Cerdas Cermat

Sebut saja dia dengan istilah si “CECE” , dia memang judul dari sebuah acara dari televesi kita di jaman dulu namun bukan “kuis” tersebut yang ingin saya pindahkan kedalam blog saya disini. Disini si CECE lebih tepat sedang saya pertanyakan hakekat eksistensinya.

Konon kabar-kabarnya kita semua sudah sepakat untuk berbenah diri bukan? , berbenah dari mulai diri kita sendiri , dari mulai lingkungan kita sendiri , tentu tujuannya antara lain agar kita bisa mendulang ilmu si CECE diatas , sebab hanya dari berbagai ilmu yang di usung si “CECE” lah , kita mampu menyusun “agenda kerja” agar bisa mengatasi berbagai krisis kehidupan disekitar kita , bukankah begitu seharusnya..? Sekali lagi harus dimulai dari meningkatkan kualitas diri kita sendiri dulu , konon katanya begitu .

Nyatanya…? ah..Kita nggak perlu harus malu , bahkan sampai berkilah mencari dalih alasan dan dukungan berbagai teori , agar bisa memperoleh pembenaran yang diinginkan bahwa sesuatu yang salah bisa menjadi “benar” , atau justru sebaliknya yang benar bisa untuk “dipersalahkan.”

Masyarakat Indonesia sampai hari ini paling getol ngobrol ngalor-ngidul , curhat-curhatan . Dari mulai maraknya berkirim-kiriman sms yang nggak jelas apa mau-nya sampai ngeyel-ngeyelan di blog bila perlu adu otot “leher” yang disudahi dengan debat kusir . Sebab mereka hanya mau menerima argumentasi yang membenarkan perilaku mereka sendiri saja. Misalnya bila ada topik hangat di berbagai forum terbuka , maka orang yang berduyun-duyun datang mengunjungi , adalah mereka yang berhasrat tinggi untuk menyampaikan berbagai uneg-uneg dan isi hati sesuai “pesan arogansi” dari dalam hati meraka masing-masing. Atau malahan sebaliknya , pasrah dan sering berdalih “sekedar mencari  teman koq..”, katanya .

Internet .., sebuah kemajuan tehnologi yang sangat memfasilitasi bukan? , agar kita bisa lebih dekat satu sama lain dan menggalang persahabatan yang baru .Kita juga jadi semakin mudah untuk bisa berkomunikasi antar satu dengan yang lainnya. Nggak perlu harus ngeluarin ongkos atau biaya lain , kecuali bayar biaya internet untuk bisa berkumpul dan bicara bersama .

Nah , setelah kita berkumpul itulah yang kemudian menjadi masalah…., sebab untuk apa orang bergerombol dan saling berkumpul kalau tidak menghasilkan manfaat apa-apa kecuali hanya untuk mem-pertontonkan potret diri kita masing-masing. Saya bisa mengatakan hal seperti ini setelah dua tahun lamanya saya mencermati perilaku masyarakat kita (bloggers Indonesia umumnya) Tengok berbagai forum-forum diskusi yang kritis dan bermanfaat ..justru sepi dari perhatian orang . Lihat forum-forum bernuansa remaja “abg” ataupun obrolan bak di “warung kopi” ramainya luar biasa dengan bla..bla..bla. Padahal setelah kita tilik , mereka bukan lagi kaum remaja …namun kaum dewasa yang juga sudah menyandang berbagai gelar-gelar intelektual dan lainnya. Gejala apakah ini..? Keniscayaan tehnologi hanya untuk digunakan sebatas itu saja kah? Tahukah kita apa yang sedang di “search” oleh laptop para anggota dewan kita? Mengapa mereka tidak memanfaatkan tehnologi tersebut untuk membuka diri kepada masyarakat yang diwakilinya , misalnya?

Ketika di tempat kerja , di kantor , di lingkungan antar warga , di lingkungan antar saudara , ketika kita semua berkeluh kesah tentang berbagai keadaan yang menghimpit kehidupan kita , lalu kita menyadari betapa sulitnya problem masyarakat dewasa ini . Namun kita juga merasa tak kuasa dan tak memiliki kemampuan untuk bisa merubahnya ….sebab kita hanya masyarakat “biasa” , bukan mereka yang duduk di kursi pemerintahan dan sebagainya . Lalu….siapakah yang kita harapkan bisa merubahnya…?

Itulah yang disebut “Penjajahan dalam diri orang Indonesia oleh dirinya sendiri..!’

Lalu di dunia maya ini , ketika kita temui banyak obrolan “serius” yang hanya membiarkan saja arah pendapat ataupun opini , agar bebas kemana saja dia hendak menggelinding bergulir , tanpa arah , tanpa tujuan , tanpa kesimpulan dan tanpa keinginan kita semua untuk bisa memperoleh manfaat & gunanya berkumpul . Maka…saya meng-ibaratkan seperti sedang berada di tengah hiruk-pikuk pasar yang tak lain tujuannya hanya untuk membeli atau menjual sesuatu yang hanya untuk kepentingan diri saya sendiri saja.

Tak ada urusannya dengan orang lain yang sedang berada dalam keadaan “kesulitan” ataupun membutuhkan bantuan . Masing-masing mengurusi dirinya sendiri , walaupun hal itu kita lakukan sambil bertegur sapa tak lupa senyam-senyum menebar pesona , agar selalu menampakkan keramahan tampilan wajah kita masing-masing.

Namun mendadak bayang-bayang ekspresi semua orang menjadi kecut , menampakkan ekspresi yang tak suka ketika mereka menyadari bahwa kita tidak menawarkan solusi yang sesuai dengan harapan & ekspektasi mereka.

Masyarakat tersebut tak ingin “kenyamanan arogansi sektoralnya” terusik , mereka tetap ingin bisa terus “bla..bla..bla ” sesuka hatinya. Namun disisi lain masyarakat tersebut juga sangat fasih mengucapkan “turut prihatin” bahkan “ikut berduka” atau malah mampu bersuara lantang : “mari kita berpikir optimis dan berusaha sekuat tenaga”, katanya berkobar.

Namun ketika pantulan suara mereka membentur tembok , berbalik menuntut agar mereka membenahi dirinya sendiri dahulu , sekejap tanpa diberi komando langsung saja mereka “membuang badan”nya masing-masing , “cuek” seolah tak mendengar dan tak melihat ada masalah apa-apa disekitarnya . Atau bahkan sebagian besar secara otomatis menjadi “sinis” , sinisnya-pun disampaikan dari balik punggung kita . Sinisme yang dengan mudah bisa berubah wujud menjadi “fitnah” bahkan berkadar “menghasut”. Lalu…bisa ditebak hasilnya bukan..? Persengketaan terselubung sedang dipicu… dan menghimpun hawa kebenciannya sambil menunggu saatnya untuk siap “diledakkan”.

Itulah realitas masyarakat Indonesia , yang selalu enggan dan terkesan tak mampu berdebat dengan argumentasi yang sehat dan terbuka.Mereka adalah barisan yang masih mewarisi perilaku “fasis” yang sedang menunggu waktu kapan saatnya akan dibagi’in senjata.

Saya juga pernah menulis sebuah artikel yang intinya berbunyi : “Kita harus berperilaku seperti masyarakat mayoritas yang “sakit” , agar kita diakui menjadi orang yang waras”. Sebab orang waras tidak memiliki ruang dan tempat di dalam sebuah sistem ber-masyarakat yang “sakit”.

Tulisan ini memang agak “tendensius” dan mungkin saja bisa membuat segelitir orang menjadi tak suka setelah membacanya . Namun seperti juga mereka , “apa peduli saya” untuk mikirin perilaku orang yang mendorong serta menciptakan jaman menjadi semakin tak terarah atau malah semakin jadi “gila”.

Dari semenjak puluhan tahun silam , walau sebatas di lingkungan pergaulan kesenian. Suara kalbu ini seolah selalu dibenturkan oleh tembok yang tak bisa disentuh apalagi untuk dirubuhkan . Kini di usia yang semakin mendekati senja , tembok tersebut terlihat semakin diperkokoh saja . Walaupun harus diakui .. sudah terdengar suara-suara dari generasi baru yang mulai menentangnya , yang seolah melanjutkan suara kami beberapa tahun yang silam “Bongkar” secepatnya. Namun….nampaknya belum seperti yang diharapkan bukan?

Sekali lagi tak usah malu untuk berkaca diri , tengok wajah di cermin yang masih bopeng kotor dan penuh carut marut . Kita hanya bisa membersihkannya secara bersama , anda membersihkan wajah saya dan saya akan membersihkan wajah anda , demikianlah seharusnya. Usah lagi saling mencaci dan saling menebar benih dusta  . Sebaiknya belajarlah untuk membicarakannya secara terbuka bila memang tak sesuai dengan kehendak hati kita . Tanyakan secara tuntas apa yang masih tampak tidak “jelas” , jangan menduga-duga sendiri lalu berkesimpulan sendiri. Belajarlah juga untuk menerima kenyataan bahwa , dialah yang benar bukan saya .

Saya akan konsisten melawan keadaan , selagi masih ada kemampuan serta kesempatan untuk bisa melawan . Saya tidak percaya pada paham “mayoritas” , yang hanya berdasarakan “rating” tanpa alasan yang bisa diterima oleh akal sehat . Saya sama sekali tidak “risih” untuk disebut menggunakan kata-kata yang “gagah”. Saya justru risih bila kalimat saya bernuansa “banci” , heh!

udah ah..ngelu!

COMMENT ON MULTIPLY

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

15 Responses to “ Cerdas Cermat ”

  1. kekeke polos bgt si mas :)

  2. ada kasus yang spesifik yang bisa ditulis juga mas? hihihihihihi

  3. @bunga: “lugu” nya ketinggalan tuh hehe..:)

  4. @andara: koq jadi ikut2an kaya mas indrayana seh.. spesifik..spesifik..hehehe.., udah jadi judgement dong nanti , bukan “tendensius” lagi. :)

  5. dikit lebih transparan lg kale mas xixixix

  6. (maxa.com)

  7. Oke’..saya lebih transparan nih..:)

    Pada intinya artikel diatas juga mengajak kita untuk berpikir secara lebih “radikal” agar bisa mengembalikan lagi “mindset” kita menjadi “normal”.Bisa nggak kita merubah “behavior” kita selama ini (yang kita anggap seolah sudah benar semua)….secara radikal.

    Misalnya: membuang-buang waktu untuk berbagai hal yg tidak effisien atau terus mengkonsumsi apa yang kita inginkan , bukan apa yang kita butuhkan. Bangga menjadi pengusaha kecil karena modal dan badan usaha milik kita sendiri , bukan merasa hebat menjadi pengusaha besar padahal mengabdi pada perusahaan orang asing atau bangsa lain. (berkedok “azas” proffesional)

    Dan banyak lagi ketentuan / persyaratan2 yang harus dirombak secara total…. dari dalam diri kita sendiri dulu jangan menunjuk orang lain untuk melakukan sebelum kita memulainya sendiri kan?

    Karena perubahan yang revolusioner yang dikehendaki demi tercapainya peradaban yang lebih baik pasti juga akan mengakibatkan dampak “effect samping” , yang juga beresiko tinggi.(sebut:pengorbanan) Seperti berbagai teori yang menyebutkan bahwa konsekwensi dari perang terhadap peradaban (menuju yang buruk maupun menuju yang baik) selalu akan memunculkan “the lost generation”yang “ter-korbankan” tadi. (orang2 yg posisinya “terjebak” mengambang)

    Saya hanya berharap sambil berandai-andai , mungkinkah bila saja ada kesadaran yang bisa dibangun seperti hal-hal tersebut diatas , maka potensi / jumlah “generasi yang hilang” juga akan bisa di-minimalisasikan. Sebab kesadaran untuk memfungsikan sumber daya yang sudah ada , juga tetap dilakukan.

    (memang agak sok teu ya..? tapi biariiinn…..daripada emang bener2 nggak tau sama sekali kan?….atau berlagak pintar padahal bodoh , karena nggak mau tau..)hehehe….ngelu lagi deh!

  8. *mikir* the lost generation?? aku??
    *balik lagi ke kamar gelap*

  9. hehe.. kamu kan sudah selesai study dan sudah kerja , ya tinggal menyesuaikan diri aja lagi kan.., yang saya bayangin itu yang sedang study dan lagi “nanggung” , apalagi studynya di luar negeri dan memilih bidang yang hasil ilmunya tidak ter-akomodasi sama sekali oleh kebutuhan realitas yang ada.

    [*Biarin kuke’.. saya sengaja mem-provokasi pikiran orang yang baca artikel ini*]
    Paling tidak membuka cakrawala pikiran untuk mengantisipasi segala kemungkinan
    Jadi jangan sok ‘pede’ abis , seolah semua persoalan bisa diatasi belakangan (digampangin aja lagi) :)

  10. o..ow ,my daughters still smp.gimana donx

  11. tenang bu.. belanda masih jauh :)

  12. terimakasih bung ini pencerahan yang berharga!!

  13. Salam sejahtera dan perkenalan dari saya . Ini salah satu blog pengilon yang menarik buat berkaca.Persis sekali dengan semangat about author nya yang tertulis.

    Majulah bangsaku makmurlah negeriku!

  14. @norman: sama2 , silahkan dibaca mudah2an ada gunanya , kalo nggak berguna ya maap’in saya hehe , salam

  15. @ridwan: sengkyu juga , semoga bukan pengilon yang temennya penguin (tokoh jahat dalam film fiksi)ya..

    sejahteralah kita semua juga.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara