TauaTauTau

DEMI KEBEBASAN , MENGHALALKAN KEZALIMAN!

Memahami persoalan untuk menyelesaikan permasalahan adalah syarat mutlak yang harus dimiliki oleh setiap orang . Agar kita tidak terjerembab dan terjerumus kedalam ruang kegelapan , atau bahkan ikut-ikutan reaktif berkicau bagaikan hiruk pikuk bisingnya suara di pasar burung .

Merasa tau dan menguasai permasalahan , mengupas secara detail profesi orang lain yang tak ada kaitannya dengan kompetensi diri sendiri. Atau bahkan identitas serta namapun ‘disamarkan’ agar membantu , mungkin supaya masih ada kesempatan untuk “lari” bila tanggung jawab menghampiri. Sekaligus berlindung dibalik kenyataan atas nama tehnologi “blog” yang menawarkan “privasi” yang boleh dilindungi.

Di blog saya yang lain (jsops.multiply.com) ada seorang rekan contact yang memposting artikel berjudul “Demi Kebebasan Membela Kebhatilan”. Setelah membaca artikel tersebut saya terdorong untuk mencari sumber artikel tersebut , dan setelah menemukannya (www.hidayatullah.com) lalu saya copy & paste di ruang ini.

Hanya satu alasan saya memuat artikel tersebut disini , karena tulisan tersebut adalah salah satu “informasi” bagi persoalan besar dihadapan kita semua saat ini . Sebagai salah satu bahan informasi , dia menjadi “sangat penting” untuk melengkapi data didalam isi kepala kita , agar suatu saat kita bisa benar-benar memahami persoalan yang menjadi rujukan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan.

Semoga bermanfaat , salam .

COMMENT ON MULTIPLY

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

8 Responses to “ TauaTauTau ”

  1. mas , bisa terangkan maksud bunyi tulisan :

    “Merasa tau dan menguasai permasalahan , mengupas secara detail profesi orang lain yang tak ada kaitannya dengan kompetensi diri sendiri. Atau bahkan identitas serta namapun ‘disamarkan’ agar membantu , mungkin supaya masih ada kesempatan untuk “lari” bila tanggung jawab menghampiri. Sekaligus berlindung dibalik kenyataan atas nama tehnologi “blog” yang menawarkan “privasi” yang boleh dilindungi.”

    salam hormat

  2. maerlin ,

    Dijaman sekarang ini memang banyak sekali “kerusakan” tatanan hidup yang melanda hampir semua wilayah karena dorongan hidup yang hanya bertujuan mengejar materi , baik formal maupun non formal.
    Orang menjadi saling merugikan dan saling dirugikan kepentingannya bila tidak “sejalan” dengan arus “kepentingan menyembah berhala materi” tersebut .

    Kita semua menjadi “kritis” dan sensitif untuk menjaga “kedaulatan” kita masing-masing , hal tersebut sangatlah wajar dan bisa kita anggap sebagai perilaku “positif” untuk memelihara kualitas hidup kita masing2 juga bukan..?

    Namun, sensitif tanpa kontrol (introspeksi) yang memadai adalah sensitif yang “ngawur” dan hanya akan mem-fasilitasi naluri arogan dalam diri kita sendiri untuk tumbuh subur lalu dengan semena-mena akan men”jugde” hal-hal apa saja yang ada didepan kita , tanpa mampu kita menjaga “konsistensi arah” sebenarnya yang sedang ingin kita capai .

    Kita dengan mudah menjadi “disorientasi masalah” , sebab ya karena ngawur dan “sok tau” tadi.

    Jadi artinya lebih lanjut .., Hasrat hati ingin membantu membenahi persoalan , namun yang terjadi justru memperkeruh permasalahan didalam persoalan itu sendiri.

    Integritas! itulah jawabannya.

  3. buanyyaaaakk banget tuh bung….para “komentator pintar” yang lahir di era kebebasan & reformasi. Sangking banyaknya sampai bingung mana yang waras dan mana yang mbanyol!!!

  4. kacau..nih, saya kemaren sempet ikut2an menghujat fpi kalo gene cerita sebenernya merekalah ternyata yg bener & hrs dibela dunk om..!

  5. @tukangsapu:

    Soalnya jaman dulu nggak ada media untuk “mbanyol” , sekarang media gratis bebas hambatan untuk “ngoceh” tersedia dimana-mana :)

  6. anakbangsa said: kacau..nih, saya kemaren sempet ikut2an menghujat fpi kalo gene cerita sebenernya merekalah ternyata yg bener & hrs dibela dunk om..!

    –> hehe.. jangan ekstrim kiri atau ekstrim ke kanan mas (atau mbak neh?) Selalu ada “nada lain” diantara 3 (mi) dan 4 (fa), (slendro).Seperti juga selalu ada warna yang lain diantara “hitam dan putih”.

    Masalah yang anda sebut diatas , harusnya diselesaikan lewat “dimensi” menangani persoalan yang dibeda-bedakan. Selalu ada “api” yang memercik sebelum “asap” bisa muncul , bukan?

    Karena itu jangan mudah percaya apalagi terprovokasi oleh trompet suara “media”. Selama kita tidak tau… itu trompetnya “setan” atau trompet yang ditiup “Malaikat” .

  7. dibarat ada bla-bla-bla…pemerintah bilang aaa-aaa-aaa tapi rakyat bilang bbb-bbb-bbb
    ditimur ada bla-bla-bla…pemerintah bilang bbb-bbb-bbb tapi rakyat bilang aaa-aaa-aaa
    sementara ada juga yang bilang gosipnya ccc-ccc-ccc

    lalu kita dengerin sapa??? kalo bokap kita anggota pemerintahan otomatis kita percaya pemerintah..tapi kita kan juga anggota dari rakyat..lha terus gimana???

    itulah kegunaan daripada hati nurani..kegunaan daripada menempatkan diri dalam situasi..
    “gimana kalo kita rakyat??? gimana kalo kita rakyat yang sengsara tadi???”

    tiap hari kita disuguhi smua optimisme bahwa esok kita lebih baik,,bahwa esok indonesia bisa maju!!! bahwa besok harga2 turun!! esoknya kita liat ada anggota dewan ketangkap nyuap,,ada menteri korupsi,,harga makin naik!!! kita yang nunggu cuma bisa bilang “DJIANCOK!!!” lalu merenung..”makan apa gw besok??”

    _maaf atas kata2 kotor diatas pak_

  8. AziZou said: _maaf atas kata2 kotor diatas pak_

    –> nggak apa2 ! sekali-kali kata-kata kotor juga diperlukan untuk membangunkan orang yang malas.

    Ketika ekonomi diserahkan pada kekuasaan “pasar bebas” , maka nilai & etika / moralitas “Pasar Bebas”pun menyusup melalui salah satu media industri dengan bebasnya.

    Ketika “filter” kearifan lokal dibuat tak berdaya menyaring apa yang harus disaring , maka sesungguhnya penjajahan imperialisme atas kedaulatan sebuah bangsa sedang berjalan kembali di negeri ini.

    Tak ada pilihan lain selain “melawan” , bila kita ingin menghormati diri kita sendiri . Dan saya terpaksa harus melawan bangsa saya sendiri (sekalipun) , melihat kenyataan bahwa sudah banyak diantara kita sendiri yang menjadi “kaki tangan” penjajahan tersebut .

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara