Pergilah ke neraka

Facism..go to Hell!

Dalam kondisi kehidupan yang seperti sekarang ini , dimana setiap jendela didalam rumah kita berhembus udara busuk yang menciptakan perilaku individualisme , materialisme , hedonisme , maka sebenarnya pintu-pintu menuju kehancuran absolute , yang sedang menunggu dan akan mengarahkan kita semua menuju kesana.

Apa artinya Pancasila sebagai falsafah kehidupan dalam ber-Bangsa juga ber-Negara bila dia boleh dilanggar tanpa ada konsekwensi dan akibat hukum yang ditimbulkan , sebagaimana Undang-Undang yang secara tekstual menyertainya , demikian Rendra selalu berkata pada saya . Menurut hemat saya saat ini Pancasila hanya sekedar lambang dan menjadi slogan kosong berkembang dengan pesatnya ilmu persilatan lidah dan tontonan bagi pertunjukkan sirkus kata-kata , Pancasila hari ini semakin tersandera didalam sangkar besi nya.

Pancasila.. tanyakanlah pada generasi anak-anak kita , mungkin jawabnya :”apa sih itu pak sebenarnya…” Namun ketika ada tontonan selebritas dan “perburuan status” bagi sebutan modernitas , begitu fasihnya mereka semua memahaminya dengan baik. Maka jelaslah sudah , ada kesenjangan yang menyeruak lebar antara “cita-cita” dan cara menempuhnya .

Lima Sila yang menjadi priambul falsafah berbangsa adalah rumusan dari berbagai kesepakatan-kesapakatan untuk mempersatukan segala perbedaan antar bangsa-bangsa di bumi Nusantara. Kesepakatan yang sudah jelas beranjak dari semangat SOLIDARITAS untuk bisa hidup bersama dengan rukun dan damai , sosialisme Nusantara begitulah saya memahaminya .

Namun ketika berbagai deretan sejarah hitam terjadi dan mengacaukan kita semua , hari ini pula kita semakin buta dan jauh melenceng dari cita-cita sebenarnya . Traumatik peristiwa masa lalu bukan dijadikan bekal ilmu untuk menguasai masa depan , namun lebih cenderung ditempatkan sebagai mimpi-mimpi buruk yang harus dilupakan / dipendam dan dihapus secara begitu saja . Maka lahirlah masyarakat dari peradaban baru , yang seolah bagaikan bayi yang ‘naif’ yang sedang dipaksa untuk mampu mengarungi ganasnya samudra luas kehidupan .

Keniscayaan jaman adalah hadirnya globalisasi dengan segala kelengkapan pendukung yang menyertainya. Globalisasi yang menuntut “tangguhnya” fondasi peradaban seluruh bangsa-bangsa dunia untuk bisa dan mampu menapakinya dengan baik. Seorang bayi kecil dari peradaban baru tanpa bekal ilmu yang memadai … jelas akan terombang-ambing bahkan terperosok tergulung ombak yang tak mengenal rasa belas kasihan.

Peradaban baru yang secara membabi buta menerapkan liberalisasi disegala bidang tanpa aturan , tanpa pengalaman , tanpa panduan sejarah masa lalu [portofolio] yang dibutuhkan sudah terbukti hanya melanggengkan kemiskinan karena KEBODOHAN . Ketika sejarah hitam hanya dipahami untuk memangkas segala bentuk aturan yang feodalistik , paternalistik tanpa memahami isi / substansi yang terkandung didalamnya , maka berkembanglah segala bentuk dan wujud kekuasaan-kekuasaan absolute gaya baru yang juga mendorong tumbuh suburnya feodalistik bahkan fasisme berwajah baru lainnya.

Di level rumah tangga , rt , rw , kelurahan hingga lembaga-lembaga kemasyarakatan publik ataupun resmi pemerintahan . Semuanya sekonyong-konyong berubah menjadi barisan FASISME Indonesia baru. Hanya dengan upaya untuk membenahi kembali sistim pendidikan yang menyeluruh [komperehensif dan holistik] di Indonesia , anak dan cucu kita akan terselamatkan keberadaannya . Dan hanya dari seorang pemimpin yang mampu menangkap visi perjuangan bangsanya (:sejarah awal bagi terbentuknya keinginan ber-negara) yang akan menyelamatkan “peradaban” sampai hari ini bagi kita semua yang masih hidup didalamnya.

Adakah kita masih juga berkehendak untuk memungkiri / berkilah dan menafikkan kenyataan? Oportunis jaman , pergilah kalian ke neraka!

salam,

jsop.
COMMENT ON MULTIPLY

belavita.mp3 – kantata
Lembah-lembah yang ramah
Tangan-tangan yang bergandengan
Rama-rama diatas bunga
Layar-layar yang putih
Nun di samudra raya

Gunung-gunung sembahyang
Tangan -tangan bersalaman
Burung murai bernyanyi-nyanyi
Burung camar menyambar
Diatas ombak raya

Oh bencana..dari kekuasaan insan
Oh bencana..dari aniaya manusia
Amarah tak berbunda kebuasan tanpa saudara
Oh suara bathin fajar di timur raya
Oh suara kalbu degup jantung kita

Asmara dirgantara , rasa rindu anak dan cucu
Nostalgia cakrawala , asap dapur dari desa
Punahlah gairah pada nafsu darah

Salam ya salam
Santi Om Santi
Haleluya Haleluya

[jsop / WS.Rendra]

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

6 Responses to “ Pergilah ke neraka ”

  1. ada kesenjangan yang menyeruak lebar antara “cita-cita” dan cara menempuhnya .

    bisa dijelasin mas maksudnya..pencerahan dong :)

  2. Dalam bahasa kiasan yang sederhana adalah sebagai berikut :

    Dalam satu keluarga Indonesia , bertemunya dua titik (suami dan istri) untuk menghasilkan titik ketiga . Titik ketiga tersebut akan bertemu dengan titik2 ketiga yang lainnya , yang lalu di kemudian hari akan menghasilkan titik yang ke empat . Begitulah seterusnya .

    Semua titik-titik tersebut diarahkan untuk bisa saling bekerja sama hingga mampu membangun ekonomi bagi kepentingan dan kesejahteraan yang juga untuk bersama.

    Tidaklah seperti itu yang terjadi saat ini bukan..? semua titik2 saat ini adalah titik2 yang otonom / eksklusif individualistik , yang semakin merenggang jauh dari konsep bergandengan tangan , yang juga bisa disebut kebersamaan / kerakyatan atau egalitarian .

    Wajar bila suatu hari titik-titik tersebut akan saling berbenturan bahkan bisa lebih buruk lagi , bisa jadi akan saling melukai hingga membunuh .

  3. itu yang nyanyi lagunya siapa ya Mas?

  4. Vocal perempuan adalah penyanyi soprano kita : Aning Katamsi
    Vocal pria : Sawung Jabo
    Orkestrasi (scoring): alm. Yazeed Yamin (maestro pianis) dan Conductor orkes Simphony Nusantara.
    Lagu & Arr : saya sendiri .
    Lirik : WS.Rendra

  5. Sesungguhnya anak bangsa ini adalah petani yang kuat, pelaut ulung, pendaki yang gesit, penari yang gemulai, pengukir yang tekun, pemanah yang jitu, peternak yang sabar. Syair-syair spiritual yang berabad-abad tertulis di dalam hati kita harus terus dikumandangkan.

  6. saksi said: Sesungguhnya anak bangsa ini adalah petani yang kuat, pelaut ulung, pendaki yang gesit, penari yang gemulai, pengukir yang tekun, pemanah yang jitu, peternak yang sabar. Syair-syair spiritual yang berabad-abad tertulis di dalam hati kita harus terus dikumandangkan.

    Kadang memang meletihkan..mas , namun hidup ternyata bukan masalah pilihan.., salam

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara