtua menjadi renungan : kalau nanti saya jadi orangtua dan memiliki anak saya akan bersikap demokratis; saya tidak akan menyalahkannya begitu saja kalau latar belakang masalahnya belum saya ketahui; saya tidak akan pernah memaksakan pendapat dan keinginan saya pada anak.

    Masalah anda dengan anak2 anda dikemudian hari jelas nggak akan sama dengan pengalaman anda hari ini ..hehehe..


    Mengapa? “Karena lu belum merasakan menjadi orangtua. Kalau lu ntar punya anak, lu akan jadi seperti bapak dan ibu lo sekarang,” kata kawan saya sambil menambahkan “makanya cepat kawin supaya lo tahu rasanya jadi orangtua”

    Hahaha… itu hanya alasan dan dalih untuk menghentikan kebingungan yang mengakibatkan polemik berkepanjangan dalam diri kawan kamu saja .. :)

  9. Well, I have taken quite a close look on your website and I must say that I find it extraordinarily interesting.


  10. someone said: Well, I have taken quite a close look on your website and I must say that I find it extraordinarily interesting.

    Thank You.

  11. haloww om jokie…. :smile:
    layout baru nih….? :smile:
    kalaw baca artikel ini, nampak om Yokie udh cukup berhasil mendidik sang anak. tapi bagaimana ya dgn para ortu yang terlanjur sdh terbiasa dengan pola yang ada sehingga tak cukup lentur untuk bisa menerima paradigma dan sudut pandang baru? terutama orang tua yg masih harus berjuang keras untuk bisa memenuhi kebutuhan dasar anak2nya, sehingga tak ada cukup waktu untuk membaca dan menambah wawasan dalam hal mendidik anak. tak jarang hal ini membuat hubungan org tua dgn anak berjalan tidak harmonis dan sering diwarnai konflik. saya tetap menghimbau anak2 muda untuk tidak cepat-cepat memberontak dan menyalahkan orang tua, apabila ada ketidak harmonisan diantara kedua pihak. saya berpendapat, siapa yang lebih memiliki kesadaranlah yg lebih baik memberitahu dengan cara yang santun, bagaimana sebaiknya berinteraksi, dan tidak serta merta mengeluarkan kata2 yang bisa menyakiti. apalagi terhadap orang tua sendiri. bagaimanapun beliau2 yang menjadi orang tua itu adalah yg melahirkan kita kan? jadi, kalawpun ortu kita kurang bisa mendidik, dan kita tahu bagaimana seharusnya interaksi yg baik, saya pikir tak perlulah kita memberi label “kolot” pada orang tua kita sendiri. seyogyanya dengan kata2 yang santun kita bisa mengutarakan pendapat kita mengenai bagaimana sebaiknya berinteraksi. kalawpun ortu kita tak mau mendengar dan tak bisa banyak berubah yaah ibadah kita untuk bersabar…, besar lho pahala bersabar menghadapi orgtua… sabar…, sabar… :smile: cheers…! :grin:

  12. @Zulkarmen : baca postingan anda koq saya menangkap ada pemahaman yang salah ya..? sorry koreksi saya bila saya yang keliru hehe..

    Proses interaksi historis yang ‘putus’ (semrawut akibat rekayasa sejarah yang acak adut)telah menggiring sebagian besar pola berpikir generasi sekarang untuk meletakkan “garis dimarkasi” pemisah & tak berhubungan antara pelaku sejarah masa lalu dan pelaku sejarah hari ini.

    Lebih memprihatinkan lagi setelah terbukti bangsa kita tak mampu mengembangkan makna sebuah “kesatuan” dalam berupaya untuk menjadi Indonesia , sehingga akibatnya lebih jauh seperti yang bisa kita rasakan hari ini bahwa seolah-olah keinginan orang tua memang berbeda dengan cita-cita anaknya .

    Kita persempit saja ruang pembicaraan ini agar tidak melebar terlalu luas , yakni mencermati sikap orang tua kita kepada anak2nya .

    tapi bagaimana ya dgn para ortu yang terlanjur sdh terbiasa dengan pola yang ada sehingga tak cukup lentur untuk bisa menerima paradigma dan sudut pandang baru? terutama orang tua yg masih harus berjuang keras untuk bisa memenuhi kebutuhan dasar anak2nya, sehingga tak ada cukup waktu untuk membaca dan menambah wawasan dalam hal mendidik anak.


    Seperti yang saya maksudkan di artikel ini , bahwa anak harus patuh dan sadar sedang berada di domain adat istiadat kalau dia sedang berdialog dengan orang tuanya, bahwa tidak ada pembenaran yang bisa dilakukan untuk menaklukkan argumentasi kaum orang tua . (sekali lagi karena adat:sopan santun & tata krama)

    Namun hal tersebut seyogyanya hanya berlaku di wilayah lokalitas kita saja (keluarga dan sebagainya) tidak berlaku di wilayah publik yang diwarnai heterogen adat istiadat lainnya .

    Di tataran umum tersebut (bermasyarakat) hukum & perundangan / legalitas formal yang mengaturnya (sebut:State Law). Disini pemerintah melalui mekanisme perundangannya yang berperan untuk mengatur dan menentukannya . Perilaku adat istiadat (paternalis) tidak boleh diletakkan untuk mengatasi kepentingan umum yang beragam sifat dan watak adatnya.

    Nah.. persoalannya kini (pertanyaan kamu) :

    apalagi bila orang tua kita masih aktif mencari nafkah untuk kita sendiri, ya kita harus tunduk 100 persen (luar dalam) untuk mengikuti aturan luar dalamnya . Terkecuali kita sudah mampu berdiri sendiri dan lepas dari ketergantungan ekonomi dari orang tua , maka kita cukup patuh hanya untuk urusan ‘dalamnya’ saja .(adat-istiadatnya)

    Urusan luarnya biarkan orang tua kita diatur sama Hukum Negara (state law) yang berlaku. Kita tak perlu mencampuri tanggung jawab orang tua kita pada negara , sebab kitapun juga punya tanggung jawab sendiri yang harus kita lakukan sendiri pada negara .

    Problem hari ini adalah : Hukum Negara tersebut tidak mewakili problem kesenjangan historis sejarah yang tercipta , apalagi bisa diharapkan untuk mampu mengatasinya .

    Memang ruwet .. kalau kita berpikir dalam konteks hukum/aturan ber-negara bagi seorang warga-negara Indonesia .

    Sementara hidup untuk meletakkan kewajiban dan tanggung jawab kita sebagai masyarakat lokal/adat budaya (entah itu jawa / batak / bugis / ambon / aceh / kalimantan dan lain-lainnya) , gampang dan mudah sekali …kan? Sebab memang sudah ada aturannya , kita tinggal nerusin saja .

    Jadi kesimpulannya (menurut saya lhoo) ini tidak ada kaitannya dengan “kita harus memaklumi orang tua” atau ini “demi pahala” dan sebagainya . hehehe… salam

  13. Sy koq gak pernah diajarin yg beginian sama dosen2 sy yaa :(

  14. ya…ya…, sy memang salah paham :smile:
    dgn penjelasan ini saya jadi jelassszzzz…. :smile:
    trims
    tentang “memaklumi”, krn kalaw saya melihat ortu2 yg udah senja dan mudah sakit2an rasanya iba. jadi saya berpikir kalaw ortu2 salah2 sdikit sm yg muda(anaknya) ya mbok ya dimaklumi saja. ini hanya dalam ranah hubungan interpersonal antara anak dgn ortu aja. bukan untuk wilayah public. maksud saya agar yg muda lebih mengasihi ortu masing2 mas. hanya sekadar ajakan. selanjutnya terserah masing2 :smile:


  15. zulkarmen: tentang “memaklumi”, krn kalaw saya melihat ortu2 yg udah senja dan mudah sakit2an rasanya iba. jadi saya berpikir kalaw ortu2 salah2 sdikit sm yg muda(anaknya) ya mbok ya dimaklumi saja. ini hanya dalam ranah hubungan interpersonal antara anak dgn ortu aja. bukan untuk wilayah public. maksud saya agar yg muda lebih mengasihi ortu masing2 mas. hanya sekadar ajakan. selanjutnya terserah masing2

    Wah.. dalam ruang interpersonal kalau anda berpikir untuk memperlakukan orang tua seperti itu … jelas sikap yang mulia . Dan untuk itu dalam ruang/ranah agama , “Surga” lah balasannya.. bagi anak yang bisa membahagiakan orang tuanya kan..?

    salam,

  16. hmhh.. Ini bedanya peseni dan seniman/budayawan .
    salam perkenalan mas.


  17. petualang said: hmhh.. Ini bedanya peseni dan seniman/budayawan .
    salam perkenalan mas.


    Hehehe.. silahkan mas , 50 ribu satu u/ satu pertanyaan hehe , salam kenal juga.

  18. Ada pertanyaan saya, anda pernah gagal dalam perkawinan pertama (gosip2nya..sih) . Apa faktor ini juga mempengaruhi cara berpikir anda hingga seperti sekarang:)

    (biaya 50.000 menyusul mas hahaha)


  19. petualang: Ada pertanyaan saya, anda pernah gagal dalam perkawinan pertama (gosip2nya..sih) . Apa faktor ini juga mempengaruhi cara berpikir anda hingga seperti sekarang:)


    hehe .. itu mah bukan gosip mas , intinya kita kan kudu belajar dari kesalahan masa lalu dan memberi contoh agar orang lain tak perlu lagi melakukan kesalahan seperti kita di masa lalu. hehe..

  20. Dialog/comment di Multiply

    agripzzz
    delete reply
    agripzzz wrote on Apr 15
    Wah… puter – puter….
    Orang tua vs anak
    siapa yang menang ya??
    ariega
    delete reply
    ariega wrote on Apr 15
    masalahnya kadang anak sekarang itu lebih merasa tau dari orang tuanya mas….lebih ngerti semua semua…tanpa mau adanya dialog.
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 15
    agripzzz said
    Wah… puter – puter….
    Orang tua vs anak
    siapa yang menang ya??
    biasanya kamu..? siapa yang menang..
    Pake ring tinju nggak ?
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 15
    ariega said
    masalahnya kadang anak sekarang itu lebih merasa tau dari orang tuanya mas….lebih ngerti semua semua…tanpa mau adanya dialog.
    Ada 2 cara yang harus disikapi secara terpisah …(kalau saya lho mas..)

    a.Mengapa dia sok tau? benarkah dia memang tau? (kita clear kan dulu masalah sok tau ini)
    b.Nggak mau dialog ? Kenapa ngak mau dialog?..hehe(biasanya buah jatuh nggak jauh dari pohonnya kan mas..?)
    ariega
    delete reply
    ariega wrote on Apr 15
    jsops said
    Ada 2 cara yang harus disikapi secara terpisah …(kalau saya lho mas..)

    a.Mengapa dia sok tau? benarkah dia memang tau? (kita clear kan dulu masalah sok tau ini)
    b.Nggak mau dialog ? Kenapa ngak mau dialog?..hehe(biasanya buah jatuh nggak jauh dari pohonnya kan mas..?)

    saya selalu memposisikan diri pada saat seumur dia dan berusaha flashback…
    saya juga ga mau me-blame tanpa alasan
    karena buat saya ada dua perbedaan antara Kritis dan Sok tahu…
    mungkin kata sok tahu terdengar lebih arogan…tapi kata itu yang kadang muncul kalo lagi emosi negatif keluar

    thanks 4 sharing mas….
    btw sore ini bikin camilan apa dirumah….??
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 15
    ariega said

    saya selalu memposisikan diri pada saat seumur dia dan berusaha flashback…
    saya juga ga mau me-blame tanpa alasan
    karena buat saya ada dua perbedaan antara Kritis dan Sok tahu…
    mungkin kata sok tahu terdengar lebih arogan…tapi kata itu yang kadang muncul kalo lagi emosi negatif keluar

    thanks 4 sharing mas….
    btw sore ini bikin camilan apa dirumah….??
    Memposisikan sederajat adalah upaya kita untuk membuka diri.. agar dia mau berkomunikasi kan mas..?
    Tetapi keputusan tersebut saya ambil kalau dia sudah melewati paham sopan santun dan ber-etika sesuai adat keluarga saya . hehehe.. sebab kalau tidak…nanti saya dianggap sederajat seperti temen2nya… wah… repot saya…

    “Nah kan… papa suka liat wanita cantik… saya juga dong..”

    Padahal saya suka … karena keindahan wanita … sedangkan dia bisa saja suka karena dianggap boleh berbuat sesuka sukanya.. :)
    rozny
    delete reply
    rozny wrote on Apr 15
    ariega said
    thanks 4 sharing mas….
    btw sore ini bikin camilan apa dirumah….??
    lhoooo….??? kok malah pindah topik gegaresan seeh??? huahahahah!!! =))
    sayapimaji
    delete reply
    sayapimaji wrote on Apr 15
    well, i just wish my parents were thinking like you :D
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 15
    rozny said
    lhoooo….??? kok malah pindah topik gegaresan seeh??? huahahahah!!! =))
    yeee’…bawaan laheeeerrr…
    nyolot aje enteee.nih
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 15
    sayapimaji said
    well, i just wish my parents were thinking like you :D
    hahaha… bisa aja si mas filsuf ini…:)
    ariega
    delete reply
    ariega wrote on Apr 15
    jsops said
    Memposisikan sederajat adalah upaya kita untuk membuka diri.. agar dia mau berkomunikasi kan mas..?
    Tetapi keputusan tersebut saya ambil kalau dia sudah melewati paham sopan santun dan ber-etika sesuai adat keluarga saya . hehehe.. sebab kalau tidak…nanti saya dianggap sederajat seperti temen2nya… wah… repot saya…

    “Nah kan… papa suka liat wanita cantik… saya juga dong..”

    Padahal saya suka … karena keindahan wanita … sedangkan dia bisa saja suka karena dianggap boleh berbuat sesuka sukanya.. :)
    yap betul mas…ada timing nya untuk memposisikan sederajat…karena bisa senjata makan tuan…
    ariega
    delete reply
    ariega wrote on Apr 15
    rozny said
    lhoooo….??? kok malah pindah topik gegaresan seeh??? huahahahah!!! =))
    whehehehehe bawaan orok kalo sore kudu ade camilan bang….
    ane bikin tales goreng…..hehehehe
    tuakbuli
    delete reply
    tuakbuli wrote on Apr 15
    jsops said
    x : (puyeng…sambil tolah-toleh nengok ke anak saya) .. kamu tadi nggak liat ya… waktu mau berdiri dan ninggalin meja makan … bukankah kamu duduk disamping papa .. (saya nggerundel sambil menoleh pada anak saya)
    Ayah saya juga sering begini kalau mencari sesuatu dan belum ketemu. Kayanya standar ortu nih ya?

    hehehe…aim sori bang
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 15
    yeee..kirim dong.. haha pan deket pan.., kirmnya tutupin pake kertas ye” jangan keliatan bang Jali… digrages duluan nanti… abis dahh
    rozny
    delete reply
    rozny wrote on Apr 15
    sayapimaji said
    well, i just wish my parents were thinking like you :D
    i wish you too would think like um yockeeh to your own kids later in life… cieeee!! :-D
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 15
    tuakbuli said
    Ayah saya juga sering begini kalau mencari sesuatu dan belum ketemu. Kayanya standar ortu nih ya?

    hehehe…aim sori bang
    naahhh… entar kalo sampeyan udah lewat porti yir old … nahh baru dah ngerasaa… hahahaha… koq lupa mulu yaaa…tunggu aja..sabar..waktunya nggak lama lagi..(setahun itu cuman sekejapan mata doang) hehehe
    rozny
    delete reply
    rozny wrote on Apr 15
    jsops said
    naahhh… entar kalo sampeyan udah lewat porti yir old … nahh baru dah ngerasaa… hahahaha… koq lupa mulu yaaa…tunggu aja..sabar..waktunya nggak lama lagi..(setahun itu cuman sekejapan mata doang) hehehe
    …wen ai get oleder, lusing mai heir…porti yirs prom naw…..yaaah..jadi nyanye deeehh!! =))
    tuakbuli
    delete reply
    tuakbuli wrote on Apr 15
    jsops said
    naahhh… entar kalo sampeyan udah lewat porti yir old … nahh baru dah ngerasaa… hahahaha… koq lupa mulu yaaa…tunggu aja..sabar..waktunya nggak lama lagi..(setahun itu cuman sekejapan mata doang) hehehe
    mungkin ya mungkin tidak… hehehe
    sayapimaji
    delete reply
    sayapimaji wrote on Apr 15
    jsops said
    hahaha… bisa aja si mas filsuf ini…:)
    eh, beneran kok. emang faktanya gitu. hehehehe.
    sayapimaji
    delete reply
    sayapimaji wrote on Apr 15
    rozny said
    i wish you too would think like um yockeeh to your own kids later in life… cieeee!! :-D
    i certainly will!
    rozny
    delete reply
    rozny wrote on Apr 15
    ariega said
    whehehehehe bawaan orok kalo sore kudu ade camilan bang….
    ane bikin tales goreng…..hehehehe
    o gituh? wah, kalo ane mah hapermout tuuh… duileee… wa-walanda-an yak? kek2nya gak gw banget gtlch…. cieee… *maxa pake bhs gaul neeeh* huahahahah!! =))
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 15
    hahahaha.. bang Jali… nte musti bacatuh tulisan2nya sayapimaji .. hehehe… Syumandjaya mude’ .. ceileee”
    damuhbening
    delete reply
    damuhbening wrote on Apr 15
    kalau saya sudah terbiasa menyadari kesalahan sendiri … ketika sadar segalanya tidak pada tempatnya … paling hanya mengumpat untuk diri sendiri “sial”
    ariega
    delete reply
    ariega wrote on Apr 15
    rozny said
    o gituh? wah, kalo ane mah hapermout tuuh… duileee… wa-walanda-an yak? kek2nya gak gw banget gtlch…. cieee… *maxa pake bhs gaul neeeh* huahahahah!! =))
    bang ntu hapermout doyan kagak…..sekate lidah betawi kikikiikikik
    rozny
    delete reply
    rozny wrote on Apr 15
    jsops said
    hahahaha.. bang Jali… nte musti bacatuh tulisan2nya sayapimaji .. hehehe… Syumandjaya mude’ .. ceileee”
    napeh kang? napeh kang? dunia kecil lagee neeh??? huahahah??? =))
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 15
    damuhbening said
    kalau saya sudah terbiasa menyadari kesalahan sendiri … ketika sadar segalanya tidak pada tempatnya … paling hanya mengumpat untuk diri sendiri “sial”
    yeee” hhahaha… ati2 patalis um..
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 15
    rozny said
    napeh kang? napeh kang? dunia kecil lagee neeh??? huahahah??? =))
    bukan … maksud ane’ tulisan2nye’ …rada2 avant garde getoh..sippp dahhh pokokee..
    muharrami
    delete reply
    muharrami wrote on Apr 15
    orang tua? jaman aku nanti seperti apa ya?
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 15, edited on Apr 16
    muharrami said
    orang tua? jaman aku nanti seperti apa ya?
    Jaman nanti seh… udah lebih encer.. mbak rasanya…
    Soalnya aturan yang seret yang melewat masa2 transisinya udah agak2 lancar jalannya…:)
    Yang sekarang ini …yang masih repot…sebab ortu serta kakek kita yang mewakili jamannya masih eksis . Dan aturan barunya sendiri juga lagi mau mencoba chemistry , dengan kebutuhan baru jamannya…

    Berbahagialah generasi berikutnya nanti…..(itu juga kalo ada lho mbak) hehehehe gak janji…
    rozny
    delete reply
    rozny wrote on Apr 15
    damuhbening said
    paling hanya mengumpat untuk diri sendiri “sial”
    mendinganlah mengumpat… daripada mengumpet? (kek aye?) …huahahahah =))
    muharrami
    delete reply
    muharrami wrote on Apr 15
    wah kok gak janji? hehehe
    aku sendiri ga kebayang besok anak2ku kayak apa getu … apa aku juga akan mendebat apa yang mereka ungkapkan
    waks .. hehehehe …
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 15
    muharrami said
    wah kok gak janji? hehehe
    aku sendiri ga kebayang besok anak2ku kayak apa getu … apa aku juga akan mendebat apa yang mereka ungkapkan
    waks .. hehehehe …
    Selama kondisi (nilai/etika) diluar rumah masih seperti sekarang ini ..saran saya nih mbak…(ceilee sok saran..dukun kaleee’…)

    Perkuat nilai adat-istiadat mbak…jangan kebawa-bawa sama slogan modern / globalisasi..hehehe bo’ong tuh.
    muharrami
    delete reply
    muharrami wrote on Apr 15
    jsops said
    saran saya nih mbak…(ceilee sok saran..dukun kaleee’…)
    okeh, mbah dukun ……

    hahaha … wis he eh ya .. adat istiadat musti dijunjung tinggi
    jeancuk
    delete reply
    jeancuk wrote on Apr 15
    susahnya menjadi anak …
    susahnya menjadi orangtua …

    susahnya juga untuk siap menjadi dewasa …
    dan susah pula untuk kembali kanak-kanak …

    he … he … reflektif dah …
    thanks bos ..
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 15, edited on Apr 15
    muharrami said
    okeh, mbah dukun ……

    hahaha … wis he eh ya .. adat istiadat musti dijunjung tinggi
    Banyak orang sekarang menjadi fanatis atau memahami “pertahanan” lewat benteng2 spiritual agamanya … sebab adat-istiadat nggak diberdayakan…mbak.

    Padahal Adat istidatlah yang terbukti bisa “cair” membuat semua agama bisa duduk berdampingan sambil makan bersebelahan .
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 15
    muharrami said
    okeh, mbah dukun ……

    hahaha … wis he eh ya .. adat istiadat musti dijunjung tinggi
    yeee”’ dikate’ dukun juga…
    damuhbening
    delete reply
    damuhbening wrote on Apr 15
    rozny said
    mendinganlah mengumpat… daripada mengumpet? (kek aye?) …huahahahah =))
    yang ngumpet udah banyak mas! biar mereka saja…bukan kita
    kekekekkeeee
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 15
    {sebetulnya sy masih ingin berlama-lama disini} tapi ada undangan/acara diluar dulu , jadi silahken dilanjutkan …tanya sendiri / jawab sendiri …nanti saya nyusul , salam
    fund0c
    delete reply
    fund0c wrote on Apr 15
    ayem kaming..
    jas wana see ya om .. ;-)
    sahatuh
    delete reply
    sahatuh wrote on Apr 15
    Yahhhh….baru aja ketok pintu…nyang punya rumah udah keluar…. :(
    doddysx
    delete reply
    doddysx wrote on Apr 15
    yang saya dulu ga suka adalah akhir perdebatan yang dimenangkan ortu kerna pake senjata pamungkasnya, “karena papa/mama bilang harus begitu!”. Saya sempet mikir saya ga akan pake cara yg sama kalo lagi debat dgn anak (meskipun besar sekali hasrat untuk mengucapkannya). Tapi kalo dipikir lebih jauh, sistem yang diterapkan ortu saya spt itu lah yang telah membentuk saya menjadi org sebaik ini (halah!!) yang sgt respek thdp ortu saya hingga kini. Trus saya jd mikir lagi apa iya mmg perlu saya skrg jg memberlakukan metode *tak tertandingi*? Tentunya pada hal-hal tertentu saja spt layaknya yg dilakukan ortu saya dulu.
    nazneenku
    delete reply
    nazneenku wrote on Apr 15
    jsops said
    Semoga bermanfaat , salam
    Ya.. pasti bermanfaat ya..khususnya buat saya pribadi (selalu saya dulu) yang ingin menjaga,memperhatikan, tumbuh kembang anak2 saya yang masih cilek2 biar pertumbuhannya sehat,tidak mudah terkena hama apapun sehingga kelak banyak menghasilkan buah kebaikan buat dia sendiri & manusia disekitarnya…salam.
    adamonyet
    delete reply
    adamonyet wrote on Apr 15
    ortu bagai pemahat
    anak bagai katu yg belum berbentuk
    ortu memahat kayu itu
    jadilah sebuah patung

    jadi pahatlah anak kita dengan bentuk yg baik yg berisi moral, sopan santun, norma, kebaikan, kebijakan, dan semua yg baek-baek. Sekali kita salah memahat, patung itu tidak akan pernah bisa kita rubah.

    *halah sok menggurui, padahal kalo lagi ngamuk… “mama gimana sih, kan tadi udah bilang titip rokok” hiks…..
    rozny
    delete reply
    rozny wrote on Apr 15
    jsops said
    {sebetulnya sy masih ingin berlama-lama disini} tapi ada undangan/acara diluar dulu , jadi silahken dilanjutkan …tanya sendiri / jawab sendiri …nanti saya nyusul , salam
    laaaaaaaaaaaahhh???? je malahan kondangan dolo lageee….. hedeh hedeh hedeeeh!! =))
    rozny
    delete reply
    rozny wrote on Apr 15
    doddysx said
    respek thdp ortu
    dengan suatu kesadaran (yg tinggiiiii banget!!) bhw di dlm tindak keseharian brgkl aye msh cukup sering memberi peluang anak2 utk menjadi kurang respek ke aye, maka utk sementara ini konsentrasinya lebih ke bagaimana caranya supaya mereka ini tetep sayaaaaang dan cintaaaaaaa bener ke bokapnyah…. hnaaaah!!! itu dulu deeh…. nyang laennya biar nyusul ajah (moga2! amen!) hueheheheheh! :-D
    penuhcinta
    delete reply
    penuhcinta wrote on Apr 15
    rozny said
    dengan suatu kesadaran (yg tinggiiiii banget!!) bhw di dlm tindak keseharian brgkl aye msh cukup sering memberi peluang anak2 utk menjadi kurang respek ke aye, maka utk sementara ini konsentrasinya lebih ke bagaimana caranya supaya mereka ini tetep sayaaaaang dan cintaaaaaaa bener ke bokapnyah…. hnaaaah!!! itu dulu deeh…. nyang laennya biar nyusul ajah (moga2! amen!) hueheheheheh! :-D
    Sip banget deh si Bang Rojali ini. Nyama2in bole kan. Kalo aku maunya juga gitu ke anak2, yg penting mrk sayang dulu sama mamanya. Tapi sayangnya…ane dulu dibesarkan oleh bapak yg otoriter, gualakkk banget. Jadinya kebawa2 deh si sifat ane. Pdhal niatnya dr awal gak mau marah2 ke anak…tp kok jdnya sering ngomel2 juga ya? Tp dibanding sama bokap ane dulu masih jauh deh. Nah si Bang Yockie cukup bijak nih…kalo ortu jaman ortu ane biasanya copy-paste ortunya dulu yg biasanya otoriter dan gak mau komunikasi terbuka sama anak. Kalo dr tulisannya sih masih masa transisi kan ye? Moga2 bisa ujung2nya baek aja deh. Kasian anak kalo jauh dr ortu…kalo ada ape2 larinya ke hal2 yg mengerikan nantinya. Sori panjang….keliatan kan bawelnya.
    fund0c
    delete reply
    fund0c wrote on Apr 15
    kaming egen om..
    duing noting jas waching .. ^_^
    singolion
    delete reply
    singolion wrote on Apr 15
    jsops said
    Sinergi toleransi antara posisi saya dan generasi anak saya .. alhamdullilah bisa saya jalani dengan baik..untuk menyelesaikan berbagai persoalan dan untuk mengatasi bermacam-macam kendala yang sering menjerumuskan kita beradu otot dan teriakan kerasnya suara
    mau belajar dari yang lebih tua, ah…..
    atik4me
    delete reply
    atik4me wrote on Apr 15, edited on Apr 15
    Iyo Mas betul itu .
    Kalo soal dinasehati anak , aku mah sering . Ya aku bilang aja sejujurnya , kalo ortu juga bisa make mistake .
    Kalo salah aku juga minta maaf ke mereka. Tapi alkhamdulillah sampe saat ini mereka masih baik 2x karena masih kecil kali yah. Tapi disekolah semua gurunya suka karena gak nakal .Cuma nakal dirumah aja . suka kentutin maknya ahahahahahah. Aku tanya anakku apa kamu disekolah kentutnya di kencengin juga . si rabbani jawab: I do but I make it slow” =))
    imw85
    delete reply
    imw85 wrote on Apr 15
    jsops said
    Nggak mau dialog ? Kenapa ngak mau dialog?..hehe(biasanya buah jatuh nggak jauh dari pohonnya kan mas..?)
    Ada buku menarik dari Hofstede (muda), Hofstede muda meneruskan kerjaan Hostede tua. Dalam salah satu karyanya Hofstede menuliskan cara “dialog” itu sangat kultur oriented (dalam artian dinamis), pada beberapa kultur model tanya jawab (seperti orang kuesioner atau ditanyain seperti psikolog) itu tidak mampu mengekspolorasi permasalahan.

    Pada beberapa kultur model dialog ala “simulasi” permainan bisa lebih menjabarkan permasalahan yang timbul. Nah masalahnya ortu memiliki “pustaka” dialog yang berbeda dengan pustaka “anak-anak” baik kosa kata, maupun gaya narasi.

    Jadi proses tidak nyambung itu disamping akibat intensi dapat juga karena beda cara dialog (kalau orang semiotik bilang, world sama, Umwelt bisa beda). Si Anak bilang G-string, si bapak ngira itu senar gitar nada G :-)
    imw85
    delete reply
    imw85 wrote on Apr 15
    jsops said
    Tetapi keputusan tersebut saya ambil kalau dia sudah melewati paham sopan santun dan ber-etika sesuai adat keluarga saya . hehehe.. sebab kalau tidak…nanti saya dianggap sederajat seperti temen2nya… wah… repot saya…
    Sopan-santun dan etika berbicara, ini salah satu permasalahan yang saya hadapi dg Madhava, yg lahir di Jerman. Tetapi agar dia tidak kaget, maka saya masih tetap memberlakukan etika sesuai adat keluarga saya. Daripada dia nanti pas balik ke Indonesia malah jadi “gagap” karena dianggap tidak sopan.

    Buntut-buntutnya ndak mau ada yg temen-an ama dia.
    imw85
    delete reply
    imw85 wrote on Apr 15
    doddysx said
    yang saya dulu ga suka adalah akhir perdebatan yang dimenangkan ortu kerna pake senjata pamungkasnya, “karena papa/mama bilang harus begitu!”. Saya sempet mikir saya ga akan pake cara yg sama kalo lagi debat dgn anak (meskipun b
    Ortu saya adalah ortu yang tidak pernah ngelarang atau bilang harus ini dan itu. tapi senjata pamungkasnya “Kalau itu keputusan dan pilihanmu, resiko tanggung sendiri jangan minta tolong papa/mama”. Walah… malah bikin mikir seribu kali.
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 15
    fund0c said
    ayem kaming..
    jas wana see ya om .. ;-)
    ciluk baaa
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 15
    sahatuh said
    Yahhhh….baru aja ketok pintu…nyang punya rumah udah keluar…. :(
    ada pembokat dirume’..hehe ngga ada ding… (pembokat tetangge’ adanye’) .. mau?
    Comment deleted at the request of the author.
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 15, edited on Apr 16
    doddysx said
    yang saya dulu ga suka adalah akhir perdebatan yang dimenangkan ortu kerna pake senjata pamungkasnya, “karena papa/mama bilang harus begitu!”. Saya sempet mikir saya ga akan pake cara yg sama kalo lagi debat dgn anak (meskipun besar sekali hasrat untuk mengucapkannya). Tapi kalo dipikir lebih jauh, sistem yang diterapkan ortu saya spt itu lah yang telah membentuk saya menjadi org sebaik ini (halah!!) yang sgt respek thdp ortu saya hingga kini. Trus saya jd mikir lagi apa iya mmg perlu saya skrg jg memberlakukan metode *tak tertandingi*? Tentunya pada hal-hal tertentu saja spt layaknya yg dilakukan ortu saya dulu.
    Tidak sepenuhnya benar mas..maksud saya nggak “pas”lagi kalau jaman gini hari masih pake pendekatan paternalis yang otoriter seperti itu. Jaman dulu mungkin orang2 tua kita tidak cukup memiliki pemahaman yang lebih luas (contoh2 kasus diberbagai belahan dunia) yang bisa kita pelajari berdasarkan ‘disiplin ilmu’ yang sekarang lebih mudah didapat dan ditemui .

    Mereka dulu sepertinya lebih aman atau terpaksa bersandar pada nilai2 yang lahir dari “olah bathin”yang absurd . Atau ekstrimnya menjadi ilmu kebathinan . Jadi tidak ada penjelasan secara rasional yang dapat mereka katakan pada anak2nya , kecuali menarik “garis batas”, bahwa Orang tua lebih tau… sebab jam terbangnya lebih tinggi . Sedang anak2 kurang tau…sebab jam terbangnya lebih rendah . Titik
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 15
    nazneenku said
    Ya.. pasti bermanfaat ya..khususnya buat saya pribadi (selalu saya dulu) yang ingin menjaga,memperhatikan, tumbuh kembang anak2 saya yang masih cilek2 biar pertumbuhannya sehat,tidak mudah terkena hama apapun sehingga kelak banyak menghasilkan buah kebaikan buat dia sendiri & manusia disekitarnya…salam.
    wah.. kalau belum punya anak … masih punya waktu yang cukup mas…..jadi bisa lebih santai…hehe
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 15
    adamonyet said
    *halah sok menggurui, padahal kalo lagi ngamuk… “mama gimana sih, kan tadi udah bilang titip rokok” hiks…..
    ketahuan…neh… , ati2 mas ..sampeyan salah2 bisa termasuk barisan suami ..yang sedang di incar sama ibu2 dharma wanita.
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 15
    rozny said
    laaaaaaaaaaaahhh???? je malahan kondangan dolo lageee….. hedeh hedeh hedeeeh!! =))
    yeeee” maap nape’… itu tuh… Acin (adik ente’) nelpon ane’…. minta agar ane’ mo dateng ke istora … ada apaan tuh namanye..kalo gas salah seh…”Ayo..Main..Igel-igelan” … alias AMI ..huehehehe..

    Garing abis daahh..tuh acare’ kayak pesta taman-kanak2 aje.., yaahh nape’ jadi ngomongin nyang laen …”gak penting”

    ok balik lagi dah..kita ngrumpi aje’..nyang lebih ada manpaatnye ye bang..
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 15
    rozny said
    dengan suatu kesadaran (yg tinggiiiii banget!!) bhw di dlm tindak keseharian brgkl aye msh cukup sering memberi peluang anak2 utk menjadi kurang respek ke aye, maka utk sementara ini konsentrasinya lebih ke bagaimana caranya supaya mereka ini tetep sayaaaaang dan cintaaaaaaa bener ke bokapnyah…. hnaaaah!!! itu dulu deeh…. nyang laennya biar nyusul ajah (moga2! amen!) hueheheheheh! :-D
    ah..bang Jali suka getoh..neh… merendahkan diri mulu…., saya kan liat kemaren ..bijimana anak2nya hormat tabik luar biasa sama bapaknye’…..(tauk deh kalo ibunya…. mudah2an sih sama ya bang) huahahaha…
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 15, edited on Apr 15
    penuhcinta said
    Sip banget deh si Bang Rojali ini. Nyama2in bole kan. Kalo aku maunya juga gitu ke anak2, yg penting mrk sayang dulu sama mamanya. Tapi sayangnya…ane dulu dibesarkan oleh bapak yg otoriter, gualakkk banget. Jadinya kebawa2 deh si sifat ane. Pdhal niatnya dr awal gak mau marah2 ke anak…tp kok jdnya sering ngomel2 juga ya? Tp dibanding sama bokap ane dulu masih jauh deh. Nah si Bang Yockie cukup bijak nih…kalo ortu jaman ortu ane biasanya copy-paste ortunya dulu yg biasanya otoriter dan gak mau komunikasi terbuka sama anak. Kalo dr tulisannya sih masih masa transisi kan ye? Moga2 bisa ujung2nya baek aja deh. Kasian anak kalo jauh dr ortu…kalo ada ape2 larinya ke hal2 yg mengerikan nantinya. Sori panjang….keliatan kan bawelnya.
    Kalo anak masih nanggung umurnya (akil balik atau sampai menjelang usia 17’an).. memang agak lebih sulit diajak bicaranya mbak . Tapi kalau sudah diatas itu saya ajak anak2 saya ngomongin apa itu sejarah dan adat / kenapa dia perlu dijaga / kenapa anak muda di Indonesia harus diajari perilak yang lain dibanding seperti mendidik anak muda di barat misalnya .

    Jadi harus ada alasan2 yang make sense dan bisa dicerna oleh kemampuan intelektual meraka . (masing2 anak / masing2 lingkungan sosial) memiliki karakteristik yang nggak sama antar satu sama lainnya. Jadi kita sebagai ortu nya juga harus cerdas menggunakan bahasa pendekatannya . Jangan keberatan tapi juga jangan becanda sambil nyeleneh ke-entengan ..

    Begitu kita balik badan …. mereka terkekeh-kekeh …geleng2 kepala …sambil ngetawain…. “Jadul katanya..”
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 15
    fund0c said
    kaming egen om..
    duing noting jas waching .. ^_^
    ciluk baa lagi deh..
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 15, edited on Apr 16
    singolion said
    mau belajar dari yang lebih tua, ah…..
    Hukum alamnya memang sepertinya sih gitu ya mas..
    Yang lebih tua belum tentu benar semua .. tapi yang pasti,
    Yang lebih tua lebih banyak tau dari yang lebih muda.

    Nah pilihannya cuman:… “banyakan benernya” yang mana nih antara keduanya
    Karena lebih banyak tau…bukan berarti (secara otomatis) lebih banyak “benernya” .

    Tetapi yang jelas juga…, yang lebih muda masih punya kesempatan lebih banyak untuk tidak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan oleh yang lebih Tua ..gitu kali ya.mas? Makanya kalimat sampeyan “Pengen belajar dari yang lebih tua tersebut , ‘tepat’ bila diletakkan dalam perspektif ini .
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 15, edited on Apr 15
    atik4me said
    Iyo Mas betul itu .
    Kalo soal dinasehati anak , aku mah sering . Ya aku bilang aja sejujurnya , kalo ortu juga bisa make mistake .
    Kalo salah aku juga minta maaf ke mereka. Tapi alkhamdulillah sampe saat ini mereka masih baik 2x karena masih kecil kali yah. Tapi disekolah semua gurunya suka karena gak nakal .Cuma nakal dirumah aja . suka kentutin maknya ahahahahahah. Aku tanya anakku apa kamu disekolah kentutnya di kencengin juga . si rabbani jawab: I do but I make it slow” =))
    Hehe.. sepertinya mbak atik memang sudah merangsang kesadaran mereka untuk berpikir menggunakan nalar dan logika . Bahwa ortu bisa saja salah/make a mistake dsb.

    Sambil dijaga saja mbak … jangan sampai parameter atau “bandul” pembenarannya berangkat dari nilai2 yang dipahami dari bandul nilai masyarakat Amerika . Karena bandulnya beda kan mbak…hehehe..
    penuhcinta
    delete reply
    penuhcinta wrote on Apr 15
    jsops said
    Hehe.. sepertinya mbak atik memang sudah merangsang kesadaran mereka untuk berpikir menggunakan nalar dan logika . Bahwa ortu bisa saja salah/make a mistake dsb.

    Sambil dijaga saja mbak … jangan sampai parameter atau “bandul” pembenarannya berangkat dari nilai2 yang dipahami dari bandul nilai masyarakat Amerika . Karena bandulnya beda kan mbak…hehehe..
    Bener ini Mas, soalnya aku dan suamiku juga udah mulai cemas liat anak2 tetangga yg sama Ibunya bisa teriak “whatever…” yg artinya ‘terserah deh lu mau ngomong apa aja” dan kadang2 anakku yg besar juga udah mlai ‘lupa’ ajaran ketimuran yg kecil2 kayak nerima dan memberi dng tangan kanan.
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 15, edited on Apr 16
    imw85 said
    Ada buku menarik dari Hofstede (muda), Hofstede muda meneruskan kerjaan Hostede tua. Dalam salah satu karyanya Hofstede menuliskan cara “dialog” itu sangat kultur oriented (dalam artian dinamis), pada beberapa kultur model tanya jawab (seperti orang kuesioner atau ditanyain seperti psikolog) itu tidak mampu mengekspolorasi permasalahan.

    Pada beberapa kultur model dialog ala “simulasi” permainan bisa lebih menjabarkan permasalahan yang timbul. Nah masalahnya ortu memiliki “pustaka” dialog yang berbeda dengan pustaka “anak-anak” baik kosa kata, maupun gaya narasi.

    Jadi proses tidak nyambung itu disamping akibat intensi dapat juga karena beda cara dialog (kalau orang semiotik bilang, world sama, Umwelt bisa beda). Si Anak bilang G-string, si bapak ngira itu senar gitar nada G :-)
    hehe.. bahasa orang sekola’an emang beda sama bahasa okem kayak saya..ya…huahahaha..

    Bener Bung.. Dan Indonesia punya kelebihan yang tidak dimiliki oleh berbagai contoh di berbagai wilayah lain .

    Buanyaknya… local culture yang secara historis bisa menceritakan bagaimana mereka bisa hidup berdampingan beratus-ratus tahun lamanya .. dan hanya bersandar lewat mekanisme perdagangan , bukan karena sistem politik apalagi karena kekuatan senjata . Tapi etika , etika yang mengawal sistem perdagangan yg saling menguntungkan dan saling menghidupi antar masing2 wilayahnya . Dari sejarah yang cukup lengkap ini kita sudah seharusnya mampu menyusun jawaban yang paling ‘pas’ buat masyarakat kita sendiri . [Sejarah Pasar-Pasar Mataram Kuna ]

    Sepertinya seh gitu..kali ya bung…heehe..ini menurut saya lhooo….(saya pan.. okem) tapi okem baik jangan khawatir…:)

    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 15
    imw85 said
    Ortu saya adalah ortu yang tidak pernah ngelarang atau bilang harus ini dan itu. tapi senjata pamungkasnya “Kalau itu keputusan dan pilihanmu, resiko tanggung sendiri jangan minta tolong papa/mama”. Walah… malah bikin mikir seribu kali.
    Beruntung… jadinya seperti sampeyan… (ortu anda memang cermat)
    Tapi banyak contoh kasus serupa yang malah jadi “bubrah” nggak keruanan … :) Anaknya sableng terus2an (maksudnya sampai tua sekalipun)… kalo ditanya mengapa/alasannya ..”yah.. babe ma nyak gw bilangnye …terserah gw seh…” hahaha
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 15, edited on Apr 16
    penuhcinta said
    Bener ini Mas, soalnya aku dan suamiku juga udah mulai cemas liat anak2 tetangga yg sama Ibunya bisa teriak “whatever…” yg artinya ‘terserah deh lu mau ngomong apa aja” dan kadang2 anakku yg besar juga udah mlai ‘lupa’ ajaran ketimuran yg kecil2 kayak nerima dan memberi dng tangan kanan.
    itu yang saya maksudkan “bandul” mbak … :)
    Jelas kita beda alasan , kalau mau diukur mana yang bener dan mana yang salah …lewat kacamata value orang Amerika .

    Dan satu lagi mbak… yang kita bisa saksikan sendiri sekarang di jaman ini bahwa: Saat orang2 Amerika / barat tersebut …melihat dan memahami bagaimana bangsa kita (adat2) meletakkan valuenya ….. mereka berdecak dan bilang “EKSOTIK” . Sebuah ungkapan kekaguman pada nilai2 hidup yang mendasar yang secara nggak sadar/sengaja mereka abaikan . (musnah diterjang tehnologi peradaban mereka sendiri)

    Nah. pemerintah kita lewat sektor pariwisata …. sepertinya tak memahami itu… bahwa bule2 itu ke Indonesia bukan mau mejeng di Mall atau nongkrong di Cafe ala meraka dan sebagainya … Tapi mau lihat perempuan dan lelaki serta anak dan alam kehidupan di Indonesia yang eksotis tadi .

    Jelas kan… itu nggak akan ditemui di hotel bintang lima atau Mall Senayan Plaza..hahaha lho…koq ngomongin pemerentah lage sehhh…. hayayaahh sorry mbak ngelanturrr nehh
    atik4me
    delete reply
    atik4me wrote on Apr 15
    memang memadukan dua nilai yg kita anggap positip antara barat dan timur tak mudah. Makanya rencana mau pulang nih ,selain mencoba mengejar sebuah mimpi. Tapi juga supaya anakku kenal adat timurnya.Aku yg tlah lama di US tapi aku nggak bisa berteman dg orang amerika,walopun mereka nampak baik .just lip service aja. Entahlah aku susah masuk dalam lingkungan mereka ,walupun aku nampak gaul tapi muka aja yg YESS hati NOOO . Ada garis lembut yg aku susah masuk . entah apa itu ? mungkin karena aku tak bisa seperti mereka ,aku bukan mereka dan mereka bukan aku . So i can’t get along with them at all. Makanya sebelum anakku menjadi mereka ,aku harus pulang dulu. It is good for them by learning 2 cultures @ the same time..mimpiku tentang anakku aku ingin mereka menjadi a pure adventurer dalam arti yg luas.
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 15, edited on Apr 17
    atik4me said
    memang memadukan dua nilai yg kita anggap positip antara barat dan timur tak mudah. Makanya rencana mau pulang nih ,selain mencoba mengejar sebuah mimpi. Tapi juga supaya anakku kenal adat timurnya.Aku yg tlah lama di US tapi aku nggak bisa berteman dg orang amerika,walopun mereka nampak baik .just lip service aja. Entahlah aku susah masuk dalam lingkungan mereka ,walupun aku nampak gaul tapi muka aja yg YESS hati NOOO . Ada garis lembut yg aku susah masuk . entah apa itu ? mungkin karena aku tak bisa seperti mereka ,aku bukan mereka dan mereka bukan aku . So i can’t get along with them at all. Makanya sebelum anakku menjadi mereka ,aku harus pulang dulu. It is good for them by learning 2 cultures @ the same time..mimpiku tentang anakku aku ingin mereka menjadi a pure adventurer dalam arti yg luas.
    Yang paling ideal buat pendidikan anak di jaman sekarang ini , memang memperkenalkan dua kutub yang berbeda secara tuntas , jangan separuh2 ya mbak… Sebetulnya sudah ‘rejeki’ mbak atik tuh… anak2 sudah kenal dengan budaya demokratis ala Amrik . Lalu tinggal diperkenalkan dengan budaya asal sendiri .(tradisi) Setelah mereka tau dua2nya… mereka akan bisa bertanya … mengapa begini?…atau mengapa harus begitu dsb .

    Nah..kita tinggal mengawasi&menjawabnya saja …. lalu biarkan mereka mengklarifikasikannya sendiri-sendiri . Kita hanya tinggal mengawasi lagi. Seringkali nanti mereka menemukan sesuatu “yang baik” yang tak pernah kita ketahui/temukan sebelumnya….disana kita harus jujur untuk mengakui bahwa…mereka lebih baik dari kita (u/soal2 yg baru tersebut).

    Tetapi tak jarang juga mereka salah menganalisa … disanalah juga kita harus meluruskannya … berdasarkan fakta2 sejarah yang ada .

    Artinya tugas orang tua adalah memberikan pelajaran masa lalu , tugas anak muda adalah menempuh masa depan berdasarkan pelajaran masa lalu … gitu kali ya mbak
    atik4me
    delete reply
    atik4me wrote on Apr 15
    jsops said
    disanalah juga kita harus meluruskannya … berdasarkan fakta2 sejarah yang ada .
    Itulah mas yg aku maksud. kita yg mencoba meluruskannya walupun ortunya gak lurus 2x banget ! sing jelas akeh menggok e hahahaahah
    Penjahat aja gak pingin anaknya ngikutin jejaknya apalagi yg baik kek aku ini ..prettttttt =)) yo mesti pingin yg lebih duong
    sahatuh
    delete reply
    sahatuh wrote on Apr 15
    *ngedengerin orang (orang) tua ngomong*
    hehhehe
    sigu2n
    delete reply
    sigu2n wrote on Apr 15
    kalo ajaran orangtua2 dilingkungan ane (betawi punya gaye), etika berprilaku antara yang tua dan yang muda (pada umumnya) dan antara orangtua dan anak (wabil khusus) cuma satu, yaitu rumusannya YANG TUA MENYAYANGI YANG MUDA, YANG MUDA MENGHORMATI YANG TUA, itu yg slalu terjaga sampai sekarang. disamping mungkin lingkungan culture yg agamais sangat mendukung. karena kata Pak Ustadz:
    Buat Ortu: “anak adalah titipan, dia bisa menyelamatkan mu dari api neraka, tapi bisa juga menggiringmu ke dalamnya”
    Buat anak: “sorga ada dibawah telapak kaki ibu dan ridho Alloh adalah ridho ortu”, tambahan “orang tua adalah keramat hidup! (kalo ortunya masih hidup)”
    Hnaahhh……!
    25102004
    delete reply
    25102004 wrote on Apr 15
    oh..begitu ya..caranya mas Yockie…ntar bisa dipraktekkan
    soalnya saat ini sikecilku masih 3.5th…beda generasi jauh ini aku sama anakku 40 th…yach..caranya mas Yockie ntar bisa dicoba…thanks
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 15, edited on Apr 15
    atik4me said
    Itulah mas yg aku maksud. kita yg mencoba meluruskannya walupun ortunya gak lurus 2x banget ! sing jelas akeh menggok e hahahaahah
    Penjahat aja gak pingin anaknya ngikutin jejaknya apalagi yg baik kek aku ini ..prettttttt =)) yo mesti pingin yg lebih duong
    buat saya definisi orang baik itu :
    a.transparan (membuka diri hingga mudah dibaca maunya)
    b.tulus/sepenuh hati (enggak munak)
    c.nggak ja’im.(suka nyari perhatian/sinderela sindrom)

    hehehe… sipppp mbak …rasanya tiga2nya udah lumayan mbak atik milikin tuh..
    *pulang jadi RT minimal mbak*
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 15
    sahatuh said
    *ngedengerin orang (orang) tua ngomong*
    hehhehe
    yaah.. nasib dah.. mudah2an ada pahalanye’ aje’ …
    Ntar kalo sampeyan udah golongan orang tua seusia saya … inget2 ane’ ye’…kali2 aje ane mising benapas…..kirimin setoran aje’
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 15, edited on Apr 16
    sigu2n said
    kalo ajaran orangtua2 dilingkungan ane (betawi punya gaye), etika berprilaku antara yang tua dan yang muda (pada umumnya) dan antara orangtua dan anak (wabil khusus) cuma satu, yaitu rumusannya YANG TUA MENYAYANGI YANG MUDA, YANG MUDA MENGHORMATI YANG TUA, itu yg slalu terjaga sampai sekarang. disamping mungkin lingkungan culture yg agamais sangat mendukung. karena kata Pak Ustadz:
    Buat Ortu: “anak adalah titipan, dia bisa menyelamatkan mu dari api neraka, tapi bisa juga menggiringmu ke dalamnya”
    Buat anak: “sorga ada dibawah telapak kaki ibu dan ridho Alloh adalah ridho ortu”, tambahan “orang tua adalah keramat hidup! (kalo ortunya masih hidup)”
    Hnaahhh……!
    bentul tu mas.. dari perspektif agama Islam ..memang seperti pak ustadz katakan diatas , saya diatas bicara dalam konteks lintas kepercayaan/keyakinan ..mas , sebab ada agama lain selain Islam .

    “YANG TUA MENYAYANGI YANG MUDA, YANG MUDA MENGHORMATI YANG TUA”

    itu slogan yang positif , persis kaya tulisan spanduk :”Desa maju Jaya karena Rakyatnya Sejahtera dan Sentosa” (edit:tambahin ketawa) hahahaha
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 15
    25102004 said
    oh..begitu ya..caranya mas Yockie…ntar bisa dipraktekkan
    soalnya saat ini sikecilku masih 3.5th…beda generasi jauh ini aku sama anakku 40 th…yach..caranya mas Yockie ntar bisa dicoba…thanks
    Seperti motto restaurant / rumah makan padang mbak :
    Kalau berhasil .. ceritakan pada yang lain …, kalau gagal.. jangan sebut2 nama saya ya..mbak.. huhehehehe
    imw85
    delete reply
    imw85 wrote on Apr 16
    jsops said
    Buanyaknya… local culture yang secara historis bisa menceritakan bagaimana mereka bisa hidup berdampingan beratus-ratus tahun lamanya .. dan hanya bersandar lewat mekanisme perdagangan , bukan karena sistem politik apalagi karena kekuatan senjata . Tapi etika , etika yang mengawal sistem perdagangan yg saling menguntungkan dan saling menghidupi antar masing2 wilayahnya . Dari sejarah yang cukup lengkap ini kita sudah seharusnya mampu menyusun jawaban yang paling ‘pas’ buat masyarakat kita sendiri . [Sejarah Pasar-Pasar Mataram Kuna ]
    Membahas sejarah apa yang terjadi di lokal kultur kurang “keren” bagi peneliti Indonesia (apalagi kalau peneliti non sosial, misal sepreti IT). Bahkan mencari pembimbing/penguji yang tertarik bidang itu aja sulit.

    Di tambah lagi, materi-materi awal utk melakukan studi itu tidak kita miliki, akibatnya kita harus bangun studi-studi itu dari awal padahal tanpa mendapatkan “apresiasi” yang memadai. Pilihan yg sulit bagi peneliti. Untung banyak yg nekat juga (lha Indonesiaaaa jeee).

    Dengan memahami “protokol lokal” maka kita bisa membangun organisasi berdasarkan “protokol lokal” itu, dan ini lebih menjamin sustainibilitas ketimbang mencoba mengcopy bentuk organisasi dari “protokol luar, yg di-labelin protokol dunia”.

    Prokol = bukan tata cara nikah hehehe, tapi langkah-langkah melakukan sesuatu.

    Ini yg sering saya bikin ngenes, istilahnya “bahan mentah udah di depan mata”, tapi kita tidak bisa menelurkan menjadi resep jitu. Malu dg founding father, yg bisa memilih kata-kata “Bhinneka Tunggal Ika”.
    imw85
    delete reply
    imw85 wrote on Apr 16
    jsops said
    Beruntung… jadinya seperti sampeyan… (ortu anda memang cermat)
    Tapi banyak contoh kasus serupa yang malah jadi “bubrah” nggak keruanan … :)
    Mungkin hal yg berat bagi ortu adalah menerapkan sangsi (tanpa menjadi tidak tega) ketika membiarkan keputuan di tangan anak.

    He he he he papa aku ndak mau makan, ya sudah stop nggak usah makan lagi, nanti malam baru makan. Ndak lama dia ngerengek-ngerengek, pa.. lapar mau makan (hayooo tega ndak hehehehe)
    imw85
    delete reply
    imw85 wrote on Apr 16
    jsops said
    Dan satu lagi mbak… yang kita bisa saksikan sendiri sekarang di jaman ini bahwa: Saat orang2 Amerika / barat tersebut …melihat dan memahami bagaimana bangsa kita (adat2) meletakkan valuenya ….. mereka berdecak dan bilang “EKSOTIK” . Sebuah ungkapan kekaguman pada nilai2 hidup yang mendasar yang secara nggak sadar/sengaja mereka abaikan . (musnah diterjang tehnologi peradaban mereka sendiri)
    Saya tinggal di Jerman, dan si kecil lahir di sini. Tapi kami berusaha menerapkan “aturan” ala Indonesia utk hubungan ortu-anak. Kami banyak belajar dari ortu-ortu yg bisa membuat anaknya walau lahir/besar di Jerman tapi kalau bertemu dengan mereka unggah-ungguh dan bahasa tetap Indonesia.

    Mari… Oom mau pulang dulu (bhs Indonesia tapi tanpa logat Cinta Luara), sembari senyum dan agak menunduk dan menganggukkan kepala. Padahal kalau kita merem dan mereka bicara bahasa Jerman, kita ndak tahu mereka itu “coklat” :-)

    Ketika kita di LN, kita makin merasa “kehilangan” dan menghargai nilai-nilai Indonesia gitu.
    imw85
    delete reply
    imw85 wrote on Apr 16
    atik4me said
    memang memadukan dua nilai yg kita anggap positip antara barat dan timur tak mudah. Makanya rencana mau pulang nih ,selain mencoba mengejar sebuah mimpi. Tapi juga supaya anakku kenal adat timurnya.Aku yg tlah lama di US tapi aku nggak bisa berteman dg orang amerika,walopun mereka nampak baik .just lip service aja. Entahlah aku susah masuk dalam lingkungan mereka ,walupun aku nampak gaul tapi muka aja yg YESS hati NOOO .
    Saya banyak anak “campuran” atau asli Indonesia, tinggal di sini. Mereka tetap “bernilai Indonesia”. Ada yg di”kirim” di Indonesia utk SMP atau SMA selama 3 tahun, ada juga yg “dipaksa” berbahasa Indoneia selama dalam lingkunnga rumah, dsb.

    Banyak dari mereka yg “ogah” mempelajari ttg Indonesia (atau resistans), karena secara tidak sengaja kita sebagia orang tua sering tanpa sadar memberikan komentar “hanya yg jelek-jelek saja” tentang Indonesai atau orang Indonesia. Maksud saya tanpa sadar kita sering bilang “ah dasar orang Indonesia, ndak tepat waktu”, atau bila di TV ada ttg berita Indonesia “ah.. Indonesia ini jorok banget”. Kuncinya tidak seimbang antara buruk dan baik

    Komentar seperti itu sering bikin resitansi si kecil untuk mempelajari atau mengambil nilai Indonesia. Istilah saya “loe aja selalu bilang Indonesia itu jelek, kenapa gua harus terapin nilai-nilai Indonesia”.

    Kebetulan saya sering mengamati pola hubungan ortu dari keluarga diaspora. iseng aja sih, gara-garanya karena panik ketika anak mulai bisa bicara dan bisa melihat/mendengar.

    Kebetulan rumah saya itu seperti “terminal” orang keluar masuk, baik orang Jerman maupun Indonesia maupun bangsa lain.
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 16, edited on Apr 17
    imw85 said
    Membahas sejarah apa yang terjadi di lokal kultur kurang “keren” bagi peneliti Indonesia (apalagi kalau peneliti non sosial, misal sepreti IT). Bahkan mencari pembimbing/penguji yang tertarik bidang itu aja sulit.

    Di tambah lagi, materi-materi awal utk melakukan studi itu tidak kita miliki, akibatnya kita harus bangun studi-studi itu dari awal padahal tanpa mendapatkan “apresiasi” yang memadai. Pilihan yg sulit bagi peneliti. Untung banyak yg nekat juga (lha Indonesiaaaa jeee).

    Dengan memahami “protokol lokal” maka kita bisa membangun organisasi berdasarkan “protokol lokal” itu, dan ini lebih menjamin sustainibilitas ketimbang mencoba mengcopy bentuk organisasi dari “protokol luar, yg di-labelin protokol dunia”.

    Prokol = bukan tata cara nikah hehehe, tapi langkah-langkah melakukan sesuatu.

    Ini yg sering saya bikin ngenes, istilahnya “bahan mentah udah di depan mata”, tapi kita tidak bisa menelurkan menjadi resep jitu. Malu dg founding father, yg bisa memilih kata-kata “Bhinneka Tunggal Ika”.
    wah.. sampeyan memang harusnya sudah jadi menteri pendidikan dari kemaren2 …. kemane’ aje tuh ya…sampeyan keluyuranya..koq sampek SBY nggak ngliat. Padahal tinggi guwede gitu lohh.. :))) apa karena tinggi dan gedenya sama dengan dia maka dia nggak mau milih anda bung..? Takut ketuker dimata orang kalo jejer barengan :)
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 16
    imw85 said
    Mungkin hal yg berat bagi ortu adalah menerapkan sangsi (tanpa menjadi tidak tega) ketika membiarkan keputuan di tangan anak.

    He he he he papa aku ndak mau makan, ya sudah stop nggak usah makan lagi, nanti malam baru makan. Ndak lama dia ngerengek-ngerengek, pa.. lapar mau makan (hayooo tega ndak hehehehe)
    hahaha ..
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 16
    imw85 said
    Banyak dari mereka yg “ogah” mempelajari ttg Indonesia (atau resistans), karena secara tidak sengaja kita sebagia orang tua sering tanpa sadar memberikan komentar “hanya yg jelek-jelek saja” tentang Indonesai atau orang Indonesia. Maksud saya tanpa sadar kita sering bilang “ah dasar orang Indonesia, ndak tepat waktu”, atau bila di TV ada ttg berita Indonesia “ah.. Indonesia ini jorok banget”. Kuncinya tidak seimbang antara buruk dan baik

    Komentar seperti itu sering bikin resitansi si kecil untuk mempelajari atau mengambil nilai Indonesia. Istilah saya “loe aja selalu bilang Indonesia itu jelek, kenapa gua harus terapin nilai-nilai Indonesia”.
    ya.. pasti itu juga salah satu kebiasaan orang tua kita ..saat mangkel menghadapi negerinya sendiri . Habis emang pemerentahnya juga kayak ga peduli gitu sih….. Coba kalo pemerentahnya nggak seperti apa yang sudah terjadi selama ini …. dari 1945 sampai rentang waktu 2008 .. +/- 62 tahun jeeekk’… kalo orang sudah kakek2 tuh… koq masih ngenyut..eh …nge-dot aje’… huahahaa
    imw85
    delete reply
    imw85 wrote on Apr 16
    jsops said
    wah.. sampeyan memang harusnya sudah jadi menteri pendidikan dari kemaren2 …. kemane’ aje tuh ya…sampeyan keluyuranya..koq sampek SBY nggak ngliat.
    Wah enakan jadi “temennya” menteri pendidikan aja sekarang. Siapa tahu dapat proyeknya, tapi ndak dapat “sumpah serapah” nya. Bukannya begitu yg sekarang banyak disukai orang ?

    Psst jangan sebut-sebut nama SBY, nanti saya dipanggil lagi :-) BTW kemarin pas saya forward tulisan bung JSOP, ternyata sudah dibaca sebelum saya forward he he he rupanya ada yang ngefans ama bung JSOP di sana.
    imw85
    delete reply
    imw85 wrote on Apr 16
    jsops said
    ya.. pasti itu juga salah satu kebiasaan orang tua kita ..saat mangkel menghadapi negerinya sendiri . Habis emang pemerentahnya juga kayak ga peduli gitu sih….. Coba kalo pemerentahnya nggak seperti apa yang sudah terjadi selama ini …. dari
    Masih bagus, kalau memang orang tua yg pernah sampai agak “besar” di Indonesia. Lha ini, banyak orang yg seperti itu, malah cabut dari Indonesia baru saja lulus SMA :-) Jadi tahunya masih bayang-bayang gitu.

    Pas ditanyain ? Koq waktu itu bisa dapat beasiswa Om?, jawabnya jaman saya itu, kebanyakan yg dapat beasiswa itu kalau ndak anak pejabat, ya anak orang partai. Dan saya kebetulan anaknya……… jadi bisa dapat beasiswa ke LN setelah SMA.

    Hm…. gambaran kabur, dari “pengalaman diri” kabur. Jadi kabur-kaburan deh.
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 16
    imw85 said
    Wah enakan jadi “temennya” menteri pendidikan aja sekarang. Siapa tahu dapat proyeknya, tapi ndak dapat “sumpah serapah” nya. Bukannya begitu yg sekarang banyak disukai orang ?

    Psst jangan sebut-sebut nama SBY, nanti saya dipanggil lagi :-) BTW kemarin pas saya forward tulisan bung JSOP, ternyata sudah dibaca sebelum saya forward he he he rupanya ada yang ngefans ama bung JSOP di sana.
    hehe.. makasih pak pos , soal nyanyi menyanyi , dulu itu saya rada2 khawatir ..”wah jangan2 diajak duetan berdua mas Djody” bisa runyam neh..urusan.. hehehe..eh’ ternyata di telikung sama orang lain lagi (oleh hantu industri) lalu nyanyi sendiri … buntutnya..ya sami mawon. :)
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 16, edited on Apr 16
    imw85 said
    Masih bagus, kalau memang orang tua yg pernah sampai agak “besar” di Indonesia. Lha ini, banyak orang yg seperti itu, malah cabut dari Indonesia baru saja lulus SMA :-) Jadi tahunya masih bayang-bayang gitu.

    Pas ditanyain ? Koq waktu itu bisa dapat beasiswa Om?, jawabnya jaman saya itu, kebanyakan yg dapat beasiswa itu kalau ndak anak pejabat, ya anak orang partai. Dan saya kebetulan anaknya……… jadi bisa dapat beasiswa ke LN setelah SMA.

    Hm…. gambaran kabur, dari “pengalaman diri” kabur. Jadi kabur-kaburan deh.
    Tuh…hati-hati tuh… bagi rekan2 yang ada disini ..hehe..walaupun sekarang bukan jamannya lagi anak pejabat atau warga partai berkuasa yang prioritas dapet subsidi .

    Mamahami Indonesia kalau nggak bersinggungan dengan laler / nyamuk / panas / banjir / lapar dsb jangan merasa tau persoalan Indonesia . Apalagi ngeritik pemerintah Indonesia …huahahaha

    [Ngeritik kuencengg… jualan juga kueenncengg]
    imw85
    delete reply
    imw85 wrote on Apr 16
    jsops said
    soal nyanyi menyanyi , dulu itu saya rada2 khawatir ..”wah jangan2 diajak duetan berdua mas Djody” bisa runyam neh..urusan..
    Walah jangankan urusan nyanyi-menyanyi yg rapat dg “duit”. Lha urusan riset meriset aja sering telikung menelikung.

    Paling kalo kejadian cuma bisa mengumpat “sial gua kena dikerjain” hi hi hi hi gile deh, orang sekolahan koq caranya kayak gini nelikungnya
    imw85
    delete reply
    imw85 wrote on Apr 16
    jsops said
    Mamahami Indonesia kalau nggak bersinggungan dengan laler / nyamuk / panas / banjir / lapar dsb jangan merasa tau persoalan Indonesia
    Saya sering kadang “gemes, sedih” dsb, ketika ngeliat anak muda (baru lulus SMA, nerusin di sini), terus untuk mendapatkan “posisi di audien tertentu”,

    Jadi memakai jurus dagang, yg penting dapat tepuk tangan.
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 16, edited on Apr 16
    imw85 said
    Walah jangankan urusan nyanyi-menyanyi yg rapat dg “duit”. Lha urusan riset meriset aja sering telikung menelikung.

    Paling kalo kejadian cuma bisa mengumpat “sial gua kena dikerjain” hi hi hi hi gile deh, orang sekolahan koq caranya kayak gini nelikungnya
    Mustinya RI 1 punya “mata dan telinga” dong…untuk membaca dunia persilatan dibawah? Sehingga tau sepak terjang kungfu pendekar2 dari sekolah2 dunia antah berantah tersebut..?
    penuhcinta
    delete reply
    penuhcinta wrote on Apr 16
    imw85 said
    hi hi hi hi gile deh, orang sekolahan koq caranya kayak gini nelikungnya
    waks….malah lebih buas lg mustinya ya…krn lahannya kan lahan gak basah2 amat..jd rebutannya lbh seru. (ikutan nimbrung bole yaaa).

    saya jg masih suka terheran2 kok sama teman2 seprofesi yg bahkan biar udah sekolah sampe ke mana2, masih mikirnya kepentingan perut sendiri dan tega bukan lg sikut menyikut, tp tonjok sana-sini..dr yg licikan sampai yg vulgar2an. Artinya…intelegensia dan kelakuan gak selalu berbanding lurus.
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 16, edited on Apr 16
    penuhcinta said
    waks….malah lebih buas lg mustinya ya…krn lahannya kan lahan gak basah2 amat..jd rebutannya lbh seru. (ikutan nimbrung bole yaaa).

    saya jg masih suka terheran2 kok sama teman2 seprofesi yg bahkan biar udah sekolah sampe ke mana2, masih mikirnya kepentingan perut sendiri dan tega bukan lg sikut menyikut, tp tonjok sana-sini..dr yg licikan sampai yg vulgar2an. Artinya…intelegensia dan kelakuan gak selalu berbanding lurus.
    nah tuh.. pakar I Gede Winarya mau & bisa jelasin tuhh.. hehehe.. namanya juga pakar boo..!
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 16
    *nama sengja lho..saya rubah… kan biar nggak ketuan* hihihi
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 16
    imw85 said
    Saya sering kadang “gemes, sedih” dsb, ketika ngeliat anak muda (baru lulus SMA, nerusin di sini), terus untuk mendapatkan “posisi di audien tertentu”,

    Jadi memakai jurus dagang, yg penting dapat tepuk tangan.
    Bener Bung… saat ini ada salah satu yang saya khawatirkan …. di wilayah dunia per diplomasian . Ada kandidat kuat yang sepertinya rame’ dengan tepuk tangan untuk siap dipersilahkan menduduki jabatan number one nya.

    Padahal setau saya ..ybs nggak pernah mampir diwarung tegalnya pak mamat cs . Dari semenjak level SMA juga sudah berkawan dengan winter dan saljunya . :(
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 16
    jsops said
    Bener Bung… saat ini ada salah satu yang saya khawatirkan …. di wilayah dunia per diplomasian . Ada kandidat kuat yang sepertinya rame’ dengan tepuk tangan untuk siap dipersilahkan menduduki jabatan number one nya.

    Padahal setau saya ..ybs nggak pernah mampir diwarung tegalnya pak mamat cs . Dari semenjak level SMA juga sudah berkawan dengan winter dan saljunya . :(
    dan yang pasti orang tersebut bukan bang Rojali huhahaha… karena pasti udah saya tereakin duluan..”wwoooyy…bagi proyyeek..!”

    Dan juga bukan karena saya mau ngusung2 Bang Jali lhoo..bang jali mah..biasa diusung sama bininya sendiri .. saya pan laki2.. masa mau usung2an.. :)-)
    penuhcinta
    delete reply
    penuhcinta wrote on Apr 16
    Padahal kalo mau ngusung Bang Rojali saya mau ikutan lo Mas. Kan udah jelas lucunya..nah looo…
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 16
    penuhcinta said
    (ikutan nimbrung bole yaaa).
    harus dong…wajib itu hukumnya :)
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 16
    penuhcinta said
    Padahal kalo mau ngusung Bang Rojali saya mau ikutan lo Mas. Kan udah jelas lucunya..nah looo…
    Jangan … saya kurang setuju tuh….nanti semua anak band suruh nyanyi PSP..PSP’an …pake kaca mata item semua.. Gelaapppp dee’..
    penuhcinta
    delete reply
    penuhcinta wrote on Apr 16
    Gak apa2 Mas..ntar kan Deddy Dores, Atiek CB ikutan dan Ian Kasela bakalan nimbrung.
    Lbh baik kaca mata item masih bisa liat kemana2 drpd kacamata kuda Om..kebanyakan pan begituh.
    imw85
    delete reply
    imw85 wrote on Apr 16
    jsops said
    Mustinya RI 1 punya “mata dan telinga” dong…untuk membaca dunia persilatan dibawah? Sehingga tau sepak terjang kungfu pendekar2
    Kuping telinga banyak, tapi itu lho kayak nonton pameran di Indonesia, atau ke Mall di Indonesia, tiap stand pasang musik yg keras-keras untuk mencuri perhatian (siapa tahu datang ke stand-nya untuk beli ataupun ngegodain SPG he he he)

    Apa ndak kebrisikan ? Atau mending tutup telinga saja ?
    nazneenku
    delete reply
    nazneenku wrote on Apr 16
    imw85 said
    ngegodain SPG he he he
    pa made godain spg ya.. ajak saya pa..hahaaa
    imw85
    delete reply
    imw85 wrote on Apr 16
    jsops said
    Padahal setau saya ..ybs nggak pernah mampir diwarung tegalnya pak mamat cs . Dari semenjak level SMA juga sudah berkawan dengan winter dan saljunya .
    Udah gitu pas ngerasain winter dan saljunya, cuma pindah tidur dan paling ikut party gitu ???

    Pas ditanyain pernah ke museum ini di kota itu ? Wah.. bosen ah ke sana, lha ke museum koq disamain ama Mall.
    imw85
    delete reply
    imw85 wrote on Apr 16
    penuhcinta said
    Lbh baik kaca mata item masih bisa liat kemana2 drpd kacamata kuda Om..kebanyakan pan begituh.
    Kasihan banget si Kuda, udah dipecut, sekarang kacamatanya mau direbut manusia :-)
    imw85
    delete reply
    imw85 wrote on Apr 16
    nazneenku said
    pa made godain spg ya.
    Walah SPG yg malah nggodain saya, saya kan orang lugu …..
    penuhcinta
    delete reply
    penuhcinta wrote on Apr 16
    imw85 said
    Kasihan banget si Kuda, udah dipecut, sekarang kacamatanya mau direbut manusia :-)
    Iya…semua pribahasa berkaitan dng kuda konotasinya selalu negatif…kacamata kuda, kuda gigit besi…kasihan ya si kuda.
    Lbh kasihan lg manusia2 yg jd korban manusia2 berkaca mata kuda..he..he..he.
    nazneenku
    delete reply
    nazneenku wrote on Apr 16
    imw85 said
    Walah SPG yg malah nggodain saya, saya kan orang lugu …..
    haahaha lugu pisan…
    penuhcinta
    delete reply
    penuhcinta wrote on Apr 16
    imw85 said
    Walah SPG yg malah nggodain saya, saya kan orang lugu …..
    SPG: Paaakkk….coba liat mobil ini..bagus deh (sambil kedip2)
    Pak Made: Oh..jadi suspensi, akselerasi dan sbg..sbg..(mulai keluar ilmiahnya)
    SPG: OOt mode..blink..blink…hmmm….silahkan dibaca aja deh Pak yaaa….OK next….
    imw85
    delete reply
    imw85 wrote on Apr 16
    SPG : Pak ini ada Internet, dg sekali tekan menghubungkan dengan dunia maya

    Saya : Hm.. apanya dunia paranormal tuh dunia maya

    SPG (Sembari cengar-cengir), dunia maya itu pokoknya lebih canggih dari dunia paranomal deh

    Rugi atuh kalau ketemu SPG ngeluarin jurus ilmiah hehehe
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 16
    imw85 said
    Kuping telinga banyak, tapi itu lho kayak nonton pameran di Indonesia, atau ke Mall di Indonesia, tiap stand pasang musik yg keras-keras untuk mencuri perhatian (siapa tahu datang ke stand-nya untuk beli ataupun ngegodain SPG he he he)

    Apa ndak kebrisikan ? Atau mending tutup telinga saja ?
    salah crossover tuh speakernya.. eh ..salah pilih microphone maksud saya. hehe….jangan pake condensor mic ..pake shure aja yang passive .. pasti nggak berisik dan nggak sembeerr…inputnya . :)
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 16
    penuhcinta said
    SPG: Paaakkk….coba liat mobil ini..bagus deh (sambil kedip2)
    Pak Made: Oh..jadi suspensi, akselerasi dan sbg..sbg..(mulai keluar ilmiahnya)
    SPG: OOt mode..blink..blink…hmmm….silahkan dibaca aja deh Pak yaaa….OK next….
    SPG godain kita dong .. *sambil bawa pisau* mau ngrampok trus memperkosaaaahhh..
    nazneenku
    delete reply
    nazneenku wrote on Apr 16
    jsops said
    SPG godain kita dong .. *sambil bawa pisau* mau ngrampok trus memperkosaaaahhh..
    waaaahhh gawat… *bisik-bisik* mau diperkosa dimana?
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 16
    nazneenku said
    waaaahhh gawat… *bisik-bisik* mau diperkosa dimana?
    *ssstt… lagi nyari tempat nyang sepi neh..nyang ada ac nyah*
    nazneenku
    delete reply
    nazneenku wrote on Apr 16
    jsops said
    *ssstt… lagi nyari tempat nyang sepi neh..nyang ada ac nyah*
    *masih bisik2* kasih tau pa made jgn?
    sahatuh
    delete reply
    sahatuh wrote on Apr 16
    Setorannya udah saya kasihin sama yang Diatas oom,hehehe…. Pasti nyampe ke oom deh, gak bakal kemana-mana….amiennnnn
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 16, edited on Apr 16
    nazneenku said
    *masih bisik2* kasih tau pa made jgn?
    Orang Bali setau saya nggak suka merkosa … mereka biasanya yang diperkosa..huahahaha
    [EDITED: budayanye maksudnya….ntar pak Made salah paham lagi..malahan kite’ nanti yang diperkosa …hahaha… dikirimin leak ..]
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 16, edited on Apr 16
    sahatuh said
    Setorannya udah saya kasihin sama yang Diatas oom,hehehe…. Pasti nyampe ke oom deh, gak bakal kemana-mana….amiennnnn
    duuhhh.. jadi inget.. maghrib udah kelewatan neh… yah..Allah..maapkan saya .
    nazneenku
    delete reply
    nazneenku wrote on Apr 16
    jsops said
    yah..Allah..maapkan saya .
    Dimaafkan… tapi dosanya tetepp..hehe
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 16
    lhaa nte’ sendiri ?..udah maghrib’an blom..? …lewat juga pan..hayoo… mo boong lage’ … Malekat ngliatin tuh..
    nazneenku
    delete reply
    nazneenku wrote on Apr 16
    haha.. iya dosa saya.. o’onnya saya masih bisa tertawa..masih kacau iman ini…hihi

    *malu..*
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 16
    Ya.. Tuhan ampuni dosa kawanku yang mau nasahatin aku padalan dia sendiri juga lupa kalau masih butuh diingetin sama aku jadinya impas ya Allah yaaaa..amin .

    Tuh… doa ane’ tuh… ustadz mujarab nyang habis tampil di tipi.
    zeventina
    delete reply
    zeventina wrote on Apr 16
    Lain kali ati2 ya pah.. hihi
    imw85
    delete reply
    imw85 wrote on Apr 16
    jsops said
    ati2 mas ..sampeyan salah2 bisa termasuk barisan suami ..yang sedang di incar sama ibu2 dharma wanita.
    Kalo yg jadi menteri lelaki, maka ketua dharma wanita adalah istrinya. Kalau yg yg jadi menteri itu wanita ? maka suaminya jadi apa ? Ketua Dharma pria ?
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 16
    zeventina said
    Lain kali ati2 ya pah.. hihi
    haha.. kena lagi deh..dinasehatin…[untung bukan anak kecil lagi yang nasehatin]…. tuh kalo orang jawa.. untung terussss…. semua maunya untung…nga mau rugi..hahaaha
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 16
    imw85 said
    Kalo yg jadi menteri lelaki, maka ketua dharma wanita adalah istrinya. Kalau yg yg jadi menteri itu wanita ? maka suaminya jadi apa ? Ketua Dharma pria ?
    hahaha
    imw85
    delete reply
    imw85 wrote on Apr 16
    jsops said
    Orang Bali setau saya nggak suka merkosa … mereka biasanya yang diperkosa..huahahaha
    [EDITED: budayanye maksudnya….ntar pak Made salah paham lagi..malahan kite’ nanti yang diperkosa …hahaha… dikirimin leak ..]
    Diperkosa dg sengaja gitu :-) Ini mah gerombolan “Kuta boy”, selama agak coklat dan rambutnya agak merah, ngakunya orang Kuta, pas ditanya Banjar apa, gantian bingung dan ada yg jawab Banjarnegara.

    Soal leak, paling seru itu kalau nonton wayang leak, tontonan ini udah tergolong langka sejak dulu, dan kalo sekarang ada tontonan ini ditanggung kalah deh bioskop.
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 16, edited on Apr 16
    imw85 said
    Diperkosa dg sengaja gitu :-) Ini mah gerombolan “Kuta boy”, selama agak coklat dan rambutnya agak merah, ngakunya orang Kuta, pas ditanya Banjar apa, gantian bingung dan ada yg jawab Banjarnegara.

    Soal leak, paling seru itu kalau nonton wayang leak, tontonan ini udah tergolong langka sejak dulu, dan kalo sekarang ada tontonan ini ditanggung kalah deh bioskop.
    Banjarnegara..huahaha.. bukannya yang ngomongnya “iyak..kayak..kuwik.laahh..” mirip2 tegal kan yaakk.. jauh amat ama Banjaransari..yak

    Soal wayang leak.. wah saya aja nggak pernah nonton tuh.. keburu rock & roll duluan yang diminati.eh’ ngeracuni ..ding . :)
    imw85
    delete reply
    imw85 wrote on Apr 16
    jsops said
    Soal wayang leak.. wah saya aja nggak pernah nonton tuh.. keburu rock & roll duluan
    Wah wayang leak ini bukan lagi multimedia :-) tapi multi – dunia. Soalnya pentasnya pasti di atas kuburan.

    Soal rock and roll kapan lagi nih manggung ? Atau sudah libur dari dunia panggung….
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 16
    imw85 said
    Wah wayang leak ini bukan lagi multimedia :-) tapi multi – dunia. Soalnya pentasnya pasti di atas kuburan.

    Soal rock and roll kapan lagi nih manggung ? Atau sudah libur dari dunia panggung….
    waaaks..leak beneran maksudnya bung..:)
    manggung mah kalo bisa nggak ada liburnya ..hehehe..masalahnya sekarang kalo saya hrs manggung dengan thema “narsis” sambil i lop yu ‘an… hehehe… malesss dee’…lagian juga udah nggak pantes2 acan

    Payah neeh.. panggung msk Indonesia sekarang ini .. judulnya “mubazir” (lighting sys./ sound sys/ stage sys) udah mendekati kelas Lion King … tapi pengisinya kelas embeek… huahahaa.. (maksud saya thematik .. bukan bunyi2an)
    penuhcinta
    delete reply
    penuhcinta wrote on Apr 16
    jsops said
    waaaks..leak beneran maksudnya bung..:)
    manggung mah kalo bisa nggak ada liburnya ..hehehe..masalahnya sekarang kalo saya hrs manggung dengan thema “narsis” sambil i lop yu ‘an… hehehe… malesss dee’…lagian juga udah nggak pantes2 acan

    Payah neeh.. panggung msk Indonesia sekarang ini .. judulnya “mubazir” (lighting sys./ sound sys/ stage sys) udah mendekati kelas Lion King … tapi pengisinya kelas embeek… huahahaa.. (maksud saya thematik .. bukan bunyi2an)
    Kalo gitu biar saya aja yg narsis ‘I lop yu’-an deh Mas..he..he..he…maksa banget gak sih?
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 16, edited on Apr 16
    agak maksa kalo nyanyinya pake kudung .. hehehe
    eh.. tapi kalo i lop yu Rasullullah ya gak narsis seh… :)
    penuhcinta
    delete reply
    penuhcinta wrote on Apr 16
    jsops said
    agak maksa kalo nyanyinya pake kudung .. hehehe
    eh.. tapi kalo i lop yu Rasullullah ya gak narsis seh… :)
    “I lop yu mai hasben” juga gak narsis kok Mas..he..he..he… Tp kalo denger musik suka gak bisa nahan goyang..nah lo…kan aneh tuh…
    klamelan
    delete reply
    klamelan wrote on Apr 16
    kata pepatah Jawa : “anak polah, bapak kepradah ”
    imw85
    delete reply
    imw85 wrote on Apr 17
    jsops said
    lo bisa nggak ada liburnya ..hehehe..masalahnya sekarang kalo saya hrs manggung dengan thema “narsis” sambil i lop yu ‘an… hehehe… malesss dee’…lagian juga udah nggak pantes2 acan
    Kagak kebayang deh, bung JSOP nyanyi “I lop yu” sambil pegang tiang kayak pelm India
    sahatuh
    delete reply
    sahatuh wrote on Apr 17
    imw85 said
    Kagak kebayang deh, bung JSOP nyanyi “I lop yu” sambil pegang tiang kayak pelm India
    Duet ama bang Jali, hahahaha…pasti keren tuh..
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 17, edited on Apr 17
    hehe.. kalo ber najis2an dikalangan terbatas..(buat nostal-gila) ..gak apa2 kaleee’ yaa.. (yg nonton cuman 5 orang) gak boleh lebih
    imw85
    delete reply
    imw85 wrote on Apr 17
    jsops said
    .. (yg nonton cuman 5 orang) gak boleh lebih
    Tiap orang tapi bawa kamera, terus 1 upload ke youtube, 1 upload ke veoh, 1 upload k multiply, 1 langsung streaming ke TV, 1 dikirim ke lapak-lapak Mangga 2
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 17
    imw85 said
    Tiap orang tapi bawa kamera, terus 1 upload ke youtube, 1 upload ke veoh, 1 upload k multiply, 1 langsung streaming ke TV, 1 dikirim ke lapak-lapak Mangga 2
    hahaha
    sigu2n
    delete reply
    sigu2n wrote on Apr 17
    jsops said
    manggung mah kalo bisa nggak ada liburnya ..hehehe..masalahnya sekarang kalo saya hrs manggung dengan thema “narsis” sambil i lop yu ‘an… hehehe… malesss dee’…lagian juga udah nggak pantes2 acan
    kalo kayak yg terakhir di hardrock cafe, mau gak mas?
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 18, edited on Apr 18
    Saat saya setuju untuk tampil di Hardrock cafe , ada alasan dan motivasi kuat untuk saya akhirnya mau melakukannya. Yaitu sebagai ‘bridging’ untuk melanjutkan langkah berikutnya. (sebab generasi hari ini relatif ‘buta’ dan gak tau…. jsop?… sapa seh dia… hahahhaa..) Saya sungguh sadar dan cukup tau diri koq hehehe..

    Tetapi… industri hiburan ternyata masih suka menjual barang lama yang sekedar ber-mimpi2 ditataran “kenangan” masa lalu saja . Jelas… saya ingin menjadi manusia “hari ini” ..bukan sekedar pernah hidup dimasa lalu. :)

    Karena itu pula …saya tidak tertarik lagi untuk jualan baju dan celana bekas .hehe
    imw85
    delete reply
    imw85 wrote on Apr 18
    jsops said
    Tetapi… industri hiburan ternyata masih suka menjual barang lama yang sekedar ber-mimpi2 ditataran “kenangan” masa lalu saja . Jelas… saya ingin menjadi manusia “hari ini” ..bukan sekedar pernah hidup dimasa lalu. :)
    Mungkin alasan yang sama juga bikin saya pertamanya kecewa pas nonton Peter Gabriel, diharapkan seperti era G

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara