Ke-GR-an

Di jaman yang semakin rumit karena perilaku orang-orangnya yang juga semakin tak mengabaikan berbagai etika / aturan . Jaman dimana kehidupan ber-bangsa semakin kehilangan arah & tujuan , ternyata semakin banyak lahir oportunis transaksional yang terdiri dari orang-orang yang ke GR an.

Mereka adalah orang-orang yang notabene kehilangan lapangan pekerjaan , atau paling tidak lahan bisnisnya yang dianggap semakin terancam dan tidak lagi “menjanjikan” , diterjang berbagai krisis yang tak berkesudahan .

Bisnis mencari nafkah dan mengumpulkan uang , yang dianggap masih menguntungkan adalah bisnis menjadi politisi jadi-jadian atau politikus karbitan.

Lihatlah betapa ramainya orang-orang yang selama perjalanan profesinya , saya kenal tak pernah bersentuhan dengan masalah sosial kemasyarakatan ataupun kemiskinan , tiba-tiba , sekonyong-konyong dan mendadak sontak berkhotbah serta merasa paham dan tau tentang bagaimana caranya untuk menyelamatkan kondisi bangsa dan negara.

Bagaimana mungkin masih ada orang yang tidak punya “rasa malu” atau bahkan sekedar “risih” sekalipun dijaman yang seperti ini . Selama sekian tahun lamanya ke-profesian mereka yang hanya mengabdi pada industri pragmatis hiburan , dan hanya ber-urusan dengan kelompok pemodal serta segelintir kalangan elite yang sekedar membutuhkan “acara-acara klangenan” … kini setelah posisi “panggung-gemerlap” mereka terusik dan digantikan oleh mereka yang ber-usia lebih muda , sehingga mau tak mau terpaksa harus rela kehilangan “lahan nafkah” nya , maka beramai-ramailah mereka mencalonkan diri sebagai “wakil rakyat” dan menganggap “tau” persoalan yang membelit 240 juta’an lebih kemelut problem bangsa Indonesia .

Tau apa mereka tentang “tantangan global” yang harus disikapi dengan ketahanan lokal , padahal profesinya selama ini hanya sebagai pengisi acara hiburan profesional yang berorientasi ke barat-baratan.

Tau apa mereka tentang problematika ekonomi bangsa , bila rekam-jejak mereka tak pernah bersentuhan dengan keterpurukan “ekonomi-kerakyatan” bangsanya sendiri.

Tau apa mereka tentang “kedaulatan pangan” , bila yang mereka konsumsi selama ini ibarat makanan yang selalu dihidangkan diatas piring mangkuk bertahta ukiran berbagai logam yang menyilaukan.

Tau apa mereka tentang politik , bila tak pernah bersinggungan dengan “keringat” kaum yang di marginalkan. Artis-Artis itu sungguh tak tau diri dan tak punya rasa malu bahkan kepada dirinya sendiri , menyedihkan..dan hari ini ketika mereka tampil diberbagai televisi … sudah menjelma: memuakkan!

Bangkitlah Garudaku..! singkirkan kutu-kutu busuk yang menghisapi darah dari urat nadi sayapmu!

17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2008 , Enam puluh tiga tahun usiamu “IBU” , walau masih koyak kebaya yang kau kenakan , walau masih lusuh singgasana yang bisa dibanggakan , aku tetap cinta padamu hingga detik akhir hayat dikandung badan.

Dirgahayu Indonesiaku.

COMMENT ON MULTIPLY

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

9 Responses to “ Ke-GR-an ”

  1. Hallo mas Yokie,

    Tapi toh masyarakat masih menganggap bahwa figur yang mereka lihat sehari-hari dalam panggung hiburan dan kemudian menjelma untuk menjadi seorang politikus toh sebagaian ada yang berhasil akibat dari ketenarannya bukan?.

    Dari obralan ibu-ibu dan bpk2 di angkot yang sempat saya simak (tepatnya di Bandung), bahwa Gubernur & wakil gubernur Jawa Barat saat ini tidak terlepas dari ketenaran salah satu tokohnya..

    Saya sendiri tidak paham apakah benar karena saya tidak punya penelitian akan kecenderungan memilih kandidat akibat ketenarannya di TV sebagai entertainer.

    Minggu lalu, pemilihan walikota Bandung juga masih menempatkan orang lama yg sebelumnya sudah menjabat 1 periode. Entah karena ketenaran beliau atau bagaimana..

    Padahal salah satu kandidat calon walikota di sana juga sangat saya yakini akan kapasitasnya untuk dapat memimpin malah kalah, apakah karena mesin uang masih berjalan sehingga suara dapat dibeli tanpa adanya pertimbangan kemakmuran.

    Ah terlalu naif saya, hanya seorang karyawan yang tidak memiliki kapasitas apa-apa..

    Salam

  2. Hallo mas Askari ,

    Sebelumnya “agar digaris bawahi” , bahwa saya tidak sedang mem-permasalahkan hak-hak individu setiap orang untuk menentukan “profesi” nya.

    Namun profesi “ber-politik” bukanlah profesi seperti dalam “industri/ekonomi” yang halal dan sah menggunakan kaidah2 popularitas dan ketenaran sebagai persyaratan semata . “Political Substance” adalah menata aturan dan menciptakan kesepakatan-kesepakatan yang bisa mewakili kepentingan hajat hidup bagi orang banyak.

    Seorang yang “famous” secara budaya (artis misalnya) bisa saja menjadi pelaku mesin “regulator” bagi masyarakatnya , selama ybs. memiliki integritas dan loyal kepada nasib rakyatnya yang tertindas disepanjang kariernya sebagai “pesohor” , misalnya.

    Setelah integritas bisa dipertanggung-jawabkan barulah kompetensi bidang keahlian yang spesifik serta kapabilitas yang memadai dibutuhkan .

    Yang paling terakhir barulah…. popularitas yang mereka miliki sebagai entertainer / penghibur dari dunia ke-artisan boleh dianggap sebagai faktor “pelengkapnya” .

    Di Negeri ini , dari kondisi dunia per-politikan / hukum / sosial budaya dan lain-lainnya yang masih “compang-camping” , sudah “MUTLAK” membutuhkan penanganan2 yang serius dari seluruh “agen2 perubahan” yang sesungguhnya , yang bisa membawa negeri ini terhindar dari bencana “The Failed State”.

    Agen-agen perubahan dalam perspektif saya saat ini adalah “menyatunya” seluruh agen2 yang mengusung simpul-simpul permasalahan Bangsa di seantero Nusantara ini , sehingga benar2 bisa diurai dengan baik , disepakati lalu dituangkan dalam sebuah “rencana” berjangka panjang yang juga tertata dengan baik. Bukan sekedar melengkapi kebutuhan “proyek” per lima tahunan .

    Jelas itu bukan sebuah bidang profesi / pekerjaan yang bisa ataupun boleh dibebankan diatas pundak seseorang yang sepanjang kariernya hanya sebagai “pengisi acara hiburan” semata.

    Rakyat Indonesia terus-terusan ditipu dengan rujukan2 yang manipulatif menyesatkan. Dibodohi sepanjang masa , tak pernah dibangkitkan “daya kritis” dan “daya-gerak”nya sendiri. Selain hanya dijadikan barisan “masa partai” yang bisa diatur oleh “mimpi2″ yang dianggap menakjubkan.

    Sekali lagi mas, ini bukan masalah “hak” azasi untuk boleh/tidaknya memilih sebuah profesi . Namun sebuah “pertaruhan” tentang meletakkan sebuah “etika” yang mendasar , sebuah persyaratan mutlak yang harus diterapkan , untuk digunakan sebagai landasan bagi kita semua menjalani sistim ber-masyarakat.

    Saya tidak anti artis menjadi politikus , namun akal sehat saya menolak untuk bisa menerima , bila dihadapkan pada kenyataan , ada sebuah arena pacuan yang melibatkan seekor “katak” harus mengisi ruang balapannya dengan melawan lajunya “kuda”.

    salam.

  3. saya hanya bisa diam,dan mengomel dalam hati:”sialan!”…menjinjikkan.Kasihan bangsaku ini.

  4. Kapan mau lepas landasnya … kalau cuman taxi terus di appron . Ibarat sepur dia cuman langsir terus , kagak berangkat2 :(

  5. Kapan mau lepas landasnya … kalau cuman taxi terus di appron . Ibarat sepur dia cuman langsir terus , kagak berangkat2

    lha ya…bangsa kok mundur,gak maju-maju!

  6. maju selangkah juga sih mas.., namun setelah itu , beringsut mundur tiga langkah .

    Artinya setiap periode…kita “minus 2 langkah”

    Tinggal dihitung saja 63 tahun dibagi 2 = 31.5 tahun . Kita seolah-oleh menikmati Kemerdekaan (makmur / gemah ripah loh jinawi /tentrem kerto rahardjo dsb..dsb..) 32 tahun (jaman ORBA)

    Setelah ORBA tumbang (32 tahunan) , maka mimpipun usai….Dan kita semua sekarang bagaikan gerombolan manusia pra sejarah yang baru keluar dari hutan rimba …dan terkagum-kagum melihat peradaban kota-kota di Dunia.

    MIMPI dan TIDUR SIANG KITA TERLALU LAMA !

  7. Nahh…kalo salah satu pemimpinnya ngomong gini gimana mas ???

    http://www.detiknews.com/read/2008/08/12/230008/987512/10/kalla-indonesia-sudah-maju-kuat

    Pemimpin pa Pemimpi yahhh ??
    Perasaan segala yang over ga bagus deh…
    Pa lagi Over Confidence gitu…
    Mo dibilang NAIF, kok ya pemimpin……hayahhhh….

  8. hehe.. nanti saya akan tulis artikel terpisah sendiri mengenai definisi “maju” dan “sejahtera” yang saya pahami berdasarkan “tafsir” yang tertuang dalam KEDAULATAN BER-BANGSA seperti yang terusung dalam ideologi PANCASILA.

  9. Wah…saya jadi meng-ngira2 siapa ya orang yg dimaksud itu yg pengen jadi wakil rakyat ?
    Tugas wakil rakyat kan… berat, bikin UU, me-review anggaran negara, ngawasi pemerintah, nunjuk pejabat BI, MA, Panglima TNI, POLRI, dll…..wah berat deh…tanggung jawabnya.
    Sebenernya jadi caleg apa gak ada uji kepatutan/kelayakan-nya sih…? udjug2 si Polan , si Badu siap dipilih rakyat. Ini memang sulit dipahami, lha wong mau masuk jadi PNS aja melewati rangkaian ujian.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara