Refleksi 17+

Sabtu tanggal 11 Agustus tengah hari dengan menggunakan Garuda Indonesia saya mendarat di Lapangan Udara Adi Sutjipto Jogyakarta. Sekeluarnya dari ruang kedatangan saya harus menunggu beberapa saat untuk menanti datangnya panitya Netpac / Jaff atau sebut saja Festifal film Asia Pasific .

Ternyata penjemputan saat itu berbarengan dengan dua orang juri festival tersebut dari mancanegara , salah satunya bernama Dorothee yang datang bersama seorang temannya seorang pria dari Belanda. Kami bersama-sama langsung menuju kesebuah rumah makan untuk lunch bersama .

Kehadiran saya sendiri di kota tersebut adalah untuk mewakili undangan panitya kepada kelompok Kantata Takwa yang filmnya akan dijadikan film pembuka bagi digelarnya festival tersebut , tepatnya di Balai Taman Budaya . Selanjutnya akan saya persingkat saja cerita ini agar tidak bertele-tele seperti orang sedang curhat cinta.

Seperti lazimnya acara selalu didahului dengan kata pembuka oleh ketua Panitya yang berwenang , yaitu oleh mas Budi (walahh..saya lupa nanya nama panjangnya..jadi maafkan saya) Selanjutnya salah satu sutradara film Kantata pun didaulat untuk ber-sepatah kata.

Gotot Prakosa , pada intinya menjelaskan bahwa film ini dikerjakan secara bahu membahu bersama Erros Djarot dan Slamet Rahardjo ,serta tidak ada salah satu dari mereka yang berhak meng-klaim bahwa karya film tersebut adalah hasil karya miliknya sendiri . Film tersebut adalah milik semua orang yang terlibat berpartisipasi dan memberikan kontribusinya walau sekecil apapun , demikian inti dari kata sambutannya yang dapat saya tangkap. Bahkan dikatakan juga bahwa baginya film tersebut masih belum selesai ..! , saya sempat tercenung mendengar statement “belum selesai” tersebut…( gile’ cing…udah mau sembilan blas ta’on masih dibilang blom selesai juga..?) hehehe…!

Tetapi kalimat tersebut akhirnya saya pahami setelah dijelaskan langsung pada saya bahwa proses audio dari stereo menjadi quadrophonic yang belum dilakukan , sehingga suara / audio secara keseluruhan belum dianggap sebagai tugas yang telah dituntaskan secara optimal dan maksimal.

Saya sendiri diberi kehormatan untuk menyampaikan sepatah dua kata , dan langsung secara singkat saya utarakan rasa keharuan saya yang mendalam atas kerja kreatif bersama-sama tersebut. Kerja kesenian ini adalah satu “catatan besar” tersendiri dalam perjalanan hidup saya sebagai seorang seniman / pemusik . Sebuah proses kreativitas (kolaborasi) yang melibatkan tiga unsur disiplin kesenian yang berbeda , yakni Musik , Teater dan kelompok Sineas / film. Terlebih lagi kami disana berkesenian menyuarakan “say NO” pada kaum penguasa otoritarian yang selama puluhan tahun menindas hak-hak dan kebebasan .

Ya .. itulah inti dari suara Kantata Takwa , to Say NO!

Melihat adegan dan gambar demi gambar , tanpa saya sadari ada yang terasa berat membebani kedua kelopak mata saya , walaupun tayangan tersebut sudah lebih dari dua kali saya menontonnya . Namun saat itu jelas berbeda rasanya , sebab saya merasakan “vibrasi / getaran” yang muncul dari berbagai orang-orang yang sedang menonton di sekeliling saya sendiri .

Jelas bukan getaran “haru” karena sedang fall in love ataupun patah hati karena cinta , namun getaran rasa “tidak rela” melihat kenyataan yang terjadi “HARI INI” , bahwa inilah hasil yang telah dicapai setelah proses “say NO” tersebut turut kami suarakan secara masal bersama berbagai kelompok masyarakat yang lainnya disaat itu.

Kami memulainya semenjak tahun 1989 dan reformasi terjadi di tahun 1989 (koreksi: 1998) …. kini 10 tahun kemudian (2008) inilah yang terjadi . Jelas bukan reformasi seperti “ini” yang diinginkan oleh semua orang disaat itu . Jelas bukan hanya sekedar pergantian kepemimpinan namun tetap melahirkan cara-cara yang manipulatif untuk menipu serta membodohi rakyatnya terus-terusan.

Airmata yang menggenang seolah menjadi representasi “beban” , karena terdesak untuk harus turut bertangung jawab memikul beban konsekwensi “kerusakan-kerusakan” baru , setelah era Reformasi digulirkan.

Sesampainya kembali di Jakarta , saya utarakan rasa “beban” tersebut kepada semua teman-teman yang terlibat dalam Kantata Takwa . Rendra mengatakan : Sudah saatnya merebut kembali cita-cita yang telah diselewengkan dan mengembalikan kedaulatan Negara kepada tangan rakyat yang sebenarnya.

Sayapun merindukan , semoga bisa jadi catatan yang baik beserta semua orang yang berkeinginan menyelamatkan Bangsanya . Mari kita sambut 63 tahun Peringatan hari Kemerdekaan Negara Republik Indonesia dengan kesadaran bahwa “jangankan melanjutkan reformasi , revolusi saja belum selesai.!”

Merdeka Bung!

COMMENT ON MULTIPLY

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

8 Responses to “ Refleksi 17+ ”

  1. Mass… bukanya 10 tahun yang lalu itu tahun 1998… bukan 1989… sorry cuma bisa protes….

  2. betul pakde, perjuangan belum selesai

  3. soesheila said: Mass… bukanya 10 tahun yang lalu itu tahun 1998… bukan 1989… sorry cuma bisa protes….

    –> betul mas , reformasi itu tahun 1998 (10 tahun yang lalu) , tetapi “say NO” sudah kami mulai semenjak 1989 di Stadion Utama Senayan.

    Artinya Kantata Takwa adalah reformasi pikiran , 10 tahun sebelum “Reformasi” fisik terjadi . Serta disaat jaman represif itu sendiri masih berlaku!

  4. @hedi: ternyata masih sangat panjang proses yang harus dilalui dan berbagai masalah yang harus diselesaikan , untuk bisa dikatakan kita sudah “merdeka” , ya mas

  5. Rasanya selama ‘rintangan2 mental’ yang dimiliki bangsa Ind…yang tertuang dalam bukunya Alm. Kuntjaraningrat (1974) & Mochtar Lubis (1977) belum bisa diatasi….yakin se-yakin2nya bangsa ini akan tetap jalan ditempat.

  6. begitu ya mas..

  7. Kebetulan sekali saya menjadi saksi dari dua kejadian Senayan tersebut. Pertama, menjadi saksi saat Kantata Takwa manggung di Istora Senayan. Kala itu saya masih bercelana pendek alias masih esempe. Kedua, menjadi saksi saat mendatangi Gedung DPR/MPR Senayan menjelang kejatuhan Tuan Jendral. Kala itu saya telah siap menjadi calon Sarjana Arsitektur dan tengah menulis skripsi.

    Benar sekali. Bila dua kejadian penting tersebut, ternyata hanya melahirkan hari ini. Maka perlu kerja baru, skenario baru, untuk mencapai kebangkitan yang lebih baru. Reformasi sudah selesai dan harus dibukukan sebagai perjuangan yang gagal.

    Saya masih ingat satu syair dalam Samsara yang berkata…

    Aku tanamkan benih hidup
    Aku sirami dengan doa
    Tumbuh tumbuhlah pohon kehidupan
    Mekar mekarlah bunga harapan

    Burung terbang menelan bintang
    Dingin mencekam menakutkan
    Bunga bunga api menari nari
    Waspada waspadalah pancaroba

    Hari baru telah datang
    Bunga bunga masa depan
    Telah datang perubahan
    Bintang bintang anak zaman

    Dan saya masih menunggu, kapankah saat itu tiba…

  8. Anak Jaman , ya mas.. sayang lahirnya prematur

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara