Bintang..
[Bukan bacaan bagi "antek kapitalis"]
Setelah cukup lama ‘konsep’ lagu ini saya upload , maka sekarang saatnya saya menceritakan proses dibalik layarnya
Lagu ini mencoba mewakili “gundah” saya sebagai seniman dan pemain musik semenjak 1970′an , tentu saja di Indonesia . Musik pop memang selalu bergeser dan menemukan wajah barunya sesuai dengan trend dan gaya perilaku yang didominasi oleh kaum usia remaja.
Tentu juga saya menyadari dengan sepenuhnya , bahwa gaya remaja 70′an / 80′an /90′an bahkan sampai dengan hari ini 2000′an pastilah sangat ber-beda . Dan umumnya gaya maupun trend memang dipicu oleh “selera” yang sedang “in” disaatnya. “Selera” itu sendiri menjadi berkembang serta akan diikuti oleh orang banyak yang lainnya , setelah didorong/dipicu oleh berbagai hal yang antara lain :
1. Kepentingan bisnis industri yang berada dibelakangnya
2. Pengkondisian lewat berbagai media informasi
Saya tidak ingin memasuki ranah estetika/artistik kesenian musik itu sendiri , namun hanya ingin membuka “tabir identitas” kepentingan dibelakang musik pop Indonesia itu sendiri . Benarkah tabir tersebut hanya ruang kosong yang bebas merdeka dari kepentingan , atau kah memang ada yang bermain-main dengan kepentingan tersebut disana. (don’t be so naif)
Dari semenjak era 70′an hingga 80′an , begitu banyak lahir karya-karya musik pop Indonesia yang beragam serta lebih bersentuhan dengan tema besar persoalan masyarakat kita sendiri . (atau bisa disebut lebih berpijak pada bumi) . Tak perlu lagi saya urutkan nama-nama atau judul satu demi satu karya-karya besar tersebut , sebab sudah pernah saya kupas / saya tulis di artikel saya yang lain.
Mengapa bisa demikian.., mengapa semenjak 1980′an amat sedikit karya-karya musik pop Indonesia yang mampu bersentuhan dengan persoalan real masyarakatnya sendiri . Ini pertanyaan saya dan yang akan saya jawab sendiri disini . (opini)
Dalam lagu ini , “bintang” adalah analogi saya untuk mengungkapkan “paradigma/thematik Indonesia”(dalam sebuah bahasa lagu) .Dan hadirnya suara narasi (spoken) berbahasa asing (Inggris = “no one can stop us now” serta “to the hardcore massive”) , adalah representasi dari “hegemoni Industri global” saat ini.
Artikel ini sekaligus ingin menggaris bawahi opini saya , bahwa Kapitalisme Global tidak boleh dibiarkan seenaknya / sekehendak maunya sendiri / berlaku sewenang-wenang menjadi operator mesin rekayasa budaya bagi musik pop Indonesia , namun seyogyanya harus dikendalikan dengan berbagai aturan (regulasi) oleh bangsa kita sendiri (pemerintah RI).
Bila “kepentingan” yang ada dibelakan layar tersebut mampu ditata ulang kembali , maka akan ada kemungkinan terjadinya regenerasi penyanyi / artis sekaliber “Chrisye / Ebiet G Ade / Bimbo /Leo Kristi ” dan banyak lagi lain2nya , yang pada intinya adalah pelaku-pelaku seni yang membumi . Dan bila hal tersebut bisa diwujudkan , maka itulah manifestasi dari musik Indonesia adalah tuan rumah bagi negerinya sendiri. Kita akan bisa berbangga dan berbesar hati tatkala dunia mengenali identitas “kultur pop” Indonesia yang lebih punya karakter dan mandiri .
(emang bisa..? , tau deh..)

























Musik pop Indonesia sekarang is najis , selera katanya..iya selera lo najis huwahwahuwa..,tabik om!
Menekuni profesi untuk mengabdi musik Indonesia sepanjang usia,memang pantas dan layak bila seorang J.S.O.P. berteriak dan marah. Tetaplah lantang bersuara seperti lirik lagu anda (di Godbless) Karena sudah semakin sayup2 suara orang seperti anda!
may god bless you.
Bener tuh kalo bukan praxisnya yg omong sendiri,siapa lagi yang berhak protes.Emang semakin parah selera orang indonesia dirusak lewat tv dan radio2.Acuan selera digiring ke selera orang bule’jadinya ya kuping jongos hasilnya.
hehe..terimakasih ye’ semua , kalau ada yang bilang saya “sok teu” ..ya emang saya sok teu hehehe.. Nggak ada bedanya 40 tahun main musik di Indonesia ini jadi orang sok teu atau di sok teu’in.
Saya udah capek di sok teu’in , sekarang gantian saya mau sok teu hahaha..!
CEKAL MENCEKAL LARANG MELARANG TERNYATA MASIH EKSIS
SIAPA BILANG KEBEBASAN PERS SUDAH DITEGAKKAN?
Kesaksian sahabat yang kerja di Trans TV saat kejadian demo mahasiswa:
Mobil polisi itu terlihat mengarahkan mobil patroli nya yang bernomor lambung 3024 ke kiri…sedetik kemudian seorang pemuda terlempar. Mungkin terkena hentakan mobil 3024 ini…SEkejap mobil itu mengeser kemudi ke kanan, jalan lurus..di kejauhan seorang pemuda yang melihat kejadian penabraka itu mengangkat tangan, melemparkan sesuatu….
Sadar melakukan kesalahan, mobil patroli bernomor 3024 itu mengambil jalur kanan busway dan melaju kencang…
Mungkin tak sadar bahwa gambar kejadian tersebut terekam dengan sempurna oleh kameramen news transtv…gambar yang hanya bisa naik 2 kali. Saat live Reportase Sore 24 Juni 2008 jam 17.00-17.30 dan Berita Terkini 21.00 WIB.
Cukup 5 menit setelah itu kawan, telpon dari sekneg berdering. Gambar itu DILARANG untuk ditayangkan kembali.
What a shame.
source: http://budiafriyan.wordpress.com/2008/06/25/571-3024/
Saya kemaren sempat melihat acara di konfrontirnya Humas Polri dengan Adi Masardi di salah satu station TV. Menurut humas Polri tindakan tersebut (penabrakan) adalah bentuk polisi yg sedang bertugas ditempat tersebut , saat hendak menghindari jadi korban ‘anarkis’ berikutnya.
Apapun alasan yang akan dijadikan argumentasi oleh berbagai pihak , inilah hasil demokrasi liberal yang diterapkan di negara yang masih miskin , baik miskin duit maupun miskin “hukum” apalagi demokrasi diterapkan tanpa “kesepakatan yang jelas” . Akan banyak lagi nantinya “blunder-blunder” kasus serupa.
What a shame juga mas.(thanks infonya)
Waduh, yg di dalam kurung [bukan bacaan .....] itu lho mas. Tapi asyiklah.
kenapa dengan “antek kapitalis”..ada yang salah?
bang,bisa diklarifikasi kalimat @sumanto (komen #1 diatas).saya tidak setuju 100%,tapi saya nggak tau ngomongnya harus bagaimana.terimakasih bang JSOP!
–> Seperti yang sudah coba saya jelaskan sebelum2nya bahwa ’selera’ bukanlah satu “kesenangan tertentu” dalam diri kita masing2 yang muncul/tercipta secara independen atau berdiri sendiri. Dia hadir dalam peradaban kehidupan manusia secara bergandengan dengan berbagai aspek-aspek penunjang yang lainnya.
Hal tersebut diatas kita sebut saja sebagai “mesin rekayasa budaya”.Dalam satu tatanan masyarakat yang bersepakat untuk meningkatkan kesejahteraan lahir & bathin komunalnya , maka mesin rekayasa budaya tersebut harus digerakkan / diarahkan sesuai dengan grand design yang telah terencana (keberpihakan).Tidak bisa dan tidak boleh mesin budaya itu bergerak “liar” dengan seenaknya atau bahkan dikuasai oleh se-gelintir kelompok orang saja. (kaum pedagang)
Bicara mengenai perkembangan peranan Industri musik di Indonesia , bisa kita simpulkan bahwa disinilah contoh konkrit tentang mesin budaya yang tak terkontrol untuk kepentingan masyarakatnya tersebut.
a. Sektor ekonomi (bagi hasil) yang tidak memberikan kontribusi yang signifikan bagi pertumbuhan industri-industri lokalnya sendiri.
b. Sebagai media hiburan tidak mengacu pada azas meningkatkan tingkat “kecerdasan” konsumennya .(misalnya orisinalitas / thematik atau harmony lokal yang dikembangkan)
c. Sebagai media kesenian tidak bertumpu pada “kejujuran” yang lebih mutlak harus disampaikan.
Masyarakat dimanapun saja berada adalah barisan manusia-manusia yang harus dikelola dengan baik. Mereka memang ibarat “domba-domba” bahkan “bebek-bebek” yang harus “digiring dan diarahkan” .
Masalahnya hanya , kita ini mau diarahkan menuju “barisan” domba atau bebek yang cerdas atau “barisan” yang bodoh.
Satu hal lagi sebelum saya akhiri opini saya ini , kalau kita mau berdebat argumentasi “pembenaran” mengenai hal ini sebaiknya menengok diri sendiri terlebih dahulu.
Agar bisa sadar kompetensi yang kita miliki atau paling tidak portofolio kita masing-masing. Sebab tanpa itu semua , saya hanya merasa berbicara dengan “tembok dungu” yang bisanya hanya memantulkan “feedback” / reaksioner belaka.
banyak orang merasa tau dan pintar ya bang kekeke…!!!
hehe.. begitulah bangmali, sudah terlalu banyak orang yang merasa paling pintar sehingga merasa mampu untuk ikut2 berpendapat sampai mengurusi hal-hal yang bukan wilayah kompetensinya. Dari birokrat sampai pegawai sipil (swasta) pinter ngomong dengan dalil2 dan kalkulasi2 sok ilmiah.
Saya bukan jurnalis yang pintar menyusun kata-kata agar enak dibaca dan sesuai selera hehehe.., tapi kalau mau berdebat argumentasi dengan wilayah yang merupakan kompetensi saya…, mari dengan senang hati saya layani.Asalkan saya tau dengan siapa saya berbicara serta kompeten dan portofolio yang dimilikinya sendiri seperti apa
Kan seperti yang sudah saya katakan diatas , saya sudah capek di sok’teu’in …. di jaman ini ada “blog” tempat saya bisa membantah dan menyangkal segala “pembenaran-pembenaran” yang bodoh dan menyesatkan , salam .
asik om sy dibelain..eh neber gak seh??? xixixixi
om band sy lagi eksplorasi rampak neh..lagi nyoba seh..nanti klu dha jadi bantu denger ya om :)) tengkyu bratz om JSOP!!!
Kesimpulannya gimana, Mas? Apakah memang ada yang mengendalikan tren musik di tanah air?
–> Dia satu rangkaian panjang dari “paket Liberalisasi industri / ekonomi” , yang tanpa disadari sudah menguasai “mesin rekayasa budaya” itu sendiri.
Dampak besar dari kebijakan diataslah yang mengakibatkan budaya konsumerisme sampai ke level hedonisme masyarakat kita. Selera apapun yang sekarang ini muncul , adalah implikasi dari semua akibat diatas.
Karena saya praktisi musik , maka concern saya ya harus lebih fokus pada wilayah otoritas kompetensi saya sendiri. Selanjutnya seharusnya nanti bersama “wilayah2″ otoritas yang lainnya kita harus bergerak ber-sama2 untuk membenahi apa yang seharusnya dibenahi.
Nggak bisa hanya diselesaikan lewat mekanisme industri musiknya sendiri saja….., saya juga tau hal tersebut” konyol bila dipaksakan.
Tetapi paling tidak….saya harus mulai bersuara…saya merasa nggak boleh diam saja sambil menunggu “ajal tiba” .