Dilema

dilema

Suatu ketika ada sebuah kisah , tentang seorang warga masyarakat yang telah bersusah payah berjuang untuk menyambung hidupnya , yang harus juga memikul beban hidup sanak beserta keluarganya . Perjuangan untuk melengkapi persyaratan agar mendapat fasilitas bantuan kredit dari sebuah Bank terkemuka bukanlah persoalan yang mudah . Harus merelakan semua harta dan asset pribadi miliknya untuk di anggunkan sebagai jaminan persyaratan kepada lembaga keuangan tersebut .

Belum lagi berbagai berkas laporan sebagai bukti kemampuan bahwa warga tersebut memiliki kapasitas untuk mengelola sebuah perusahaan (laporan neraca rugi/laba dan sebagainya) . Semuanya itu adalah sebuah proses yang cukup menyita waktu , menguras tenaga serta pikiran bagi warga yang bersangkutan .

Namun ternyata belumlah selesai problem warga yang ingin membuka usahanya tersebut , sebab tanpa terduga dia berhadapan dengan amarah dan berbagai protes kritikan dari sesama warga masyarakat lainnya , yang justru diharapkan akan mendukung bisnis usahanya di kemudian.

Dalam kegalauan pikiran yang menyelimuti benaknya .. apakah yang dapat dilakukan / harus bagaimanakah dia menyikapi keadaan . Sementara semua persayaratan aspek legal / hukum sudah dikantonginya.

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

4 Responses to “ Dilema ”

  1. Dialog / comment di multiply.com

    hendryherlambang wrote on Apr 24
    ya… tetap harus diskusi dengan mereka mas…
    entah tertutup atau terbuka… itu hanya mekanisme…
    tp yg penting ada kesepakatan…
    apapun alasan kita… tetap kembali pada diskusi atau di negara kita umum disebut musyawarah…

    tp yang berat… kita tak pernah percaya pada seorang wakil…
    musti semua ingin ikut…
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 24
    Diskusi dengan pihak siapa (mekanisme legalitasnya apa ..?) sebab legalitas formal sebagai kewajiban hukum a/n warganegara bukankah sudah dimilikinya?

    Dan diskusi dalam konteks apa?
    hendryherlambang
    delete reply
    hendryherlambang wrote on Apr 24
    jsops said
    Diskusi dengan pihak siapa (mekanisme legalitasnya apa ..?) sebab legalitas formal sebagai kewajiban hukum a/n warganegara bukankah sudah dimilikinya?

    Dan diskusi dalam konteks apa?
    oh ya saya lupa.. saya menyoroti hub dengan masyarrakat sekitar…
    walaupun legalitas udah dipegang, kalo ternyata rakyat sekitar merasa terancam… perusahaan punya tanggung jawab sosial.

    dulu saya pernah baca kalo ada peraturan pemerintah tentang AMDAL, disitu disebutkan tentang keterbukaan informasi dan peran masyarakat.
    bintanbay79
    delete reply
    bintanbay79 wrote on Apr 24
    hampir semua regulasi berdiri sendiri-sendiri dan tumpang tindih dan (dlm banyak hal) saling bertentangan satu sama lain…ini yang secara “alamiah” menciptakan laju pertumbuhan angka korupsi meningkat tajam.
    bintanbay79
    delete reply
    bintanbay79 wrote on Apr 24
    hendryherlambang said
    dulu saya pernah baca kalo ada peraturan pemerintah tentang AMDAL, disitu disebutkan tentang keterbukaan informasi dan peran masyarakat.
    kalo gak salah isinya AMDAL itu tentang Rencana Pengelolaan Lingkungan sebelum dan selama “instalasi produksi” itu dibangun dan selama “instalasi produksi” itu melakukan proses produksi nya.

    kalo para penyelengara regulasi (dan pembuat regulasi) tentang tata ruang-nya konsiten mungkin gak akan ada tuh yang marah-marah..D:
    hendryherlambang
    delete reply
    hendryherlambang wrote on Apr 24
    bintanbay79 said
    kalo para penyelengara regulasi (dan pembuat regulasi) tentang tata ruang-nya konsiten
    nah.. kalo yang ini emang yang sebenernya jadi pokok masalah…
    hehehehehe….
    ravindata
    delete reply
    ravindata wrote on Apr 24
    Bisa lebih detail mas jsop, kemarahan dan protes mereka tersebut ttg apa ? Tentang Amdal, yg diperkirakan teman2 tsb ? Usaha yg mau dibiayai bank tersebut industri/usaha apa ya ?
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 24
    Secara general saja mas , bukankah ini kasus yang sudah umum terjadi ? silahkan dilanjut dengan teman2 lainnya disini
    (sy ada keperluan / siang sy kembali)
    priadambaanku
    delete reply
    priadambaanku wrote on Apr 24
    dalam terminologi ilmu politik yang daku kunyah selama 5 taon, memang jelas banget, di lingkungan hidup kita ada dua hal yang serupa tapi tak sama: yang satu power, dan satunya lagi influence. power lebih bernuansa legal formal (penguasa, birokrat, dengan perangkat hukumnya), sebaliknya di sisi lain influence lebih informal (di dalam disiplin ilmu readership pun kita mengenal informal leader). idealnya kedua unsur ini bersinergi. Namun dalam masyarakat yang heterogen, kenyataan sering memperlihatkan disharmonisasi. kita manusia sebagai individu maupun warga kolektif, ya memang zoon politicon tapi sekaligus mahluk sosial. keabsahan mengantongi kekuatan legal formal dalam kasus ini, tampaknya tidak diimbangi oleh kemampuan melakukan approach dengan cair terhadap warga sekitar (diskomunikasi). jadi, menurut saya, keabsahan formal yang tetap aja nisbi itu itu mestinya dapat dipahami oleh mereka jika melalui sebuah proses dialog yang cukup. kecuali kita tinggal di pabrik robot (hehe). kalo semua sudah dilakukan dan hasilnya masih seperti itu, kita masih diberi satu cara untuk menerima apapun yang terjadi (dengan ikhlas) dengan cara menemui dan memohon petunjuk Dia malam-malam, dalam sebuah solat bernama Tahajud. Demikian pandangan kami dari fraksi CCDBR (Cup Cup Dikecup Berdiri si Bulu Roma)…
    sigu2n
    delete reply
    sigu2n wrote on Apr 25
    ini sok taunya saya aja loh ya…

    untuk memulai/mengembangkan suatu usaha memang butuh perencanaan yang matang, apalagi yang berkenaan dengan kredit kepada bank (dalam hal ini adalah kredit modal kerja untuk memulai suatu usaha).

    untuk menghindari kredit macet (non-performing loan), sudah lazim/umum di dunia perbankan (bukan hanya di Indonesia) untuk menilai kelayakan suatu usaha yang akan diberikan kredit. setelah melihat usaha tersebut layak, bank juga harus punya jaminan (collateral) dari yang mengajukan kredit karena bank yang sifatnya harus prudent. hal-hal tersebut memang terkesan agak complicated.

    Untuk menilai kelayakan suatu usaha yang diajukan, biasanya bank melihat beberapa aspek, antara lain:
    1. aspek manajemen/organisasi
    2. aspek pemasaran
    3. aspek teknis produksi
    4. aspek sosial ekonomi
    5. aspek risiko usaha
    6. aspek hukum/legalitas
    7. aspek lingkungan usaha (AMDAL)
    8. dll. (tambahin sendiri)

    dari kisah diatas sepertinya ada maslah pada aspek AMDAL, yang secara langsung atau tidak akan mempengaruhi penilaian kelayakan usaha dimata perbankan.

    saya punya cerita mengenai usaha seafood yang terletak di luar landas pacu sebuah bandara yang gagal menerima pembiayaan dari bank, padahal dari aspek pemasaran, legalitas, teknis produksi, dll.. sangat profitable. namun karena letaknya berdekatan dengan bandara dan mendatangkan banyak burung-burung sehingga mengganggu pesawat yg datang dan pergi. untuk itu aspek AMDAL sangat perlu dan tidak bisa dianggap remeh.
    ravindata
    delete reply
    ravindata wrote on Apr 25
    Saya setuju apa yang disampaikan mas pria budi santoso dari fraksi ccdbr. Sosialisasi tentang azas-manfaat adalah sangat penting. Bila hal tsb sudah dilakukan, maka tokoh/agitator informal juga hrus didekati. Bahkan biasanya , Amdal akhirnya akan diabaikan dan tidak dipersoalkan mereka. Di probolinggo ada perusahaan plywoodt yang limbahnya merusak konservasi laut, tapi sampai skrng tetap melenggang karena dia memberikan azas manfaat yaitu memberi makan ribuan keluarga disana. Amdalpun dilupakan, yang penting ikut nunut mangan..
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25
    hendryherlambang said
    oh ya saya lupa.. saya menyoroti hub dengan masyarrakat sekitar…
    walaupun legalitas udah dipegang, kalo ternyata rakyat sekitar merasa terancam… perusahaan punya tanggung jawab sosial.

    dulu saya pernah baca kalo ada peraturan pemerintah tentang AMDAL, disitu disebutkan tentang keterbukaan informasi dan peran masyarakat.
    iya tuh mas..apakah keterbukaan serta peran masyarakat dalam hal diatas , sudah terwakili dalam penerbitan AMDAL belum ya..?
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25
    bintanbay79 said
    hampir semua regulasi berdiri sendiri-sendiri dan tumpang tindih dan (dlm banyak hal) saling bertentangan satu sama lain…ini yang secara “alamiah” menciptakan laju pertumbuhan angka korupsi meningkat tajam.
    sepakat tuh mas … “manipulasi makna hukum”
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25
    bintanbay79 said
    kalo para penyelengara regulasi (dan pembuat regulasi) tentang tata ruang-nya konsiten mungkin gak akan ada tuh yang marah-marah..D:
    setubuh be’eng kayanya sih..:)
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25
    hendryherlambang said
    nah.. kalo yang ini emang yang sebenernya jadi pokok masalah…
    hehehehehe….
    yo’i jeek hehehe
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25, edited on Apr 25
    priadambaanku said
    dalam terminologi ilmu politik yang daku kunyah selama 5 taon, memang jelas banget, di lingkungan hidup kita ada dua hal yang serupa tapi tak sama: yang satu power, dan satunya lagi influence. power lebih bernuansa legal formal (penguasa, birokrat, dengan perangkat hukumnya), sebaliknya di sisi lain influence lebih informal (di dalam disiplin ilmu readership pun kita mengenal informal leader). idealnya kedua unsur ini bersinergi. Namun dalam masyarakat yang heterogen, kenyataan sering memperlihatkan disharmonisasi. kita manusia sebagai individu maupun warga kolektif, ya memang zoon politicon tapi sekaligus mahluk sosial. keabsahan mengantongi kekuatan legal formal dalam kasus ini, tampaknya tidak diimbangi oleh kemampuan melakukan approach dengan cair terhadap warga sekitar (diskomunikasi). jadi, menurut saya, keabsahan formal yang tetap aja nisbi itu itu mestinya dapat dipahami oleh mereka jika melalui sebuah proses dialog yang cukup. kecuali kita tinggal di pabrik robot (hehe). kalo semua sudah dilakukan dan hasilnya masih seperti itu, kita masih diberi satu cara untuk menerima apapun yang terjadi (dengan ikhlas) dengan cara menemui dan memohon petunjuk Dia malam-malam, dalam sebuah solat bernama Tahajud. Demikian pandangan kami dari fraksi CCDBR (Cup Cup Dikecup Berdiri si Bulu Roma)…
    hmmh.. tarik menarik kepentingan (sistem politik) yang belum menemukan titik tengah bandul keseimbangannya . gitu kali yakk..
    Antara produk politik dan produk makhluk sosialnya .
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25
    sigu2n said

    saya punya cerita mengenai usaha seafood yang terletak di luar landas pacu sebuah bandara yang gagal menerima pembiayaan dari bank, padahal dari aspek pemasaran, legalitas, teknis produksi, dll.. sangat profitable. namun karena letaknya berdekatan dengan bandara dan mendatangkan banyak burung-burung sehingga mengganggu pesawat yg datang dan pergi. untuk itu aspek AMDAL sangat perlu dan tidak bisa dianggap remeh.
    artinya anda menitik beratkan pada aspek local environmentnya ? yang merasa terganggu dengan berdirinya lokasi bisnis tersebut .
    Jadi masalah AMDAL juga ya mas..
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25
    ravindata said
    Saya setuju apa yang disampaikan mas pria budi santoso dari fraksi ccdbr. Sosialisasi tentang azas-manfaat adalah sangat penting. Bila hal tsb sudah dilakukan, maka tokoh/agitator informal juga hrus didekati. Bahkan biasanya , Amdal akhirnya akan diabaikan dan tidak dipersoalkan mereka. Di probolinggo ada perusahaan plywoodt yang limbahnya merusak konservasi laut, tapi sampai skrng tetap melenggang karena dia memberikan azas manfaat yaitu memberi makan ribuan keluarga disana. Amdalpun dilupakan, yang penting ikut nunut mangan..
    hmmh.. pendekatan “OKEMISASI” ya.. huahahahaa
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25, edited on Apr 25

    Kesimpulan sementara

    JAdi ada 3 poin dari rumusan diatas :

    1. AMDAL
    2. Manipulasi aturan/Hukum hingga ijin usaha tersebut bisa dikeluarkan
    3. Premanisasi / Okemisasi untuk me-mulusisasi usaha

    gitu kan..?
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25, edited on Apr 25
    1.
    Menurut anda semua , sudah legitimate kah instansi yang berwenang mendesign setiap AMDAL yang diterbitkan … saya sendiri nggak tau …tetapi sejauh pemberitaan2 yang ada diberbagai koran , mereka adalah Instansi dengan orang2 yang cukup berkompeten dibidangnya bukan . Jadi salahnya dimana ?
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25, edited on Apr 25
    2.
    Masalah manipulasi aturan dan hukum yang dipaksakan berjalan , jelas adalah dosa politikus yang kongkalikong dengan perangkat pelaksanaan di lapangan kan ? (dibawah kendali eksekutifnya)
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25, edited on Apr 25
    3.
    Premanisasi/Okemisasi , yang selama ini diterapkan di wilayah2 tertentu .. jelas dilakukan untuk menyiasati arogansi sektoral (penguasa2 tradisional) di wilayahnya kan?
    Lalu pertanyaan kita… bisakah dibenarkan perilaku/kebiasaan tersebut?
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25, edited on Apr 25
    Jadi mana yang harus di prioritaskan agar pertumbuhan ekonomi tidak paradoks dengan lingkungan sosial masyarakat di sekitarnya sendiri ?
    sigu2n
    delete reply
    sigu2n wrote on Apr 25
    jsops said
    1.
    Menurut anda semua , sudah legitimate kah instansi yang berwenang mendesign setiap AMDAL yang diterbitkan … saya sendiri nggak tau …tetapi sejauh pemberitaan2 yang ada diberbagai koran , mereka adalah Instansi dengan orang2 yang cukup berkompeten dibidangnya bukan . Jadi salahnya dimana ?
    setahu saya analisis mengenai dampak lingkungan hidup (AMDAL) ada ditangan Komisi Penilai AMDAL, yang pembentukan dan kedudukannya dilaksanakan pada dua tingkatan, yaitu:

    1. tingkat pusat, dibentuk oleh menteri dan berkedudukan di instansi yg ditugasi utk mengendalikan dampak lingkungan;

    2. tingkat daerah, dibentuk olh gubernur dan berkedudukan di instansi yg ditugasi utk mengendalikan dampak lingkungan di tingkat propinsi

    jadi secara organisatoris itu sudah cukup legitimate. kalo ditanya salahnya dimana? tak lain dan tak bukan adalah ‘Oknum’
    sigu2n
    delete reply
    sigu2n wrote on Apr 25
    jsops said
    3.
    Premanisasi/Okemisasi , yang selama ini diterapkan di wilayah2 tertentu .. jelas dilakukan untuk menyiasati arogansi sektoral (penguasa2 tradisional) di wilayahnya kan?
    Lalu pertanyaan kita… bisakah dibenarkan perilaku/kebiasaan tersebut?
    kayaknya selama ini sejauh kepentingan banyak orang yg jadi pertimbangan dan kepentingan segelintir orang yg dikorbankan… mungkin jadi bisa dibenarkan.
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25, edited on Apr 25
    sigu2n said
    setahu saya analisis mengenai dampak lingkungan hidup (AMDAL) ada ditangan Komisi Penilai AMDAL, yang pembentukan dan kedudukannya dilaksanakan pada dua tingkatan, yaitu:

    1. tingkat pusat, dibentuk oleh menteri dan berkedudukan di instansi yg ditugasi utk mengendalikan dampak lingkungan;

    2. tingkat daerah, dibentuk olh gubernur dan berkedudukan di instansi yg ditugasi utk mengendalikan dampak lingkungan di tingkat propinsi

    jadi secara organisatoris itu sudah cukup legitimate. kalo ditanya salahnya dimana? tak lain dan tak bukan adalah ‘Oknum’
    oknum..? setuju…tapi oknum yang disebelah mana.agar bisa kita cincang kakinya?

    Menurut sumber yang saya baca disebuah media ada sebuah kasus Pemberian ijin usaha Pompa Bensin antara Porong – Surabaya . Jelas AMDAL berbunyi bahwa lokasi tersebut bukan untuk peruntukan jenis usaha seperti POM BENSIN dsb . (kadar pencemaran limbah)

    Namun ketika di konfirmasikan ke Pihak AMDAL , mereka mengatakan bahwa , pelaksanaan tehnis peruntukan pembangunan di lapangan ada ditangan masing2 Pemdanya . Berarti bukan salahnya Instansi pembuat AMDAL kan..?
    sigu2n
    delete reply
    sigu2n wrote on Apr 25
    jsops said
    Jadi mana yang harus di prioritaskan agar pertumbuhan ekonomi tidak paradoks dengan lingkungan sosial masyarakat di sekitarnya sendiri ?
    *sok tau mode on*

    kayaknya harus jalan berdampingan!

    *tuing… kabur!!*
    sigu2n
    delete reply
    sigu2n wrote on Apr 25
    jsops said
    Namun ketika di konfirmasikan ke Pihak AMDAL , mereka mengatakan bahwa , pelaksanaan tehnis di lapangan ada ditangan masing2 Pemdanya . Berarti bukan Oknum Instansi pembuat AMDAL kan..?
    kalo oknumnya sudah berjemaah seperti itu…. ya jadi berubah menjadi Instansi. hueheheh…. :))
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25, edited on Apr 25
    sigu2n said
    kayaknya selama ini sejauh kepentingan banyak orang yg jadi pertimbangan dan kepentingan segelintir orang yg dikorbankan… mungkin jadi bisa dibenarkan.
    Artinya anda mengatakan bahwa “sejauh kepentingan banyak orang tidak dikorbankan , maka premanisasi bisa dibenarkan… gitu mas..?
    Lalu kalau nanti timbul pertanyaan “banyak orang itu siapa…..?”

    Hanya orang2 disekitar yang mendapatkan pekerjaan ….., atau juga orang-orang yang tidak di sekitar …. ,yang terkena dampak limbah buangannya..?
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25
    sigu2n said
    *sok tau mode on*

    kayaknya harus jalan berdampingan!

    *tuing… kabur!!*
    Pasti setuju.. harus berdampingan… wong kita manten aja juga berdampingan ya..? huhahaha
    bintanbay79
    delete reply
    bintanbay79 wrote on Apr 25
    jsops said
    1.
    Menurut anda semua , sudah legitimate kah instansi yang berwenang mendesign setiap AMDAL yang diterbitkan … saya sendiri nggak tau …tetapi sejauh pemberitaan2 yang ada diberbagai koran , mereka adalah Instansi dengan orang2 yang cukup berkompeten dibidangnya bukan . Jadi salahnya dimana ?
    menurut saya neh , parameter yang di set dalam standard AMDAL sudah bagus malah bisa dibilang sangat lengkap mencakup semua aspek..cuma..kadang kadang (atau lebih tepat sering kali) hanya bagus di kertas saja..eksekusinya gak pernah di monitor..karena ya itu.yang jadi patokan hanya kertas-kertas laporan saja. (yg tentu saja bisa diatur menurut kepentingan siapa aja..ip yu now wat ay min..)
    bintanbay79
    delete reply
    bintanbay79 wrote on Apr 25
    jsops said
    2.
    Masalah manipulasi aturan dan hukum yang dipaksakan berjalan , jelas adalah dosa politikus yang kongkalikong dengan perangkat pelaksanaan di lapangan kan ? (dibawah kendali eksekutifnya)
    yang ini adalah dosa parpol mas..susah nyari ambtenar yang bukan orang parpol..
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25, edited on Apr 25
    bintanbay79 said
    menurut saya neh , parameter yang di set dalam standard AMDAL sudah bagus malah bisa dibilang sangat lengkap mencakup semua aspek..cuma..kadang kadang (atau lebih tepat sering kali) hanya bagus di kertas saja..eksekusinya gak pernah di monitor..karena ya itu.yang jadi patokan hanya kertas-kertas laporan saja. (yg tentu saja bisa diatur menurut kepentingan siapa aja..ip yu now wat ay min..)
    “ip yu now wat ay min” …ai now lah ai now..hihihi
    yu min pemerintah daerahnya kan…, atao oknumnyalah supaya gampang pada ngeles…
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25
    bintanbay79 said
    yang ini adalah dosa parpol mas..susah nyari ambtenar yang bukan orang parpol..
    wah…udah makin pokus lagi…udah nyebut parpol neh… huehehee
    (tanpa menyebut nama parpol yg ada…)
    Masihkah anda punya harapan ada parpol yang kita miliki sampai hari ini …yang baik …dan yang bisa diharapkan membenahi perilaku dosa-dosa berkelanjutan ini?
    bintanbay79
    delete reply
    bintanbay79 wrote on Apr 25
    sigu2n said
    kayaknya selama ini sejauh kepentingan banyak orang yg jadi pertimbangan dan kepentingan segelintir orang yg dikorbankan… mungkin jadi bisa dibenarkan.
    “democrazy” indonesia.!
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25
    bintanbay79 said
    “democrazy” indonesia.!
    di Amrik pun masih banyak orang yang sinis dan menyebutnya democrazy . Masalahnya seberapa jauh kita bisa memperkecil kerusakan crazy-crazy nya…. gitu kali yaakk..?
    sigu2n
    delete reply
    sigu2n wrote on Apr 25
    saya juga tidak tau banyak orang itu siapa?
    ini kejadian ditempat saya, sebuah home industri pembuat gantungan kunci yg didalamnya ada isi serangga, biasa juga dibuat utk souvenir dan dieksport keberbagai negara (terbanyak ke Italy). dalam teknis pembuatannya menggunakan bahan kimia yg limbahnya dibuang ke got/selokan yg bermuara ke sungai. culture socio-economic ditempat saya adalah 60% remajanya setelah lulus SMA menganggur, banyak juga pemakai narkoba. setelah kehadiran homeindustri tsb. banyak penggangguran yg mendapat pekerjaan.

    namun dilain pihak limbahnya mencemari dan menimbulkan bau yg mengganggu rumah2 yg dilewati got/selokan. kesepakan antara warga dan pelaku homeindustri adalah sama2 urungan/patungan dalam membuat saluran limbah sendiri.

    intinya adalah warga secara umum walaupun terganggu dengan bau limbah, namun secara sadar tetap membantu moril dan materil untuk menggulangi limbah, karena banyak juga pengangguran yg mendapat pekerjaan.
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25, edited on Apr 25
    sigu2n said
    saya juga tidak tau banyak orang itu siapa?
    ini kejadian ditempat saya, sebuah home industri pembuat gantungan kunci yg didalamnya ada isi serangga, biasa juga dibuat utk souvenir dan dieksport keberbagai negara (terbanyak ke Italy). dalam teknis pembuatannya menggunakan bahan kimia yg limbahnya dibuang ke got/selokan yg bermuara ke sungai. culture socio-economic ditempat saya adalah 60% remajanya setelah lulus SMA menganggur, banyak juga pemakai narkoba. setelah kehadiran homeindustri tsb. banyak penggangguran yg mendapat pekerjaan.

    namun dilain pihak limbahnya mencemari dan menimbulkan bau yg mengganggu rumah2 yg dilewati got/selokan. kesepakan antara warga dan pelaku homeindustri adalah sama2 urungan/patungan dalam membuat saluran limbah sendiri.

    intinya adalah warga secara umum walaupun terganggu dengan bau limbah, namun secara sadar tetap membantu moril dan materil untuk menggulangi limbah, karena banyak juga pengangguran yg mendapat pekerjaan.
    argumentasi yang lumayan kayanya ….(*sok politikus mode on*)
    Bisa dipertimbangkan untuk dimasukkan dalam agenda meeting berikutnya ….(*sok tehnokrat mode on*) eeehh birokrat mode on juga …ikutan katanya..:)
    sigu2n
    delete reply
    sigu2n wrote on Apr 25
    jsops said
    Masalahnya seberapa jauh kita bisa memperkecil kerusakan crazy-crazy nya…. gitu kali yaakk..?
    gak usah dikecilin crazy-crazynya mas. ntar juga kecil sendiri… -:))
    justru crazy yg kecil2 itu enak didenger. hehehe…

    *sambil dengerin lagu ‘Crazy Little Thing Called Love’ nya Queen*
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25, edited on Apr 25
    POLITISI / BIROKRAT / TEHNOKRAT sedang sibuk mengisi “DIP” untuk biaya “proyek”seminar dan meeting di Bali 7 hari 7 malam (all in)

    untuk membahas RUU tentang bagimana AMDAL bisa terlaksanaken dengan sebaik baiknya sesuai amanat Konstitusi dan Undang Undang Dasar 45 .
    bintanbay79
    delete reply
    bintanbay79 wrote on Apr 25
    jsops said
    di Amrik pun masih banyak orang yang sinis dan menyebutnya democrazy . Masalahnya seberapa jauh kita bisa memperkecil kerusakan crazy-crazy nya…. gitu kali yaakk..?
    kepentingan orang banyak yang di nomor satukan mas..orang yang banyak duit, orang (yang punya) banyak massa,..etc etc,…
    kerusakannya sudah permanen mas…he he
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25
    bintanbay79 said
    kepentingan orang banyak yang di nomor satukan mas..orang yang banyak duit, orang (yang punya) banyak massa,..etc etc,…
    kerusakannya sudah permanen mas…he he
    Jangan khawatir tehnologi digital bisa meng-obras uthek kura-kura dicangkok sama uthek kebo … , yaaaa…. samaa aje’ dongggg!!
    sigu2n
    delete reply
    sigu2n wrote on Apr 25
    jsops said
    POLITISI / BIROKRAT / TEHNOKRAT sedang sibuk mengisi “DIP” untuk biaya “proyek”seminar dan meeting di Bali 7 hari 7 malam (all in)

    untuk membahas RUU tentang bagimana AMDAL bisa terlaksanaken dengan sebaik baiknya sesuai amanat Konstitusi dan Undang Undang Dasar 45 .
    *ORBA mode on*

    Dalam rangka mendayagunaken sumberdaya alam untuk memajuken kesejahteraan masyarakat seluruhnya seperti diamanatken olh UUD’45 maka perlu dilaksanaken pembangunan berkelanjutan yg berwawasan lingkungan hidup berdasarken kebijaksanaan nasional yg terpadu dan menyeluruh dgn memperhitungken kebutuhan generasi masa kini dan yg akan dateng.
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25
    sigu2n said
    *ORBA mode on*

    Dalam rangka mendayagunaken sumberdaya alam untuk memajuken kesejahteraan masyarakat seluruhnya seperti diamanatken olh UUD’45 maka perlu dilaksanaken pembangunan berkelanjutan yg berwawasan lingkungan hidup berdasarken kebijaksanaan nasional yg terpadu dan menyeluruh dgn memperhitungken kebutuhan generasi masa kini dan yg akan dateng.
    Udah bener semua tuhhhh…. bijimane ente’….!
    Yang dimaksudken generasi mendateng kan anak2nya sendiri ama temen-temen ..!
    sigu2n
    delete reply
    sigu2n wrote on Apr 25
    yoi mas.. bentul banggets!!
    bintanbay79
    delete reply
    bintanbay79 wrote on Apr 25
    jsops said
    POLITISI / BIROKRAT / TEHNOKRAT sedang sibuk mengisi “DIP” untuk biaya “proyek”seminar dan meeting di Bali 7 hari 7 malam (all in)

    untuk membahas RUU tentang bagimana AMDAL bisa terlaksanaken dengan sebaik baiknya sesuai amanat Konstitusi dan Undang Undang Dasar 45 .
    hayo rame-rame budayakan meeting dihotel berbintang di daerah pariwisata di dalam negeri..biar kunjungan wisatawan kita meningkat..(ya kalo wisman gak dapet, wiswan-wisatawan anggota dewan ato wisrat-wisatawan birokrat juga gpp.) sambil belanja..jo lali yo..
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25
    Nyang suse ..masalhnye’ pan…kite’ nggak termasuk katagori..anak2nye’ sama temen2nye’ ya pan..?
    Jadi wajar pan…kalo kite’ ngiri..lalu kite; bisa jadi marah2..hehehe
    coba semua orang di Indonesia …dianggep anak..ame dianggep temenan juga …. akuuur dah…ye nggak ye’….
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25
    bintanbay79 said
    hayo rame-rame budayakan meeting dihotel berbintang di daerah pariwisata di dalam negeri..biar kunjungan wisatawan kita meningkat..(ya kalo wisman gak dapet, wiswan-wisatawan anggota dewan ato wisrat-wisatawan birokrat juga gpp.) sambil belanja..jo lali yo..
    hahahahaha … tok cer neeehhh!
    sigu2n
    delete reply
    sigu2n wrote on Apr 25
    jsops said
    Nyang suse ..masalhnye’ pan…kite’ nggak termasuk katagori..anak2nye’ sama temen2nye’ ya pan..?
    halah… temenan juga kalo gak dibawah satu bendera.. ya kagak kebagian juga!!! nah.. kalo itu bukan ngiri lagee tapi… mangkel setengah matee.. muke gille!!
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25
    hehehe.. Mending milih susu emak cap bendera aja dah huhahaa
    *ane’ kemek dolo ye’* cacing udeh protes neh..!
    sigu2n
    delete reply
    sigu2n wrote on Apr 25
    okeh.. slamet makan mas, jgn lupa minum combantrin supaya caing2nya pade koit!
    bintanbay79
    delete reply
    bintanbay79 wrote on Apr 25
    jsops said
    wah…udah makin pokus lagi…udah nyebut parpol neh… huehehee
    (tanpa menyebut nama parpol yg ada…)
    Masihkah anda punya harapan ada parpol yang kita miliki sampai hari ini …yang baik …dan yang bisa diharapkan membenahi perilaku dosa-dosa berkelanjutan ini?
    parpol?
    bintang apa itu mas?
    sejenis pengerat ya?
    hidup di dua alam ? amphibi ya?
    bintanbay79
    delete reply
    bintanbay79 wrote on Apr 25
    ravindata said
    Di probolinggo ada perusahaan plywoodt yang limbahnya merusak konservasi laut, tapi sampai skrng tetap melenggang karena dia memberikan azas manfaat yaitu memberi makan ribuan keluarga disana. Amdalpun dilupakan, yang penting ikut nunut mangan..
    ribuan perut kenyang hari ini akan menjadi puluhan juta perut lapar sepuluh tahun yang akan datang…
    hal seperti ini juga yang terjadi di kalimantan zaman eyang dulu..jutaan hektar hutan (ditelen bulet-bulet) disulap jadi lahan gambut..belasan perut (yang ukurannya ribuan kali lebih besar) keluarga dan kerabat eyang kenyang..setelah itu puluhan juta perut (yang ukuranya mengkerut) makan dan minum dari sisa2 gambut yang membuat perut terus mengkerut..rut rut rut…
    sigu2n
    delete reply
    sigu2n wrote on Apr 25
    bintanbay79 said
    kepentingan orang banyak yang di nomor satukan mas..orang yang banyak duit, orang (yang punya) banyak massa,..etc etc,…
    kerusakannya sudah permanen mas…he he
    artinya disini hukum alam sudah berlaku ya mas, ‘yang kuat menindas yg lemah’ namun disini mata rantai yang terkuat berada pada posisi yg paling top margotop!
    bintanbay79
    delete reply
    bintanbay79 wrote on Apr 25
    sigu2n said
    artinya disini hukum alam sudah berlaku ya mas, ‘yang kuat menindas yg lemah’ namun disini mata rantai yang terkuat berada pada posisi yg paling top margotop!
    the beauty of democrazy..!
    sigu2n
    delete reply
    sigu2n wrote on Apr 25, edited on Apr 25
    bintanbay79 said
    ribuan perut kenyang hari ini akan menjadi puluhan juta perut lapar sepuluh tahun yang akan datang…
    hal seperti ini juga yang terjadi di kalimantan zaman eyang dulu..jutaan hektar hutan (ditelen bulet-bulet) disulap jadi lahan gambut..belasan perut (yang ukurannya ribuan kali lebih besar) keluarga dan kerabat eyang kenyang..setelah itu puluhan juta perut (yang ukuranya mengkerut) makan dan minum dari sisa2 gambut yang membuat perut terus mengkerut..rut rut rut…
    padahal dalam undang2nya sudah jelas bahwa yg dimaksud dgn pengelolaan lingkungan hidup salah satunya adalah pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup, yaitu upaya sadar dan terencana yang memadukan lingkungan hidup, termasuk sumberdaya, kedalam proses pembangunan utk MENJAMIN kemampuan, kesejahteraan, dan kwalitas hidup generasi masa kini dan generasi masa depan.
    imw85
    delete reply
    imw85 wrote on Apr 25
    jsops said
    *sok politikus mode on*)
    Bisa dipertimbangkan untuk dimasukkan dalam agenda meeting berikutnya ….(*sok
    Meeting berikutnya, berarti, SPJ tambahan, uang makan tambahan :-)
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25, edited on Apr 25
    sigu2n said
    okeh.. slamet makan mas, jgn lupa minum combantrin supaya caing2nya pade koit!
    Bukannya justru kita minum banyak pitamin agar cacing ikut sejahtera idupnya? ….azas pemerataan pan?
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25
    bintanbay79 said
    parpol?
    bintang apa itu mas?
    sejenis pengerat ya?
    hidup di dua alam ? amphibi ya?
    hihihi ya gitu deh.. sejenis luwak
    sigu2n
    delete reply
    sigu2n wrote on Apr 25
    imw85 said
    Meeting berikutnya, berarti, SPJ tambahan, uang makan tambahan :-)
    nahh.. ntu die maksyutnyah!
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25, edited on Apr 25
    bintanbay79 said
    ribuan perut kenyang hari ini akan menjadi puluhan juta perut lapar sepuluh tahun yang akan datang…
    hal seperti ini juga yang terjadi di kalimantan zaman eyang dulu..jutaan hektar hutan (ditelen bulet-bulet) disulap jadi lahan gambut..belasan perut (yang ukurannya ribuan kali lebih besar) keluarga dan kerabat eyang kenyang..setelah itu puluhan juta perut (yang ukuranya mengkerut) makan dan minum dari sisa2 gambut yang membuat perut terus mengkerut..rut rut rut…
    NAH INI PANTING eh panting lage..PENTING!! maksudnyah..

    Kita ini tanpa sadar udah ninggalin utang ame penyakit ke anak-anak & cucu kite’ sendiri …. wwuuihh…sadis kalo kite bisa inget2 kelakuan babe2 nyang nggrogotin kayu ame’ nyedotin minyak dari bumi rakyatnye’ . Aje Gile’ dah..Kagak usah jauh2.. apa kagak dipikir tuh ye’ Sidoardjo ame daerah tetangganye’.. bakalan ambleg dan kagak bisa dihuni lagi…ramalan2 kekhawatirannye sih…bisa bisa Surabaya juga bakal kena tuh imbasnye’….

    Bisa kita bayangin gak sih…. seberapa luas areal dibawah tanah yang bakalan njeblug..! kalo kaga segera ditemuain tehnologi penyelamatnye’……..Jangan cuman berenti berpikir di korban yang keliatan sampai hari ini aje’ pan..? ……… NTAR TUH KALO NJEBLUG!!
    Comment deleted at the request of the author.
    sigu2n
    delete reply
    sigu2n wrote on Apr 25
    imw85 said
    Meeting berikutnya, berarti, SPJ tambahan, uang makan tambahan :-)
    hidup dibiayai dari lumsum2 dan allowances! huahahah….
    sigu2n
    delete reply
    sigu2n wrote on Apr 25
    jsops said
    NAH INI PANTING eh panting lage..PENTING!! maksudnyah..

    Kita ini tanpa sadar udah ninggalin utang ame penyakit ke anak-anak & cucu kite’ sendiri …. wwuuihh…sadis kalo kite bisa inget2 kelakuan babe2 nyang nggrogotin kayu ame’ nyedotin minyak dari bumi rakyatnye’ . Aje Gile’ dah..Kagak usah jauh2.. apa kagak dipikir tuh ye’ Sidoardjo ame daerah tetangganye’.. bakalan ambleg dan kagak bisa dihuni lagi…ramalan2 kekhawatirannye sih…bisa bisa Surabaya juga bakal kena tuh imbasnye’….

    Bisa kita bayangin gak sih…. seberapa luas areal dibawah tanah yang bakalan njeblug..! kalo kaga segera ditemuain tehnologi penyelamatnye’……..Jangan cuman berenti berpikir di korban yang keliatan sampai hari ini aje’ pan..? ……… NTAR TUH KALO NJEBLUG!!
    ramalan Jayabaya bisa2 jadi kenyataan….. bahwa suatu hari pulau jawa akan terbelah menjadi dua!
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25, edited on Apr 25
    sigu2n said
    ramalan Jayabaya bisa2 jadi kenyataan….. bahwa suatu hari pulau jawa akan terbelah menjadi dua!
    Sementara para StakeHolder nye berpikir…”tenangg..tenangg…”sampai 7 trilun pun biaya recoverynya dikeluarin sampai hari ini misalnye”… 25 sampai 30 tahun kedepan udah bakalan Impas plus surplus! Artinye apa…? Artinye ntu orang2 udah tau kalo kandungan minyak disono aje gile bannyaknye’…… lalu ….itu semua dijadikan pembenaran bahwa negara kagak bakalan rugi jangka panjangnye’….. karena itu …. biarin negara nyang nanggung bebannye’….atas name’ :BENCANA NASIONAL”.

    Aje gile…kagak tuh..!

    Kalo udah tau minyaknye’ cuman dikit atau cuman bisa disedot 5 atau 10 tahun..lalu enteeek…, ngapain juga mikirin jangka panjangnye’..Jeblosin aje ke penjare tuh orang2 yang serampangan kerjanye..Gitu kali LOGIKA ane’ dan bisikin hati nurani kite.
    bintanbay79
    delete reply
    bintanbay79 wrote on Apr 25
    jsops said
    Sementara para StakeHolder nye berpikir…”tenangg..tenangg…”sampai 7 trilun pun biaya recoverynya dikeluarin sampai hari ini misalnye”… 25 sampai 30 tahun kedepan udah bakalan Impas plus surplus! Artinye apa…? Artinye ntu orang2 udah tau kalo kandungan minyak disono aje gile bannyaknye’…… lalu ….itu semua dijadikan pembenaran bahwa negara kagak bakalan rugi jangka panjangnye’….. karena itu …. biarin negara nyang nanggung bebannye’….atas name’ :BENCANA NASIONAL”.

    Aje gile…kagak tuh..!

    Kalo udah tau minyaknye’ cuman dikit atau cuman bisa disedot 5 atau 10 tahun..lalu enteeek…, ngapain juga mikirin jangka panjangnye’..Jeblosin aje ke penjare tuh orang2 yang serampangan kerjanye..Gitu kali LOGIKA ane’ dan bisikin hati nurani kite.
    itu mah namenye STUCKHOLDER bang,..
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25
    Nah deal-deal politik nyang kagak transparan seperti itulah nyang ngerugiin rakyatnya doang pan..? Rakyat mah gampang2 aje’…. selama jelas…dapat informasi mengenai potensi kekayaan daerahnye misalnye’…. lalu sementara kudu prihatin dsb dsb…. ane yakin ….Bangsa Indonesia mau untuk bersatu ….sama-sama PRIHATIN.
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25, edited on Apr 25
    Jadi kecurigaan ane’ lebih lanjut neh….sbb:

    Selama ini sejak jaman ORBA , sistem politik kite selalu berusaha menempatkan rakyatnya untuk nggak usah tau banyak perihal kekayaan alamnya . (yang kagak keliatan lho)

    Karena kalau rakyat tau nanti jadi reseeehh…. banyak maunye’…sebab emang dasarnya rakyatnya emang masih belom pinter2 amat untuk tau mengenai hak2 dan kewajibannye.

    Tapi kan membiarkan rakyatnya bodoh terus2an ….sambil memanfaatkan kebodohan itu untuk menggulirkan kebijakan2 politik yang kayak2 gini ….kan juga kagak bener juga pan..?

    Nah itulah politik kite’ hari ini … semakin rakyatnya bodoh semakin jaya para politisinye…!
    bintanbay79
    delete reply
    bintanbay79 wrote on Apr 25
    jsops said
    Nah itulah politik kite’ hari ini … semakin rakyatnya bodoh semakin jaya para politisinye…!
    manifesto politik TIPSANI (tipu sana sini)!
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25, edited on Apr 25
    Nyok kita balik ke Start awal deh ye” maap neh … ane bukannye sok tau atau mencari perhatian doang…, ane mah cuman seniman …. umurnye juga udah kagak lama lagi ….kagak punya pretensi mo jadi politikus apalgi penguase’ ….cuman kesel aja sebagai RAKYATNYE”:

    1. Bintang melambangkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa
    2. Pohon beringin melambangkan sila Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab
    3. Rantai melambangkan sila Persatuan Indonesia
    4. Kepala banteng melambangkan sila Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan
    5. Padi dan Kapas melambangkan sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

    Sila ke 5 itu pemahaman aye … kekayaan alam kite pan yang dijanjiin bakal dibagiin merata buat rakyatnya

    Sila ke 4 itu kerakyatan nyang artinye semangat egaliterian gotong royong antara sesamanye , lalu masing2 local wisdom bertindak untuk mengatur warga-warga bangsanya agar nurut sama Konstitussi Negare.

    Sila ke 3 Lambang persatuan … jelas udah diteriakkan oleh semangat sumpah pemuda dsb. bahwa kita bersatu untuk hidup bagi rejeki sama2 porsinye (adil)

    Sila ke 2 Itu ane pahami sebagai HUKUM yang menterjemahkan KONSTITUSI yang adil agar ditaati oleh seluruh warganegaranya .

    Sila ke 1 Jelas kita beda agamanye’….tapi Tuhan kan satu pan?…apa ade’ ponakannye..?

    Nah…itu tadi pemahaman ane’ lho…bisa2 aje ane salah menafsirkannya … tetapi selama kesalahan itu sifatnya hanya tekstual bukannya substansialnya….ngapain juga kite ributin …ya..nggak seehh..
    bintanbay79
    delete reply
    bintanbay79 wrote on Apr 25
    garuda panca sila
    aku pala gundul mu
    patriot “kompor”-masi
    sedia berkorban untuk mu

    reff : pancasila dasarnya apa ?
    rakyat adil makmur-nya kapan?
    tidak maju maju,.
    tidak maju maju.. tidak maju majuuuu…

    disadur dari nyanyiannya alm harry roesli.
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25, edited on Apr 25

    Kesimpulan lanjut

    Sistem ekonomi kita tidak berorientasi pada Ekonomi Gotong Royong . Yang artinya , apa yang toko saya jual tidak diperlukan oleh pedagang lain disebelah toko saya sebagai bahan produksi pabriknya…, begitu bergulir secara seterusnya . (paham gotong royong)

    Bahkan cenderung apa yang saya jual justru membunuh sektor produksi toko disebelah saya . Misal … membangun MALL/ Super Market disebelah pasar Tradisional . Jelas mati..itu kang sayur mbok mbok dsb.

    Membangun hotel / perumahan mewah dengan mengambil lahan rakyat kebanyakan yang boro-boro mimpi punya rumah dari semen…rumah gedek aja masih kontrakan .
    Nah…kesadaran kelompok pelaku ekonomi untuk “tau diri” artinya membangun modernisasi itu …masih sangat minim.!

    Mereka pikir bisa membuat masyarakat ndesit / kampung menjadi cepet pinter dan dalam sekejap taraf hidupnya bisa naik dan menjadi lebih pinter …kalau sering jalan2 ke MALL apalagi minimal bisa punya motor bebek … daripada sebelumnya cuman ngangon kebo.

    Ini pikiran-pikiran imperialisme penjajahan model baru … untuk membuat orang Indonesia “silau” akan harta dan materi .

    Bangga luar biasa walau sebatas “KULIT bukan ISI”
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25, edited on Apr 25
    Menyambung topik artikel diatas :

    Sepertinya ada masalah lain yang lebih kronis daripada masalah AMDAL , yaitu pilihan jenis bisnisnya sendiri . Pilihan yang tidak berkenan bagi kebutuhan masyarakat disekelilingnya .
    Mengapa pebisnis2 tersebut memiliki kecenderungan pada pilihan2 tersebut? ada beberapa alasan yang bisa sy kemukakan .

    Mungkin karena sektor itulah yang sedang di dorong oleh regulasi pemerintahnya sendiri . Mengapa regulator2 tersebut justru mendorong bisnis2 yang tidak kompetibel dengan kebutuhan rakyatnya sendiri..?

    lhoo ..”Apakah ada hubungannya antara regulator dan rakyatnya…?” Bahasa jalanannya “apa partai politik itu sudah benar2 mewakili persoalan rakyatnya?” ya..kalau nggak nyambung… ya wajar kan..?…. koq bertanya? (bisik hati kepada kita sendiri yang bodoh dan tolol ini)
    penuhcinta
    delete reply
    penuhcinta wrote on Apr 25
    dalem banget nih bahasannya Om…
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25
    penuhcinta said
    dalem banget nih bahasannya Om…
    hehe semua seniman yang concern dengan kondisi bangsanya..bahasa pendekatannya akan cenderung sama . Dibelakang RAKYAT.
    Mudah2an bahasa seniman tidak dikooptasi oleh mereka2 untuk digunakan pada saat pidato kampanye aja … hehehe

    photographyku
    delete reply
    photographyku wrote on Apr 25
    tetap berusaha dan jgn lupa berdoa…..
    itulah hidup, semua ga ada yg mudah euy… hiks :(
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25
    yup hehe asli neh..saya mbrebes mili … janggkrrikk tenan!
    photographyku
    delete reply
    photographyku wrote on Apr 25
    loooooohhhh mang gi ujan yaks..
    atau gi nangis kok merembes mili :P
    penuhcinta
    delete reply
    penuhcinta wrote on Apr 25
    cuma bisa berandai2: coba deh rakyat Indonesia kebanyakan/mayoritas bisa lbh melek wawasannya kayak yg ikutan diskusi di sini…
    pentingnya edukasi, formal non formal ya itulah…
    kalo politisi sih bahasa apa aja akan mereka pake Om demi meningkatkan jumlah suara…
    imw85
    delete reply
    imw85 wrote on Apr 25
    jsops said
    Bahkan cenderung apa yang saya jual justru membunuh sektor produksi toko disebelah saya . Misal … membangun MALL/ Super Market disebelah pasar Tradisional . Jelas mati..itu kang sayur mbok mbok dsb.
    Melihat model ekonomi dan peraturan di Jerman, di sini lebih gotong-royong dan dekat ke semua lapisan. Toko besar tidak bisa buka sembarangan, sebab nanti akan mematikan kios kecil. Pasar tradisional, dg cara memungkinkan penjual mendapat potongan pajak, sehingga harga lebih bersaing.

    Persh besar tidak bisa menggurita semau gue,, sebagai contoh perusahaan air itu dibatasi daerah jualnya, dg tujuan yg menikmati “kue air” ini semakin merata. Bahkan persh besar tidak bisa main “banting harga” utk mematikan saingan (misal dg discount gila-gilaan”), pemotongan harga harus pada taraf yg disepakati dan ada masanya (Summer sale, winter sale).

    Orang kaya, dipajakin besar, orang menyumbang akan dapat pemotongan pajak. Seniman dipajakin kecil dan dapat “subsidi” utk urusan asuransi, biar ndak usah mengorbankan idealisme berkarya vs ekonomis.

    Sering kalau saya melihat ini berfikir, sebenarnya siapa ya yg lebih gotong-royong :-) Oh ya model perekonian Eropa rata-rata berbasiskan UKM (kecil dan menengah) dan bersifat lokal (mutar di situ-situ saja). Tapi dari yg mutar-mutar ini lama-lama jadi besar. Bahkan persh seperti BMW saja masih menggunakan persh kecil klas rumahan sebagai “persh asuh” utk mengerjakan beberapa komponennya.
    imw85
    delete reply
    imw85 wrote on Apr 25
    jsops said
    Mengapa pebisnis2 tersebut memiliki kecenderungan pada pilihan2 tersebut? ada beberapa alasan yang bisa sy kemukakan .
    Ada faktor lain yaitu ikut-ikutan dan “ghost demand” (pernah melanda ketika bisnis truk lagi booming. Suatu saat perseddiaan truk lagi tidak banyak. Terus ada seseorang tanya “ada truk pak ?” dia terus bertanya ke semua toko.

    Hingga akhirnya toko-toko itu mengira, demand truk lagi tinggi :-) Padahal cuma 1 orang yg nanya mulu he he he he
    imw85
    delete reply
    imw85 wrote on Apr 25
    jsops said
    keterbukaan serta peran masyarakat dalam hal diatas , sudah terwakili dalam penerbitan AMDAL belum ya..?
    Masalah lingkungan dan AMDAL sering lebih didekati secara “sains” dan modern. Tetapi pada masyarakat kita yg relatif berada pada fase transisi dan kadang-kadang cuma “kemlinthi” bergaya sains dan modern, yg ada akhirnya kekacauan pengelolaan lingkungan.

    Melihat masyarakat lama, yg masih memegang “nilai lama” (yg sering dianggap tak logis, animisme, dsb), tetapi mereka malah bisa menjaga lingkungan karena nilai itu. Orang dayak tidak mau menebang pohon karena “takut roh dari pohon”, orang Bali tidak mau membuka pantai karena dipercaya pantai itu suci utk upacara, dsb dsb.

    Nah pendekatan seperti inilah yg lebih diperlukan sehingga bisa meletakkan menjaga lingkungan itu lebih dekat ke komunitas, bukan karena faktor peraturan saja.

    imw85
    delete reply
    imw85 wrote on Apr 25
    jsops said

    Kesimpulan berikutnya

    JAdi ada 3 poin dari rumusan diatas :

    1. AMDAL
    2. Manipulasi aturan/Hukum hingga ijin usaha tersebut bisa dikeluarkan
    3. Premanisasi / Okemisasi untuk me-mulusisasi usaha

    gitu kan..?
    1-2-3 ini sering berada pada 1 paket yg telah disiapkan oleh “peniup-niup” idea :-)

    Sering suatu idea “evaluasi lingkungan” yg terkesan bagus padahal oleh pihak tertentu yg “membisikkan hal itu”, sudah difikirkan model bisnis yang akan disertakan ketika evaluasi itu diterapkan menjadi peraturan utk orang banyak.

    Dan sering kali juga regulatornya, tidak sadar hal itu. Quis: kira-kira sertifikasi apa ya :-)
    imw85
    delete reply
    imw85 wrote on Apr 25
    jsops said
    Selama ini sejak jaman ORBA , sistem politik kite selalu berusaha menempatkan rakyatnya untuk nggak usah tau banyak perihal kekayaan alamnya . (yang kagak keliatan lho)
    Kalau saya bilang malah sejak jaman merdeka, ORLA, ORBA, dan OR-OR selanjutnya. Ketika jaman ORLA kita gagap mengelola SDA sehingga banyak deal-deal yg tidak menguntungkan, (saat itu masih bisa dihitung jari orang yg bisa mengelola SDA, sehingga kecenderungannya kita menjual barang mentah), ORBA juga begitu, walau sudah ada perbaikan dari sisi SDM (deal pengolahan SDA sudah lebih baik ndak mentah dikirim, tapi setengah mentah yg dijual).

    Sayangnya kesadaran pengelolaan lingkungan baru datang belakangan, dan ini ada beberap hal menurut saya.

    Kegagapan masyarakatnya utk betransisi dari tradisional menjadi modern (semua pengen beli motor, alih-alih sepeda misalnya, semua pengen pakai AC, alih-alih ngeligo he he he he).

    Di sisi lain (Majalah economist sedang membahas bagimana China dan kerusakan alam, bisa kita jadikan acuan), banyak deal-deal pengolahan SDA yg menguntungkan itu sering datang dengan cara mengabaikan proses menjaga lingkungan.

    Bagi negara-negar yang “ngebet” pengen mendapatkan devisa, maka diterkam saja deal itu (China saat ini banyak mendapatkan hal ini di negara-negara Afrika).

    Kenapa AMDAL kita “lemot”, karena kita sendiri baru tahu hal itu secara “modern” padahal kalau kita melihat ke nilai-nilai lama, kita sudah tahu prinsip AMDAL itu. Seingat saya, issue AMDAL itu saja baru era akhir 80-an rame. Padahal kontrak pertambangan itu sudah dimulai dari tahun 50-an :-)

    Makanya kadang bener kata orang tua di kampung “le.. le jangan ditebang pohon itu, ada penunggunya, nanti kualat”. Atau ada 1 bukti di Irian yg mengandung “radio aktif” yg sangat ditakuti orang orang utk mendekat karena ada “hantunya”. Sekarang hantunya udah kalah melawan orang, dan bukitnya juga jadi hilang.
    atik4me
    delete reply
    atik4me wrote on Apr 25
    jsops said
    yup hehe asli neh..saya mbrebes mili … janggkrrikk tenan!
    gembeng !! =)) . sodorin tissue bekas ngelap cucian ikan mujaer.
    atik4me
    delete reply
    atik4me wrote on Apr 25
    maap gak koment articlenya , kepala lagi migrain neh. SmileyCentral.com
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25
    atik4me said
    gembeng !! =)) . sodorin tissue bekas ngelap cucian ikan mujaer.
    hahahhaa.. sekarang udah sembuh..hehe tadi sore tuh mbak..
    mosi..mosi..mosi! huhehee
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25
    atik4me said
    maap gak koment articlenya , kepala lagi migrain neh. SmileyCentral.com
    pantes amis..!
    atik4me
    delete reply
    atik4me wrote on Apr 25
    jsops said
    hahahhaa.. sekarang udah sembuh..hehe tadi sore tuh mbak..
    mosi..mosi..mosi! huhehee
    pokoknya bagian marketing kasih aku ajaaa . I know how to deal with people . Kan masih turunan De Layla . Si super power wifenya samson . mule deh nggladraahhnya =))
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25, edited on Apr 25
    imw85 said
    Melihat model ekonomi dan peraturan di Jerman, di sini lebih gotong-royong dan dekat ke semua lapisan. Toko besar tidak bisa buka sembarangan, sebab nanti akan mematikan kios kecil. Pasar tradisional, dg cara memungkinkan penjual mendapat potongan pajak, sehingga harga lebih bersaing.

    Persh besar tidak bisa menggurita semau gue,, sebagai contoh perusahaan air itu dibatasi daerah jualnya, dg tujuan yg menikmati “kue air” ini semakin merata. Bahkan persh besar tidak bisa main “banting harga” utk mematikan saingan (misal dg discount gila-gilaan”), pemotongan harga harus pada taraf yg disepakati dan ada masanya (Summer sale, winter sale).

    Orang kaya, dipajakin besar, orang menyumbang akan dapat pemotongan pajak. Seniman dipajakin kecil dan dapat “subsidi” utk urusan asuransi, biar ndak usah mengorbankan idealisme berkarya vs ekonomis.

    Sering kalau saya melihat ini berfikir, sebenarnya siapa ya yg lebih gotong-royong :-) Oh ya model perekonian Eropa rata-rata berbasiskan UKM (kecil dan menengah) dan bersifat lokal (mutar di situ-situ saja). Tapi dari yg mutar-mutar ini lama-lama jadi besar. Bahkan persh seperti BMW saja masih menggunakan persh kecil klas rumahan sebagai “persh asuh” utk mengerjakan beberapa komponennya.
    Politisi kita cuman ikut2an teriak UKM saat ekonom2 yang anti washington konsensus menyadarkan keteledoran yang telah terjadi . Tetapi mereka rame-rame teriak “Galakkan UKM padahal nggak ngerti seperti apa “ruh”UKM itu sendiri . Makanya regulasinya juga tumpang tidih.
    atik4me
    delete reply
    atik4me wrote on Apr 25
    bisnis di Indo jauuuuh lebih gampang dr pada di US. Karena aturan bisa dipermainkan. Kalo di US hadooh gak sanggup deh! banyak aturan plus ..gak murah.
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25, edited on Apr 25
    imw85 said
    Ada faktor lain yaitu ikut-ikutan dan “ghost demand” (pernah melanda ketika bisnis truk lagi booming. Suatu saat perseddiaan truk lagi tidak banyak. Terus ada seseorang tanya “ada truk pak ?” dia terus bertanya ke semua toko.

    Hingga akhirnya toko-toko itu mengira, demand truk lagi tinggi :-) Padahal cuma 1 orang yg nanya mulu he he he he
    Ditambah lagi gencarnya penitrasi Kapitalisasi Asing lewat berbagai media2 informasi yang mereka kuasai. Issuenya memang menawan hati masyarakat Indonesia .

    Globalisasi telah datang ….Modernisasi harus segera diwujudkan . Semua tampilan dan judul harus ber stempel Amerikanisasi .
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25
    imw85 said
    Kalau saya bilang malah sejak jaman merdeka, ORLA, ORBA, dan OR-OR selanjutnya. Ketika jaman ORLA kita gagap mengelola SDA sehingga banyak deal-deal yg tidak menguntungkan, (saat itu masih bisa dihitung jari orang yg bisa mengelola SDA, sehingga kecenderungannya kita menjual barang mentah), ORBA juga begitu, walau sudah ada perbaikan dari sisi SDM (deal pengolahan SDA sudah lebih baik ndak mentah dikirim, tapi setengah mentah yg dijual).
    Betul bung , saya koreksi . Itu sudah berlangsung semenjak jaman Kemerdekaan di Deklarasikan .
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25
    atik4me said
    bisnis di Indo jauuuuh lebih gampang dr pada di US. Karena aturan bisa dipermainkan. Kalo di US hadooh gak sanggup deh! banyak aturan plus ..gak murah.
    “Anti Trust Laws” itu pagar mereka mbak hingga orang tidak bisa seenak udelnya saja.
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25
    *silahkan lanjut* sy sdg diluar rumah . nanti sy teruskan .
    imw85
    delete reply
    imw85 wrote on Apr 25
    jsops said
    Anti Trust Laws” itu paga
    Anti Trust Laws di USA masih sekedar stempel, belum seketat di EU :-) Contoh simple Microsoft hi hi hi
    imw85
    delete reply
    imw85 wrote on Apr 25, edited on Apr 25
    jsops said
    . Semua tampilan dan judul harus ber stempel Amerikanisasi .
    Banyak orang tidak sadar ketika bicara “di LN” (tapi sebetulnya yang dimaksud adalah di Amerika), termasuk salah satu ahli sosial ketika bicara model negara.

    Dg “tenangnya” beliau berkata, Tidak ada di LN yg ada PM dan Presiden di 1 negara :-). Jadi jangan kaget kalau film-film menggambarkan orang sekolah ke LN itu rata-rata ke Cengkareng terus naik pesawat ke USA :-)

    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25
    imw85 said
    Anti Trust Laws di USA masih sekedar stempel, belum seketat di EU :-) Contoh simple Microsoft hi hi hi
    hehehe memang bung .. dinegara yg seolah sudah secured aja”mafia” lebih pinter ngakalinnya , apalagi yang undang2nya masih belang bonteng tumpang tindih , itu maksud saya .
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25, edited on Apr 25
    imw85 said

    Dg “tenangnya” beliau berkata, Tidak ada di LN yg ada PM dan Presiden di 1 negara :-). Jadi jangan kaget kalau film-film menggambarkan orang sekolah ke LN itu rata-rata ke Cengkareng terus naik pesawat ke USA :-)
    saya kurang jelas neh Bung maksud sampeyan ..hihihi … maklum kalimat bahasa Indonesia anda “intonasinya” lumayan butuh konsentrasi untuk bisa memahami maksudnya…. (ini bahasa indogerman ya..?)

    atau ente pake bahasa jerman aje…. nanti saya ngebalesnya pake bahasa rangkasdengklok..huhahaa
    imw85
    delete reply
    imw85 wrote on Apr 25, edited on Apr 25
    jsops said
    maklum kalimat bahasa Indonesia anda “intonasinya” lumayan butuh konsentrasi
    Begini, maksud saya di “kalangan” orang yg berpendidikan saja sekarang sudah tertanam “model LN” yg ada itu adalah model USA saja (konsep negara, konsep politik, konsep masyarakat). Tapi ini bukan karena saya anti USA lho, Seperti sitiran yg saya tulis itu adalah ucapan seorang dosen sosial politik Indonesia, Sitiran itu menunjukkan bagaimana minimnya pemahaman ttg model lain, selain model USA.

    Itu di kalangan orang kampus, jadi jangan heran kalau orang umum dg mudah menelan mentah-mentah, model USA, dan Amerikanisasi, sebab secara pelan-pelan model itu tertanam di kepalanya.

    Bukan akibat saya paranoid karena pernah membaca buku “America Propaganda Abroad” yg ditulis oleh orang ex United State Information Agency.

    Soal bhs saya yg rada “kriting” akibat buru buru ngejar trem he he he
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25, edited on Apr 25
    imw85 said
    Begini, maksud saya di “kalangan” orang yg berpendidikan saja sekarang sudah tertanam “model LN” yg ada itu adalah model USA saja (konsep negara, konsep politik, konsep masyarakat). Tapi ini bukan karena saya anti USA lho, Seperti sitiran yg saya tulis itu adalah ucapan seorang dosen sosial politik Indonesia, Sitiran itu menunjukkan bagaimana minimnya pemahaman ttg model lain, selain model USA.

    Itu di kalangan orang kampus, jadi jangan heran kalau orang umum dg mudah menelan mentah-mentah, model USA, dan Amerikanisasi, sebab secara pelan-pelan model itu tertanam di kepalanya.

    Bukan akibat saya paranoid karena pernah membaca buku “America Propaganda Abroad” yg ditulis oleh orang ex United State Information Agency.

    Soal bhs saya yg rada “kriting” akibat buru buru ngejar trem he he he
    huahaha.. nah ini baru bahasa dosen yang komperehensif hehehe..
    lhoo…di Indonesia dulu yang dikejar ojek … sekarang ngejar trem …. jadi urusannya masih ngejar mngejar toohhh..?
    Kirain udah camry 3000 cc keatas .. :)
    imw85
    delete reply
    imw85 wrote on Apr 25
    jsops said
    Kirain udah camry 3000 cc keatas .. :)
    Cita-cita saya malah ke kampus kayak Omar Bakrie, alias nggenjot. Udah dipanas-panasin ama mahasiswa saya, yg doyang ngegowes ke tempat kerja (di Jakarta), bahkan kadang week end dia ke Puncak.

    Lebih dari 5 tahun ngerasain enaknya ndak bawa mobil sendiri, dan nggenjot, jadi pengennya lain. Nggenjot menaikkan “‘stamina” :-)

    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote on Apr 25
    imw85 said

    Lebih dari 5 tahun ngerasain enaknya ndak bawa mobil sendiri, dan nggenjot, jadi pengennya lain. Nggenjot menaikkan “‘stamina” :-)
    bener tuh… saya dulu pernah static…buat naikin stamia hehehe
    ravindata
    delete reply
    ravindata wrote today at 12:18 AM, edited today at 12:42 AM
    Mas ini ada tulisan saya dari sisi banker-nya ….
    http://ravindata.multiply.com/journal/item/39/Siapa_Berani_Mengurus_Kredit_
    imw85
    delete reply
    imw85 wrote today at 2:18 AM
    jsops said
    dulu pernah static…buat naikin stamia
    Itu baru yg static, gimana yg bergerak. :-) Stamina makin terjaga he he he
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote today at 4:04 AM, edited today at 4:06 AM
    ravindata said
    Mas ini ada tulisan saya dari sisi banker-nya ….
    http://ravindata.multiply.com/journal/item/39/Siapa_Berani_Mengurus_Kredit_
    persis ya mas.. sepertinya industri UKM kita macet salah satunya sebabnya ya karena itu …. Seperti disengaja supaya dia mati!
    imw85
    delete reply
    imw85 wrote today at 4:30 AM
    Saya punya kenalan, dia termasuk pelaksana program utk mendorong berkembangnya UKM. Dalam program ini bukan saja memberikan kredit kepada UKM, tetapi juga memberikan pekerjaan (misal pengadaan produk tertentu). Sayangnya kata teman saya, dia sering repot di lapangan dalam menentukan pilihan, sebab ternyata UKM itu sulit sekali profesional (dibandingkan persh besar). Misal dalam hal deliveri pekerjaan dsb. Sehingga sering kenalan saya itu berada pada pilihan yang sulit, memberikan pekerjaan dan kredit kepada UKM, tapi buntutnya kerjaan ndak beres, atau memberikan pekerjaan kepada persh besar, pekerjaan beres tapi melenceng dari tujuan program.

    Salah satu kendala UKM dalam melaksanakan pekerjaan adalah SDM yg dimiliki. Karena terus terang, SDM akan lebih tertarik bekerja ke persh besar ketimbang UKM (walaupun kadang pendapatan UKM lebih besar, tapi kurang “gengsi). Jadi ada faktor “psikologi” alias “mind set” juga yg melibatkan kurang berkembangnya UKM

    Secara tidak sadar ini juga disebabkan oleh “tayangan-tayangan” yg lebih sering menampilkan bintangnya sebagai “manager, persh besar” ketimbang sebagai pengusaha UKM yang sukses. Jadi menurut saya “mati”nya UKM ini lebih kepada sebagai suatu akibat perlakuan bersama-sama yang saling tidak disadari (tragedy of common). UKM yg sering kurang profesional, regulasi yang kurang mendukung, SDM yang ogah membantu UKM, dan media yg memposisikan UKM sebagai hal yang kurang cerah

    UKM yg saya maksud skala jumlah pekerja dan jumlah “duitnya”, kalau UKM yg jumlah orangnya kecil tapi jumlah duitnya besar mah lain lagi urusannya.
    jsops
    edit delete reply
    jsops wrote today at 4:42 AM, edited today at 5:29 AM

    Kesimpulan akhir

    Sesuai maksud tulisan artikel diatas :
    “dilema warga yang mau membuka usaha di Indonesia .”

    1. Jenis usaha yang dipilih tidak berhubungan dengan kebutuhan masyarakat yang “riil” yang benar2 bisa membantu mengurangi beban ekonomi masyarakat lokal itu sendiri .
    Ada kecenderungan masyarakat digiring secara diam-diam untuk berpikir individualistik (elu-elu vs gue-gue ,melalui cara-cara premanisme , seperti dijelaskan diatas)

    2. Sektor pertumbuhan ekonomi yang kasat mata , adalah berhala pujaan yang ternyata semakin sulit untuk disentuh masayarakat kebanyakan , sebab daya jangkau untuk membelinya semakin menurun . Hanya masyarakat golongan etnis tertentu (baca:tionghoa) yang terkesan memenuhi ruangan ekonomi tersebut. Suka atau tidak dan apapun alasannya …. ini adalah potensi “kesenjangan sosial” yang mudah meledak menjadi “perilaku massa” yang sulit dikendalikan.

    Sedangkan daya beli yang menurun jelas berdampak pada over supply yang akhirnya berdampak perusahan tersebut pasti bangkrut . Setelah perusahaan bangkut bisnis tersebut jelas berjudul bisnis gagal atau dengan kata lain kredit macet.

    Seperti juga lazimnya yang sudah terjadi …(karena masyarakat sudah diberi contoh episode yang berulang-kali)

    Koq sepertinya ini semua bagaikan “permainan tong setan-tong setanan” yang disengaja . Artinya : Sudah tau bisnis tersebut nggak akan mungkin bisa berjalan dengan mulus (dari hasil analisa AMDAL yang dimanipulasi/Visibility study dsb yang tidak mendukung) . Koq masih dikucurkan juga Kredit2 tersebut pada sekelompok Kecil Warga Indonesia yang dianggap “mampu” bekerja denan baik , melalui lobby “service” yang juga lebih baik dibanding warga lainnya yang nggak pinter nge lobby , untuk memperjuangkan kredit tersebut agar disetujui .

    Lalu setelah kredit tersebut macet … maka itupun seolah sudah diprediksi dari sekarang . “Sita saja barang2 atau asset2 yang bersangkutan”
    Lalu disiapkanlah asset2 busuk dan barang2 rongsokan untuk disita BPPN . nahh.. mau diapain barang rongsokan tersebut ….?
    Dan pertanyaan yang paling penting adalah :

    Uang siapakah yang dikelola dengan sistem managemet seperti itu …?
    Jawab : UANG RAKYAT .. nah.. ironisnya mereka masih suka berpikir ini uang bank atau uang milik pemerintah .

    Mengapa masyarakat sekarang kritis dan sering protes pada usaha-usaha baru yang tumbuh dilokasinya..?(judul artikel diatas)
    “Masyarakat semakin pintar dan tau akan hak-hak nya sebagai warga negara” Mereka hanya belum fasih bagaimana cara meng aplikasikan keluhan dan tuntutannya .

    Jelas..ini adalah PENDIDIKAN POLITIK yang mendasar , harus diakui bahwa memang seperti inilah kondisi yang dilahirkan oleh masyarakat yang masih terus2an apolitis. Karena masih berhembus hawa racun yang semakin kencang menusuk hidung : Politik itu BUSUK . (disisi lain mereka semakin ber asyik-masyuk bercengrama politik , diantara sesama kelompoknya sendiri)

    CATATAN: INI ADALAH KESIMPULAN DARI SUDUT PANDANG / PERSPEKTIF PROFESI SAYA SEBAGAI SENIMAN , TIDAK LEBIH!

  2. (comment copy&paste from multiply):

    Pendidikan politik akan selalu berdasarkan “Vorbild” (terjemahan bebas adalah visi). Dan sayangnya kita sering menyerap Vorbild dari luar itu (dari manapun) secara tidak tepat, karena proses melihat model tersebut secara kurang kritis. Hal ini akhirnya menyebabkan model evaluasi, regulasi, dan tetek-bengek turunannya menjadi sering bersifat tambal-sulam. Sebagai contoh model evaluasi kredit yang ditulis di atas.

    Soal UANG RAKYAT, ini mirip dengan banyaknya kampus negeri di Indonesia yang TIDAK MEMBUKA hasil mereka (hasil riset, fasilitas) kepada orang di luar kampus tersebut (mentalitas “it is mine”) Padahal kampus itu dibiayai dengan subsidi yang notabene UANG RAKYAT.

    Masyarakat hanya mencontoh apa yang selalu terjadi, dan sayangnya lembaga yang harusnya memberi contoh yang baik, malah mengabaikan mandat pengelolaan uang rakyat dengan baik.

  3. mas JSOP,
    Harus diakui sensitivitas seniman dalam mengamati persoalan.
    Salut dan salam hormat.


  4. andara said: mas JSOP,
    Harus diakui sensitivitas seniman dalam mengamati persoalan.
    Salut dan salam hormat.


    ahhh.. masa seeehhh..hehehe

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara