Struktur Budaya

KEBUDAYAAN INDONESIA

budaya

Masih soal gambar menggambar , tak bisa dipungkiri bahwa saya juga jengkel dengan berbagai pengertian masyarakat kita bagaimana memahami Kebudayaan Indonesia . Tanpa ber-pretensi mencari ‘kambing hitam’ (selain sudah tak ada gunanya) siapakah gerangan yang memulai membingungkan kita semua , lagi-lagi hoby saya soal gambar-menggambar menjadi amat lumayan agak tersalurkan

Mengutip comment saya pada artikel sebelumnya tentang bagaimana sistim pemerintahan kita mengatur struktur kelembagaannya : “Masa’ Pariwisata di gabung sejajar dengan Kebudayaan lalu menjadi “BUDPAR”. Sebuah “penghinaan” terhadap bentuk/arti Bhineka Tunggal Ika.”

Kebudayaan Indonesia bukan subordinat dari sistim ber-Negara (sosial/politik/hukum/ekonomi) , Tetapi Negara Republik Indonesia adalah representasi / interaksi dari seluruh masyarakat bangsa Nusantara bersama budayanya masing-masing.

Artinya : Kebudayaan itu “cikal bakal Negara” atau “ruh” nya Negara. Semoga ada budayawan ataupun pemerhati budaya yang berkenan mencerdaskan saya juga :)

salam,

jsop

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

6 Responses to “ Struktur Budaya ”

  1. Mr.Jsop , saya kutip intisari sebuah artikel dari koran , yang berkaitan dengan carut marutnya proses kebudayaan kita bagi sektor pendidikan .

    “Pendidikan Yang Menyesatkan” disadur dari tulisan: Darmaningtyas di Harian Kompas Jumat 2 Mei 2008

    Praksis pendidikan nasional kian kering dan cenderung menyesatkan . Hal karena terlepas dari proses kebudayaan dan lingkungan sosial yang ada

    Substansi pendidikan sebagai upaya untuk memerdekakan manusia justru terabaikan. Fenomena tragis itu bermula dari istilah yang dikembangkan oleh dunia pendidikan berasal dari istilah managemen industri/ekonomi. Istilah-istilah itu terus diproduksi,lalu menjadi wacana dan secara substil membentuk watak baru institusi maupun praksis pendidikan nasional.

    1. Istilah SDM yang diadopsi mengganti kata “manusia” , yang sebenarnya hanya digunakan dalam konteks ekonomi saja.

    2. Reformasi politik Mei 1998 bukan mengoreksi , justru memperkaya kekeliruan . Istilah managemen industri yang diadopsi konsultan dan birokrat pendidikan bertambah banyak.

    3. Bersamaan penambahan istilah managemen,kian kuat pula upaya pembentukan watak atau karakter institusi/praksis pendidikan menjadi korporasi. Praksis pendidikan tidak mengarah pada pencerdasan dan pemerdekaan bangsa ,atau pemanusiaan manusia,tetapi lebih melayani kepentingan pemilik kapital.

    4. Pembelajaran bahasa asing sejak TK dan SD demi standar internasional merupakan bentuk kolonialisasi atas bahasa dan budaya lokal yang seharusnya dikembangkan oleh praksis pendidikan.

  2. Terimakasih masopini , saya juga baca artikel tersebut.

    Pendidikan dalam berbagai hal memang harus direnungkan kembali (terlebih setelah membaca artikel tsb), apalagi yang terkait dengan hak-hak untuk mencerdaskan manusianya atau malah justru membodohkan .

  3. trus kudune bagemana supaya kebudayaan lokal bisa tetap relevan dan nyambung pak. biar nga dibilang katro gitu lho.
    wah koq jadi ngelu ya sayah kekekek


  4. pisajawa said: trus kudune bagemana supaya kebudayaan lokal bisa tetap relevan dan nyambung pak. biar nga dibilang katro gitu lho.
    wah koq jadi ngelu ya sayah kekekek


    biasa’in pake baju gatotkaca mas , pertama-tama pasti dianggap aneh .. lama2 pasti nge-trend juga hihihihi.. *hati2 nyamber tiang listrik*

  5. wekzz!! mas bercanda lagi,ini aku serius 100% mas. Pandangan seniman yak apa saya pengen menyelami,ciee..

  6. Pertama, kita dihadang kendala pembentukan karakter yg tidak memiliki medium pembinaannya. Karakter saya pahami sebagai hasil dari olah kerja yg melibatkan ketekunan pada bidang setiap profesi masing2. Karakter bukan diciptakan lewat sistim doktrin

    Seorang pemikir sekaliber scientis akan melahirkan karakter profesor yang dikenal secara umum. Demikian pula pengerajin ukiran dan lain2 , orang2 yang akan melahirkan karakter disegala aspek/bidang dng disiplin tinggi sbg multiplier efek [akibat] dari proses2 ketekunan kerja yang telah mereka jalani sendiri. Bangsa ini dijaman ini lebih suka menjadi konsumen , entah lebih suka atau dibuat untuk ‘harus menjadi’

    Kedua, pemimpin2 kita tidak punya kesadaran untuk merawat tradisi dan mencari tau bagaimana sistim tradisi itu berproses dari tradisi lama [warisan budaya] menjadi tradisi baru yang menyesuaikan diri dng tuntutan kebutuhan jamannya masing2

    Ketiga, watak ingin bisa maju / sejahtera / kaya dng seketika , yang dibidani oleh kegiatan2 paradoksal ber-ekonomi.Lahirnya tumpukan2 kekeliruan makna yang pada gilirannya menjadi juru penyesat yg baik bagi tatanan kalimat. Misalnya : baru sekelas agen biro jasa sampai rentenir koq sudah menyebutnya industri

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara