Lepaskan


Disuatu ketika kami berempat berencana untuk kembali melanjutkan proses kreativitas rekaman (studio) tanpa tergantung dengan salah satu personil yang kebetulan sedang berpolemik dengan Label (produser) yang menangani group. Proses tersebut lebih didorong oleh semangat “berkarya” yang tidak boleh terhenti hanya gara-gara satu orang saja diantara kami berlima sedang bermasalah.

Selanjutnya : “Lepaskan keterbatasan”

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

10 Responses to “ Lepaskan ”

  1. Budi Rahardjo said: Benarkah sendirian itu menyenangkan?

    Kok saya merasakan rasa kekesalan atau kelelahan untuk hidup bersama (dalam bentuk berbagai ikatan, baik profesional maupun keluarga) dalam lagu ini. Sehingga akhirnya ingin sekali menyendiri.

    Kadang saya pun merasa seperti ini, tetapi akhirnya … kesepian itu lebih menyakitkan. Jadi bagaimana? Lebih baik bersama (meski menjengkelkan) atau menyendiri (tetapi kesepian)? Mas Yockie pilih mana?

    Loh kok malah komentarnya kayak gini? B.i.a.r.i.n.

    –> Hehe..mas, Kebersamaan hanya bisa “nyaman” dijalani bila ada struktur fondasi sebagai pijakan/pegangan yang kuat (bagi demokrasi). Tanpa adanya hal itu , kebersamaan kita hanya menyuburkan kembali perilaku “ndoro” yang semena-mena kepada kacungnya.

    Pilihan “menyendiri” untuk bisa saya katakan berbuah “bahagia” karena bebas , bermakna kita mampu keluar dari “dilemasi” diatas dan berpikir sejenak dengan jernih. Atau paling tidak…pasti kan ada rasa “kangen” lagi hehehee….jadi… bisa mesra lagi kalau ketemu…hehehe .

    Kalau di dalam organisasi …maka ada ide baru yang fresh lagi…, kalau dalam keluarga….bisa punya adek’ kecil lagi

  2. sy bisa merasakan koq semangat perlawanan dilagu ini,mungkin telinga mellow akan menangkapnya berbeda.

  3. saya selalu sedih tiap kali membaca behind the story-nya grup band mas yockie. ga di GB, ga di KT, ono ae masalah, ga rampung2..
    memang repot yo mas kalo punya band anggota-nya jawara musik semua..
    padahal kalo bisa nyatu…
    rrrruuaaarrr biasssa !!!

  4. Sebetulnya hal tersebut adalah contoh2 “kasus klasik” di hampir semua kelompok ataupun cara ber-organisasi pada masyarakat kita.
    Kemampuan sumber daya tidak dibarengi dengan kesadaran “integritas” dalam menjunjung martabat profesi di masing2masing bidangnya.

    Khusus di wilayah musik , berkesenian sama “nyari duit” garis batas dimarkasinya nggak jelas. Alih-alih membuat banyak musisi kita sering “berkedok” untuk menyiasati keadaan. Dan ujung-ujungnya akhirnya saling berbenturan kepentingan.

    Sama kan…,di wilayah organisasi profesi yang berbedapun juga cenderung demikian. Semua orang “nyari duit” lewat bidang keahlian profesi masing-masing yang sebetulnya domainnya bukan mengejar keuntungan ekonomi.

  5. subejo said: sy bisa merasakan koq semangat perlawanan dilagu ini,mungkin telinga mellow akan menangkapnya berbeda.”

    -> mellow sama water mellon ada hubungannya nggak mas :lol:

  6. apa boleh bikin, inilah bisnis. tak terhindarkan selalu ada saja jebakan “manusia yang terlembagakan” dalam setiap perusahaan (dulu: salim adalah oom liem, astra adalah oom willem), termasuk theater company, dance company, mime company, dan… grup musik (ini juga kumpeni). bisa menguntungkan bisa tidak. tapi itulah konsekuensi. :)

  7. Lebih tepatnya inilah bisnis yang nggak dibatasi aturan yang sesuai untuk kebutuhan masyarakatnya sendiri. Aturannya lebih berpihak pada kekuasaan pemodal dan penguasa (yang membajak) “hukum”. :(

  8. “semut hitam” kalau diinjak juga melawan dan menggigit,bung jsop banyak yg ndak paham rupanya kalau sampeyan itu ibarat ruh nya Godbless.Bahkan sejak Badai Pasti Berlalu/Lilin2 kecil dsb sampai Kantata Takwa.

    Kalau bukan karena sentuhan seorang jsop nggak akan se-fenomenal seperti itu. Berjuang terus bung..tetaplah selalu setia pada nurani.
    Salam hormat!!

  9. hehe..terimakasih

  10. top wess!

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara