Kalut bin Panik

Bedanya tugas pemimpin dan orang yang dipimpin acapkali ‘dibuat’ membingungkan . Konon hal tersebut berlaku dan terjadi dalam sebuah komunal masyarakat yang sedang getol-getolnya mengoprek-oprek ‘mainan baru’ yang namanya demokrasi . Benarkah itu mainan baru?

Ilustrasi yang paling mudah digunakan adalah bak berlayarnya sebuah kapal induk raksasa di samudra luas. Sebutannya saja sudah kapal induk , artinya bisa dipahami bahwa semua kegiatan ada disana . Dari mulai masak memasak , dunia percintaan sampai alat-alat mekanisme pertahanan bagi perlindungan seluruh awak dan warganya .

Disuatu ketika ada sebuah kapal induk besar yang tengah oleng sempoyongan mengatasi fungsi dan tugasnya melayani semua kegiatan diatas . Dari mulai problem bahan bakar mesin yang semakin menyusut , sehingga kapal besar tersebut harus pandai-pandai memilih jalur pelayaran untuk menghindari serbuan dan terpaan badai lautan . Bahan persediaan makanan yang semakin menipis , kebocoran-kebocoran di palka yang sudah menuntut harus “naik dock” atau tidak bisa lagi ditambal sulam dengan penanganan yang bersifat darurat emergency . Persenjataan yang semakin tidak memadai bila tertumbuk berhadapan dengan kelompok bajak laut dan sebagainya . Begitulah sepertinya analogi mendasar yang tersimpulkan tentang kapal induk besar tersebut .

Namun ada satu hal yang paling menarik , yang bisa kita lihat dan cermati bersama sebagai bahan renungan masing-masing .

Tidak berfungsinya hirarki managemen yang solid dan baku untuk membedakan tugas pemimpin dan warga kapal yang harus dipimpin . Dalam keadaan ‘kalut dan panik’ semua orang diatas kapal tersebut menggunakan azas saling kontrol atas nama ‘demokrasi’ untuk saling mengkritisi kebijakan masing-masing “ABK” nya bahkan sampai kepada kaptennya sendiri .

Mengapa harus menjadi kalut dan panik , itulah pertanyaan yang selalu sulit bagi mereka semua guna menemukan pangkal / asal muasal penyebabnya .

Sementara itu terdengar bunyi : tit…tit..tititit..titit…tit.tititit….titit..titititit…..titit….tititititititttt….., nyaring dari balik pintu ruang oparator yang mengendalikan komunikasi radio , morse . Bunyi morse tersebut bermakna “nasehat” dan perintah-perintah dari daratan yang harus dilakukan oleh seluruh warga diatas kapal induk tersebut agar bisa selamat dan tidak karam ataupun bahkan sampai menerjang batu karang .

[tenang…tenang nanti saya kirim bantuan lewat heli]….[demokrasi…demokrasi]….[tambal pake’ lem dulu buritannya]….[matikan mesin , hemat bahan bakar,pake dayung aja dulu]….[ganti kaptennya bila dia keras kepala]….[demokrasi….demokrasi]….[perwira mesin harus diganti]….[kepala dapur harus dinaikkan pangkatnya]….[awas ada topan badai katrina/gustav/hanna…eh sori itu di atas karibia ya…sampeyan di laut jawa ya]…[demokrasi….demokrasi]….[tenang…tenang nanti saya kirim bantuan lewat heli]….

Begitulah kurang lebih translate dari bunyi titit..tit..tititit…yang menyeruak keluar dari ruangan radio com. kapal tersebut . Dan hal yang menarik adalah : diterapkannya segala peraturan (nama mainan baru tadi) dan dikomandoi berdasarkan analisa dari daratan .

Sementara itu ada sebuah thesis yang ditulis Tan Malaka di tahun 1946 ,sbb bunyinya :

Seorang nachoda yang berpengalaman cukup, yang mengemudikan kapal, yang kuat dan baru juga mesti menentukan keadaan pelayaran lebih dahulu sebelum bertolak dari pelabuhan.

Taufan yang mengancam di waktu depan, bisa menyebabkan kapal itu menunda perjalanannya atau juga memukul kembali atau membelokkan pelayarannya ke kiri-kanannya bahkan juga memukul kembali ataupun menenggelamkan kapal itu.

Syukurlah kalau nachodanya berpengalaman lama serta mengetahui karang dan gerakan udara dilautan yang di tempuh, kini ataupun di hari depan.

Tetapi tiadalah dunia akan mendapat kemajuan seperti sekarang, kalau semua nachoda tidak mau berangkat sebelum keadaan udara laut dan cuaca sungguh di ketahui lebih dahulu.

Colombus tidak akan sampai ke Amerika, kalau Ia bergantung pada pengetahuan yang sudah pasti, yang sudah di uji kebenarannya saja. Dia akan berbalik setengah pelayaran setelah menemui mara bahaya, kalau Ia cuma bergantung kepada teorinya ahli bumi Toscanelli saja. Semangat adventure, mencoba-coba sesuatu yang mengandung bahaya mautpun mesti dilakukan. Berbahagialah suatu negara dan masyarakatnya yang mempunyai semangat adventure itu.

nah lo.. pusing bin ngelu! (translate:titit..!)

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

4 Responses to “ Kalut bin Panik ”

  1. Ini memang problem klasik ya mas. Orang Indonesia awalnya terkenal kurang percaya diri. Tapi sekarang seolah ‘terlalu’ percaya diri..mumet deh saya juga mas…..

  2. Mendingan yang mana dong , mbak?

  3. mas jsop,

    orang kita kepintarannya sudah memadai koq tapi soal ketekunannya yang masih memble!!

    salim .

  4. masih terlalu cepet bosan ya mas , bosan berjuang bosan memperjuangkan . Pengennya ces-pleng langsung sukses , langsung terkenal .Pasti langsung kaya raya .

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara