Mentok

Heran euy…. semua orang koq pada seneng mentok-mentok tembok , sudah tau pasti bakalan kepergok . Eh…masih juga mau nyogok-menyogok .. ada nggak sih yang mental yang masih enggak bobrok disitu..?

Dasar emang orang Indonesia sekarang ini udah pada mak’dirodok semua kali ye’… Enggak pejabat negaranya ..enggak rakyatnya …enggak jaksa-nye’…eh’ jaksa same’ aje’ kali ye’…weeekks . Mukenye aje pada ganteng-ganteng , kumisnya rapih klimis necis , senyumnya “sumeh” penuh pesona , bicaranya santun bak pantun bertutur.

Kalau tampil di tipi ibarat orang bijak lulusan universitas langit , yang dosennya Nabi dan rektornya Malaikat. Setiap menit tak lupa menyebut nama Tuhan….tapi setiap detik otaknya juga berputar kenceng cari peluang kesempatan untuk bisa nipu orang . Elo kagak sadar ye’…..sebenarnye elo kan nggak nyadar , lagi pengen ngajak Tuhan atau paling tidak minta bantuan Tuhan , supaya elo nyolongnya bisa sukses selamat sampai tujuan. Gokil..ye elo..Tuhan elu ajak nyolong..!

Dasar!

Sudah jelas kepergok..gok…masih bisa “sumpah..!” demi Tuhan / demi Allah atau nyebut “Laillahaillallah”..ampun.. ampun Indonesia.. Indonesia..! Untung gw enggak diciptain Gusti Allah jadi manusia yang orang Indonesia…, jadi bebek ternyata lebih nyaman..wekk ..wekk..nggak banyak godaan setan gentayangan . Tugas gw jelas cuman kawin dan ngendog doang!

Weekk..! nama saya mentok , tapi bukan seneng mentok tembok kayak elu . Emang sih ..tahi gw elu katain bau dan jorok …. huh..nyatanya utek elu semua lebih jorok!

Gua [bebek ngoceh]

COMMENT ON MULTIPLY

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

10 Responses to “ Mentok ”

  1. tapi … tapi … tapi …
    bukan pejabat saja yang gitu, yang lain juga gitu kok. ini kan sudah membudaya. mengapa perlu dilawan? [he he he]

  2. Hukum di negeri ini kayak dagelannya Tukul ya bang , enaknya jadi penegak hukum boleh main sulapan hukum semaunya!


  3. “Budi Rahardjo said: tapi … tapi … tapi …
    bukan pejabat saja yang gitu, yang lain juga gitu kok. ini kan sudah membudaya. mengapa perlu dilawan? [he he he]”


    hehe..kan sudah saya katakan semuanya , mengapa perlu dilawan..? Karena saya dan anak cucu saya jadi korban makanya melawan :)


  4. “pisa jawa said: Hukum di negeri ini kayak dagelannya Tukul ya bang , enaknya jadi penegak hukum boleh main sulapan hukum semaunya!”


    Hukum jadi ‘rusak’ karena yang mengelola sudah pada rusak.

  5. Mukenye aje pada ganteng-ganteng , kumisnya rapih klimis necis , senyumnya “sumeh” penuh pesona , bicaranya santun bak pantun bertutur.

    kan ada pepatah, “jangan lihat buku hanya dari covernya…” hehe… :smile:

    Kalau tampil di tipi ibarat orang bijak lulusan universitas langit , yang dosennya Nabi dan rektornya Malaikat. Setiap menit tak lupa menyebut nama Tuhan….tapi setiap detik otaknya juga berputar kenceng cari peluang kesempatan untuk bisa nipu orang

    prihatin, krn yang namanya agama sekarang sudah banyak yang di salahgunakan menjadi sekedar komoditas dagangan. orang tak lagi melihat keterkaitan antara kata-kata dengan perilaku nyata, karena Tuhan hanya disebut dalam kata2, bukannya bersemayam dalam hati dan perilaku…

    dan bila saatnya sakratul maut yang pasti itu datang, baru masing2 kita akan sadar, what meaning of life what meaning of it all? hehe…. :smile:


  6. zulkarmen said: prihatin, krn yang namanya agama sekarang sudah banyak yang di salahgunakan menjadi sekedar komoditas dagangan. orang tak lagi melihat keterkaitan antara kata-kata dengan perilaku nyata, karena Tuhan hanya disebut dalam kata2, bukannya bersemayam dalam hati dan perilaku…


    Kalau menurut kamu…, seandainya kamu jadi pemimpin..apa yang akan anda lakukan saat sekarang ini ?

  7. wah, berandai-andai mas? kalau utk urusan agama, atau perilaku, agak sulit untuk bisa segera mengatasi persoalan yang sedemikian besar. karena agama dan perilaku terkait dengan pemahaman masing2, kesadaran masing2 dan pembentukan kepribadian masing2. para Nabi saja hanya bisa memberikan peringatan kan mas? dalam sebuah kitab suci dikatakan, memberi peringatan itu perlu, karena mereka yang memiliki mata hati akan mendapat manfaatnya, sementara mereka yg buta mata hatinya yaaa tak kan mendapat manfaat apa2. yang jelas peran pendidikan harus terus ditingkatkan.

    masalahnya saat ini departemen agama dan departemen pendidikan yang seharusnya menjadi teladan, justru didalamnya terjadi korupsi yang terbesar diantara departemen yg ada, ini menurut sebuah lembaga survey. bagaimana orang akan mengikuti sebuah ajaran, kalau para penyelenggaranya saja akhlaknya tidak terpuji. ya kan mas? kerusakan masyarakat kita sudah akut. kalau ada seorang pemimpin yang jujur, tapi dikelilingi bawahan yg tidak jujur, otomatis kinerja pemimpin terganggu, bahka bisa jadi para bawahan itu melakukan subordinasi diam2. menurut saya tdk ada resep mujarab untuk hal ini yg bisa kita lakukan adalah membina masyarakat yang baik dan bersih dilingkungan terdekat kita, membentuk masyarakat/perkumpulan org2 yang bertujuan memperjuangkan kebaikan dengan cara2 yg baik.

    sekarang ini sudah banyak partai yg mengklaim hal semacam itu, tapi selalu ada saja anggotanya yang menyeleweng dan terlibat perilaku korup, karena memang perilaku korup sudah ada dimana2. masyarakat kita sekarang sedang sakit , saya pikir kita diberi beban sesuai dengan kemampuan kita masing2. Nah,

    sekarang apa masih bisa ada pemimpin yang mampu mengarahkan perilaku 200 juta lebih rakyatnya ke arah yg baik, tanpa didukung birokrasi yang handal dan bersih? saya pikir mustahil untuk saat ini mas. saat ini yg diperlukan adalah semacam jaringan seperti MLM, dimana seseorang perlu bermitra dengan beberapa org dgn berperilaku baik, dan menularkannya hingga menjadi semacam jaringan yang makin lama makin membesar. saling mengingatkan dan memberi dorongan untuk tetap setia berada di jalur yang tak merusak harkat dan martabat kemanusiaan.

    dalam hal ini, setidak2nya saya menemukan JSOP sebagai salah seorang mitra yang tengah menjalani peliknya memperjuangan sesuatu yang baik. kalau berandai2, menurut saya semua pegawai negeri yg ada saat ini dan calon2 PNS baru, harus discreening tentang kejujurannya dan perilakunya/akhlaknya, mulai dari tingkat terendah hingga eselon tertinggi. bagi yang tidak lulus harus dipensiunkan dini. untuk itu, mungkin separo lebih pegawai di tiap departemen adalah org2 baru yg jujur dan berakhlak baik, disamping memiliki kemampuan secara keilmuan di bidangnya masing2. menurut saya birokrasi kita saat ini merupakan salah satu titik lemah bangsa ini. mereka yg seharusnya menggerakkan rakyat dan memberdayakan rakyat untuk berprestasi dan berperilaku baik, lha ko malah menghambat dan kasih contoh yang tidak baik.

    lihat aja kasus bantuan bencana alam, kasus kepabeanan bea dan cukai, perizinan usaha, pajak, dan hal2 lain yg tak masuk akal bagi orang yang berniat dan ditugasi untuk membangun bangsa ini. masak abdi negara nyomot uang pajak, ngambil uang bantuan bencana, meras uang TKI, terima suap, saling bagi suap sesama aparat pemerintah.apa ngga bener2 sakit para birokrat spt itu? intinya harus ada reformasi birokrasi. jadi perlu diusulkan dibentuk Lembaga Reformasi Birokrasi, disingkat LRB, ok, mas? :)

  8. mas Zulkarmen , ada dua poin yang bisa saya tangkap dari tulisan anda antara lain : a. Agama bukan untuk menyelesaikan persoalan sistem ber-negara dan ber-bangsa dan b. Sementara infrastruktur penopang sistem ber-negara itu sendiri semakin kacau dan amburadul.

    Dua hal tersebut jelas memang bukan pasangan “input dan output” untuk menyelesaikan persoalan bangsa kita. Hari ini yang semakin tampak kasat mata adalah semakin minimnya kualitas suprastruktur orang Indonesia. Terutama kembali kepada sebutan integritas dalam setiap profesi masing-masing individunya. Saya bersama kawan-kawan dari berbagai kelompok gerakan/civitas sepakat , bahwa sektor pendidikanlah yang harus dibenahi secara total , untuk menyelamatkan generasi kita berikutnya .

    Namun seperti juga kita ketahui bersama , selain target jangka panjang tersebut diatas , kita juga dihadapkan pada persoalan jangka pendek (pragmatis)yang juga menuntut sudah harus segera dibenahi terlebih dahulu.Dibenahi agar dapat melahirkan kebijakan untuk mendukung dan terselenggaranya target jangka panjang tadi.

    Mari kita elaborasi persoalan jangka pendek yang ada didepan mata kita hari ini.

    1. Konsep/strategi pertumbuhan ekonomi yang diterapkan , dengan berbagai perangkat regulasi yang mendukungnya ternyata justru membuahkan mesin perusak yang menghancurkan sendi dan tatanan yang menjadi perekat kebersamaan (egalitarian) sebagai bangsa.

    2. Kondisi diatas akhirnya terbukti menciptakan “mindset” setiap orang untuk menjadi individualistik , dalam berburu berbagai kesempatan dan peluang untuk mencapai keinginannya masing-masing.

    3. Masyarakat yang “lemah” atau yang tak memiliki peluang semakin tersingkir dan secara pasti semakin ter-marginalkan. Sedangkan “Negara” sebagai payung bangsa semakin terkesan kehilangan fungsinya sebagai pelindung .

    Dari tiga poin diatas itu saja , sudah bisa kita lihat dampaknya sampai hari ini. Yaitu dimulainya “arena pertarungan” untuk saling berbenturan antara masing-masing kelompok dan golongan atas nama kepentingan berburu bagi “buruannya” masing-masing.

    Sekali lagi , mari kita ingatkan kepada semua orang bahwa kita telah sepakat untuk hidup bersama didalam sebuah Negara yang bernama Indonesia dengan menyelenggarakan sistim pemerintahan yang demokratis . Tidak ada jalan keluar yang lain bagi setiap orang Indonesia untuk bersama-sama keluar dari kemelut besar ini , bila sebagian besar dari mereka masih juga apolitis bahkan tak mengenal hukum yang melindungi atau juga bahkan yang seharusnya ditakuti.

    Lihatlah kenyataan…jangankan rakyat akar rumput yang masih perlu dibimbing agar melek/sadar hak politik , untuk berpikir bertahan hidup hari demi hari saja sudah semakin kehabisan waktu.

    Dipihak yang lain , para intelektual kita hampir semuanya lebih berkonsentrasi ngurusin biznisnya masing-masing. Mereka terkesan tidak mau ketinggalan “trend” mengejar materi dari rekan-rekan ekonom-nya. Ancaman bangsa ini semakin nyata …. baik di-level atas , menengah maupun level bawah.

    Terus terang saya “MUAK” dengan perilaku orang-orang yang mengaku intelektual dan berpendidikan tinggi tersebut. Nah…cukup segini dulu komentar saya..(nanti keburu emosi malah saya rugi sendiri). Pertanyaan saya mas Zulkarmen … bagaimana anda menyikapi kondisi seperti sekarang ini , atau apa yang sebaiknya dilakukan secara konkrit..

    salam,

    [tambahan mas:] Jangan merasa sungkan untuk ber-andai andai menjadi pemimpin atau decision maker sekalipun . Saat ini kita justru harus mulai mengajak setiap orang untuk berpikir merdeka agar bisa menjadi pemimpin-pemimpin yang baru untuk kelak dikemudian hari . Paling tidak hari ini kita mampu membangkitkan mental berpikir sebagai pemimpin bagi diri sendiri . Bukankah mental tertindas sebagai “budak” sudah harus kita buang jauh-jauh..:)

  9. Pak JSOP benar sekali mental perilaku sebagai pemimpin memang langka dan punah ketika semua orang hanya berpikir go with tha flow agar bisa selamat. Pada akhirnya negara hanya dipenuhi sesak dengan orang2 yang berkarakter sama -oportunis- jangka pendek.Betapa menyedihkan. :(

    Hormat saya untuk Pak Joky yang gigih melawan arus…walau nampaknya sendirian tapi jangan cemas pak banyak yang berada di barisan anda tanpa harus berteriak-teriak bicara. Saya jadi ingat kalimat sebuah artikel bapak sebelumnya…live is ROCK AND ROLL.
    Keep it ROCK..PAK!

  10. :lol: terimakasih rock and roll nya

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara