Sense of crisis

Menghadiri undangan seorang teman yang anaknya melangsungkan hari perkawinan adalah sebuah kewajiban untuk sekaligus bisa digunakan sebagai ajang silaturahmi antar sesama kita. Itulah yang saya lakukan ketika menghadiri acara sebuah perkawinan di sebuah hotel mewah di Jakarta.

Berbagai ungkapan guyonan dan celetukan semasa lebih dari 20 tahun yang silam sudah saya persiapkan didalam benak kepala saya , untuk saya lontarkan kepada sang ayah mempelai wanita ketika nanti saya akan bersalam-salaman , demikian pikir saya didalam mobil ketika merayap terjebak kemacetan lalu lintas yang luar biasa.

Memasuki halaman hotel kemacetan semakin menjadi-jadi , ditambah lagi dengan antrean beberapa mobil yang sedang menurunkan penumpangnya didepan lobby pintu gerbang masuk Ball Room hotel tersebut. Hampir tak nampak kendaraan atau jenis mobil murah dengan kelas harga 100 jutaan kebawah . Semua yang nampak di pelupuk mata adalah tampilnya showroom mewah yang berkelas 250 juta hingga 2 milyar lebih kerangka besi bermesin dan beroda empat tersebut .

Tak berselang lama kemudian sayapun memasuki ruangan besar Ball Room tersebut , disambut dengan lazimnya buku tamu yang harus diisi dan sebagainya , seketika itupun terdengar alunan suara orkestra live yang sedang bermain lewat beberapa speaker yang ditempatkan di pojok-pojok tertentu.

Saya pandangi setiap sudut ruangan resepsi dengan seksama …. , sejenak tanpa saya sadari .. hati ini menjadi “terenyuh” seketika . Betapa luar biasa “hebat” dan kaya nya si empunya “gawe” yang mampu menghadirkan kemegahan serta kemewahan luxurius bagaikan pesta-pesta selebrities atau tokoh-tokoh besar di belahan dunia lain yang negaranya sudah maju dan sejahtera. Tak perlu sampai saya jelaskan detail hidangan makanan dan lainnya , tontonan twilight orkestra yang seharusnya bisa agak “megah” bila ditempatkan secara lebih terhormat , saat itu tak lebih layaknya bunyi “karaoke”an atau single keyboard yang sedang dimainkan oleh seorang pelayan musik seperti juga lazimnya terjadi diberbagai acara-acara lain .

Saya berjalan berkeliling mengitari beberapa corner hidangan sambil sesekali mencicipi lobster termidor yang tersedia …meninggalkan istri dan anak saya diruangan tersebut , saya berjalan menuju kesetiap pojok ruangan hingga sampai dipintu menuju keluar kembali.

Hidangan yang sempat saya kecap menjadi “hambar” terasa didalam perut ini menyaksikan “provokasi” kemewahan yang tergolong luar biasa di pertontonkan diatas bumi Indonesia yang sedang “sekarat” diterjang berbagai problem kemiskinan rakyatnya. Tak tahan lagi saya berlama-lama disana … segera saya telpon HP istri saya yang sedang berada didalam ruangan lalu saya katakan untuk segera pulang. Sayapun diingatkan istri bahwa kita belum lagi mengucapkan salam atau selamat pada mempelai dan kedua orang tuanya….., lain kali saja…; itulah jawaban saya.

Meninggalkan tempat perhelatan saya di suguhi lagi deretan pemandangan ucapan selamat lewat rangkaian beberapa tulisan-tulisan diatas berbagai bunga….yang intinya adalah ucapan “turut berbahagia” . Tertulis disana nama-nama besar…..mulai dari Anthoni Salim , Lapindo Brantas …dan buanyaaaak lagi nama-nama populer yang sedang nge “trend” saat ini.

Lengkap sudah ..”mual” perut saya….melihat kenyataan “sense of crisis” yang sudah tak perlu dianggap ada .

COMMENT ON MULTIPLY

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

16 Responses to “ Sense of crisis ”

  1. saya jadi teringat dialog antara Nabi Muhhamad saw dengan Umar bin Khatab, yang saat itu hampir seluruh jazirah arabia telah mereka persatukan dalam sebuah kekhalifahan. saat itu Nabi Muhammad selaku pemimpin umat dan juga pemimpin kekhalifahan duduk di bale-bale sederhana. melihat hal ini Umar bin Khatab berkata, “Ya Rasul, saat ini kedudukanmu sudah sepadan dengan raja persia dan raja romawi. bukankah kita bisa membuat istana dan singgahsana seperti raja-raja romawi dan persia itu? betapa tak layaknya tempat ini bagimu ya Rasul.” Muhammad saw hanya tersenyum, lalu berkata, “ya Umar, sesungguhnya tempat kita yang sebenarnya adalah di akhirat. di dunia ini yang utama adalah melaksanakan perintah Allah. kemegahan hanya akan menghalangi kedekatan kita dengan Allah. tidakkah engkau ingin bertemu dengan Tuhanmu?”

  2. SubhanALLAH .

  3. Nek koyo ngono iku..opo Indonesia kelebu negoro susah ? adjegile’ banget…!

  4. lho..niki negoro ngindonesia toh..? , kulo ngrasanipun teng hongkong je’..

  5. udah jarang emang Om ngeliat tenggang rasa di sini, ngga yg kaya atau yg miskin sudah lupa atau memang ngga pernah tau ya ???

    eh, sense of crisis = tenggang rasa ngga sih Om ? :)

  6. hehe..mungkin kalau bahasa perancisnya = tepo seliro , bahasa Indonesianya mungkin = rasa keprihatinan (solidaritas sosial) , kali ya..? Kalau bahasa daerah Sunda nya mungkin “belegug siak..” hehe..

  7. pernah saya dialog dengan seorang politikus indonesia yang kebetulan maen k auckland,,ngobrol ngalor ngidul lalu dia bilang kalo “negara kita ini kasihan sudah miskin dapat cobaan bertubi2 lagi,,” saya bilang “lho pak indonesia itu miskin apa pura2 aja seh??”
    politikus “maksud kamu apa???”
    saya” lho lha wong jumlah orang kaya dijakarta dan kota2 besar lainnya itu lho banyak,liat aj acara2 TV apa ada yang sederhana?? pernikahan apa ada yang nggak mewah?? iklan2 slalu nonjolin keglamoran..apa ada bintang film yang gak cakep,kulit putih bau wangi dan berduit???”
    politikus “wah mas kayaknya udah kena provokasi dari TV ni mas..harus hati2 mas..”
    saya “bukan saya pak yang mesti hati2 tspi sampeyan,jangan2 sampeyan udah keblinger karena sering lihat kemewahan disekitar anda hingga anda lupa wajah kemiskinan itu gimana??? hingga anda lupa kalau yang miskin itu perlu dibantu bukan cuma dimasukin brita2 dan koran..”

    tepo seliro,,,sesuatu yang diajarkan di skolah dari SD ampe SMA plus dalam RT/RW pendek kata dimane2 lah…

    tapi kok banyak yang lupa ya??? apa keblinger apa gmana tu??? yang saya takutkan kalo kita ini lebih senang dibilang miskin supaya dibantu daripada mengeluarkan duit kita sendiri..

    “seen thing”(baca:sinting) lah kalo kata slank

  8. Mereka yg kaya2 itu mungkin ga pernah melihat dan mendengar bagaimana miskinya rakyat Indonesia. Komunitas, lingkungan dan aktifitas pekerjaan mereka melulu di area habitat mereka saja. Coba kalau mereka sekali waktu jalan2 pake angkot, krl atau jalan kaki ke tempat2 kumuh jakarta. Mendengar berita di tv atau baca koran2 lokal. Mereka mungkin akan ngeuh bahwa tempat yg mereka pajak ini penuh dg kemiskinan.

  9. @aZiZou :

    Yang pasti potret kemewahan absurd yang sering tampil dimana-mana , adalah hasil perilaku industri kapitalis yang memang bertugas menebar mimpi-mimpi .

    Kuncinya ada di masyarakatnya sendiri … selama masih senang dibuai janji dan mimpi , ya selamanya mereka akan berdiri mengangkangi .

  10. @kirtjon :

    Mungkin emang bener juga kali ya..?
    Mobil mereka tak berkaca , rumah mereka tak berjendela .
    Atau …jangan2 tubuh mereka juga tanpa nyawa..?
    tapi pake baterei abc

  11. Baru sekarang nongol lagi Mas … :D

    Kemewahan bermegah-megahan macam begitu salah satu yang bikin kita sengsara nggak ada ujungnya, karena mengundang murka Yang Di Atas.

    Saya usul dalam kadonya, diselipkan foto real estate ‘rumah masa depan’ berukuran 2mx1m, biar kita semua sadar ujung-ujungnya kita ke sono juga.

  12. Secara materil kelihatannya jadi orang kaya itu menyenangkan, sorga dunia dg mudah diperoleh dg uang. Tapi secara bathiahnya bagaimana? Banyak orang kaya tapi menderita, tidak bahagia. Sebaliknya banyak juga orang yang kelihatanya miskin hartanya tapi kaya hatinya, hidupnya bahagia, tenang dan nyaman. Melihat kesenjangan sosial ekonomi yg terpampang saat ini memang membuat hati miris kadang menyesakan dada karena tak mampu berbuat banyak untuk atasi kenyataan ini… ngagérémét

  13. @mas Jusmin:
    hehe…photo kallo segede 2m X 1m gimana bungkusnya mas , kalau dilipet-lipet bukannya rusak nanti..? Mending dibikinin dummy’nya aja (ukuran mini)

  14. mbak kirtjon :

    Orang2 kaya yang seperti itu umumnya menerapkan keseimbangan bagi nafkah bathinnya dengan menjadi masyarakat filantropis , di Amerika ada “Rockefeller centre” dsb. yang membiayai yayasan2 sosial kemasyarakatan dan seterusnya .

    Coba membiayai ‘kesenian’ ya..? jadi orang2 seperti saya nggak “keleleran” hiks..!

  15. aduuuh saya juga ikut mual mas , lihat kasunyatan kek gitu

  16. mas petrus soeratno , semasa saya kecil (duduk dibangku SR/SD) saya juga diajarkan tentang perilaku Nabi Isa atau Yesus yang selalu menjadi suri tauladan dalam hal “kepedulian sosial” diantara umatnya.

    Dimanakah gerangan “contoh” ajaran tersebut bisa saya temui ditengah-tengah “ajaran baru” bagi peradaban manusia Indonesia saat ini?

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara