PAHAM!

Indonesia adalah “pulau Jawa.?” , tentu anggapan tersebut sungguh “sangat jumawa” dan ngawur adanya. Namun memahami sejarah masa lalu dari mulai era Mataram hingga jaman Kemerdekaan , bisa kita telaah secara “garis besar” bagaimana bangsa-bangsa di Nusantara ini menata kehidupannya masing-masing , dan bagaimanakah cara mereka saling berhubungan antar satu dengan yang lainnya.

DI abad XXl ini , peradaban satu masyarakat sangat ditentukan oleh agen-agen perubahannya , mereka adalah masyarakat yang biasa disebut sebagai kaum “madani” atau kelompok menengah (civilization) . Kelompok tersebut adalah kelompok yang terdiri dari orang-orang yang : “sigap bertindak / berpikir progresif dan tangkas dalam mengantisipasi masalah” . Maka , kemudian bisa saja dipahami bahwa kelompok tersebut adalah : “orang-orang usia muda” atau sebut saja pemuda. Meskipun bukan berarti bahwa usia “tua” tidak layak disebut kaum menengahnya , namun semuanya bergantung kepada “bagaimana” pola berpikir masing-masing individu tersebut menyertainya.

Dari kacamata pragmatis , persoalan ekonomi / kesejahteraan satu bangsa harusnya dapat diatasi melalui cara-cara yang runut berdasarkan “istilah” arah aliran mata air Hulu sungai menuju muara , yang sebelum sampai kesana selalu melewati sektor-sektor “hilir” nya . Analogi berpikir sederhana tersebut akan sangat membantu ketika otak kita dibuat pusing tujuh keliling untuk menentukan bagaimanakah sebaiknya memutuskan satu perkara bagi “skala prioritas” pembenahannya.

Melihat kenyataan yang ada diatas , bila itu benar atau kalau itu memang “sumber” permasalahan sebenarnya. Maka saat ini ada dua persoalan besar yang sedang kita hadapi bersama. Yang pertama adalah masalah sumber daya manusia dalam konteks (wujud) masyarakat madani dan yang kedua adalah aplikasi kesejahteraan yang harus ditangani dengan lebih benar. Bukankah begitu..? maaf.. saya sok teu…tapi..yo wis…alias yo ben!

Saya coba memulai dahulu dari masalah yang kedua , yakni masalah ekonomi bagi kesejahteraannya .

Semua tentu sepakat bahwa ‘hukum’ adalah sarana penopang (aturan) untuk melancarkan berjalannya sebuah sistem yang telah disepakati. Artinya , tidak ada gunanya meributkan masalah hukum bila sistem kerja bagi manusianya sendiri belum terbentuk dengan tepat / mendekati sempurna. Lalu mari kita lihat “peta” hulu hingga sampai muara sungai yang tampak kasat dimata tersebut . Kembali pada awal kalimat di artikel ini “Indonesia bukanlah pulau Jawa” . Benarkah demikian? atau dimanakah kekeliruannya..?

Dalam “hal tertentu” bisa saya pahami sebagai berikut:

* Siapakah gerangan (secara detail) kelompok masyarakat kita yang berkatagori “miskin absolute”. (menggunakan parameter universal) seperti rentan bisa makan dan rentan penyakit & pelayanan kesehatan dsb.
* Siapakah gerangan (secara detail) kelompok masyarakat yang secara ekonomi sangat tergantung dengan faktor eksternalnya (globalisasi dsb)
* Siapakah gerangan (secara detail) kelompok masyarakat kita yang berhadapan langsung serta lebih menentukan sistem pemerintahan Negara-nya .

Untuk urusan perut bagi hidup rasa-rasanya dengan berbekal 15 ribu rupiah , guna melewati hitungan 24 jam sehari saya masih bisa mencukupi kehidupan yang layak bila saya tinggal di daerah-daerah diluar pulau Jawa , misalnya. Sebab segala kebutuhan yang diperlukan (makan dll) harga2 bahan pokok tertentu yang murah dengan mudah masih bisa kita temui. Apalagi tuntutan biaya hidup tinggi yang diakibatkan oleh konsekwensi modernisasi belum terlampau jauh menyentuh / menjarah isi kantong kita . Bandingkan nilai tersebut bila kita gunakan di pulau Jawa (apalagi di kota2 besarnya) . Sampai disini saja bisa kita temui definisi yang berbeda tentang standar “kesejahteraan” bagi hidup , yakni.. tergantung pada kebutuhan bukan ?..huh

Logika sederhana menuntun cara berpikir bahwa “sistem ekonomi kerakyatan” masih berjalan dengan baik di hampir sebagian besar wilayah diluar pulau Jawa , itu intinya. Yang bisa saya simpulkan bahwa , seandainya ekonomi Negara (di pulau Jawa) “bangkrut” sekalipun , maka saya masih yakin hal tersebut tidak akan berpengaruh signifikan bagi kehidupan masyarakat di daerah-daerah diluar Jawa.

Jadi , “Indonesia adalah pulau Jawa?” … dalam perspektif tersebut saya bisa mengatakan “ada benarnya” .Yang maksudnya adalah : menangani masalah kesejahteraan bangsa Indonesia secara keseluruhan memang harus dimulai dari urutan “hulu” yang notabene adalah problem di Pulau Jawa. (catatan: pulau Jawa bukan berarti “hanya” masyarakat etnis dari Jawa)

Tidaklah mungkin bisa saya tulis satu demi satu “persoalan” ekonomi tersebut disini, bukan..? (nenek2 juga tau..!) Pertanyaan berikutnya adalah , bagaimana caranya memberdayakan berbagai hal agar problem pulau Jawa teratasi . Nah.. saya kembali ke urutan pertama diatas , yakni pada kelompok masyarakat madani-nya .

Sejarah “hitam” masa lalu bukan dijadikan bekal ilmu untuk menata masa depan agar lebih baik dari sebelumnya. Namun menjelma menjadi “trauma paranoid” untuk menemani “alasan-alasan” serta legitimasi pembenaran bagi masuk dan diterimanya paham “liberal” atas nama demokrasi dan berbagai alasan demi kebebasan. Akibatnya generasi pasca reformasi “terkesan” lebih banyak yang “missing link” dengan persoalan bangsanya sendiri dibanding dengan yang ingin membenahinya . Jumlah kelompok tersebut menjadi seolah-olah signifikan sebab kelompok mereka-lah yang saat ini menguasai dan mengendalikan berbagai mesin-mesin rekayasa budaya bagi masyarakat secara keseluruhan (baca:tehnologi dan industri)

Jadi pada akhirnya , saat ini yang dibutuhkan oleh Indonesia adalah sebuah “konsep” atau gran design bagi pembentukan kelompok menengah yang berkiblat dan berpihak untuk kesejahteraan bangsanya sendiri , bukan menjadi modern dan meng-global namun untuk mengabdi pada kepentingan bangsa asing.

Pertanyaan saya yang terakhir…, bagaimanakah membenahi kondisi masyarakat “madani” ? Benarkah dia bisa diciptakan oleh sebuah “kehendak” ? Ataukah memang dia adalah makhluk tak tersentuh yang tak bisa di campur tangani ?

Saya cuman seniman … nggak ngerti bagaimana soal mengatur managemen negara dan sebagainya.., paham kan!

COMMENT ON MULTIPLY

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

8 Responses to “ PAHAM! ”

  1. Sayang semakin langka seniman yang sekritis sampeyan bung!
    Teruslah menulis tanpa gentar!!

  2. Paham mas Yokie!!

  3. @ibrahim : kayak tanaman aje mas..hehehe :)

  4. @ mas Askari : paham juga ya mas…hehehe!

  5. mas JSOP , sekarang ini lagi ramai parpol mencari selebritis/artis untuk ditawarkan jadi pemanis politik. Berminat mas?

  6. hehe..partisipasi saya menjadi bagian dari “masyarakat panelis” aja mas . Saya nggak punya bakat “baris berbaris” , apalagi pake baju seragam baru , seragam lama saya sarungan aja :)

  7. konsekwensi modernisasi gak cuma menjarah isi kantong kita aja, mas, tapi juga merampok harta kekayaan alam kita. Plus nurani kita juga kali ya?

  8. Sebab modernisasi hanya dipahami sebatas “sensasional obyek” , mas
    Yang diburu hanya yang “terlihat” , maka ketika terasa “pahit” dilidah….semuanya sudah terlanjur dilakukan.

    Menjadi semakin meyebalkan ketika kita semua tidak belajar dari “kekeliruan” yang silam , namun cenderung “enjoyed” dengan kesalahan tersebut .

    Bukan golongan keledai lagi .. yang sering berperilaku serupa..

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara