Arti & Makna

Sepertinya masalah terbesar berdimensi serius yang mengidap di masyarakat Indonesia dewasa ini , adalah menyelaraskan maksud bunyi dua kata sebutan tersebut diatas (sbg.salah satunya) . Arti sebuah kalimat acapkali lepas dari konteks makna yang terkandung didalamnya. Saya coba sebutkan salah satu diantaranya adalah :

Pemerintah , sering dipahami sebagai kesatuan dari lembaga Negara yang secara formal tugas dan kewajibannya memang ‘dominan’ untuk memerintah masyarakatnya saja . Padahal pengertian yang ingin dicapai adalah sebuah Lembaga formal yang mengatur lalu-lintas administrasi sebuah Negara .

Kepolisian , adalah satuan lembaga yang bertugas menjaga ketertiban umum dan mengawal jalannya hukum dan perundangan bagi masyarakatnya di lapangan . Secara “makna” lembaga tersebut seharusnya otonom langsung dibawah kontrol lembaga Kehakiman yang menaungi lahirnya berbagai undang-undang . Koq .. bisa Kepolisian dibawah lembaga Kepresidenan , terkesan polisi lebih untuk mengamankan dan melindungi keamanan presiden dibandingkan dengan perlindungan yang harus diberikan kepada warga masyarakat negaranya.

Dokter dan pakar pendidikan sampai seniman , adalah sebuah profesi dengan domain pengabdian pada masing-masing disiplin keilmuannya . Nyatanya profesi-profesi yang sarat bermuatan sosial tersebut kini sulit dibedakan lagi dengan profesi domain ke-ekonomian atau dalam bahasa lugasnya bisa saya sebut layaknya profesi pedagang atau saudagar .

Bagaimana mungkin tanpa integritas personal individu orangnya , hingga integritas profesi organisasi kelompok masyarakatnya , lalu meluas lagi sampai pada tatanan lembaga resmi pemerintahannya , bisa membangun integritas sebuah Bangsanya?

Tanpa integritas sebuah bangsa , apa yang dapat dicapai..

Penyelewengan makna yang sekedar dijadikan kalimat dalam mengolah permainan kata-kata sudah sedemikian kronis dan parahnya . Bahkan orang yang mencoba untuk meluruskannya saja seringkali dianggap hanya ‘mempersulit’ keadaan saja . Ini benar-benar sebuah perjalanan panjang (journey) menuju alamat sebuah negara Edan dengan masyarakat yang terdiri dari orang-orang yang juga Edan .

Sebuah contoh kecil yang setiap hari bisa terdengar dan dilihat diberbagai media informasi (seperti televisi dsb) yang mempunyai peran dan tanggung jawab sebagai ujung tombak sistim informasi untuk mencerdaskan masyarakatnya :

“bla..bla..bla……demikianlah saudara-saudara sekalian… itulah tadi informasi mengenai kekayaan seni dan budaya bangsa Indonesia yang harus dijaga dan dilestarikan . Agar tidak semakin banyak yang hilang karena diakui milik bangsa lain dan bla..bla..bla..seterusnya”

Padahal tayangan tersebut baru saja menampilkan upacara adat setempat yang sedang diikuti oleh Gubernur sebagai pejabat pemerintahan setempat . Anda pasti mendengar dan melihatnya sebagai hal yang lumrah dan biasa-biasa saja bukan…? Bila benar …. itulah kenyataannya bahwa kita semua sudah setengah Edan , untuk hanya memahami bahwa secara kronologis laporan kejadian diatas , hanya ritual basa-basi pemantes sebutan negara Bhineka Tunggal Ika saja! Ya..pemantes…tidak lebih dari itu , karena apa ..

Karena kita sudah semakin lalai dan abai terhadap makna yang seharusnya terkandung didalamnya , salam.

jsop

COMMENT DI MULTIPLY

  

About the Author

Bukan jurnalis bukan pejabat bukan juga politikus apalagi tentara....wong cuman seniman. Ibarat cermin bagi elok rupa maupun cermin bagi buruk rupa. Jangan membaca tulisan saya bila tampilan buruk rupa anda enggan dibaca.

10 Responses to “ Arti & Makna ”

  1. Mas jsop tidak menyebut kalangan pemuka agama ?
    Antara ucapan dan perilaku , dimanakah korelasi pengikatnya.

  2. yaitu.. anda sudah menyebutkannya sendiri , terimakasih mas .

  3. Bang Yockie juga tidak menyinggung arti dan makna DPR. Sebuah lembaga legislatif, wakil rakyat, yang menjadi penyeimbang kekuasaan pemerintah (eksekutif). Keberadaannya memberi makna (minimal secara formal, kalau secara materiil/substansial masih harus dikaji lagi) bagi sistem politik demokrasi.
    Mengenai pemerintah, saya setuju dengan mereka yang menggugat istilah tersebut. Di KKBI ada 6 arti pemerintah, tetapi hanya satu yang berarti PENGURUS, PENGELOLA. Sedang 5 arti lainnya berkaitan dengan Penguasa/Kekuasaan. Dalam konteks kekuasaan, PEMERINTAH itu adalah pemberi perintah, kesannya, sangat powerful. Sedang rakyat menjadi pihak yang diperintah, terasa sangat powerless.
    Karena itu, Bang Yockie, saya lebih memilih istilah Jawa, pamong (praja). Sedikit berbau paternalistik dalam hubungan bapak-anak, dan karena itu kesannya, mereka itu ngemong. Atau, kalau mau yang lebih modern, tetapi lebih sesuai dengan makna hakikat keberadaan mereka, pelayan publik.
    Masalahnya, apa pemerintah bersedia disebut pelayan publik? seharusnya, sich, mereka bersedia…

  4. Saya tidak menyebut-nyebut istilah DPR dan sebagainya..?
    Di artikel ini bukankah sudah saya tulis “salah satu diantaranya” kan..heheehehe …. Jadi tugas anda-anda dong untuk melengkapinya hehehe..

    Saya setuju dengan istilah pamong praja , lebih egaliter walau memang masih berbau paternalistik. Tapi apakah semua hal yang berkonotasi ‘patern’ selalu empirik dengan ‘keburukan’,saya koq juga kurang sependapat dengan hal tersebut. Adat tradisional hanya akan mengganggu bila diletakkan dalam perspektif sistem ber-tata-kenegaraan yang demokratis , begitu juga sebaliknya bukan ? Oleh karena itulah seyogyanya masyarakat modern kita yang “pintar” harus mampu mengolahnya dengan baik , bukan? Kalau tidak bisa mengelola dengan benar dan baik…layakkah disebut masyarakat modern yang “pintar”..?

    Pada intinya kesadaran rasional hari ini menggiring kita untuk berpikir serta menyadari bahwa semua permasalahan “benang kusut” diatas bisa terjadi karena berawal dan bermula dari akibat ter-degradasinya integritas individu masing2 manusianya. Dalam bahasa yang lebih popular mereka menyebutnya salah satu bagian dari “nation and character building / jati diri manusia dan bangsanya” .

    Istilah maupun bahasa kalimat (judul) yang lahir dari pergaulan manusia tanpa integritas , tak lebih hanya sebatas kualitas “Tong Kosong yang nyaring bunyinya”

  5. Saya setuju, Bang Yockie, kata kunci bagi solusi benang kusut yang dihadapi bangsa ini adalah integritas individu itu. Integritas itu seperti ikan laut, yang meski hidup di air asin, dagingnya tetap saja tawar. Ikan laut (bertahan) mungkin karena tidak punya pilihan untuk memilih lingkungan.
    Tetapi manusia punya. Sophan Sophiaan (almarhum), saya kira, sebuah teladan bagi integritas individu. Bangsa ini membutuhkan orang-orang seperti beliau untuk mewarnai DPR dan pemerintahan. Ketika beliau memilih keluar dari sistem, itu sebuah verifikasi atas hipotesa, sistem di sana sudah teramat destruktif sehingga tidak bisa lagi mengakomodasi manusia yang memiliki integritas kuat.
    Sekarang beliau pergi untuk selamanya. Kita berharap, semoga bekas teman-teman beliau yang ada di parlemen mengambil pelajaran dari nilai dasar perjuangan beliau, bahwa uang, keserakahan dan kekuasaan bukan segalanya dalam kehidupan politik, ada tanggung jawab yang harus lebih diutamakan. Ada saat ketika “Mulut Dikunci, kata tak ada lagi.” Ada masa ketika “tangan dan kaki bersaksi”. Dan ada titik ketika kita semua akhirnya mati….

  6. Integritas = Koherensi:

    a.Sifat keilmuan dan pelaksanaannya di lapangan
    b.Ucapan dan tindakan
    c.Kemampuan ekonomis dan kekayaan
    * mungkin masih ada lagi..?

    Maka ketika ilmu tidak mengabdi/berpihak pd profesi keilmuannya.
    Ucapan keseharian dan doa-doa tak sesuai perbuatannya
    Gaji dan penghasilan tak sesuai dengan kondisi kesejahteraannya.
    Semua orang hanya berpikir bagaimana caranya bisa cepat sukses/kaya raya atau paling tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri dan keluarganya masing-masing agar bisa tetap bertahan.

    Inilah kondisi yang sedang dituju olah masyarakat yang hanya meletakkan materi sebagai tujuan hidupnya. Masyarakat hedonis sedang berkembang biak dengan suburnya .

    Karena ber anak-pinak-nya tidak adil (transparan dan merata) maka sudah dapat dipastikan kesenjangan sosial / jurang pemisah yang akan terkuak melebar semakin meluas dan terbuka . Hingga akhirnya… potensi kuat pemicu terulangnya sejarah lama , bisa saja terjadi lagi.

    Pada saat yang sama semua pejabat berteriak lantang tentang perlunya dibangkitkan lagi rasa persatuan dan kesatuan negara Republik Indonesia yang sudah terkoyak-koyak luka . Sadarkah mereka semua tentang apa yang menjadi penyebab semuanya ini bisa terjadi.. Bila tak paham… sayapun menjadi maklum !

    Semoga saya keliru ..

  7. Oom JSOP , jujur aja aku ndak ngerti apa sih maksudnya oom?

  8. apa maksudnya ..? hehehe Hari ini kita memperingati satu abad usia Hari ‘Kebangkitan Nasional’ (“katanya …”). Saya sengaja tidak menmbuat artikel khusus mengenai peringatan tersebut .Selain sudah banyak yang memperingatinya , namun bagi saya pribadi justru ingin saya gunakan untuk merasa “malu” untuk memperingatinya .

    Sebab kita bisa disebut belum berbuat apa-apa setelah kemerdekaan 63 tahun lamanya tersebut berhasil dicapai .

    Mereka dari 1908 sampai 1945 merumuskan intelektualitas akademis dan intelektualitas moralitas menjadi sebuah kesatuan disiplin ilmu yang tak terpisahkan (INTEGRITAS) hingga akhirnya mampu melahirkan deklarasi pada tahun 1945 . Artinya 37 tahun mereka bersusah payah berjuang untuk bisa melahirkan adanya hari kemerdekaan tertanggal 17 agustus 1945.

    Hari ini setelah 63 tahun yang lalu , kita belum atau bahkan tidak meneruskan perjuangan tersebut ..selain hanya numpang hidup untuk menikmati hasil kemerdekaan . Yang secara falsafah hidup bisa disebut kita dijajah kembali lewat faham hedonisme. Itulah inti maksud saya tentang degradsi integritas manusia Indonesia saat ini . Pintar (dengan berbagai gelar tertera dipundaknya) tapi bodoh dalam pikiran dan tindakan.

    Dan saya sendiri… bodoh dalam kedua-duanya , namun minimal saya menyadari bahwa saya bodoh dan berusaha agar bisa menjadi sedikit tidak sebodoh ‘mereka’ .

  9. sekarang kan banyak orang ‘pintar-pintar bodoh’ atau pintar membodohi dan bodoh memintari ??

  10. Kita yang terakhir kali ya mas ..orang yang bodoh tapi memintari hehehehe….

    dibilang sok teu…..ya.. biarinnnnn .!! :)

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara