me598andrewshould have used a narrower DOF...hahfinally moved in from the wallslauren, andrew, and my flash

Kambing congek

Ini bukan kambing sembarang kambing bung , tetapi ibarat kambing yang sudah terlatih untuk menjadi penonton yang baik sambil menunggu jadwalnya untuk dipotong sebagai qurban di hari besar kaum Muslim ataupun agama lainnya .
Barisan kambing yang di congekkan tersebut hanya dilatih untuk manggut-mangut tanda setuju , untuk digiring kekiri dan digeser kekanan . Tentu saja sesuai kehendak hati sang penggembala .

Agak berbeda dengan penggembala domba sesuai sejarah , sebagaimana tertulis dalam kitab-kitab suci di berbagai agama . Dimana penggembala-penggembala tersebut nyaris adalah penggembala yang berada di jalur ajaran dan ber-iman pada Tuhan Yang Maha Esa. Tidak demikianlah sepertinya yang saya cermati tentang perilaku penggembala-penggembala di Indonesia .

Mereka adalah para pengembala yang sarat dengan ke”aku”an-nya .
Mereka adalah para penggembala yang hanya mengenal kata “kamu dan mereka” tanpa “kita”
Mereka adalah penggembala yang tak lagi membedakan “muslihat dusta” dan “rencana” , baginya adalah “sama saja”
Mereka adalah penggembala yang mengatakan “kambing saya sehat” sementara hamparan ladang rumput sudah tak ada.
Mereka yang mengatakan “kambing” saya akan nurut dan patuh untuk menerima nasibnya.
Mereka yang akhirnya akan mati akibat “kolestrol tinggi” karena rakus dan tamak terlalu sering mengkonsumsi kambingnya sendiri .

Saya ogah jadi “kambing congek” yang hanya bisa merengek dan mengeluh sambil menunggu disembelih. Walaupun “melawan” juga tidak akan merubah nasib saya sebagai kambing.
Namun setidaknya saya ingin menjadi “domba” yang harus siap untuk dikorbankan , siap mengorbankan diri bukan untuk azas manfaat bagi diri sendiri .

Tetapi kesadaran karena paham bahwa itu adalah fungsi dan kewajiban sebagai ‘kambing’ dari sebuah warga.  Siapa lagi yang bisa diharapkan untuk menjadi domba bagi peradaban yang lebih baik berikutnya , jika kitapun sudah tak acuh.

Hanya ada dua pilihan memang …, dan salah satu lainnya “Menjadi kambing congek”

salam,

jsop

COMMENT ON MULTiPLY

About the Author

jsop

Bukan jurnalis bukan pejabat bukan juga politikus apalagi tentara.... wong cuman seniman . Ibarat sebuah cermin , cermin bagi elok rupa maupun cermin bagi buruk rupa . Jangan membaca tulisan seniman bila tampilan buruk rupa anda enggan dibaca.

4 Responses to “ Kambing congek ”

  1. xixixi..saya termasuk kambing congek..hikzzz

  2. generasiku seumurku kayak2nya emang dibikin congek deh,soalnya gak ada tuh yg nanggepin kalo aq ajakin omong politik mas…
    prinsipnya ga suka aja getoh.

  3. budakletik said: xixixi..saya termasuk kambing congek..hikzzz

    ya jangan jadi congek terus dong hehe..

  4. tinatoon said: generasiku seumurku kayak2nya emang dibikin congek deh,soalnya gak ada tuh yg nanggepin kalo aq ajakin omong politik mas…
    prinsipnya ga suka aja getoh.

    Mungkin karena “politik” dipahami sebagai “partai” atau golongan orang2 yang ber-politik dalam struktur saja. Coba kamu memahami politik hanya sebagai tools untuk menyampaikan hak2 pribadi kamu ditengah masyarakat yang juga menuntut hak-nya. Jadi semacam “sharing” pada lingkungan hidup kita sendiri saja . Dibikin simple dan sederhana aja ..

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <blockquote cite=""> <code> <em> <strong>