Kantata Takwa

Kantata Takwa , begitu panjang kisahnya yang bisa saya tulis mengenai kelompok musik tersebut. Karena itu pula saya terpaksa harus membagi-bagi tulisan Kantata dengan versi 1- 2 -3 dan selanjutnya nanti.

Pada bagian ini saya hanya akan mengungkapkan kisah perkenalan saya dengan mas Djody hingga terbentuknya kesepakatan kelompok kerja kesenian tersebut , yang akhirnya disebut Kantata Takwa.

Pada awal tahun 1989 , saat itu saya sedang gencar melakukan promo tour bersama kelompok Godbless bagi album kami yang bertajuk ”Semut Hitam”. Saat itu saya masih tinggal di sebuah rumah (kontrakan) di daerah Kebon Jeruk , tepatnya di-jalan Anggrek no.52 Kelapa Dua Kebon Jeruk-Jakarta Barat .

Selanjutnya tentang : Kantata Takwa BAGIAN l dan ll ;<–Ada disini .

Link tentang rencana reunian Kantata Takwa 2014:  Upaya Reunian 

Dibawah ini adalah tulisan tentang Sejarah KANTATA TAKWA (bag.lll)

Sayang sekali saya tak ingat kapan persisnya pertemuan antar kami berlima terjadi , namun bisa dipastikan bahwa kami semua berkumpul ditempat kediaman SD di wilayah Kemanggisan Raya – Kebon Jeruk tersebut .

Satu hal yang cukup penting harus saya katakan disini , bahwa sebenarnya ada satu namalagi yang saya usulkan diantara kami berlima yang sudah ada , saya usulkan untuk bergabung dalam kolaborasi tersebut . Yang bersangkutan sendiri secara prinsip bersediaserta sudah beberapa kali juga hadir disana untuk membahas dan membicarakan berbagai hal (dialog non teknis lainnya ) sebagai persiapan untuk merumuskan konsep dan bentuk yang akan dirancang . Orang tersebut adalah salah satu sahabat saya sendiri , Harry Roesli (almarhum). Yang juga dijuluki sebagi Musisi mBeling dari kelompok DKSB .

Namun karena Harry Roesli seperti yang sudah kita ketahui bersama domisilinya berada di Bandung , maka hanya sesekali saja yang bersangkutan bisa hadir membicarakan berbagai hal , sedang kan kami berlima yang lainnya lebih sering dan intens untuk berkumpul . Maklum jarak antara Jakarta – Bandung saat itu harus ditempuh selama 4 jam’an lebih . Sebab belum ada jalan tol seperti sebagaimana kondisi saat ini.

Hari-hari berikutnya adalah disepakatinya kegiatan workshop secara rutin di Kebon Jeruk. Jelly Tobing beberapa kali turut hadir disana dan menemani kita untuk memainkan drum ketika datang . Komposisi orang-orang yang terlibat workshop di awal-awalnya adalah saya di keyboard , SD di gitar listrik , Iwan gitar akustik , Jabo di cuap-cuap , Jelly Tobing di drum , serta Edmond (seorang musisi ”lawas” asal kota solo , yang dulu pernahtergabung bersama SD di Band Terencem pada tahun70’an)

Figur yang terakhir ini adalah orang yang cukup ”unik” dimata kita semua . Selain gemar guyonan ”khas Jawa” yang bersangkutan juga sering kita anggap sebagai ”guru spiritualnya SD selama ini , yang khusus untuk menemani SD main gitar sehari-hari sebelum kita semua ada di lingkaran pergaulan di Kebon Jeruk..hehehe)

Kegiatan tersebut dilakukan seminggu dua kali (kalau tidak salah) saya tidak ingat lagitepatnya , setiap hari apa kita berkumpul dan bermusik bersama . Yang pasti itu dilakukan disela-sela kegiatan konser promo bagi album Swami (Bento Bongkar dll.)

Dalam suasana workshop diatas , secara tehnis kami semua sepakat untuk tidak mengacu kepada satu kredo-kredo tertentu , atau warna musik tertentu namun lebih kepada ”mengalir saja” seperti air . Bisa dibayangkan bagaimana suasana ”riuh” yang terdengar disana .

Riuh yang saya maksudkan adalah … gegap gempitanya suara drum yang menggebu dengan ditimpali oleh suara lengkingan gitar yang sangat dominan , serta teriakan-teriakan tanpa kalimat (sekedar na..na..na dsb) dari Iwan Fals dan Jabo . Ditambah lagi dengan tidak adanya ”jalur kord” yang sudah disepakati sebelumnya , alias 3 jurus plus. (nah…”plus” nya itu yang bisa 10 bisa 20 bisa 30…pokoke sak matek’e lah..) hehehe..

Saya sendiri menganggap suasana hirup pikuk tersebut sangatlah dibutuhkan , agar saya bisa menangkap ”esensi” dari keinginan serta karakter ekspresi masing-masing personal yang ingin disampaikan . Walaupun harus saya akui seringkali saya terpaksa harus”melindungi” kedua belah lobang dikuping saya dengan jari tangan … supaya dia nggak pecah atau paling tidak enggak jadi ”kendor” selaputnya ..hehehe. Terutama dari bunyi freqwensi yang dihasilkan dari perangkat Soldano nya SD , yang luar biasa tingginya serta keras suaranya .

Bayangkan saja , Soldano tersebut di-distribusikan ke 4 pasang Speaker Marshal 200 lewat 4 buah power tersendiri untuk memenuhi kebutuhan 4 stack speaker Marshall tadi . (seperti kita ketahui bahwa satu stack terdiri dari dua buah speaker) Artinya suara gitar SD disalurkan lewat 8 buah speaker dalam ruangan workshop yang hanya seluas sekitar 5 X 12 meteran . Sedangkan kami yang lainnya , apalagi saya …hanya bersandarkan pada satu buah amplifier ukuran kecil sekelas Fender Jazz Chorus untuk keybord , demikian juga yang lainnya .

Gubbraaakk..Gedubrakkss…nguinggg..nGGuuing…CiiaaTT..wwwAAAAA..!!! , gitu deh’…kira-kira bunyinya dalam bentuk tulisan di huruf……hahaha..!

Sementara mas Willy saya lihat tampak sering hanya mampu bertahan sebentar didalam ruangan lalu berjalan kearah pintu untuk kemudian cukup melihat dan mendengar dari luar tempat latihan tersebut …sambil sesekali dahinya mengkerut …mungkin mencoba menangkap suasana yang cukup liar …lalu menuliskan sesuatu diatas kertas . Ya…saya baru sadar kemudian , rupanya mesin produksinya langsung terpicu dan langsung jugabekerja sebagai penulis naskah.

Hingga akhirnya saya putuskan didalam pertemuan berikutnya , bahwa program workshop selanjutnya haruslah dilakukan secara lebih sistemik . Tidak bisa lagi kita terus-terusan hanya mengeksplorasi suasana tanpa ada kemampuan dan keinginan untuk menangkap / merumuskan “esensi” dalam bentuk sebuah konsep agar lebih “real” dan konkrit . Saya mengusulkan agar latihan-latihan berikutnya cukup terdiri dari beberapa orang saja dari kami guna terciptanya lagu-lagu yang diinginkan .

Disepakati kemudian bahwa saya ditunjuk sebagai komandan untuk berhak memutuskan segala sesuatunya yang berkaitan dengan bunyi-bunyian musik . Rendra sebagai penulis teks dan lirik untuk melengkapi lagu . Sawung Jabo sebagai “tong sampah” yang berfungsi menampung berbagai “aspirasi” keinginan yangingin disampaikan oleh semua pihak. Iwan Fals sebagai juru terompet yang mewakili suara semua pihak lewat suara nyanyian . Dan SD sebagai penyedia sarana dari berbagai hal teknis yang diperlukan .

Hari-hari berikutnya hanya saya , Iwan Fals , Sawung Jabo dengan ditemani oleh Robin (musisi warga Philipina) yang lebih bertugas merekam draft lagu-lagu kedalam computer lewat “cakewalk” nya. Kami bertigalah yang akhirnya bekerja secara detail untuk mengarang lagu secara kolaboratif bersama .

Demikianlah sejarah awal dari terbentuknya kelompok musik KANTATA TAKWA yang bisa saya rekam dalam tulisan . Semoga tulisan ini suatu saat bisa terus diperbaharui atau ditambahkan lagi berbagai kekurangannya , atau bahkan dikoreksi bila diperlukan , agar bisa melengkapi kisah-kisah yang harus disimpan dalam ruang-ruang perpustakaan perjalanan musik di Indonesia pada umumnya.

Saya prihatin mengingat system per-dokumentasian kita yang sampai detik ini belum juga berfungsi sebagaimana seharusnya . Orang hanya diberitahu untuk melihat “hasil” dan menutup mata kepada “proses” serta dasar “filosofi” yang melatar belakanginya .

Selamat pagi Indonesia , hari sudah menjelang sore..

COMMENT ON MULTIPLY

  

About the Author

Bukan jurnalis bukan pejabat bukan juga politikus apalagi tentara....wong cuman seniman. Ibarat cermin bagi elok rupa maupun cermin bagi buruk rupa. Jangan membaca tulisan saya bila tampilan buruk rupa anda enggan dibaca.

39 Responses to “ Kantata Takwa ”

  1. a history!

  2. Anda berkali kali dibelakang layar menciptakan berbagai peristiwa budaya,Badai Pasti Berlalu,Godbless,Kantata-Taqwa.Dunia musik Indonesia seharusnya sudah menyadarinya,sayang sekali!

    Salam hormat BUNG!

  3. @norman : sengkyu!

  4. @kertagama : anda terlalu berlebihan , saya hanya salah satu pilar

  5. kok kemudian drummer kantata waktu recording bukan Jelly Tobing atau Inisisri yang bisa dibilang lebih dekat dengan kebanyakan personil? *asik saya akhirnya bisa tanya ini*

  6. Saat mulai ada dialog2 kesepakatan yg lebih intens , Jelly Tobing sudah nggak “beredar” disana lagi . Sepertinya dia kemudian sibuk bersama Abadi Soesman membawakan lagu2 Beatles dsb.

    Inisisri memang dekat dengan kita , tetapi saya berpikir ingin memfokuskan dia ke perkusinya.(sesuai karakter).

  7. Suka terlalu merendah

  8. hehe.

  9. Diatas ada kata2 : “…mengawal SD”…. isa luwih spesifik mas..ya’ opo maksud-e ?
    Tulisan sampeyan ndek nduwur asik banget aku macane mas….apa adanya.

  10. sangat inspirative

    –> sengkyu

  11. indrayana said: Diatas ada kata2 : “…mengawal SD”…. isa luwih spesifik mas..ya’ opo maksud-e ?
    Tulisan sampeyan ndek nduwur asik banget aku macane mas….apa adanya.

    –> Mengawal maksudnya : Ybs kan waktu itu main musik masih hobi2an , maka ketika ingin terlibat dalam kerja kolektif yang lebih serius , setiap orang perlu memahami berbagai aturan / etik berkesenian dengan baik. Supaya tidak melanggar bila ternyata ada “kredo-kredo” yang harus ditaati. Sebab kesenian-pun bisa meng-intimidasi orang hingga sampai pada pengertian “asosial” pada lingkungannya. Itu yang saya jaga serta saya merasa harus membimbing . Sebab kita berencana akan workshop dengan seniman2 yang notabene bukan “anak kemaren sore” hehehe :)

  12. Matur nuwun mas…rasa2ne sih kadar musikalitas sampeyan sing paling djempolan ketimbang liyane…eh sing iki odjo mbok respon lho he..he..he …aku kiro2 wis ngerti jawab-e…lha wong wis luwih setaun maca tulisan2 sampeyan dje…

  13. Luar biasa,kapan Kantata taqwa bisa menciptakan karyanya lagi??

  14. Setelah mendapatkan ‘kawalan’, saya mengamati ada perubahan lumayan dari SD, terutama di lagu “Samsara” walau kreditnya barengan IF & SJ, tapi tetep outro solo cukup menggelitik untuk ditelik cerita dibaliknya. Ya, walaupun repetitif, tp itu sudah mengikuti kredo” yang ada. Saya sedang membayangkan kalo outro solo di lagu itu dimainkan ES…. mungkin lain waktu ada cerita khusus untuk lagu ini ya mas…

    “Singgah singgah kala singgah
    Pan suminggah
    Durga kala sumingkira
    Singa sirah singa suku
    Singa tan kasat mata
    Singa tenggak singa
    Wulu singa bahu
    Kabeh pada sumingkira
    Balia mring asal neki”

  15. @Dino : wah..saya udah nggak inget running gtr nya seperti apa..:)
    Dino, kamu bisa nyuluk juga ya ternyata?

  16. Saya cuman menirukan apa yang ada di outro Samsara, kebetulan jaman masih kecil saya suka mendengarkan suluk dalam parik’an Kartolo cs. Karena Samsara memuat suluk, saya sempet surprise.. tak kiro njenengan sing nyuluk di Samsara.. abis suaranya susah dibedain antara njenengan & SJ.

  17. wah..kulo nak nyuluk kagem tiyang wadon ke’mawon mas..mboten “mbejaji” mangke’ , menawi nyuluk kagem engkang sak’ estu..

  18. Baru kali ini bisa baca tulisan tentang Kantata. Dan baru kali ini juga sempat baca tulisan mas prajogo. Maklum baru langganan internet. Tak kira sampean cuma bisa maen kibord lo. Tibake iso nulis barang. Sip.

  19. Bedanya , main kibord agak ‘mendingan’ mas , kalo menulis itu…., agak beneran (‘ngawur nya lebih banyak’) hehe.., yang penting ‘jujur’ nggak ngarang ya mas. Kalo maen kibord malahan harus ‘ngarang’…hehehe

  20. Kalau di film Kantawa Takwa, yang sekarang lagi keliling festival film internasional itu, mas JSOP juga ikut bikin musiknya? Kalau enggak, siapa dong yang bikin? Kebetulan saya belum sempet nonton waktu diputer di Singapore Film Fest.

    Lantas Eros Djarot dan Gotot Prakosa, sutradara film itu, juga sudah ikut teribat sejak awal, setidaknya sejak show pertama di Senayan kalau gak salah?

  21. Tadinya , sesuai rencana akan ada tambahan illustrasi musik (bikin baru lagi) , tapi nggak tau kenapa akhirnya nggak jadi..hehe..
    Biasa mas…, kalau di Indonesia itu “orang motto kerjanya” :today yes..tommorow maybe” hehehe.. :)

    Bener mas Totot., mereka sudah terlibat semenjak awal konser.

  22. syukur buangeddd masih hidup bisa tahu (dengan baca)salah satu pilar sejarah musik indonesia. makasiyh pak Joki dah mau berbagi pada yang muda seperti saya yang baru mau belajar yang kebingungan nyari dokumentasi dibelakang layar karena tidak tahu harus kemana hehehe…saya yakin mulai dari awal sampai tahap akhir dari proses penciptaan kreasi seni itu sangat penting. mohon di teruskan pak Joki agar saya bisa lebih menambah wawasan dan tertarik tentang KREDO yg harus ditaati dalam berkesenian,mohon pencerahan. Salam kenal & salam hormat. Oxza (hidup di bali)

  23. mari sama-sama belajar dan mengajari mas Oxza , sebelumnya terimakasih ya. Wah..(hidup di Bali) masih relatif lebih nyaman daripada hidup di Jakarta :)

  24. Baru tau sejarahnya gituuu….
    wahhhh….waahhh…(sambil mlongo + senyum ga jelas gituu….lebih ndesit thoo….heeee)
    Bener kata mas jsop, masing2 orang hidup di jalannya sendiri2, begitu juga yang ada di masing2 orang tersebut, dari mata, hidung, telinga, semuuanya punya pengalaman yang berbeda2 dibanding orang laen.
    Maka, kalo saya berharap di jaman sekarang saya bisa menemukan musik (grup musik) yang kayak Kantata/SWAMI, ya udah ga mungkin lahhhhh….
    Tinggal saya sukuri aja, saya pernah melihat dan mendengarkan apa itu Kantata/SWAMI. Walopun dalam hati saya protes kesana kemari.
    Protes yang pertama, ga pernah nonton konsernya SWAMI !!! trus ga nonton konser Kantata di Senayan 1990…trus di Surabaya 1990…trus di Solo 1991, trus di Solo lagi 1995, trus di Senayan lagi (Parkit Senayan tepatnya dinx…) 1998, trus giliran bisa nonton Kantata di Senayan (Parkit lagi)2003…..udah setengah jalan trus kaburr…daripada kepala bocor…gimana ga kabur…botol kaca pada melayang persis pesawat2an dari kertas. Padahal secara konsep & acara buagus bangetttz.

    Protes kedua, gara2 ga nonton tadi, pengen liat dokumentasi video-nya susah banget. Ada pun yang beredar resmi di negeri kita cuma “KANTATA TAKWA – Stadiun Sriwedari Solo, 14-15 September 1991″ (2 keping VCD) & “KANTATA TAKWA – Trisakti, Accoustic Live COncert – 12 Mei Menuntut” (1 keping VCD). Ga puas bangettt…

    Protes ketiga, dapat informasi kalo VCD SWAMI & KANTATA di jual di negeri tetangga secara legal. Hikzzzzz…..jauh benerrr. Di negeri sendiri ga ada, di negeri tetangga malah ada. Tapi setelah dipikir2, kalo di sini ada….wahhh…nasibnya juga ga jauh beda ma VCD yang udah diedarkan di negeri ini….(tau kan maksudnyahhh…)

    Protes ketiga, daripada mangkel terus di ati. Ya udahh…beli aja di negeri tetangga. Kantata Surabaya 1990 (2 keping), Kantata Solo 1995 (2 keping), Kantata Senayan 1998 (1 keping), SWAMI Surabaya 1990 (2 keping). Beneran legal !!! Ada hologram AIRO-nya. Akhirnya dibeli semua. Mungkin gara2 kebanyakan protes, masing belinya 6 !!! heeeee…..seriuss niii….Dan buat ngobatin protes2 yang tadi, VCD-VCD tadi udah kesebar, ada yang di Jakarta, Medan, Bali, Makasar. Tentunya ga gratissss :) tapi itung2 buat obat sesama penggemar yang pastinya juga pada protes yang sama ma saya :)

    Dan moga2, konser yang di Jakarta 1990, bisa saya saksikan lewat film KANTATA TAKWA yang bakal diputer di Jogja, walopun ga semua lagu yang dibawakan pada saat konser tersebut.

    Mas jsop, mbok ya mas SD dikawal lagi, biar bisa dipanas2in bkin konser lagi :)

  25. Wah..koq sepertinya anda penuh dengan “penderitaan” dan complain ya mas..hahaha. Sabar..sabar…nanti anda bakalan mendapat balasan yang setimpal..(mudah2an bukan ‘ketimpuk’ botol beneran..:)Terimakasih mas atas perhatian sampeyan , nanti saya akan “kilik2″ lagi SD , kalau emang udah bisa dikilik…(jangkrik kali..!)

  26. Wah mas PaToeL, aku minta email sampeyan atau no HP nya heheh
    salam and met kenal ~_~

    emailku : rendra_mp@yahoo.com

  27. Reuni to mas? Pa pemanasan?
    Nyenengke banget liat konsernya Iwan Fals malam ini (Abis nonton langsung kejar setoran posting :)).
    Ga nyangka bakal ngumpul kayak gitu mas. Sayangnya mas Jabo ga bisa hadir. Padahal Kantata banget. Panggung udah Rajawali.
    Ta’ sampein feeling saya ya…Ga ada salahnya to?

    Film Kantata muncul….Saat yang tepat buat reuni. Saling mengingatkan apa itu Kantata. Kenapa ada Kantata. Apa yang bisa Kantata lakukan (lagi).
    Konser….semoga itu jawabannya.
    Nah yang malam ini lakukan setidaknya pemanasan buat tujuan tadi.
    Pengen rasanya liat konser Kantata, trus penggalan2 film Kantata diputer dipanggung sebagai ilustrasi.
    Lebih elok lagi, kalo Kantata bikin album lagi & bonus tiket nonton konser ada di dalamnya. persis kaset Kantata dulu. Indipenden aja. Pa lagi kalo panggung dipake 2 hari konser :)

    Semoga feeling saya bener.
    Setidaknya njenengan bisa ngitik-itik Mas SD lagi :)

    Ngomong2….Masih pada seger2 loh…

    Semoga (lagi), hasil reuni malam ini ada kelanjutannya dan bisa dikabarkan di sini.

    PS : @Rendramp
    email saya : patoel[at]yahoo[dot]com
    no HP : sementara ga ada :)

  28. Mas Patoel ,

    wah.. soal bisa berkumpul lagi dengan teman2 lama lalu bisa ber proses kreatif bersama lagi …tentu saja idealnya begitu hehe.. semoga ada kondisi yang semakin mendukung kearah tersebut.

    Sebab banyak faktor yang harus memfasilitasinya . Antara lain soal “kitik mengitik” dan sebagainya hehehe..

    Terimakasih udah perhatian ya., salam Merdeka!

  29. Ekspresi kemerdekaan semalam sungguh luar biasa. Terima kasih mas Yockie atas suguhan pentas malam tadi. Sungguh Luar Biasa…!!! Salam untuk Bang Iwan dan personel lainnya. Kegembiaraan saya yang meluap saya tuliskan secara khusus dalam “curhatan merdeka”.

    Terima Kasih khusus untuk Bapak Setiawan Djodi.

    Sayang, Mas Jabo tidak bisa hadir malam tadi. Apalagi kalau ketambahan Sirkus Barrock-nya.. Wow kereeeennnn….

    Salam

  30. wah terimakasih udah nonton juga mas , walaupun dengan persiapan yang ala kadarnya , dan memang sebatas itulah yang maksimal bisa kita berikan untuk memeriahkan peringatan Kemerdekaan kali ini.

  31. aku kangen banget dengan warna musik seperti kantata, kapan dong mas jocky bikin gebrakan album baru ?

  32. Doakan saja mas , semoga momentum bisa memberikan “ruang nyata” bagi proses kreativitas kami semua. salam

  33. waktu tahu film kantata takwa telah dirilis beberapa bulan yang lalu aku langsung sangat berharap bisa memiliki vcd/dvd. dulu semasa aku sma aku pernah dengar ada pembuatan film ini, eh ternyata baru 18 tahun bisa dirilis. aku tanya mas yon (edi haryono) katanya habis lebaran. benar nih?
    semakin aku baca berita tentang film Kantata Takwa aku semakin penasaran, gimana sih isi film ini? kaset Kantata Takwaku sampai kini masih ku simpan kok. kutunggu ya film itu beredar.

  34. InsyaAllah sih segera mas , saya juga nggak tau pastinya . Mudah2an emang habis Lebaran (tapi tahun berapanya saya nggak janji..) hehehe

    Btw terimakasih udah nyimpen kasetnya selama 18 tahun . Semoga nggak kusut aja tuh.. :)

  35. assalamualaikum
    waduh bang yocki, aku lambat lagi. aku baru tahu kalau film KANTATA TAKWA telah di putar di bioskop-bioskop. aku belum sempat nonton nih bang. apalagi di palangka raya nggak ada bioskop. gimana caranya aku bisa lihat itu fim bang. vcd/dvd dah beredar belum?
    wassalamualikum

  36. Boleh numpang lewat mas…

    Kalau gak salah, kekuatan music di kantata lebih elegance dan yang jelas perfect buanget… nuansa polesan sound EET begitu mendukung untuk sebuah lagu yang serius tersebut.

    Nah, kalau di Swami emang uda disetting liric-liric lagunya “nyentil” orang banget! jadi sound totok tewel begitu pas untuk lagu-lagu bernuansa ngledek…

    Pokoknya salut baget deh buat mas JSOP profesor music indonesia …..

  37. Nice information, valuable and excellent ideas. Thanks for sharing these

  38. Selamat siang Indonesia, hari udah menjelang malam ^_^

  39. Saya suka ceritanya, mungkin bisa saya posting di blog sy :

    Cerita dewasa

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara