Dirgahayu 63

DIRGAHAYU .., harus terucap walaupun dengan bibir yang terasa berat .

Pagi tadi pukul 10.00’an bertempat di Bengkel Teater WS.Rendra saya bergabung dengan sekian banyak orang yang tak berpangkat , tak menduduki jabatan , tak berperan dalam hingar-bingarnya berita di koran-koran dan bahkan mungkin saja tak memiliki kartu nama sebagaimana layaknya dijaman ini , dimana semua orang hampir bisa dipastikan menyimpannya dikantongnya masing-masing untuk siap-siap dibagikan.

Dirgahayulah engkau , begitu aku bergumam ketika menatap kain setengah lusuh berwarna merah putih yang merangkak di-kerek dari batang pohon kelapa satu ke pohon kelapa yang lain disebelahnya. Tak ada tiang bendera yang dipersiapkan untuk menghormati acara Peringatan Kemerdekaan , namun pepohonan tepat didepan ruang “kolong” pertemuan dikediaman mas Willy lah yang menggantikan fungsinya .

Hening beberapa saat ketika Sang Saka Merah Putih yang bersahaja tersebut berhenti dipucuk batang tertinggi pohon kelapa yang satunya . Entah …apa saja perasaan yang ada didalam benak semua orang ketika itu. Tidak tampak wajah-wajah yang menyiratkan “call” bahagia , namun tak nampak juga raut muka yang sedih yang seolah sedang bermuram durja .

Aku sendiri terpaku berdiri tak bergerak sambil mencoba mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang sekonyong-konyong datang bertubi-tubi memenuhi rongga benakku.

Dia “Merah Putih”ku yang bisa berkibar diangkasa selama 63 tahun lamanya , jelas karena perjuangan secara “politik” yang dilakukan oleh para pendahuluku sebelumnya . Jelas pula bahwa politik bukan mahkluk yang “hina” apalagi menjijikkan yang harus dihindari apalagi dimusuhi .

Namun mengapa .. kemuliaan tersebut kini berbalik menjadi “kenistaan” yang hampir dibenci oleh setiap orang ketika sering aku ingin membicarakannya ? Seolah dia adalah “bau busuk” yang menyengat setiap hidung kita , bahwa seolah dia adalah “setan iblis” yang jahat durjana.

Ketika Kemerdekaan selama +/- 53 tahun lamanya tak juga memberikan kesejahteraan yang dijanjikan.
Ketika Kemerdekaan selama itu tak juga melindungi Keadilan yang harus ditegakkan . Dan ketika “lapar” semakin menjadi ancaman bagi kehidupan . Adakah pilihan lebih baik dari yang sudah ditawarkan..?

Reformasi tidak memberi ruang dan waktu yang cukup bagi kita berpikir dan menata berbagai aturan . Reformasi telah memaksa kita memasuki ruang arena “pacuan global” yang tak seimbang . Dan Reformasi telah memberi peluang pada kelompok petualang “politik” , yang berakibat menodai kemuliaan politik itu sendiri.

Bagiku politik adalah alat komunikasi , media untuk menjembatani kepentingan rakyat agar sampai pada kuping para wakil-wakil yang dipilihya (politisi)  dan akhirnya politik mampu menuangkannya dalam sebuah “kehendak” yang disebut aturan , atau HUKUM yang harus diberlakukan .

Pasca Reformasi , saat rakyat menuntut berbagai janji kesejahteraan …
Apa yang bisa mereka lakukan ketika perut mereka lapar?
Apa yang bisa dilakukan ketika anak kita merengek minta sekolah apalagi makan?

Dan apa yang akan mereka harapkan nanti , ketika janji-janji para politikus sudah tak mereka percayai lagi? Apa artinya bila lembaga saluran aspirasi rakyat yang disebut PARTAI semakin tak berfungsi untuk mewakili suara rakyatnya itu sendiri?

Rakyat lebih percaya kepada mereka yang secara konkrit memberinya makan .
Rakyat lebih percaya kepada mereka yang memberinya kaos ataupun lembaran puluhan ribu rupiah untuk mencoblos berbagai tanda gambar , itulah faktanya.

“Sesederhana itukah persoalanmu…wahai Merah Putihku yang berkibar dipohon kelapa…”

Sebuah tatanan ber-Negara yang demokratis , secara konstitusional haruslah selalu menggunakan mekanisme partai politik sebagai alat / mesin perangkat kerjanya , namun bagaimana mungkin mesin-mesin tersebut mampu bekerja bila tidak didukung oleh konstituennya sendiri?

Hari ini 63 tahun Kemerdekaan Indonesia…. 10 tahun setelah Reformasi , mesin-mesin tersebut telah tergadaikan ketangan kepentingan para pemilik modal . Tak peduli darimanapun dia berasal . Tak peduli lagi milik bangsa sendiri ataupun mengabdi pada modal milik bangsa asing. Yang penting modal tersebut mampu menutup mulut-mulut yang sedang berisik berteriak-teriak protes di jalanan , sambil sesekali memberinya makan , atau bahkan mereka yang cukup bahagia karena mimpinya ingin bersanding , berjabat tangan dengan idola-idola pujaan hasil industri hiburan bisa terlaksana .

“Sesederhana itukah persoalanmu…wahai Merah Putihku yang berkibar dipohon kelapa…”

Mengelola sebuah Negara yang Merdeka direduksi layaknya mengelola korporasi . Bila demikian…bukankah para pemodal-pemodal itu yang akan berkuasa dan berhak menentukan segala-galanya atas nama Negara? Lalu dimanakah posisi rakyat yang disebut sebagai “stakeholder”nya ?

Ternyata memang kita belum merdeka!
Karena sebab itu kami akan tetap lantang “say NO!”

COMMENT ON MULTIPLY

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

10 Responses to “ Dirgahayu 63 ”

  1. Orang-orang harus dibangunkan lagi,kenyataan harus dikabarkan lagi!!!

  2. Orang2 bisanya hanya ngomong dan janji2 aja..gombal bang!

    PERJUANGAN ADALAH PELAKSANAAN KATA_KATA………….
    (disadur dari lirik lagu Paman Doblang-Kantata Takwa)

    Merdeka!

  3. Bilakah makna Merdeka tak berjarak lagi dengan cita cita..???

  4. Secara umum tulisan sampean koq ya mirip dg dialog antara radio Delta FM dg Rosihan Anwar tgl 18 Agst 2008 yg kebetulan saya setel sore hari. Cuma wartawan senior tsb menambahi pada akhir wawancara : “…saya bersyukur negara yg namanya Indonesia ‘masih ada’ ………….”
    Ah…saya tersenyum getir.

  5. @mas Indrayana : Koq baru sekarang ya , beliau menyinggung masalah tersebut . Sedangkan saya yang jauh lebih muda saja sudah “cerewet” tidak kurang dari hitungan 8 tahun yang lalu :(

    Nggak ada yang mau denger .. “kuno” dan omongan “orang jadul” katanya ..

  6. @turi : anda juga dong …sekarang ikut ngebangunin orang2 juga.

  7. anak bangsa said:

    Orang2 bisanya hanya ngomong dan janji2 aja..gombal bang!

    PERJUANGAN ADALAH PELAKSANAAN KATA_KATA………….
    (disadur dari lirik lagu Paman Doblang-Kantata Takwa)

    Merdeka!

    –> makanya harus disumpel “gombal” juga bung mulutnya..hehehe

  8. dagudagu said: Bilakah makna Merdeka tak berjarak lagi dengan cita cita..???

    –> bila sudah Merdeka mas :)

  9. mas, pa kbr???
    mau tanya nih mas, apa hakekat merdeka buat mas jocky?

  10. Hakekat Merdeka bagi saya mas? ya..ber “DAULAT” secara mutlak.

    Secara hukum : saya tunduk dan hanya patuh oleh hukum yang diatur berdasarkan paradigma sosio-kultural masyarakat bangsa-bangsa saya sendiri.

    Secara ekonomi : saya bekerja dan mencari nafkah tidak untuk kepentingan ekonomi bangsa lain .

    Secara budaya : saya berkewajiban untuk menjaga tata-nilai dan etika yang turun menurun diwariskan oleh para pendahulu saya .

    Secara politik : (saya harus melawan) Tidak boleh ada kepentingan asing apapun juga , yang berakibat “merugikan” tatanan “solidaritas” (sosial/hukum/ekonomi/budaya) diantara saya dan masyarakat saya sebagai sebuah Bangsa yang ber-daulat.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara