Radikal

Jaman gendeng adalah situasi dimana kewarasan dijungkir balikkan secara radikal . Bagaimana mungkin orang terus di-doktrin harus berpikir konstruktif dan prosedural supaya nggak ikut-ikutan arus jaman gendeng itu , padahal konstruksi dan prosedurnya juga sudah jungkir balik alias juga sudah gendeng :(

Sepertinya kita juga harus berpikir radikal untuk melawan ke-gendengan diatas , radikal bukan berarti ngawur liar seenaknya , namun radikal pake’ konsep yang bisa meminimalisasi potensi anarkis . Sok teu ya…? biariiin..!

Misalnya kalau mau membangun daya tahan ekonomi kita sendiri , ya harusnya berpikir radikal untuk mau berperilaku mendukung bangkitnya berbagai produk lokal sendiri . Kurang lebih gitu kali yakkk..?  Kita mulai saja dari hal yang paling mendasar , makanan misalnya (yang sekarang ini hampir dikuasai sepenuhnya oleh camik’an import)

Hindari makan makanan import seperti (steak/spaghety/burger/kentucky fried chicken/Mcdonald dan lain2) , ganti dengan singkong / tahu tempe goreng / bakwan /somay / pecel lele . Sudah jelas kan…kalau kita mengkonsumsi makanan lokal itu kan berarti kita memberikan kesempatan kepada industri makanan lokal untuk bisa tumbuh dan bisa diharapkan berkembang agar menjadi lebih enak lagi. Ini yang saya maksudkan dengan berpikir radikal diatas tadi.

Itu baru jenis makanan saja , belum menyentuh kebutuhan dasar lainnya …. seperti pakaian / rumah / pendidikan sekolah / kendaraan motor dan banyak lainnya lagi . Bisa nggak ya orang Indonesia berkesadaran untuk berpikir radikal kearah tersebut . Kalau nggak bisa….bukankah cuman “omdo”.. huh!

Orang Indonesia , sadar kalau sedang dilanda crisis namun nggak punya “sense of crisis”.

COMMENT ON MULTIPLY

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

9 Responses to “ Radikal ”

  1. kok berat ya tuntutan-nya,masa sih makanan saja harus dipersoalkan.Btw ,salam kenal.

  2. weks..berarti semua kudu balik kedesa ya om XIXIXI!!

  3. ineemas said: kok berat ya tuntutan-nya,masa sih makanan saja harus dipersoalkan.Btw ,salam kenal.

    lho..justru seperti slogan-slogan “harus dimulai dari diri sendiri” dsb. itu bukankah maksudnya juga harus dimulai dari hal2 yang paling dekat dengan aktivitas kita sehari-hari?

    salam kenal juga

  4. andialkatiri said: weks..berarti semua kudu balik kedesa ya om XIXIXI!!

    Nah ini neh repotnya….seperti sebagian besar yang dipahami masyarakat sekarang. “Kalau nggak item ya putih” hehehe…
    Apa salahnya dengan pengertian “Balik Ke Desa” lagi? , bukankah justru harus begitu seharusnya? (think globally act locally)

    Kalau kita balik ke kampung kan bukan berarti harus dandan dan ber-perilaku seperti “orang kampung” dari peradaban tertinggal. Tapi justru sebaliknya kan? ngajarin orang dari peradaban yang mungkin masih tertinggal , untuk sama-sama maju .

    Tapi pertanyaan berikutnya : “apakah bener kita juga sudah tergolong maju..?” , kalau ternyata belum…ya sadar dong…kita harus belajar lagi…atau sekolah dulu di “jalanan”. Jangan cuman dalam “gedung ber AC” .

  5. kurikulumnya ngajari orang untuk siap pakai jadi pelayan bangsa asing.Gimana?? mbeelllgedesssss!!

  6. xixixi..mahap om ane becanda kok,saloute bwat om jsop!

  7. @sultan: mhelghedes itu makanan apa seh?

  8. @abdria: santai aje’ ane juga nggak serius2 amat hehehe.

  9. Kembalikan semangat BERDIKARI,setidaknya slogannya dahulu kembali disuarakan. Indonesia sudah waktu merias wajahnya kembali.

    Salam Sejahtera

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara