Hikmat Puasa

Sudahkah anda tidak ber-Suudzon pada saya , atau sudahkah kita Khusnudzon pada orang yang lainnya . Bagaimana meletakkan dua kalimat bermakna “menduga” tersebut agar tetap berada diposisi yang semustinya ?

Ada orang yang dengan sengaja menebar benih prasangka , buruk maupun prasangka baik sebagai muslihat guna menerapkan pola dan strategi ,  agar tercapai segala keinginan dan kehendaknya sendiri .

Niat baik menjadi “relatif” ketika dua hal tersebut diatas hanya dijadikan “media” /  “cara” bagi satu tujuan.

Apakah selama ini ada yang ber-suudzon pada saya…? wallahualam , apakah saya masih sering ber-suudzon pada anda ?

Ya Allah….ampunilah saya  .

About the Author

Bukan jurnalis bukan pejabat bukan juga politikus apalagi tentara....wong cuman seniman. Ibarat cermin bagi elok rupa maupun cermin bagi buruk rupa. Jangan membaca tulisan saya bila tampilan buruk rupa anda enggan dibaca.

2 Responses to “ Hikmat Puasa ”

  1. Seharusnya tidak perlu bersuudzon sama njenengan mas.Lha wong sudah buka2an transparan sampai tidak ada lagi yg di-tutup2i..kekeke.

    salam

  2. Ya itulah…mbak , kalo masih su’udzon juga sih keterlaluan..hiks nyatanya baru2 ini masih ada tuh yang su’udzon sama saya .
    Musti mandi kembang tujuh rupa kali ya?

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara