Blunder

Teman dan sahabat-sahabat semua , mari sejenak kita renungkan dengan lebih cermat apa sebenarnya yang tengah terjadi di sekitar kehidupan kita sebagai warga masyarakat saat ini.

Tidak adanya sebuah konsep serta target jangka panjang yang seharusnya direncanakan , telah membuat kita semua sebagai masyarakat bangsa Indonesia semakin hari terasa dibuat semakin kebingungan saja. Mari kita listing satu demi satu yang masih mudah diingat di luar kepala kita masing-masing.

a. Kebebasan berpendapat dan berbicara tergiring dalam ruangan dialektika yang tanpa kualitas dan makna apa-apa. Sebab tidak ada kesepakatan yang merujuk pada “Kebenaran” bagi kepentingan yang hendak dituju setelah seharusnya disepakati dahulu secara aklamasi bersama-sama. Hingga akhirnya semua orang bicara dalam konteks “kebenaran” demi kepentingannya sendiri.

b. Hukum dan aturan perundangan semakin dikuasai oleh orang-orang yang “fasih” mengendalikan teks dalam kitab-kitab undang-undang . Hal tersebut  wajar saja bisa terjadi mengingat berbagai klausul hukum yang kita miliki memang sarat dengan berbagai pengertian yang ambigu . Atau bisa kita sebut “kanan kiri oke”, tergantung yang menuntun dan menyeretnya ..hendak dibawa kearah mana hukum tersebut di-cincang.

c. Kebebasan aturan ekonomi atau disebut liberalisasi ekonomi , ternyata hanya memperlebar jurang perbedaan / kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin . Dapat disimpulkan bahwa kaum kaya relatif lebih mampu melakukan deal-deal / posisi tawar untuk mendapatkan fasilitas hukum “kanan kiri oke” yang berpihak pada mereka , dibanding dengan kaum miskin yang relatif sebaliknya alias yang tak bisa berbuat apa-apa selain hanya harus pasrah menerima sisa-sisa muntahan saja (itupun kalau masih ada yang muntah)

d. Upaya meng-efektivitaskan roda birokrasi / kinerja aparat , agar kualitas setiap instansi tumbuh sehat dan subur justru seringkali berbuah racun mematikan yang paradoks. Misalnya saja undang-undang tentang penyalah gunaan narkoba . Kita semua mengetahui bahwa benda laknat tersebut bukan hanya merugikan satu atau dua orang saja namun sudah menjadi bibit ancaman yang nyata bagi kelangsungan keberadaan generasi kita berikutnya. Artinya bahwa lazim bila kita katagorikan hal tersebut sebagai tindakan subersif yang sangat berbahaya.

Namun sadarkah kita? bahwa setelah pelaku / para pengedar kelas kakap yang kini (konon) katanya ditangkap dan dimasukkan dalam penjara (*semoga*) lalu diseret ke meja hijau pengadilan , apakah selanjutnya yang tejadi dengan mereka semua? Hm..bagi mereka yang kelas kakap ataupun kelas teri ternyata mereka tetap dilindungi oleh “hak azasi manusia” atau bahkan kehidupan mereka sehari-hari di penjara tetap dibiayai oleh negara (tempat untuk tidur/makan/minum dsb) . Padahal sudah berapa banyak nyawa-nyawa yang hilang atau otak-otak anak bangsa yang telah dirusak.

Bila disebut dibiayai oleh negara , bukankah mereka semua hidup dari hasil pajak yang dipungut dari kita semua? Saya hanya ingin menegaskan…bahwa ada sekelompok penjahat yang akhirnya bukan dihukum secara setimpal namun justru malahan kita semua yang ikut memelihara dan menanggung biaya dan fasilitas hidup mereka. Demikian juga dengan berbagai tindak kejahatan yang lain seperti kejahatan korupsi dan sebagainya .

Intinya adalah bahwa Hukum negara seolah-olah berhadap-hadapan atau sengaja di hadap-hadapkan dengan pemahaman Hak Azasi Manusia . lalu…bila kita biarkan saja ini semua akan terus terjadi…apa makna “Keadilan” sebenarnya ?  Atau dipihak manakah sebenarnya “keadilan” itu berada. Ataukah sebenarnya “Keadilan” itu hanya sebuah slogan isapan jempol tangan saja…?

Bila demikian…lalu untuk apa kita semua ber-Negara atau sepakat ber-kedaulatan hidup dalam aturan yang diatur oleh sebuah Pemerintahan Negara. Bukankah kenyataan yang terjadi itu semua “absurd” dan palsu ? Lalu apakah Negara Republik Indonesia bisa juga disebut sebagai negara yang absurd atau palsu ?

Masih teramat banyak hal-hal lain yang sudah terlupakan dan tak mampu lagi kita ingat…karena derasnya persoalan-persoalan baru yang melesat bagai meteor yang tak mampu ditangkap . Apalagi untuk di analisa atau diteliti. Kita semakin dibuat bingung dan ter-gagap menengok kekiri…lalu terkaget-kaget menoleh kekanan menyaksikan datangnya hujan “meteor-meteor” yang kini sudah berubah julukannya . Bukan lagi sebuah bencana atau tragedi perilaku manusia Indonesia .

Namun….hiburan disetiap hari , hiburan bagi kita disaat jari tangan menekan perut yang semakin melilit menahan lapar . .jiancukk

COMMENT ON MULTIPLY

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

16 Responses to “ Blunder ”

  1. Sudah hampir habis kesabaran ya mas

  2. Segala suatunya gak mudah dan segampang diperkirakan mereka bekerja jug sudah maksimal dan mati2an kok .terimakasih

  3. Masyaoloh :shock:
    *terperanga liat baris terahir*

  4. Maaf mas , itu reaksi “manusiawi” yang spontan ketika kita tidak diberikan ruang2 pilihan. Padahal manusia kan bukan robot yang harus tunduk patuh dalam kebodohan yang menerus.salam

  5. Godbless 1988 : “pikirkan..renungkan..pikirkan..bilakah mereka semua kau pikirkan.” Belum ada perubahan ya mas!!

  6. Belum mas,masih susu anakku
    hehehe..

  7. Rasanya baru kemarin saya baca tulisan di surat kabar besar negeri ini:
    1. “RI menuju ke arah bangsa yang gagal….”
    2. “Hukum digunakan untuk kejahatan…”
    3. “Cuma 17 % birokrat yang bersih….”

    Makin hari koq makin sering baca tulisan2 yg sungguh menakutkan….

  8. mas Indrayana, coba kita inget2 setiap kali periode lima tahunan pemerintahan baru, kita selalu harus sabar menjalani 1 atau 2 tahun masa transisi sebagai toleransi kita pada kinerja aparat pemerintahan. Dua tahun setelah itu barulah kita “ngeh..” akan kemampuan konkrit kerja pemerintah kita.

    Semenjak reformasi sampai sekarang , dua tahun berikutnya tersebut nggak lain dan nggak lebih hanya bisa di-isi dengan “mencaci dan memaki” saja,tanpa kita bisa berbuat apa-apa selain pasrah ..rah..rah.

    Semenjak pemerintahan ORBA selesai , itu pulalah yang bisa saya lakukan (cuman nggerundel) sampai2 banyak orang mengatakan kalau saya “pesimistik” dan selalu sinis pada keadaan. Sudah “kebal” kuping saya mendengar orang2 dibelakang punggung saya berkata demikian..hehe

    Sekarang , saat ini ketika keadaan semakin jauh lebih terpuruk dari sebelumnya masihkah kita berpeluang untuk mampu keluar sebagai Bangsa yang menang? Tentu saja “masih” bukan…selama kita tau persis apa kekurangan dan kerusakan2 yang menggerogoti tatanan ber-peri-kehidupan kita , baik sebagai bangsa maupun sebagai negara.

    Saya akan konsisten membuka semua borok2 ataupun “aib” yang selama ini seolah sengaja ditutup-tutupi. Bukan untuk menjelek-jelekkan diri atau bangsa sendiri , tapi justru agar semakin banyak orang yang berani “membuka diri” hingga akhirnya tau pesis apa kekurangan dan kelalaian kita selama ini.(pengabdian pada negara)

    Dan satu lagi yang harus diingat bahwa “pemerintah” bukan “negara” , banyak masyarakat kita selama ini memahami “mengabdi” pada negara dengan tunduk pada pemerintah . Seolah hukum itu milik pemerintah. Dengan kata lain patuh pada hukum , sama artinya dengan harus patuh pada pemerintah , ketika hukumnya “memble” maka semua orang harus ikut2 memble.

  9. Wow setuju mas…”pemerintah memang bukan negara…” dan kita juga nggak punya watak meng-olok2 diri sendiri. Ini ada ceritera sambil lalu :
    1. Baru2 ini anak saya bikin paspor di Imigrasi Bogor dan dia saya suruh ngurus sendiri sesuai prosedur, ternyata saya ter-kaget2 cuma butuh Rp. 285 rb (sesuai ketentuan),relatif lancar/cuma antri biasa ,ini diluar dugaan saya.
    2. Hari Sabtu tgl 21 Juni saya & nyonya jalan2 ke Balai sidang, ada dua pameran besar pada tempat dan waktu bersamaan (beda blok) yaitu :
    a. Pameran kerajinan rakyat Thailand dan
    b. Pameran kerajinan rakyat Indonesia dari seluruh propinsi

    Ternyata produk Thailand (dari sisi kreativitas/artistik)tidak ada apa2nya dibanding produk bangsa Indonesia. Saya kagum geleng2 kepala …bangga ..tentu saja ….mungkin inilah salah satu kekuatan bangsaku.

  10. eh betul sekali tuh yg pak indrayana katakan,produk indonesia secara kwalitas sebenarnya jauh diatas produk2 asia yg lain lho mas.Tapi kenapa koq kalah promosi ya?

  11. cindilaura said: eh betul sekali tuh yg pak indrayana katakan,produk indonesia secara kwalitas sebenarnya jauh diatas produk2 asia yg lain lho mas.Tapi kenapa koq kalah promosi ya?

    –> mungkin maksud kamu “artistik” ya..sebab kalau kualitas itu bermakna peningkatan pembenahan “mutu” produk. Ini yang justru terasa “tak diabaikan”. Kalau masalah promosi…disinilah peranan liberalisasi industri yang hanya berpihak pada pemodal kaya dan yang mampu menguasai media promosi.

    Pengrajin home industri lokal mana punya duit untuk “jor’jor’an” dengan industri dari luar yang sarat modal kapital.Dan yang memprihatinkan sekaligus menyedihkan….pemerintah selalu terkesan “ambigu” . Lebih tepat saya katakan “bingung”!

  12. indrayana said: 1. Baru2 ini anak saya bikin paspor di Imigrasi Bogor dan dia saya suruh ngurus sendiri sesuai prosedur, ternyata saya ter-kaget2 cuma butuh Rp. 285 rb (sesuai ketentuan),relatif lancar/cuma antri biasa ,ini diluar dugaan saya.

    –> berarti.., kalau masyarakat mau ber-disiplin untuk tak usah lagi menyuap , maka perilaku “aparat” juga akan menempatkan dirinya untuk tidak dalam posisi “minta diuap” ya mas..:)

  13. wes ndang goro2 wae kang..lha mahasiswane’ wis mbengank-bengok di dpr kemaren,revolusi sampek mati itu lho..!

  14. seperti yang saya tulis dalam blog saya yang berjudul “hampir 62 tahun kemerdekaan dan 10 tahun reformasi” saya selalu kecewa dengan orang2 yang selalu mengharapkan negara ini untuk menjadi lebih baik tapi mereka tak pernah membuat perubahan dari dalam dirinya,,daripada kita “nbengak-mbengok” ngritik pemerintah mending kita merubah sesuatu yang gak bener itu sendiri..ya minimal berbuat lebih baik dari dalam diri kita lah..

    sistem dalam negara ini,kalo kita boleh jujur, banyak yang gak bener/berjalan sesuai ketentuannya,, smua orang pengen nya jalan yg mulus..kalo mereka pnya duit itu gak masalah bagi mereka,,,lha buat orang miskin??? kita lebih suka pola pikr “asal gue kenyang” daripada “kalo gua makan,tetangga kita makan gk”

    saya ndak pernah menyesali reformasi,,yang saya sesalkan adlah belum siapnya kita untuk bereformas..pikiran kita belum siap untuk bereformasi…
    tidak ada yang salah dalam demokrasi tapi kalo kita lebih sering menyerukan hal2 yang tidak terlalu penting daripada hal2 yang bisa mengajak kita untuk menjadi lebih maju itu berartiu pikiran kita masih kerdil..

    kalo kita bisa memperbaiki sistem dalam keluarga kita sendiri lalu ke kampung tentu sedikit demi sedikit sistem korup d negara ini bakal hilang sendiri,,pasti perlu waktu lama..tapi kalo iini bisa membantu negara ini kenapa tidak???

    hal pertama yang harus diubah adalah MENTAL!!! jangan lagi bermental tempe..ayo kita angkat dagu kita..kita terlalu lama dibodo-bodo oleh negara barat,,tiap ada bule kita manthuk2 ngikut..kayak sudah liat nabi aja..kenapa kita gak bertingkah wajar aj??? senyum ya senyum tapi jangan njilat gt..

    jangan mbendol mburi lah..yang wajar aja..

    cukup orang2 DPR aja yang jadi penjilat ato yes men…kita yang diluar gedung DPR jangan kaya gt,,,lama2 jg mereka pensiun dan kita gantikan…

    lalu yang harus digalakkan adalah DISIPLIN!!! kalo kita bisa berdisiplin dengan diri ini,dengan waktu, dengan lingkungan dengan pekerjaan…pasti tak akan ada yang namanya korupsi,,gak ada yang namanya jam karet…

    mereka bilang “hidup ini pilihan” tapi bagaimana kita bisa memilih kalo pilihan saja gak ada di sekitar kita…

    generasi muda jangan mau terlena oleh keglamoran..kita harus ingat darimana kita datang..
    ayo kita membuat perubahan..kearah yang lebih baik tentunya,,

    “kita pun tinggal sebagai anak2 yang tertawa dan terbuai dalam ayunan yang dikendalikan oleh “orang lain”. Tidak menyadari bahwa ayunan itu dengan mudah dapat digoyang dengan keras,bahkan dijungkirbalikkan”

    kalo kita punya 1/4 dari populasi negara kita berpikiran seperti mas JSOP, benalu yang mengikat kaki garuda pancasila bakal dengan mudah dihilangkan..

    jadi ingat percakapan lama antara saya dan orang indo d sni…
    ” apa mas sudah siap buat balik k indo n bekerja sebagaoi graphic designer???”
    saya jawab “insyaallah siap pak..”
    “kalo di indo mas harus siap 2 hal…pertama TAHAN DENGAN GODAAN DI SEKITAR KITA”
    “kalo mas tahan,,insyaallah bisa jadi kaya..gak perlu korupsi juga bisa mas..”
    “yang kedua mas,,kalo mas sudah kaya apa mas TAHAN LIHAT SEKITAR MAS LAPAR??”

  15. kidalang said: wes ndang goro2 wae kang..lha mahasiswane’ wis mbengank-bengok di dpr kemaren,revolusi sampek mati itu lho..!

    –> Mahasiswa memang harus begitu mas , harus “profresive” menghadapi “cuaca”. Kalau semua mahasiswa cuman bisa jadi “anak mami” yang taunya hanya urusan “pragmatis keilmuan” saja hehe…repot ini negara. Pokoknya saya selalu mendukung “apapun suara” mahasiswa walaupun terkadang dianggap meng-ganggu kenyamanan dan ketenangan .

    Namun…apa artinya kenyamanan dan ketenangan yang semu. Ya kan mas..?

  16. aZIZOu said: hal pertama yang harus diubah adalah MENTAL!!! jangan lagi bermental tempe..ayo kita angkat dagu kita..kita terlalu lama dibodo-bodo oleh negara barat,,tiap ada bule kita manthuk2 ngikut..kayak sudah liat nabi aja..kenapa kita gak bertingkah wajar aj??? senyum ya senyum tapi jangan njilat gt..

    jadi ingat percakapan lama antara saya dan orang indo d sni…” apa mas sudah siap buat balik k indo n bekerja sebagaoi graphic designer???” saya jawab “insyaallah siap pak..” “kalo di indo mas harus siap 2 hal…pertama TAHAN DENGAN GODAAN DI SEKITAR KITA”
    “kalo mas tahan,,insyaallah bisa jadi kaya..gak perlu korupsi juga bisa mas..” “yang kedua mas,,kalo mas sudah kaya apa mas TAHAN LIHAT SEKITAR MAS LAPAR??”

    ya..mental yang harus dirubah , selanjutnya bener kata ente’…tahan nggak kita ngeliat orang lain susah/lapar sementara kita selalu kekenyangan.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara