Ada Apa sih!

Ini tidak ada hubungannya dengan judul sebuah film “Ada apa dengan cinta” . Namun sebuah pertanyaan sederhana apa sih sebenarnya yang tengah menimpa negeriku selama ini , sehingga aku dan kita semua sebagai masyarakat Indonesia masih saja terbelenggu dengan berbagai persoalan kemiskinan dan kebodohan yang relatif sama .

Yang berbeda hanya berubahnya JAMAN , yang hanya melahirkan tuntutan bagi kebutuhan yang juga merupakan “keperluan” di era nya masing-masing . Misalnya yang terjadi di masa lampau , ketika ekonomi pasar dan konsumerisme belum merajalela seperti saat ini , maka pilihan-pilihan akan kebutuhan juga jauh lebih sederhana. Namun betapapun zaman telah berubah, toh pilihan-pilihan itu tetap memiliki konsekuensi dan implikasinya masing-masing. Pilihan yang akan selalu menghadirkan “anugerah, imbalan serta pengakuan” pada ruangnya sendiri-sendiri.

Bung Hatta : Setiap pemimpin selalu meninggalkan sosok, kepribadian, karakter, visi, komitmen, serta pergulatan dan suri tauladan yang dapat diambil hikmahnya. Ia pun sadar, rakyat perlu dididik. Dididik untuk membaca dan menulis agar terbuka pintu untuk menimba pengetahuan dan pengalaman. Bung Hatta melalui pendidikan dan berbagai pergaulan selama 11 tahun studi di Eropa, telah sampai pada pemahaman bahwa Indonesia Merdeka bukan saja dalam makna Politik, tetapi juga Ekonomi / Sosial dan Budaya. Bung Hatta juga berulang kali memperingatkan kemungkinan jebakan-jebakan feodalisme yang akan digunakan sebagai muslihat bagi peralatan kekuasaan penindasan , maka ia pun terus-menerus memperjuangkan demokrasi yang bertumpu pada kedaulatan rakyat.

Sejarah, katanya, tidak kenal andaikata. Namun sebagai bahan pelajaran dan pengalaman. Hatta juga mengutip sajak dari ahli pikir Perancis Rene de Clerque “Hanya satu tanah yang dapat disebut tanah airku. Ia berkembang dengan amal , dan amal itu adalah amalku.”

Dalam mencari difinisi “Kebenaran” , Hatta mengatakan bahwa kebenaran itu tak pernah ada dua , melainkan hanya satu dalam setiap persoalan. Jika ia berada di sini tak mungkin ia akan berada di sana. Tetapi jika ada pihak-pihak yang ingin mendebat dan hanya ingin “menang” dalam suatu perdebatan dengan menggunakan argumentasi-argumentasi yang sophistis , resistensi lewat semburan kalimat . Maka menurutnya “Kebenaran tidak dapat ditegakkan dengan silat lidah melalui kata-kata , tetap harus dicari dan digali dengan segala kesungguhan agar dapat dipakai sebagai penuntun bagi tuntutan hidup,” ungkapnya.

Pengetahuan tentang filsafat penting sekali dalam meningkatkan kecerdasan berpikir, memperluas pandangan serta mempertajam pikiran. Hal itu dibutuhkan sebelum seseorang menguasai secara utuh serta lebih luas di berbagai bidang ilmu lainnya , baik itu ilmu alam maupun ilmu sosial.

Pemahaman tentang Filsafat secara praktis akan melahirkan “Penerapan pikiran” dan “Penetapan hati”. Ia akan membawa kita ke alam pikiran yang tumbuh dari kata hati (nurani). Oleh karena itu pula dia mampu membebaskan kita dari dikotomi Tempat / Ruang serta Waktu .

Diartikel ini , disela-sela hiruk pikuk kegaduhan yang membisingkan telinga , sering kita bertanya-tanya …. apakah yang sebenarnya sedang terjadi di negeri tercintaku ini ..? Mungkin memang betul bahwa jawabannya adalah : “Pola pikir yang membuat jati diri serta identitas manusia Indonesia” yang semakin hari semakin terasa ter-degradasi keberadaannya .

Mengutip dialog saya dengan seorang pendidik yang cukup bersahaja I Made Winarya diberbagai kesempatan di jsops.multiply.com dia menuliskan kalimatnya dibawah ini:

Ada suatu ungkapan dari Neil Postman (Technopoly) .Suatu teknologi itu selalu datang dengan ideologi yang menyertai disainnya. Ideologi ini sesuai dengan agenda dari disainer ketika mendisain sistem itu . Kita yang menggunakannya harus waspada terhadap ideologi itu, sebab bisa-bisa kita tanpa sadar terbentuk dan terpengaruh agenda yang dimiliki disainer tersebut.

Kalau kita katakan suatu sistem pemerintahan, sistem masyarakat adalah “Bentuk teknologi”, maka dengan melakukan pengadopsian dari suatu sistem yang di”disain” oleh penjajah , tanpa sadar kita akan terpengaruh dengan agenda disainer itu. Contoh simple “sudah orang teknik hanya ngurusin hal teknis” (tidak perlu tahu dan belajar ilmu yang lainnya) , ini kan adalah bawaan dari model pendidikan yang hanya bertujuan mencukupi tenaga kerja untuk negara jajahan. Tanpa sadar otak-otak kita dididik dengan cara itu dan juga dididik bersikap sesuai agenda “disainer” sistem itu.

Maka untuk kesekian kalinya , wajib berteriak dengan lantang “LAWAN BUNG!”
Bagi anda yang perempuan tentu saja “Lawan BU!’ :-)

Salam,
jsop

[dari sekedar perjalanan hidup seniman serta dari berbagai artikel bacaan yang ada.]
COMMENT ON MULTIPLY

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

14 Responses to “ Ada Apa sih! ”

  1. Hari ini disaat kita seharusnya “khusuk” memperingati kesaktian Pancasila , justru ternodai lagi oleh perilaku orang-orang yang menodai sila Pertama “Ke-Tuhan-an Yang Maha Esa” itu sendiri.

    Tak ada lagikah upaya yang bisa kita harapkan dari para penyelenggara negara untuk menghindari dan menghadang segala kemungkinan2 yang lebih buruk lagi.. Pada siapakah kita harus sandarkan Hukum di Negeri ini ..! Bila Undang-Undang tak lagi dihormati .

  2. hebat sekali perilaku org2 bengis siang tadi di monas bang!
    wueehh.. ini lah hasilnya democrazy Indonesah,malu2in ajah!!!
    apa kata duniaaa???????

  3. FPI itu ngamuk brutal banget sih mas…

  4. benar andara,brutal dan biadabbbbbbbb!
    front pembela islam????
    ISLAM tidak perlu dibela dengan cara gitu!
    ALLAH tidak perlu dibela agar DIA aman!
    BODOH sekali orang2 itu..picik dan sempit!

  5. Tenang, apapun alasan dari berbagai persoalan yang sekarang ini marak terjadi , ini adalah sebuah “pematangan” pada satu kondisi. Yang terpenting adalah mawas diri / waspada untuk selalu berpikir “diluar masalah pragmatis” (out of the box)

    Dengan begitu kejernihan untuk menganalisa dan bertindak layaknya orang waras akan mampu dijaga dengan baik,salam

  6. udaahhh hajar bleehh aja mas!!!!

  7. heh…sabar atuh mas

  8. berita terakhir katanya ini adu domba mas , mengalihkan isu bbm . Gimana tanggapan sampeyan

  9. “Adu domba untuk mengalihkan issue BBM ?”

    1. Dalam situasi “blunder” seperti sekarang ini , semua kemungkinan bisa terjadi . Disengaja maupun tidak disengaja . Di rekayasa maupun tidak.
    2. Sebuah “rangkaian” pola atau sistem yang semrawut pasti akan membuahkan kesemrawutan pola kerja agen2 pelaksananya (dilematisme)
    3. Masyarakat yang terlibat langsung didalam sistem yang semrawut , adalah bidak2 catur bagi para pemainnya .

    Oleh karena itu saya mengajak kita semua untuk berpikir “think out of the box” atau keluar dari pola “crazy games” diatas. Sebisa mungkin saya mengajak semua orang untuk berpikir sebagai “pemain” bagi kepentingan negerinya , jangan mau dijadikan pion2 atau bidak catur yang bisa diperlakukan secara seenaknya. Dari sana kita mampu untuk berpikir dengan jernih , sehingga mampu juga untuk memahami inti persoalannya.

    Bagi saya , apakah ini strategi adu domba untuk mengalihkan issue BBM dan sebagainya….. sama sekali enggak ngaruh..mas!

  10. Saya terus terang tidak tertarik untuk bicara masalah2 “praksis” yang terjadi saat ini. Namun khusus untuk mengenai kasus FPI vs Achmadiyah , seyogyanya anda semua membaca artikel dalam link yang terkait ini . Setelah itu marilah kita keluar dari “KOTAK” sempit yang pengap dan berpikir dengan jernih .

    LINK : KASUS PERSETERUAN ATAS NAMA AGAMA ISLAM

    Masyarakat Indonesia yang gemar kasak-kusuk.. , tanggalkan kebiasaan untuk ber “opini-jalanan” tanpa memahami permasalahan terlebih dahulu .

  11. :) tetap “dingin” dalam “tumpukan-bara”

  12. Amin…& InsyaALLAH

  13. Aku lagi penasaran nunggu hasil akhirnya kayak apa :D
    ..
    Kan.. biasanya ya.. kalo besi udah ditempa.. entar keluarnya jadi se-keren apa :)
    ..
    Kalo tembikar.. cantik2nya tuh belum keliatan.. bahkan ssd proses pembakaran.. masih harus di-poles2 lagi..
    ..
    Jadi, aku lagi penasaran ajah nunggu hasil akhirnya.. jadi apa semua2nya itu ya??
    ..
    analogi yang aneh?? hem.. mungkin.. *hehehe.. tanya sendiri.. jawab sendiri..*
    ..

  14. Tanpa menganggap remeh dan enteng , namum persoalan Bangsa Indonesia bisa kita simplifikasikan agar lebih mudah dan sederhana untuk diteropong dari jauh.

    Disaat kita semua sadar untuk harus mengejar berbagai keter-tinggalan di berbagai bidang oleh globalisasi yang sudah jauh berada didepan . Maka secara seporadis bangsa Indonesia menempuh segala upaya2 / penyiasatan2 agar jarak ketertinggalan tersebut bisa dipersempit ruangnya .

    “Layar Globalisasi” yang tampak didepan mata dan memukau seluruh umat manusia di atas bumi ini adalah “Kesejahteraan” yang di-idam-idamkan setiap orang. Tentunya tak ada seorangpun yang menafikkan kebutuhan atau keinginan serta harapan tersebut. Sebab semua makhluk sosial yang hidup di dunia pasti mendambakan kesejahteraan hidupnya.

    Menjadi malapetaka , ketika bangsa Indonesia memburu kesejahteraan tersebut dengan membiarkan identitasnya tercabut dari akar serabut asal muasalnya . Kalangan menengah “terputus” ikatan silahturahmi sosialnya dengan kalangan bawah (rakyat miskin) atau grassroot-nya . Padahal Indonesia adalah sebuah kesatuan yang menyeluruh yang saling terikat antar tingkat masyarakat tersebut .

    Maka yang tercipta sampai hari ini adalah : masyarakat postmodern yang eksklusif / individualistis , yang jelas akan berbenturan dengan kepentingan jangka pendek mayoritas rakyatnya yang lain yang masih terbelakang dan miskin.

    Jika tak ada orang yang mampu mengendalikan dan memperbaiki sistem pemerintahan Indonesia , agar kembali kepada tujuan semula (azas Keadilan dan Kesejahteraan bagi semua orang) . Maka harapan untuk menyongsong masa depan Indonesia yang gemilang … “mimpi-mimpi kosong belaka!”

    Kita sedang di ingatkan untuk tidak tergiring dan masuk dalam perangkap sejarah yang pernah dialami negara2 di Afrika , Rwanda khususnya . Apa itu…? perpecahan yang dilanjutkan dengan chaos yang tak mampu dikendalikan sehingga mengakibatkan porak porandanya negara kesatuan , yang diawali dengan perang saudara lewat pembantaian masal , antar agama , antar suku , antar status sosial .

    Harapan atau himbauan saya bagi kelompok menengah yang hidupnya hanya bergelimang dalam persoalannya sendiri-sendiri dan yang seolah tidak mau tau dan terlibat dengan kondisi bangsa akhir-akhir ini (skala prioritas) , agar segeralah berkaca diri , selagi masih sempat .

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara