Perangkap

oil

Gila! nasib Negara benar-benar semakin ditentukan oleh sekedar harga minyak dunia . Seberapa sadarkah kita semua bahwa hal tersebut adalah akumulasi dari “gaya hidup” yang selama ini dilakukan .
Kebutuhan untuk selalu mengkonsumsi barang mewah dan tawaran-tawaran baru (peradaban dunia maju) dikejar secara membabi buta tanpa mau tertinggal sedikitpun juga , hanya untuk terus-terusan mengelabui rakyatnya sendiri . Agar tampak seolah-olah sudah semakin maju .

Membangun tampilan fisik , industri otomotif , industri fabrikan lainnya … sayangnya hanya sebatas kelas assembling perakitan . Semuanya hanya sebatas menyewakan lahan bagi pabrik-pabrik milik orang asing , dimana hasilnya lebih terkonsentrasi hanya untuk dibeli oleh warga masyarakat Indonesia sendiri , bukan bernilai eksport yang signifikan yang dapat turut menopang devisa bagi Negara (income)

Management Negara Indonesia , apapun dalih dan alasannya selama 62 tahun kurun waktu semenjak Bangsa ini Merdeka , telah terbukti hanya sekaliber Management cost belaka . Jangankan untuk berkesadaran membangun mesin-mesin produksi bangsa sendiri yang baru . Yang lama dari sisa-sisa peninggalan jaman Belanda saja sudah semakin tak ada bekasnya , hancur karena kuno dalam meng-update tehnologinya , juga kuno dalam meng-update managemennya sendiri . (pabrik gula / kertas dan lain-lain)

Modernisasi hanya diburu melalui lambang-lambang ekonomi dan tehnologi majunya saja dan itu semua hanya bisa dilakukan dengan “membeli” dan terus “membeli” atau bahkan sering terpaksa / dipaksakan harus menghutang lagi . Seberapa sih banyaknya asset Bangsa Indonesia untuk terus-terusan bisa bergaya-gaya’an sepeti itu.. Huh! pertanyaan yang bodoh bukan..? Jangan jangan hanya tersisa lembaran nyawa saja yang belum kita gadaikan , agar bisa terus ikut gaya-gaya-an dalam kontes / kancah dunia “fashion” internasional .

Dimanakah engkau para Profesor Ekonomi , Tehnologi yang sarat dengan berbagai julukan “Pakar” A sampai Z ..itu . Dimanakah kalian semua menyembunyikan wajah-wajah kalian dibalik ketiak para cukong opportunis dan penguasa ‘serakah’ negeri ini. Tidakkah sedikitpun ada rasa malu yang menghinggapi sanubari hati kalian semua , bukankah kalian semua yang berjulukan gelar dan ahli .

Detik-detik ini kita sedang menunggu lonceng kemelaratan akan berbunyi semakin nyaring memekakkan telinga . Lalu.. masih juga tidak segera menata ulang serta menyusun konsep Jangka Menengah dan Panjang serta hanya sekedar menjalani target waktu lima tahunan , untuk terus-terusan menikmati “Pesta Demokrasi” yang semu .. bisa kita bayangkan…apa yang akan terjadi nanti. Bagaikan gerombolan orang-orang berseragam yang tengah menikmati sisa-sisa pestanya dihadapan berjuta-juta rakyatnya yang perutnya semakin busung karena miskin dan lapar.

Dan orang-orang itu…… lagi-lagi hanya bisa mengandalkan minyak dunia sebagai “alasan” sekaligus “kambing hitam” .

Setelah tak ada lagi alasan … maka tak perlu lagi mencari-cari alasan , karena memang sudah tidak ada lagi ‘kita semua’ sebagai relevansi untuk mencari-cari alasan tersebut .BAH! bang*** kalian!

Comment di multiply.com

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

10 Responses to “ Perangkap ”

  1. Whoah, ini satu problem mendasar bangsa dan negara kita. Luar biasa berat dan susah diatasi. Susah betul mencari solusinya. Siapapun presidennya, kita tidak bisa berharap banyak, bahwa dia akan bisa menyelesaikan seluruh problem itu dalam lima tahun. Kita, kalau boleh berharap, hanya meminta dengan sangat bapak atau ibu presiden untuk tidk menambah masalah-masalah baru sehingga menambah beban problem rakyat yang kian berat. Kita hanya bisa berharap, sebagai contoh, dana APBN betul-betul disalurkan untuk rakyat, jangan sampai dikorupsi sampai 30-40 % seperti pemerintah di masa lalu. Kalau ada aparat yang terbukti korup, sikat. Kita tentu berharap budaya korupsi betul-betul dipangkas sehingga tidak lagi tumbuh subur seperti dulu.

    Saya setuju, bang Jockie, negeri ini salah urus ketika para pakar, profesor – doktor, membuat perencanaan pembangunan yang tidak berpijak pada potensi negeri sendiri. Kesalahan paling fatal (selain pembiaran atas tindak KKN), menurut saya, ketika pemerintah waktu itu membiayai secara besar-besaran pembangunan industri pesawat terbang di tahun 70-an. Hanya karena ada seorang anak bangsa memiliki ilmu membuat pesawat, pemerintah membangun industri berteknologi tinggi itu. Hasilnya, pesawat buatan pabrik IPTN itu ditukar dengan produk pertanian Thailand (lha, orang awam pun bisa bermain logika, kalau begitu, kenapa pemerintah tidak sejak awal saja mengembangkan secara serius dan bertanggungjawab bidang pertanian dan industri yang mendukung bidang pertanian itu, alih-alih mendirikan pabrik pesawat yang produknya dibarter dengan produk pertanian?) Tidak heran jika akhirnya pabrik pesawat itu pailit karena memang tidak berpijak pada potensi dan realitas masyarakat kita itu.

    Waktu itu, bukan tidak ada profesor doktor yang memiliki integritas kuat dan bersuara lain dari mainstream teknorat Ordebaru. Kalau saya tidak keliru, Prof Sarbini merupakan salah satu yang berani menantang mainstream. Beliau yang waktu itu selalu dan selalu menyuarakan pengembangan industri manufaktur dan teknologi padat karya, di samping tidak meninggalkan bidang pertanian, tetapi suara beliau hilang tersapu derasnya tiupan angin ordebaru.

    Andai gagasan sederhana tetapi kuat seperti yang dilontarkan Prof Sarbini yang mewarnai perencanaan pembangunan di Indonesia dulu, kita bisa bayangkan Indonesia yang berbeda:

    1. Kita memiliki pabrik mobil dan motor yang bukan hanya bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga bisa untuk ekspor ke papua nugini, brunei, vietnam dan negara asean lainnya. Ironisnya belakangan justru malaysia yang mengekspor proton ke negeri kita -selain tentu saja Jepang yang begitu jumawa membanjiri kita dengan produk otomotifnya.

    2. Kita memiliki banyak pabrik elektronik peralatan rumah tangga. Sederhananya, kita punya banyak pabrik sejenis Maspion di Surabaya itulah, yang juga berorientasi ekspor

    3. Kita memiliki banyak pabrik tekstil dan perusahaan garmen yang sangat kompetitif, bukannya seperti sekarang kita kebanjiran produk garmen dari China yang membuat industri garmen kita sesak napas.

    4. Di bidang pertanian dan industri pendukung pertanian, kita mestinya sudah jauh lebih baik daripada pencapaian sekarang.

    5. Dan, tentu masih banyak lagi, yang bisa kita capai, andai para profesor doktor dulu itu tidak salah urus….

    Itu mimpi-mimpi saya, Bang Jockie, andai -sekali lagi andai- pemerintah dulu lebih memberikan perhatian pada profesor doktor seperti Pak Sarbini. Tetapi, itu hanya mimpi. Kenyataan sekarang, saya ingin memaki seperti Bang Jockie ketika menyaksikan mobil-mobil buatan Jepang (juga Eropa, China, dan Malaysia) berseliweran dan menimbulkan kemacetan di kota-kota besar kita.

    Lepas dari suka atau benci terhadap Tommy dan keluarga Soeharto (dan prosesnya yang sarat KKN), seharusnya kita mendukung program mobnas Timor itu.Lepas dari masalah politis dan ekonomis yang melibat Texmaco, mestinya kita mendukung perusahaan yang sudah berhasil membuat truk dan aneka mesin lainnya itu.

    Tetapi, apa yang dilakukan pemerintah waktu itu? Program Mobnas distop, sedang Texmaco dimatikan. Kebijakan yang membuat produsen mobil asing terus berjaya di negeri kita. Sungguh ironis, bukan hanya mobil baru, kran impor truk bekas (ya, truk bekas yang sudah apkir di negerinya sana) pun dibuka lebar-lebar dan menambah cepat kehancuran jalan-jalan di negeri kita. Kembali kita hanya bisa menjadi konsumen. Setiap kali melihat truk-truk berbadan panjang dengan tulisan kanji di baknya itu, saya juga ingin memaki.

    Tetapi, di atas semua itu, saya juga masih menaruh harapan akan membaiknya keadaan suatu saat kelak. Saya percaya, Imam Mahdi, Sang Ratu Adil, akan datang pada saatnya. Kita memang tak bisa berharap hanya pada manusia biasa….

    (Maaf saya mengungkapkan uneg-ineg di Blog Bang Jockie. Dan, tentu terimakasih, blog ini memberi kesempatan menulis komentar sepanjang apapun ….)

  2. Setuju mas , sekarang ini bukan waktunya lagi untuk sekedar mencari pemimpin periode 2009 yang harus bertugas sekedar hanya untuk gantian duduk di kursi kepresidenan . Pemimpin yang punya visi utuh dan menyeluruh dengan konsep pembangunan ekonomi jangka menengah dan panjang ,bisa saja per lima belas tahunan ,misalnya . Dan untuk itu “trias politika” bisa saja digunakan untuk mendukung kearah perbaikan yang konstruktif / transparan serta bisa di pertanggung jawabkan.

    Prof.Sarbini , almarhum sudah memperingatkan datangnya keadaan seperti ini semenjak pemerintahan periode Habibie.
    Rasanya memang sudah saatnya paham Kapitalis liberal untuk disingkirkan lagi dari muka bumi Indonesia , dan diganti dengan pikiran2 Sosialisme Modern .

    Selebihnya saya sepakat dengan apa yang anda uraikan mengenai “mobnas” dan lain2nya . Mari kita berjuang lewat cara kita masing2 selagi masih bisa …..
    Semoga benar-benar masih ada setitik harapan nantinya . salam

  3. Setuju.dot.com ; Bongkar!!!!

  4. Alm.Prof.Sarbini : “REVOLUSI! , singkirkan semua barang rongsokkan” dengan cara2 yang damai!

  5. Dimanakah engkau para Profesor Ekonomi , Tehnologi yang sarat dengan berbagai julukan “Pakar” A sampai Z ..itu . Dimanakah kalian semua menyembunyikan wajah-wajah kalian ?

    rupanya julukan pakar berbagai bidang itu gak berlaku lagi Mas di negeri ini, soalnya mereka lebih seneng menekuni bidang petak umpet….. :lol:

  6. RAPBN 2008:”Ekonomi kita masih baik , lihatlah neraca perbankan, Bank Indonesia dan neraca pemerintah”
    Demikian pakar-pakar tersebut “pating gemryobyos” bicaranya sangking semangatnya.

    Lha koq sekarang malah ngomong “kenaikan BBM tak ada hubungannya dengan pemilu 2009″
    hehehe.. dia menjelaskan sendiri identitas dirinya sendiri .

  7. Jenuh membaca berita tentang Indonesia yang selalu negatif…

  8. Saya berpikir positif semoga anda tidak sedang bosan karena memikirkan hal2 yang negatif tentang Indonesia.

    Sebab kejenuhan bukan untuk disikapi dengan “kebosanan” tetapi untuk dihadapi agar menjadi bening dan terang. Semakin kita menghindar dari “kejenuhan” yang melilit persoalan bangsa Indonesia , semakin lama kejenuhan problema akan membuntuti kita.

    “Matahari tak pernah bosan untuk terbit di ufuk timur dan tenggelam di ufuk barat , Ombak di pantai tak pernah bosan menghantam karang lautan , Angin tak pernah jenuh dan bosan berhembus “.

    53 tahun saya hidup dengan berbagai persoalan yang menggiring saya sering menjadi “jenuh” , tapi saya tak pernah merasa bosan . Hidup memang sering membuat kita jenuh ..tapi bukan untuk menjadikan kita bosan.

    Semoga anda tidak bermaksud mengatakan “bosan” di blog ini .

  9. Halo Mas,
    Yups, saya tidak bermaksud mengatakan bosan lebih ke arah jenuh sehingga butuh refreshing sejenak dan bangkit kembali…


  10. askari said: Halo Mas,
    Yups, saya tidak bermaksud mengatakan bosan lebih ke arah jenuh sehingga butuh refreshing sejenak dan bangkit kembali…


    Syukurlah mas .. kalau begitu . Sebab artikel2 saya disini..apapun juga bentuk kekecewaan serta kekesalan yang nampak dipermukaan bukanlah ujud dari pesimisme saya .

    Saya justru sedang membangun kepercayaan dalam diri saya sendiri yang beranjak dari realitas yang ada . Serta berharap bisa berbagi (sharing) dengan siapa saja yang sependapat dengan saya , salam .

    jsop

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara