Ketika Semut
Ketika seekor semut diperlakukan agar mampu menaklukkan naga yang perkasa . Maka berlangsunglah penindasan jahat terselubung terhadap harkat sesama mahkluk hidup .
Aku hanya semut yang kebetulan berwarna hitam , yang hidup dalam pagar alam bebas , disana juga kotor dan berdebu . Tak bisakah kalian memahami / meniscayakan keberadaanku sebagai semut yang juga berhak atas udara kehidupanku sendiri . Ketika aku melawan , ketika aku berontak , ketika aku marah dan berteriak , juga ketika aku menangis meratapi habitat kehidupanku yang porak poranda kau rusak . Apa sebenarnya yang tersimpan dalam rencana-rencana besarmu itu.
Betapa sombongnya sinar yang kau pancarkan dari raut wajah yang beringas , betapa angkuhnya kedua kakimu mengangkangi kepalaku serta menginjak-injak sekujur tubuh . Dan memang…. aku hanya bisa berteriak dengan lirih ,
oh… betapa JAHANAM KAU!

























Mau marah semua orang sudah marah,menangis apalagi,tertawa juga masih banyak,bengong dan linglung semakin tambah banyak!
Republik apa ini!!!
Saya merasa prihatin dengan statement Presiden kita Soesilo Bambang Yodhoyono , yang mengatakan kurang lebih seperti di bawah ini :
Kritik boleh-boleh saja , namun harus diingat ini saat-saat menjelang Pemilu 2009 dsb.
Selayaknya tak patut seorang pemimpin sekaliber beliau men generalisir dua permasalahan yang berbeda substansinya . Kritik terhadap kebijakan BBM adalah kiritik yang diarahkan pada kebijakan ekonomi , jelas domain nya adalah wilayah ekonomi .
Sedangkan mengingatkan kewaspadaan agar jangan ada kepentingan2 oportunis politik menjelang 2009 adalah masalah yang lain lagi . Dia tidak relevan untuk disandingkan sebagai jawaban atas reaksi yang berkembang di masyarakat , khususnya soal BBM .
Bangsa ini semakin dibawa berputar-putar dalam permainan retorika yang kosong dan hampa . Yang sama sekali tak pernah belajar mimilah-milah masalah agar mampu diselesaikan dengan tuntas.